
"Serena!!!"
Helena berhambur ke pelukan Serena yang berdiri kikuk di depan pintu rumah kediaman Alfrod.
Nyonya Bianca dan Tuan Felix langsung berlinang air mata begitu melihat kedatangan Serena yang hampir sebulan lebih tak mereka lihat. Tak ingin ketinggalan momen haru tersebut, pasangan suami istri itu ikut berpelukan bersama dengan Serena dan Helena.
Tuan Felix merangkul semua orang dengan begitu erat. Tak mengelak bahwa hatinya begitu merindukan sosok gadis yang sudah dianggapnya sebagai putri kandung sendiri.
Nyonya Bianca terisak deras sambil memeluk erat Serena. "Kamu ke mana aja? Tante khawatir banget sama kamu! Kamu dihubungi juga nggak bisa, apa yang sebenernya terjadi, sayang?" Wanita cantik itu tak kuasa menahan perasaan cemas yang sudah lama bersemayam dalam hatinya.
"Maaf...ada beberapa hal yang terjadi. Maafkan aku lagi-lagi sudah membuat kalian khawatir," Serena merasa sangat bersalah, namun mau bagaimana lagi? Semua sudah terlanjur terjadi dan Serena hanya bisa meminta maaf karena sudah membuat khawatir banyak orang.
Nyonya Bianca menggeleng keras, wanita itu tidak ingin mendengar kata maaf terlontar dari mulut Serena lagi. Entah apa yang telah dialami Serena tanpa sepengatahuannya, tapi Nyonya Bianca yakin Serena tak pernah membuat masalah lebih dulu bila tak ada api yang menyulutnya.
"Jangan meminta maaf terus. Melihat kamu berdiri di depan rumah kami dalam kondisi sehat dan utuh saja sudah membuat kami bersyukur. Serena, kamu sama sekali nggak berbuat salah!" Nyonya Bianca memeluk dan mengusap rambut panjang Serena yang kini berganti warna menjadi blonde.
Serena pasti memiliki alasan tersendiri dibalik pengecatan rambutnya yang berharga itu.
Tuan Felix lalu menimpali perkataan istrinya, "Benar apa yang Bianca katakan, melihatmu sehat dan bugar sudah cukup bagi kami. Tapi berjanjilah ke depannya nanti untuk selalu mengabari kami apapun kegiatanmu di luar sana, ya? Karena kami nggak ingin ketinggalan satupun berita tentang kamu, mau kamu berada di ujung bumi atau bahkan di luar angkasa sekalipun."
Mungkin terdengar seperti gurauan, tapi Serena tahu bahwa pria itu benar-benar serius atas ucapannya sendiri.
Pada akhirnya Serena hanya sanggup menganggukan kepalanya mengiyakan. Mungkin karena waktu itu pikiran Serena sedang kacau dan tidak bisa berpikir secara rasional, jadinya dia melupakan hal-hal penting seperti berpamitan sementara waktu dengan keluarga Alfrod.
Tapi andaikata Helena dan keluarga gadis itu mengetahui apa yang terjadi padanya, Serena yakin mereka benar-benar akan datang langsung ke kediaman Reinhart dan membelanya mati-matian. Maka keributan yang terjadi akan semakin bertambah kacau dan sulit terkendali. Di satu sisi, Serena sedikit lega mereka tak mendengar kabar tentang pertengkarannya waktu itu.
"Kamu harus ceritain segalanya sama kita!" Helena berusaha menghentikan tangisnya, tanpa melepaskan pelukannya pada lengan kiri Serena.
Sejak Serena menghilang bak di telan bumi, perasaan buruk selalu menyelimuti hati Helena. Bahkan gadis itu sering bermimpi buruk tentang Serena sampai membuat emosinya ikut terganggu.
Helena takut sesuatu terjadi pada sahabatnya, Helena takut Serena melakukan hal nekat lagi di luar pengawasannya. Bila sampai terjadi sesuatu pada Serena, Helena tak akan memaafkan dirinya sendiri.
