
Hari ini Serena sudah bersiap pergi ke kediaman Alfrod, mau bermain bersama Helena sekaligus melepas rindu pada kedua orang tua Helena beserta Hendery yang hari ini tak memiliki rencana pergi ke mana-mana. Berhubung ini akhir pekan, jadi hari ini adalah waktu yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga.
"Udah dibawa semua? Nggak ada yang ketinggalan 'kan?" Tuan Joseph menanyai Serena, memastikan tak ada lagi barang yang tertinggal di rumah.
Sedangkan Serena sendiri belum sempat pulang ke apartement miliknya, jadi barangnya ada yang ditaruh di rumah Julian selama Serena menginap di sana.
Kepala Serena mengangguk kecil, "Udah semua. Benar gapapa aku kasih ini ke mereka, Pa?" Tangannya mengangkat dua bungkus dark chocolate yang baru diberikan oleh Tuan Joseph sebagai buah tangan untuk Serena bawa.
Tuan Joseph balas dengan anggukan pula, senyum tak luntur dari wajah tampan beliau, "Iya, gapapa. Daripada nggak kemakan, soalnya masih banyak stok di kulkas. Kamu ambil aja sebagai hadiah bertamu," suruh beliau kemudian.
Serena hanya menanggapi ucapan Tuan Joseph dengan senyuman maklum. Banyak stok katanya, tidak mengejutkan lagi sih. Baik Tuan Joseph maupun Elliot sering berpergian ke berbagai negara untuk urusan bisnis, wajar mereka selalu membawa pulang banyak oleh-oleh entah itu pemberian orang atau beli sendiri.
Serena rasa ini bukan ide yang buruk, toh di kulkas Tuan Joseph masih menyimpan banyak makanan. Jadi meskipun dia ambil beberapa sekalipun, beliau tak akan kehabisan stok.
"Makasi banyak, Pa. Helena dan lainnya pasti senang dapat coklat ini. Ini 'kan coklat mahal," ujar Serena, sambil memasukkan dua bingkisan itu ke dalam tasnya.
Mendengar itu, Tuan Joseph jadi panik. "Apa bawa lagi aja ya?? Nanti kamu nggak kebagian makan di sana. Tunggu ya, Papa ambilkan lagi!" Lalu secara tergesa pergi menuju dapur untuk mengambilkan 2 bungkus lagi khusus untuk Serena.
Julian yang akan mengantarkan Serena ke residence Alfrod sudah berdiri di lobi sambil memanasi mobil sport berlambang kuda jingkrak miliknya yang sudah lama tak dibawa turun ke jalanan.
Sambil menikmati vape favoritenya, Julian menunggu dengan sabar. 'Pasti Papa nahan Serena pergi nih,' Dia membatin dalam hati, mengingat ayahnya belum rela ditinggal pergi Serena.
Suasana dalam mansion Collin sedikit sepi lantaran si sulung sudah pergi ke kantor pagi-pagi buta untuk mengurus sesuatu. Padahal Elliot masih ingin mengambil cuti agar bisa menghabiskan waktu santainya bersama keluarga kecilnya dan juga Serena. Namun apa daya, tuntutan pekerjaan mengharuskan pria tampan itu pergi lebih awal tanpa sempat berpamitan pada Serena.
Tak lama kemudian Serena akhirnya keluar, sambil menenteng tas ransel kecil pemberian Elliot yang harganya tidak main-main. Katanya itu hadiah spesial buat Serena, mau tak mau Serena menerima pemberian Elliot dengan sukacita.
"Maaf buat kamu nunggu lama, yuk berangkat sekarang!" Layaknya anak kecil hendak pergi bertamasya, Serena tampak begitu bersemangat dan energik. Bahkan penampilan Serena tampak terlihat bak anak remaja, polos dan manis.
Semua barang yang sekarang dikenakan Serena merupakan pemberian dari keluarga Collin; mulai dari bando, dress panjang warna baby blue-nya, sampai flatshoes yang melekat manis di kedua kaki Serena.
Rambut kecoklatannya digerai indah dan bebas, Serena tampak begitu manis dan menawan. Julian jadi tak rela berjauhan dari kekasihnya.
