
"JULIAN COLLIN!!!"
Yang empunya nama terjingkat kaget mendengar suara lantang seseorang menyerukan namanya dari ambang pintu kelas.
Spontan Julian menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar, menampilkan seseorang laki-laki bersurai hitam yang amat dia kenal tengah berdiri tegak sambil melipat kedua tangan di depan d*ada.
"Kau! Ikut denganku, sekarang juga!" Lelaki itu mengode Julian supaya ikut dengannya keluar dari kelas. Lalu tanpa sepatah kata lagi, Hendery berjalan pergi menyingkir dari ruang kelas Julian.
Julian bingung sekali dengan kedatangan Hendery yang tak terduga. Lelaki itu tiba-tiba muncul bagaikan petir yang menyambar di siang bolong, sungguh mengejutkan sekaligus mengherankan.
Leonard menyikut lengan kiri Julian yang duduk di sebelah kanannya, "Kenapa lagi tuh orang? Lagaknya kayak mau ngajak berantem," Dia juga bingung dengan sikap Hendery yang agak ajaib.
Hendery dan Helena, kakak beradik itu benar-benar copy-an yang sempurna. Suka muncul tiba-tiba dengan segala tingkah laku ajaib mereka. Kali ini Julianlah yang menjadi target Hendery, sementara Helena sudah melesat pergi begitu dosen pengajar mengakhiri kelas mereka.
Walaupun Julian bingung, dia tetap menuruti perintah Hendery. Setelah berpamitan pada Leonard, Julian berjalan cepat menyusul Hendery yang menunggu di lorong depan.
Kini hanya tersisa Leonard seorang. Lelaki itu tak tahu akan pergi ke mana setelah ini, menunggu Julian juga tak mungkin. Sepertinya Hendery akan memonopoli Julian untuk beberapa jam ke depan.
"Oi, Julian di bawa pergi ke mana tuh?" Mike bertanya dari tempatnya duduk.
Leonard baru menyadari bila gengnya Mike dan Jevano belum beranjak keluar dari kelas. Kini hanya tersisa Leonard, Jevano, dan Mike beserta kawan-kawan Jevano dalam ruang kelas itu.
Leonard ragu apa dia harus bergabung dengan geng Jevano atau memilih pulang. Lalu Leonard mengangkat bahu sekilas, tak tahu menahu ke mana perginya sang sahabat, " Gatau. Aku aja nggak diajak pergi," jawabnya singkat.
Mike mengernyitkan dahi, dia penasaran akan kedatangan Hendery yang notabenenya berasal dari jurusan lain. Apa motif Hendery sampai lelaki itu nekat menemui Julian ke ruang kelasnya secara langsung?
Hal ini menimbulkan kecurigaan serta rasa keingintahuan yang melambung tinggi. Mike ingin mencari tahu, tapi sayang dirinya masih tersangkut di kelas bersama kawan-kawannya.
Diam-diam Jevano juga di landa rasa penasaran, dia ingin tahu alasan mengapa Hendery repot-repot datang ke gedung mereka hanya untuk menemui Julian seorang, bukannya Helena yang merupakan adik kandung laki-laki itu.
Singkat cerita, Jevano yakin sekali kedatangan Hendery ada sangkut pautnya dengan Serena. Tapi apa ya? Jevano jadi ingin memata-matai Hendery dan juga Julian.
"Hm....mungkin karena mau membahas soal itu.." gumam Leonard pelan, namun ternyata masih dapat Jevano dengar.
Lantas Jevano menoleh menghadap Leonard, satu alisnya terangkat ketika dia menanyai Leonard, "Soal itu? Itu apa yang kau maksud?" Tanpa basa basi langsung bertanya tepat pada intinya.
Leonard sadar mulutnya baru saja keceplosan. Sebisa mungkin Leonard berlagak tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan di mata Jevano.
"I-itu...sebentar lagi 'kan ulang tahun Serena, aku tau Julian pengen ngerayain ulang tahun Serena secara diam-diam. Jadi kayaknya memang Julian mau membahas soal surprise itu sama kak Hendery," Dengan lancarnya Leonard berkilah.
Jevano bahkan nyaris melupakan hari penting itu jika Leonard tidak menyungkit soal ulang tahun Serena.
