
Setelah melewati sesi interview dan segala macam, akhirnya Serena diterima bekerja paruh waktu di sebuah TK yang jaraknya dapat ditempuh selama 7 menit dari tempatnya tinggal dengan berjalan kaki.
Itu TK swasta tapi tak terlalu biasa juga, kebanyakan anak didiknya berasal dari keluarga cukup mampu, ada juga yang dari kalangan atas, jadi Serena di training dulu sampai benar-benar bisa turun ke lapangan menangani anak-anak secara langsung.
Tak apa, Serena justru senang bisa belajar banyak hal melalui bimbingan dari mentor yang lebih profesional. Meski pekerjaan pertamanya hanya mengawasi dan membantu menjaga anak-anak didik, Serena akan memanfaatkan peluang ini dengan sebaik mungkin. Mempelajari hal baru adalah sesuatu yang eksklusif buat Serena, maka dari itu dia sangat menghargai kesempatan yang diberikan untuknya.
Sesuai janji Serena, dia secara khusus memasakkan sesuatu untuk Dion sebagai ungkapan rasa terima kasihnya. Mengundang lelaki itu untuk mampir sebentar ke tempat tinggalnya, Serena sukses mengirimkan dua bungkus makanan spesial buat Dion.
Dion sama sekali tidak mengharapkan imbalan apa-apa dari Serena sebab dia memang ingin membantu gadis itu sebisa yang dia mampu. Lagipula Serena bukan tipe gadis serakah dan haus akan kekayaan, Dion justru tak akan keberatan direpotkan oleh Serena.
Namun kembali ke awal, Dion tahu Serena tetap menjaga jarak di antara mereka, bingkisan yang diberikan Serena juga hanya sebagai ungkapan terima kasih secara formal semata. Tetapi jauh dalam lubuk hatinya terdalam, Dion selalu ingin bertemu dengan Serena dalam berbagai kesempatan yang ada.
Menawarkan bantuan semata-mata hanya dijadikan jembatan agar Dion bisa berjumpa kembali dengan Serena. Serena mempunyai aura positif yang mampu membuat lelaki galak seperti Dion dapat merasakan ketenangan jiwa serta rileksasi diri yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata.
Beruntung Dion memiliki satu kenalan yang kebetulan merintis sebuah lembaga pendidikan anak berbasis swasta, jadi Dion bisa meminta bantuan mereka untuk memasukkan Serena sebagai tenaga kerja paruh waktu.
Dion sendiri heran kepada dirinya, seumur-umur dia hidup, baru kali dirinya bersedia membantu bahkan sampai repot-repot mencarikan suatu pekerjaan untuk seorang gadis asing yang bahkan tak dia kenal baik.
Hanya Serena, satu-satunya perempuan yang sanggup menarik rasa penasarannya dengan begitu kuat hingga sulit membuatnya lepas dan menjauh.
Dion masih ingin memperhatikan Serena, melihat perkembangan gadis itu dari hari ke hari. Sikap serta gaya bicara Serena yang lemah lembut dan sabar selalu menenangkan hati Dion.
Kehidupan Dion selama ini hanya berbaur dengan banyak orang dari dunia 'gelap' dan keras, oleh karena itu, kehadiran Serena seakan menjadi angin segar yang mencerahkan hidupnya. Dion merasa kewarasannya kembali setiap kali dirinya bersama Serena, itu adalah salah satu dari banyak hal yang Dion rasakan bersama Serena.
Menjaga Serena tetap aman dalam jangkauannya, itu yang sedang Dion lakukan sekarang. Orang bilang ini sejenis sifat posesif, namun Dion tidak terlalu mengerti dengan perasaannya sendiri.
Mungkin dengan menghabiskan lebih banyak waktu dengan Serena dapat membantu dirinya menemukan jawaban yang jelas, jadi Dion akan terus mengawasi gadis itu.
Selagi masih ada kesepakatan bodoh itu di antara mereka, Dion akan memanfaatkan waktunya sebaik mungkin untuk mengenal Serena lebih jauh lagi.
...🐺...
...🐺...
Kaca gelap mobil itu perlahan diturunkan, sang empunya menatap nanar bangunan jelek yang terlihat tak jauh dari mobil mewahnya diparkirkan.
"Serena tinggal di tempat kayak gini?! Kau serius?!" Tersirat ketidakpercayaan dalam nada bicara sang pemilik mobil.
Sang supir mengangguk mengiyakan. "Iya, tuan. Benar ini alamat yang diberikan oleh Tuan Eric tadi." Sedikit bergidik takut sebab tuan mudanya kembali memancarkan aura gelap yang mencekik.
Rahang Julian mengeras, begitu pula kedua tangannya yang mengepal menahan amarah. Jelas bangunan yang dia amati sekarang bukanlah bangunan layak pakai yang terlihat rapuh dan mudah roboh bila ada gempa lewat.
Julian mengacak rambutnya frustasi. Dia ingin sekali turun lalu membawa Serena pulang bersamanya meski dengan cara paksa. Tapi Julian tidak ingin menerima penolakan atau bahkan pemberontakan dari Serenanya sendiri yang akan membuat masalah ini makin runyam. Serena bisa saja kabur lagi jika Julian memaksakan kehendaknya sendiri.
Jelas Julian tak menginginkan hal itu terjadi.