"Kamu kok cantik banget sih? Di rumah aja ya sama aku?" celetuk Julian tiba-tiba.
Namun reaksi Serena sesuai prediksi Julian, gadisnya menunjukkan ekspresi datar disertai bibir yang mengerucut lucu bak anak bebek. Serena dalam mode merajuk sekarang.
"Ndaa mauu~ Aku udah kangen berat sama Helena~ Pokoknya hari ini aku mau main sampai puas!" Serena berseru dengan nada imut yang dibuat-buat. Bahkan dia berani menolak tawaran Julian.
Bukannya marah, Julian justru terkekeh gemas. Lucu sekali kekasihnya itu, sekarang Serena sudah lebih berani mengutarakan perasaannya secara terbuka. Perkembangan yang cukup baik, Julian senang Serena sudah mau terbuka lebih banyak lagi dengannya.
...🦋...
...🦋...
"Wih! Ini coklat yang pernah aku bilang ke kamu itu 'kan?!" Helena menerima coklat pemberian Serena sambil berteriak senang.
Gadis itu tampak begitu gembira sudah diberikan coklat asli dari Swiss yang sangat diinginkannya jauh-jauh hari.
"Buat aku mana?! Jangan di makan sendiri, Helena!" Hendery takut Helena akan menghabiskan satu batang coklat itu seorang diri.
Seperti biasa, kakak beradik itu memperebutkan sesuatu secara brutal. Padahal Serena sudah memberikan 3 batang coklat yang ukurannya lumayan besar pada keluarga itu. Yah, dasarnya Hendery memang suka mengusik kebahagiaan adiknya, jadi dia lebih suka merebut milik Helena sampai membuat adiknya merengek kesal.
Itu pemandangan yang sudah biasa Serena lihat ketika berkunjung ke kediaman Alfrod.
"Ih, padahal kamu nggak usah repot-repot bawa bingkisan segala. Tuh lihat, dua anak hyena jadi berebut makanan," Ibu Helena datang sambil meledek anak-anaknya sendiri.
Serena tertawa renyah. Ada-ada saja memang keluarga itu. "Gapapa, tante. Tuan Joseph sendiri yang kasih itu buat keluarga tante. Kalau masih kurang, aku bisa mintain lagi ke Tuan Joseph. Di kulkasnya masih banyak stok coklat tau!" Serena berbisik pelan supaya tidak kedengaran Helena.
Gawat kalau Helena sampai dengar, bisa-bisa coklat di rumah Julian akan habis dirampok Helena.
Mendengar itu, Bianca tergelak dalam tawa. Serena tahu benar kelakuan puterinya yang gila akan makanan manis. Gigi Helena bisa sakit lagi kalau terlalu banyak mengonsumsi makanan manis.
"Nggak usah deh! Nanti kalau giginya sakit, tante juga yang pusing denger rengekannya Helena," tolak beliau, seraya mengibaskan tangan di udara.
Lalu keduanya tertawa bersama, walaupun cuma membahas hal kecil begini sudah menciptakan suasana hangat dan ceria di keluarga Alfrod. Keluarga Alfrod memang moodbooster Serena yang paling ampuh.
Bianca memperhatikan Serena yang kini kelihatan lebih segar dan berisi dari hari ke-hari. Ternyata Julian bisa menjaga dan merawat Serena dengan baik, kekhawatiran dalam hati Bianca perlahan mulai berkurang.
"Gimana? Keluarga Collin memperlakukanmu dengan baik 'kan, sayang?" Ini waktunya tea time, alias ngobrol-ngobrol tentang segala hal bersama ibu dari sang sahabat.
Serena merespon dengan anggukan, gadis itu tak bisa menahan senyum bahagianya sambil menceritakan secara rinci bagaimana keluarga Collin memperlakukan dirinya.
"Mereka semua baik, aku sempat insecure, takut kalau mereka nggak menerima aku yang banyak kurangnya. Tapi ternyata, mereka menerimaku dengan hangat dan bahkan memberikan banyak hal baru untukku. Rasanya ini kayak mimpi.."
Bianca dapat memahami perasaan Serena. Dia pernah berada dalam posisi itu sebelumnya, tepatnya ketika hendak menikahi Felix puluhan tahun silam.