Raut muka Jevano perlahan jadi memucat lantaran dia merasa waktu untuk mencari kado serta mempersiapkan kejutan buat Serena sangatlah mepet.
Arrghh! Kenapa dirinya bisa melupakan hal sepenting itu?!
Jevano mengacak rambutnya frustasi. Tapi tunggu-kalau itu ulang tahun Serena, berarti juga ulang tahun kekasihnya sendiri, siapa lagi kalau bukan Jasmine. Berhubung sekarang Jasmine adalah kekasihnya, jelas Jevano harus mengutamakan hadiah serta kejutan spesial untuk gadis itu.
'Kalau Jasmine tau aku lebih ngutamain ulang tahun Serena, dia pasti bakal marah besar,' Jevano mengalami pergolakan batin yang cukup memusingkan dirinya.
Semua kawan-kawan Jevano beserta Leonard saling memandang heran melihat sikap Jevano yang sedikit aneh.
"Kenapa? Apa aku salah ngomong?" Leonard jadi merasa bersalah, takut dirinya telah menyinggung sesuatu yang bisa memicu Jevano secara tak sengaja.
Nelson mengibaskan tangannya di udara, "Nggak usah dipikirin. Kalau menyangkut soal Serena sih, Jevano suka jadi gila," ujarnya, dengan maksud bergurau.
Tetapi kalau dipikir-pikir kembali, Jevano selalu bersikap aneh setiap kali menyangkut soal Serena.
"Btw, aku nggak nyangka Julian jadi deket sama kating itu, denger-denger kakaknya Helena itu lumayan populer dan disegani di jurusannya. Bahkan kating jurusan kita aja banyak yang respect banget sama orang itu. Memang bener ya? Kakaknya Helena itu orang yang hebat?" Alex bertanya pada kawan-kawannya mengenai sosok Hendery dalam lingkungan kampus.
Leonard yang sering berkunjung ke kediaman Alfrod dan beberapa kali nongkrong bersama Hendery saja tak pernah mengetahui adanya rumor itu. Mengingat bagaimana sosok Hendery yang sebenarnya, Leonard tidak akan percaya kalau orang yang dimaksud oleh Alex barusan beneran Hendery yang dia kenal.
Spontan Leonard mengomentari Alex, "Masa sih? Kalian salah orang kali. Hendery nggak sehebat yang kalian bayangin itu kok!" Sekuat tenaga dia berusaha menepis rumor terkait Hendery yang kesannya seperti dilebih-lebihkan.
Sontak saja penuturan Leonard barusan membuat Alex dan yang lainnya memutar topik tentang Hendery, bukan Julian lagi.
Sementara itu, Jevano masih menyusun rencana baru dan mengatur jadwalnya dengan sesempurna mungkin agar dirinya tidak melewatkan momen berharga itu baik dengan Serena maupun Jasmine.
'Tahun ini apa yang bakal aku kasihin ke Serena ya? Pokoknya aku nggak boleh kalah sama Julian! Aku yang lebih banyak tau kesukaan Serena ketimbang dia, jadi hadiahku harus yang paling berkesan buat Serena...'
Sejenak Jevano kembali termenung memikirkan sesuatu, 'Apa aku kasih aja hadiahnya jauh-jauh hari ya? Jadi aku bisa memonopoli Serena lebih awal sekaligus menggagalkan kejutan Julian..Dengan begini, aku selangkah lebih unggul dari Julian!' Ide itu tiba-tiba muncul dalam otak Jevano.
Kobaran api semangat dalam diri Jevano kembali menyambar-nyambar tak terkendali.
Akan Jevano tunjukkan seberapa besar dirinya memahami Serena luar dalam. Persahabatan yang sudah terjalin cukup lama tak akan terkalahkan oleh kehadiran orang baru di antara dirinya dan Serena. Jevano ingin menunjukkan itu di depan muka Julian dan dia jadi semakin tidak sabar.
...🐱...
...🐱...
"Serena! Hai!"
Jevano melambaikan tangannya ke arah Serena yang tampak berjalan berduaan dengan seorang lelaki.
Zac jadi sedikit nervous berjumpa dengan Jevano secara tiba-tiba begini. Dia lalu menyapa dengan senyuman kikuk, "Yo, lama nggak jumpa," sapanya pada Jevano
Jevano mengangguk singkat, lalu mengalihkan atensinya pada Serena. Belum juga Jevano buka suara, fokusnya teralihkan pada wajah Serena yang tampak begitu cantik hari ini.
