
"Tuan, tuan! Pihak rumah sakit menelpon, mereka bilang hasil tes DNA Tuan muda Dion sudah keluar!" Eric tiba-tiba mendobrak ruang kerja Julian di mana sang boss tengah menyibukkan diri mengurusi semua sisa pekerjaannya.
Julian menengok sebentar, sebelum kembali fokus meneliti berkas yang harus dia tanda tangani. Mendekati akhir tahun memang pekerjaan Julian lebih banyak karena dia juga membantu setengah dari bagian Elliot.
Kasihan Elliot, pria itu sudah menanggung banyak beban di pundaknya, jadi sebagai adik yang baik sekaligus bentuk pengabdiannya kepada keluarga, Julian menawarkan bantuan untuk meringankan pekerjaan sang kakak.
Walau itu artinya, Julian harus merelakan waktu berharganya bersama Serena berkurang drastis karena dia lebih sering berada di ruang kerja.
"Apa lebih baik saya laporkan ini pada nona Serena, Tuan? Biar nanti nona Serena yang mengambilnya langsung."
Karena ini menyangkut keluarga Reinhart, jadi Serena berhak mengetahui dan mengambil hasil tesnya secara pribadi.
Sangat disayangkan, Julian belum bisa meninggalkan tumpukan pekerjaan yang masih menunggu untuk di review. Terpaksa Julian menyuruh bodyguardnya dan mungkin Gerald juga untuk menemani Serena ke rumah sakit.
"Suruh Gerald menemani Serena dan bawa beberapa bodyguard untuk berjaga," titah Julian, yang tak bisa dibantah.
Eric mengangguk patuh, sebelum bergegas keluar dari ruangan kerja si boss.
Julian menyandarkan punggungnya sejenak sambil memijit pangkal hidungnya yang lelah akibat terlalu lama menggunakan kaca mata.
'Mungkin lebih baik aku hubungi Serena dulu, biar dia nggak ngambek aku tinggal lagi.' Sejak Julian mulai disibukkan dengan segunung pekerjaan, Serena jadi sering merengek gara-gara kesepian ditinggal Julian dalam waktu yang lama. Bahkan mereka hanya bertemu saat waktunya makan malam atau ketika hendak pergi tidur.
Serena kesepian, namun gadis itu tak berani mengganggu Julian terlalu banyak karena tahu itu sudah menjadi tanggung jawab seorang pebisnis seperti kekasihnya.
Anggap saja Julian sibuk mencari uang untuk biaya hidup mereka kelak, jadi Serena belajar menahan diri untuk tidak menjadi beban yang mengganggu konsentrasi Julian.
Meski kesepian dan sangat merindukan Julian, Serena hanya bisa memberi semangat dan dukungan untuk kekasihnya yang tengah berjuang.
Di sisi lain, Julian sudah berjanji akan memberikan kejutan spesial pada tahun baru nanti, sekaligus sebagai bentuk permintaan maafnya karena terpaksa memundurkan tanggal pernikahan mereka.
Ini disebabkan karena akhir tahun nanti diperkirakan masih turun salju, sepertinya tidak memungkinkan untuk melaksanakan pernikahan di cuaca yang terlalu dingin seperti itu. Serena sendiri juga berpendapat yang sama dan memutuskan untuk memundurkan tanggal pernikahan mereka di musim panas.
Serena sendiri menginginkan acara pernikahan mereka di lakukan di tempat terbuka, jadi awal musim panas sepertinya waktu yang tepat.
Lagipula dengan segunung pekerjaan yang menumpuk begini, baik Julian maupun Elliot tidak bisa lepas tangan sebelum menyelesaikan semuanya dengan baik.
Jadi untuk menghibur Serena yang sedikit muram, Julian berencana mengajak gadisnya berlibur ke suatu tempat selama seminggu lamanya.
'Aku harus cepat-cepat nyelesaiin ini semua biar bisa liburan sama Serena!' Julian menyemangati dirinya sendiri.
Beginilah perjuangan (calon) suami yang tengah mencari nafkah, Julian semakin bersemangat mengumpulkan pundi-pundi uang lebih banyak untuk membahagiakan Serena.
Tok Tok Tok
Pintu kerja Julian diketuk dari luar.
Lalu sang pemilik menyahuti dari dalam, sambil menegakkan kembali punggungnya yang sedikit terasa kaku, "Ya? Ada apa?"
Tak ada sahutan dari depan, namun pintu dibuka secara perlahan tanpa menimbulkan suara apapun.
"Tada~! Aku mampir sebentar ke sini!" Kemudian muncul sebuah kepala dengan rambut pirang panjang dari sela-sela pintu.