Sosok Serena di masa lalu cukup memprihatinkan dan suram. Syukur kalau sekarang gadis itu berubah ke arah yang lebih baik.
"Tante turut bahagia kalau kamu bahagia, ingat ya, kalau butuh bantuan apapun itu, jangan ragu-ragu datang kepada tante. Kamu 'kan anak kesayangan tante juga," pesan Bianca pada Serena.
Serena mengangguk pelan, dia tahu keluarga Alfrod selalu mendukung dan menyayangi dirinya dengan tulus. Sampai mati pun Serena tak akan melupakan jasa-jasa keluarga itu padanya.
Tanpa banyak bicara Serena memeluk Bianca dengan erat.
Air mata mulai menumpuk di pelupuk mata Serena, "Terima kasih banyak. Kalau bukan karena tante dan yang lainnya, aku nggak akan menjadi Serena yang sekarang...terima kasih karena selalu mendukungku dan memperlakukanku dengan begitu baik..."
Pelukan Serena cukup erat, sampai Bianca dapat merasakan tubuh Serena yang bergemetar karena menangis.
Serena tidak pernah merasakan pelukan hangat dari ibu kandungnya, Bianca tahu itu. Nasib Serena mungkin memang kurang baik, terlahir dalam keluarga yang tak bisa menghargai serta memberikan banyak kasih sayang pada gadis sebaik dia, tapi Serena tetap terus memperjuangkan hidupnya dengan usaha keras walau dihiasi dengan air mata. Asalkan Serena bahagia, Bianca berjanji akan terus melindungi gadis cantik itu sama seperti anaknya sendiri.
Bianca sungguh bersyukur dirinya tidak kehilangan Serena. Jika bukan karena usaha Julian, mungkin Bianca tak akan pernah melihat Serena lagi di dunia ini. Serena layak mendapatkan kebahagiaan dan pantas mendapatkan segalanya. Bianca akan membantu Serena sampai gadis itu berhasil menjadi orang sukses, tak hanya dalam karir tetapi juga dalam berbagai aspek.
Dan sekarang fokus Bianca adalah Julian. Bianca akan memastikan sekali lagi soal keseriusan Julian yang ingin meminang Serena. Meski tidak dalam waktu dekat ini, segalanya harus dipikirkan secara matang. Bianca tidak ingin Serena memilih jalan yang salah, yang bisa menjerumuskan gadis itu ke kehidupan yang lebih buruk lagi.
"Serena, soal Julian..apa kalian udah punya rencana untuk menikah?" Pertanyaan itupun meluncur keluar dari mulut Bianca.
Serena merenggangkan jarak di antara mereka, lalu berpikir sejenak. "Kalau nggak ada masalah, iya. Kami udah berencana menikah, tante. Tapi nggak tahun ini juga," ungkapnya jujur.
"Apa keluarga besarmu udah tau soal ini? Mau seburuk apa hubungan kalian, tetap orang tua punya hak untuk mengetahui masa depan putera-puterinya," tanya Bianca.
Serena mengangguk ragu, dia sendiri tak begitu yakin dengan restu kedua orang tuanya, "Julian sih udah ngomongin soal lamaran di depan Papa Mama, bisa dibilang mereka terpaksa setuju walau mungkin ada beberapa hal yang masih mengganjal di hati mereka. Tapi kalau untuk menentang, kayaknya mereka nggak berani. Soalnya Julian sendiri yang berinisiatif melamar aku secara langsung, bukan karena paksaan dariku," terangnya panjang lebar.
"Huh! Mereka itu sama sekali nggak bersyukur! Anaknya udah pinter memilih calon pasangan hidup, eh bukannya didukung malah disia-siain! Kalau suatu saat mereka ketimpa masalah berat, jangan sampai kamu atau Julian turun tangan membantu mereka ya!" Rupanya Bianca menyimpan dendam kesumat tersendiri terhadap orang tua kandung Serena.
Lalu sesuatu mengingatkan Bianca, ibu dua anak itu kembali menatap Serena dengan ekspresi serius, "By the way, sayang...apa kamu udah kasih tau saudara laki-lakimu yang namanya Caesar-Caesar itu? Tante rasa kamu harus memberitahu dia lebih dulu soal rencanamu ke depannya nanti. Soalnya menurut intuisi tante, Caesar itu lebih bisa diandalin ketimbang Papa Mama-mu," saran wanita cantik itu pada Serena.