"Cantik banget sih, tumben pake cardigan? Kamu nggak enak badan?" Jevano bertanya dengan nada yang sangat lembut, sampai membuat Zac tercengang melihat sikap Jevano yang begitu berbeda bila bersama dengan Serena.
Lelaki itu biasanya terlihat cuek dan dingin, bahkan kepada Jasmine saja tak pernah kelihatan begitu mesra dan lembut seperti saat sedang bersama Serena. Zac tahu sebab beberapa kali dia pernah melihat Jevano jalan berdua dengan Jasmine.
Sikap Jevano ketika sedang bersama Serena begini jelas menunjukkan siapa sebenarnya yang paling Jevano sukai. Orang bodoh pun bisa dengan mudah menebaknya.
Serena menggeleng kecil menanggapi pertanyaan Jevano yang kini mengusap lembut sisi wajahnya, "Enggak kok, lagi pengen aja. Aku nggak sakit, Jev."
Jevano menatap wajah polos Serena secara lekat. Mulai dari kedua mata Serena yang berbinar lucu, bentuk bibirnya yang menyerupai bentuk 'love', bulu mata lentik serta kedua alis yang cukup tebal, Jevano sama sekali tak pernah merasa bosan memandangi wajah Serena yang baginya selalu sempurna.
Dunia serasa milik berdua hingga melupakan eksistensi Zac yang berdiri canggung, tak tahu harus melakukan apa. 'Ini...kalau orang luar lihat, pasti mereka mengira kalau Serena dan Jevano pacaran,' pikir Zac dalam hati.
Jevano tersenyum lembut menatap Serena. "Aku punya sesuatu buat kamu. Yuk, ikut aku sebentar," ajaknya kemudian.
Mumpung Julian tidak ada, Jevano harus segera membawa Serena ikut bersamanya.
Serena sedikit ragu, pasalnya dia sudah berencana akan membahas soal projek bersama dengan Zac. Serena jadi menatap Zac yang masih menunggu dengan sabar, "Eum...bisa kita bicarain nanti, Jev? Aku udah buat janji sama Zac dulu. Ini penting soalnya, buat nilai ujian kami," Serena harus memprioritaskan urusan yang lebih penting dulu, tidak enak juga sama Zac yang sudah menunggu tanpa protes.
Yah...mau bagaimana lagi, sepertinya Jevano kalah start dari Zac. Tetapi menunggui Serena bukanlah hal baru bagi Jevano, lantas dia mengangguk mengiyakan. Ini mengingatkan Jevano pada awal-awal mereka kuliah dulu.
Alhasil ketiga orang itu berjalan beriringan menuju kafe yang terletak di depan kampus, lokasi yang dipilih Serena sebagai tempat diskusi mereka nanti.
Dari kejauhan Evan yang sedang berjalan sendirian melihat Serena berjalan bersama tiga orang laki-laki yang postur tubuhnya tampak familiar.
'Serena sama dua cowo itu lagi..' Evan membatin dalam hati. Dulu waktu Serena masih mahasiswi baru, Evan beberapa kali melihat Serena ditemani laki-laki yang rambutnya berwarna kecoklatan dan berbadan tinggi itu.
'Hmm..mereka kelihatan akrab kayak dulu. Setelah si Nollan pacaran sama kembaran Serena, kayaknya mereka jarang bertemu,' Gara-gara gossip yang sering diceritakan Mike, Evan jadi lebih banyak tahu soal hubungan Serena dengan si Jevano.
Tapi itu bukan urusan Evan, dia hanya perlu mengabari Hendery yang sudah berpesan padanya untuk mengawasi Serena dari kejauhan dan melaporkan pada lelaki itu siapa dan apa saja yang sedang Serena lakukan di saat Hendery tidak ada di tempat.
...🌸...
...🌸...
Begitu tiba di kafe, Serena langsung mengambil duduk bersama Zac. Seperti dulu, Jevanolah yang bertugas memesankan makanan serta minuman untuk Serena. Jevano akan menjelma bak kekasih yang begitu memanjakan Serena saat mereka hanya berdua. Zac sih sudah cukup terbiasa dengan kehadiran pihak ketiga seperti Jevano di tengah-tengah kerja kelompoknya bersama Serena, jadi itu bukan masalah besar baginya.