Jantung Julian nyaris berhenti berdetak lantaran mengira tadi itu ulah makhluk tak kasat mata. Julian menghela nafas lega, ternyata yang datang adalah kekasihnya yang baru akan dia hubungi.
Serena berjalan cepat sambil tertawa puas melihat ekpresi tegang semi ketakutan Julian tadi. Anggap saja ini balasan karena sudah mengacuhkan dirinya sejak kemarin.
"Aku berniat menghubungimu tadi, tapi ternyata kamu datang ke sini duluan," Julian menarik pinggang Serena agar lebih dekat dengannya.
Berhubung masih ada sedikit waktu luang, Julian ingin mengisi tenaganya dengan bermanja-manja sejenak pada Serena.
Julian yang memeluk dan menempelkan kepalanya pada bagian perut merupakan momen yang amat Serena rindukan. Padahal baru sebulan Julian mulai sibuk bekerja, tapi rasanya seperti sudah berbulan-bulan mereka berjauhan. Jujur, Serena sedikit tersiksa karena rindu, tapi apa yang bisa dia lakukan selain menunggu Julian dengan sabar.
Serena balas memeluk pundak Julian tak kalah erat, dan tak lupa pula memberikan kecupan-kecupan ringan di sekitar wajah sang kekasih sebagai bentuk dukungan kecilnya.
"Semangat! Nanti malam kalau kamu ada waktu luang, kita makan bareng ya di luar? Tapi kalau bisa aja, kalau nggak bisa juga gapapa. Masih ada waktu lainnya," Serena tak berani mengajak Julian melalui chat, jadi saat mereka berjumpa langsung Serena baru memberanikan diri untuk mengajak Julian.
Julian melirik tumpukan berkas yang masih tak tersentuh di ujung mejanya. Mungkin kalau dia mengebut bakal selesai tepat waktu. Toh ini malam minggu, waktu yang tepat untuk berkencan setelah sekian lama.
Julian tak ingin mengecewakan Serena yang baru pertama ini meminta sesuatu sejak dirinya mulai sibuk. "Mungkin aku sedikit telat, tapi aku janji kita akan makan malam di luar. Nggak perlu dandan bagus ya, pakai pakaian santai aja," ujarnya, seraya menyelipkan anakan rambut Serena ke belakang telinga.
Serena makin cantik saja dari hari ke hari. Julian takut Serena bosan menunggu lalu menghabiskan waktunya lebih banyak bersama Dion gara-gara dia abaikan.
Serena cukup senang menerima ajakan Julian. Setelah sekian lama akhirnya mereka bisa menikmati kencan meskipun sebentar.
"Oke! Kamu juga! Kalau gitu aku yang akan siapin bajumu nanti! Kamu tinggal mandi aja terus istirahat bentar!"
Sebelum keluar dari ruangan itu, Serena memberikan satu ciuman singkat. Energi Julian langsung terisi penuh setelah menerima luapan cinta dari kekasihnya meski terlihat simple di mata orang.
...🦋...
...🦋...
"Hng, aku nggak mau obat itu, pahit!!"
Jevano menghela nafas panjang, telinganya sudah memanas lantaran terus mendengar rengekan manja Jasmine yang menolak minum obat yang baru diberikan oleh perawat.
"Kalau kamu nggak minum obat, terus kapan sembuhnya? Kamu mau terus di rawat di sini, selamanya?" Jevano sebenarnya lelah, sepulang dari kampus dia harus menjaga Jasmine yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit lantaran menderita sakit lambung.
Entah apa penyebab utama sakitnya Jasmine kali ini, karena pada awalnya Jasmine tidak mempunyai riwayat sakit pencernaan itu.
Dokter bilang bisa dipicu karena stress sehingga pola makannya jadi berantakan atau bahkan tidak nafsu makan sama sekali. Memang sih, beberapa hari belakangan Jasmine terlibat cekcok cukup hebat dengan orang tua maupun teman sepergengan gadis itu.
Dari yang Jevano dengar, Jasmine marah lantaran Sarah-salah satu pengikut gadis itu, bertindak di luar persetujuan Jasmine. Dan buruknya lagi, orang yang dikerjai Sarah adalah Serena.
Jevano yang menerima laporan itu dari salah satu kawannya tentu saja ikut marah. Tapi kembali lagi, dia tidak bisa berbuat banyak selagi Jasmine terus mengawasi gerak geriknya.
Sejak pertengkaran mereka waktu itu, Jasmine lebih posesif dan curigaan terhadap Jevano. Setiap gerak gerik dan tindakan Jevano seperti diawasi oleh Jasmine hingga membuat ruang gerak Jevano semakin terbatas.
Jevano sadar hubungan mereka lambat laun berubah menjadi toxic dan hanya melukai satu sama lain. Tapi Jasmine masih bersikeukuh mempertahankan hubungan mereka dengan dalih masih cinta kepada Jevano.