Caesar ya..
Sejak kepulangan Caesar, Serena belum berkomunikasi sama sekali dengan sepupunya yang satu itu. Mungkin Caesar terlalu sibuk di tempatnya sana, mengingat Caesar masih harus berjuang memperebutkan posisi tetapnya sebagai penerus utama perusahaan Reinhart. Di samping itu, saran dari ibu Helena tidak buruk juga. Serena bisa meminta bantuan Caesar untuk berjaga-jaga mengantisipasi kejadian tak terduga yang bisa muncul ke depannya nanti.
Dan lagi, suara Serena juga akan berpengaruh besar terhadap pemilihan calon pemimpin Reinhart kelak, jadi bisa dikatakan kerja sama di antara mereka adalah win-win solution.
"Iya, tante bener. Caesar sangat bisa diandalin. Cuma dia satu-satunya orang yang bisa kupercaya di keluarga besar kami..tapi walaupun aku nggak meminta tolong duluan, aku yakin Caesar udah nyiapin banyak rencana bagus. Jadi kabar soal lamaranku juga cepat atau lambat bakal sampai ke telinga dia.." kata Serena.
Ya, semua hanya tinggal menunggu waktu. Lagipula Serena tahu, selama ini Caesar memperkerjakan mata-mata di dalam kediamannya secara rahasia, jadi apapun yang terjadi di rumah Serena, Caesar juga pasti akan mengetahuinya.
Caesar itu bagaikan harimau yang diam mengawasi targetnya dan menunggunya bergerak lebih dulu sebelum melakukan tindakan.
"Iya, setelah ini aku kabari aja deh. Lebih cepat lebih baik, kalau sewaktu-waktu timbul pertentangan dari orang tuaku, aku bisa minta bantuan Caesar secepatnya," putus Serena kemudian. Sebab Serena merasa dirinya membutuhkan backingan yang lebih kuat dari keluarganya, seseorang yang memegang power lebih besar dan tak segan-segan mengambil tindakan bila terpaksa dibutuhkan.
Dalam segi ini, Caesar adalah orang yang tepat.
...🐯...
...🐯...
Di bagian bumi lain...
"Jadi? Serena akan bertunangan dengan anak dari keluarga Collin itu?" Caesar memutar kursi empuknya menghadap ke arah jendela ruang kerjanya yang membentang lebar.
Oliver membungkuk sopan menjawab pertanyaan dari sang Tuan muda yang duduk dengan gaya angkuh di singgasananya, "Semua masih kabar burung, belum ada kejelasan soal itu, Tuan. Apakah perlu saya hubungi Nona Serena untuk menanyakan keabsahan dari kabar itu?" tanyanya kemudian.
Caesar memandangi langit dari luar jendela yang bersinar sangat cerah hari ini. "Hmph. Cepat juga laki-laki itu bertindak," gumamnya tak suka. "Ganti sasaran! Tanyakan kepastiannya langsung ke calon tunangan Serena saja! Aku mau mendengar jawaban yang jelas, langsung dari mulut laki-laki itu!" titahnya mutlak.
Oliver sebagai si perantara pesan hanya sanggup mengiyakan perintah dari sang Boss. Masih mending hanya disuruh mengirim pesan, daripada Caesar terbang langsung menghampiri Serena dan meninggalkan segunung pekerjaannya yang menumpuk, Oliver lebih memilih cara praktis sekaligus teraman ini.
Oliver tak bisa membayangkan rencana usil apa yang bisa dilakukan Boss galaknya itu terhadap Julian Collin, calon ipar laki-laki itu.
'Kasihan juga Nona Serena kalau harus mengasuh bayi besar yang galak dan ribet ini. Lebih baik melakukan semua yang Tuan Caesar suruh daripada membiarkan laki-laki nekat ini terbang sendiri menemui Nona Serena,' batin Oliver, yang sedikit bisa bernafas lega.
...***...
...Maddox Caesar Reinhart...
...Si galak kita yang ganteng ...