Toh Jevano juga berbaik hati memesankan pesanan Zac supaya urusan Zac dengan Serena dapat dimulai secepatnya. Selagi menunggu, Jevano duduk di meja samping Serena, entah memainkan ponselnya atau diam memandangi wajah Serena, Jevano melupakan segalanya kalau sudah bersama dengan sahabat tercintanya.
Bahkan pesan ataupun telpon dari Jasmine tak digubris oleh Jevano. Tidak boleh ada pengganggu di saat dirinya sedang bersama Serena, Jevano akan lebih menyesal bila dirinya tidak memusatkan perhatiannya pada Serena seorang.
.
.
"Psstt! Serena, gapapa kalau kamu berduaan sama Jevano aja?" Zac berbisik pada Serena. Ini kesempatan emas, soalnya Jevano baru saja berpamitan ke toilet.
"Iya, gapapa kok. Lagian Jevano nggak bakalan aneh-aneh, jadi nggak ada yang perlu dikhawatirin," Serena berusaha menyakinkan Zac yang mengkhawatirkan dirinya.
Berduaan dengan lelaki lain selain kekasihnya sendiri, Zac takut Serena menjadi bahan hujatan lagi seperti yang sudah-sudah.
"Aku bisa nemenin kamu kalau kamu mau, aku khawatir ada orang yang lihat kalian berduaan terus membuat gossip miring lagi tentang kamu," Kekhawatiran tergambar jelas pada ekspresi Zac.
Serena menghargai kepedulian Zac, pasti temannya itu terganggu juga dengan rumor miring yang pernah menimpa dirinya, Serena senang ada seseorang yang peduli dengannya selain orang-orang terdekatnya.
"Hehe~ Makasi...kamu baik banget. Aku senang dapet teman satu projek sebaik dan sepengertian kamu. Maaf ya, kalau aku bikin kamu nggak nyaman, kamu bisa kasih tau aku kok, biar aku nggak berbuat semaunya sendiri," ujar Serena pada Zac.
Senyuman manis Serena lagi lagi menggetarkan hati Zac.
Tak berselang lama kemudian, Jevano kembali dari toilet. Jevano bahkan meninggalkan ponselnya di atas meja, beruntung tak ada satu orangpun yang berniat mengambilnya secara diam-diam.
Ponsel Jevano tak berhenti bergetar sedari tadi, menampilkan nama Jasmine pada ID si penelpon, tetapi tetap tak digubris oleh si pemilik.
Jevano bahkan menarik kursinya mendekat pada Serena, mencuri kesempatan mengusap puncak kepala sahabatnya sambil memamerkan senyum tampannya. Layaknya seorang kekasih yang bucin setengah mati, Jevano sama sekali tak malu menunjukkan afeksinya terhadap Serena.
Sikap Jevano yang berlebihan begini sedikit membuat Serena tidak nyaman. Kalau dulu sih tidak masalah, toh mereka sama-sama jomblo tapi berbeda situasinya dengan yang sekarang.
Tanpa banyak bicara, Serena mencengkram kedua tangan Jevano supaya berhenti menyentuh dirinya sesuka hati. Gara-gara itu pula, senyum di wajah Jevano perlahan memudar.
Serena mengubah cengkraman tangannya menjadi usapan. Serena tak ingin melukai hati Jevano, tetapi mereka juga tak boleh melebihi batasan sebagai sepasang sahabat baik.
"Tunggu sebentar ya? Kamu bisa kembali ke mejamu lagi. Zac jadi sungkan mau ngomong," tegur Serena pada Jevano.
Meskipun hatinya sedikit tergores, Jevano tetap melakukan apa yang sahabatnya minta.
Alhasil Jevano hanya bisa termenung bosan di mejanya sendiri sambil menunggu urusan Serena selesai. Jevano baru membuka notifikasi di ponselnya yang didominasi oleh ID Jasmine. Namun hasrat untuk membalas satu pesanpun tak ada, Jevano hanya melewati nama Jasmine dan beralih ke lainnya.
Ah, tepatnya Jevano ingin memastikan sekali lagi 'sesuatu' yang ingin dia berikan pada Serena sebelum hari ulang tahun sahabatnya.