Semua ini membuat hidup Jevano berantakan dan tersiksa. Hatinya ingin segera lepas dari Jasmine dan menyudahi hubungan yang semakin beracun ini. Cinta yang dulu Jevano rasakan telah sirna, namun masih menyisakan sedikit ruang untuk rasa sayang sebagai teman.
Sebab di awal mereka memulai hubungan adalah sebagai teman baik. Jevano akan tetap menganggap Jasmine sebagai sahabat baiknya andaikata gadis itu menuruti apa yang dia inginkan, yaitu berpisah.
Tetapi Jasmine yang keras kepala menolak permintaan Jevano secara mentah-mentah dan tegas. Mungkin itu faktor utama pemicu stress Jasmine sampai membuat kesehatan gadis itu menurun.
Dan sekarang Jevano jadi sedikit merasa bersalah. Dia tahu kalau kesehatan Jasmine itu lemah daripada Serena, jadi hal-hal yang berpotensi membuat gadis itu stress atau kelelahan bisa menurunkan kesehatan Jasmine secara cepat.
Lain kali Jevano akan berpikir dua kali dulu sebelum berbicara dengan Jasmine agar tidak memicu stress yang berkepanjangan. Sekarang, hanya bisa fokus pada kesehatan Jasmine dulu.
"Aku cari makan dulu ya? Sebentar lagi tante Esther bakal datang kok," Jevano yang sudah jenuh memutuskan untuk menghirup udara segar dulu.
Toh di rumah sakit itu aman, karena keluarga Reinhart telah memindahkan Jasmine ke kamar VIP.
Jasmine tak ingin melarang Jevano untuk hal yang tidak masuk akal. Meski hatinya sedikit tak rela, namun pada akhirnya Jasmine mengizinkan Jevano pergi jalan-jalan sebentar alih-alih membeli makanan untuk mengisi perutnya yang sudah lapar.
.
.
"Di dalam kamar rasanya mencekik banget. Kapan datangnya tante Esther sih?" Jevano menyugar anakan rambutnya ke belakang. Kepalanya menjadi sedikit pusing setiap kali memikirkan Jasmine.
Alasan mengapa Jevano bersedia membantu menjaga dan merawat Jasmine, tak lain karena Serena. Jasmine adalah adik kesayangan Serena, Jevano tak ingin Serena mengecapnya sebagai laki-laki kejam dan tak berperasaan hanya karena mengacuhkan seseorang yang sedang sakit.
Maka dari itu, sampai kondisi Jasmine lebih baikan, Jevano akan tetap berada di sisi Jasmine.
"Nona, apa anda akan mengirimkan hasil ini pada Tuan Caesar sekarang juga?"
Telinga Jevano tak sengaja menangkap pembicaraan seseorang yang mengungkit satu nama familiar baginya.
"Emm...kayaknya iya. Atau kita beritahu Dion dulu sebelum mengirimkan ini ke Caesar?"
Kedua mata Jevano membulat ketika mendengar suara yang amat dia kenal. Itu suara Serena!
Jevano yang hendak berbelok ke tikungan di depannya sontak menyembunyikan diri di balik tembok.
"Ya, saya rasa itu ide yang bagus. Bagaimanapun juga Tuan Dion berhak membuka surat ini terlebih dulu karena ini menyangkut beliau," Suara lelaki asing berbicara dengan Serena.
"Ya udah kalau gitu, kita pergi ke tempat Dion. Untuk lebih lanjutnya, semua akan tergantung pada Dion. Aku akan memberitahu Julian di mobil nanti."
"Baik, nona Serena."
Ketika suara dua orang itu terdengar semakin menjauh, barulah Jevano memberanikan diri mengintip dari balik tembok.
Benar tebakan Jevano, gadis itu adalah Serena sementara lelaki di sebelahnya tak dia kenal.
'Dion? Siapa Dion? Kenapa Serena ada di sini? Apa dia juga sakit?' Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Jevano.
Buru-buru dia menghampiri ruangan yang di datangi Serena tadi.
'Kenapa dia datang ke dokter ini? Serena lagi periksain dirinya?' Jevano heran mengapa Serena datang ke dokter spesialis itu, ditemani oleh seorang lelaki asing pula. Tapi yang membuat Jevano makin penasaran adalah nama Dion yang terdengar seperti nama seorang lelaki.
'Aku semakin merasa jauh dari Serena..kalau kayak gini terus, lama-lama persahabatan kami hancur berantakan. Aku harus lakuin sesuatu!' Untuk memperbaiki hubungannya dengan Serena, Jevano bertekad akan membangun kembali ikatan di antara mereka dengan cara apapun.