Jadi Julian mencoba menenangkan dirinya, menahan emosinya agar tidak lepas kendali lalu mengawasi Serena secara diam-diam.
Ya, berdoa saja agar Serena tidak menyadari keberadaannya. Lagipula ini adalah mobil barunya yang Serena belum sempat lihat, padahal Julian ingin menghadiahkan mobil ini untuk fasilitas Serena.
"Tuan, itu bukannya nona Serena?" Sang supir memberitahu.
Fokus Julian kembali terarah ke bangunan reyot yang ada di seberang jalan.
Mata Julian auto berbinar begitu melihat kemunculan Serena. Akhirnya...setelah beberapa hari tak melihat wajah Serena, Julian akhirnya mendapat kesempatan melihat wajah cantik yang amat dia rindukan.
Hanya saja ada sedikit perubahan pada warna kekasihnya yang sekarang. 'Jadi dia mengecat rambutnya juga..' Julian berbicara pada dirinya sendiri.
Tidak jelek kok, malahan wajah Serena terlihat semakin cerah. Dasarnya Serena sudah cantik, mau diapakan juga kecantikan gadis itu tidak akan hilang.
Serena hanya mengenakan atasan kerah dengan celana jeans yang sudah terlihat sedikit kusam dan dipadukan dengan jaket hitam yang kebesaran di tubuhnya. Tudung jaket itu menutupi rambut Serena yang terurai, dari gerak-gerik gadis itu, sepertinya Serena menjadi waspada terhadap sekelilingnya.
Tangan kanan Julian menyandar pada pintu mobil, tanpa sadar dia menggigit jarinya ketika melihat wajah Serena yang terlihat sedikit kusam dan tak terawat. Julian merasa perihatin sekali melihat Serena. Hati Julian sudah menjerit ingin menarik dan membawa gadis itu ke dalam dekapannya dan tak akan melepaskannya lagi.
Rasanya sesak dan pedih. Julian tak bisa menahan dirinya terlalu lama. Ini begitu menyiksa batinnya, melihat orang yang amat dia cintai harus hidup sengsara gara-gara kesalahan orang.
"Apa anda tidak ingin membawa nona Serena pulang, tuan?" Sang supir kembali bertanya. Pria paruh baya itu bisa melihat betapa tersiksanya si tuan muda hanya memperhatikan sang kekasih dari kejauhan tanpa memiliki keberanian untuk mendekat.
Namun perasaan dilema itu tak berselang lama, ketika sang supir melihat kedatangan seorang lelaki menghampiri nona Serenanya. "Tuan, ada seseorang menghampiri nona Serena!" lapornya cepat.
Julian menoleh dengan cepat, sorot matanya menajam begitu melihat kedatangan dari sosok lelaki yang mengaku dirinya bernama 'Raymond'.
"Hah! Dia berani menampakkan batang hidungnya secara terang-terangan!" Julian mendesis tak suka.
Mata Julian melotot melihat tangan lelaki asing itu menyentuh pundak Serenanya. Tapi emosi Julian tak jadi berlarut semakin dalam setelah Serena menepis tangan 'Raymond' dan menjaga jarak aman di antara mereka.
Itu sedikit berhasil mengurangi emosi Julian yang mulai menumpuk. Dari sini Julian bisa menilai, jika Serena tidak berniat selingkuh darinya meski ada laki-laki lain di sisi gadis itu.
"Mereka akan pergi ke mana?" Entah pada siapa pertanyaan itu diajukan Julian.
Sang supir yang sebelumnya diberi sedikit informasi dari Eric lalu menjawab, "Mungkin ke tempat kerja nona Serena yang baru, kalau tidak salah di kawasan dekat sini juga, tuan. Apa anda mau menuju ke sana juga?"
Tempat kerja Serena...Julian tidak heran lagi, Serena tentu akan mencari pekerjaan untuk membiayai hidupnya sendiri. Meski Julian yakin Serena masih mempunyai uang tabungan dengan nomimal yang cukup, tapi gadis itu tidak mau ongkang-ongkang kaki dan menghamburkan uangnya begitu saja.
Mungkin perkataan Elliot ada benarnya juga, Serena ingin mencoba hal baru yang tidak dia dapatkan di lingkungannya yang lama, ini adalah lingkungan baru yang asing bagi gadis itu. Mungkin dengan beradaptasi di tempat seperti ini bisa membantu mental Serena menjadi lebih kuat dan tahan banting lagi ke depannya.
Jika memang itu yang ingin Serena coba, maka Julian akan menunggu sebentar lagi. Sampai Serena sudah puas menjalani kehidupannya yang sekarang, Julian akan mencoba bersabar untuk tidak muncul dan membawa gadisnya pulang.
Namun kedatangan Julian ke tempat tinggal Serena juga mempunyai motif tersendiri.
"Ikuti Serena, aku harus mengecek lebih dalam terkait tempat kerja Serena yang sekarang," titah Julian pada pak supir pribadinya.
Demi menjamin keamanan serta keselamatan Serena, maka Julian akan melakukan tugasnya di balik layar tanpa sepengetahuan sang kekasih. Dan bila ada hal yang mencurigakan, maka Julian bisa segera menanganinya supaya Serena bisa melakukan pekerjaannya dengan tenang.