Kehilangan Serena bagaikan kehilangan belahan jiwa. Begitu kosong dan menyakitkan. Helena tidak ingin berpisah dari Serena, apapun yang terjadi. Apalagi Julian juga tak kelihatan di mana-mana, bahkan lelaki itu absen kuliah dalam waktu yang cukup lama sama seperti Serena. Bagaimana bisa Helena berpikiran positif bila keduanya tak bisa dihubungi apalagi di temui?
"Kita masuk dulu. Di luar anginnya cukup kencang. Ayo, nak Julian. Masuklah juga," Tuan Felix mengajak Julian ikut masuk ke dalam.
Julian yang sedari tadi diam menyaksikan reunian Serena dengan keluarga Alfrod menanggapi dengan anggukan serta senyuman tipis.
"Terima kasih atas tawarannya, tapi saya-"
Grep
Julian berhenti berbicara ketika ujung bajunya di tarik lembut oleh seseorang, dan itu Serena orangnya.
Serena menggeleng pelan, seolah memberi isyarat pada Julian agar tidak meninggalkannya seorang diri di rumah Helena. Serena tidak percaya diri menceritakan kisahnya di depan Helena dan orang tua sahabatnya.
Julian juga bisa merasakan tangan Serena yang sedikit gemetar ketika mencengkram ujung bajunya.
'Apa yang kamu takutin?' Julian membatin heran. Karena Serena sendiri yang meminta, jadi mau tak mau Julian harus tinggal di sana untuk menemani kekasihnya.
Akhirnya mereka semua masuk ke dalam rumah besar keluarga Alfrod. Para pelayan sudah menyiapkan makanan ringan serta minuman untuk menyambut kedatangan tamu istimewa.
Di balik punggung Serena, diam-diam Julian menggenggam sebelah tangan Serena yang bebas, tanpa ada yang melihatnya.
Senyuman lembut Julian berikan sebagai bentuk dukungannya untuk Serena. Pasti sulit menceritakan kejadian buruk yang telah dilaluinya pada orang lain, tapi Julian ingin orang-orang mengetahui cerita yang selengkapnya dari mulut Serena sendiri.
...🐾...
...🐾...
Jevano mengangguk pelan. Dia sudah memikirkan hal ini secara matang, dan keputusannya sudah bulat.
Jevano ingin mengakhiri hubungannya dengan Jasmine detik ini juga.
Kedua tangan Jasmine gemetar hebat. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya dan siap tumpah kapan saja.
"Nggak! Aku nggak setuju! Aku cinta banget sama kamu, Jevano! Kenapa kamu memilih putus dariku!? Apa karena kamu udah nggak cinta lagi sama aku?!" Jasmine berseru tak terima.
Jasmine masih sangat mencintai Jevano, hanya Jevano satu-satunya harapan yang Jasmine punya. Tidak di saat kedua orang tuanya kini lebib menaruh perhatian mereka pada Serena yang baru saja ditemukan.
Jevano tidak bisa lagi menolerir sikap keterlaluan Jasmine terhadap Serena, apalagi setelah mendengar semua cerita Jasmine secara menyeluruh, Jevano benar-benar kecewa dan marah pada Jasmine dan keluarga Reinhart.
"Serena, dia-" Jevano mengepalkan kedua tangannya erat. Dia merasa tidak berguna sama sekali dan marah pada dirinya karena tidak bisa mencegah pertengkaran di antara Jasmine dan Serena.
"Mestinya kamu nyalahin aku aja, jangan Serena!! Iya, aku yang mengajak dia liburan bersama, aku yang salah, bukan dia! Kamu udah keterlaluan sama saudarimu sendiri, Jasmine!" bentak Jevano, dengan suaranya yang meninggi.
Tangan Jevano nyaris menghantam meja andaikata dia tak mengingat di mana dirinya berada sekarang.
Jasmine gemetar takut ketika Jevano meninggikan suaranya. Selama mereka berpacaran, Jevano tak pernah mengertaknya sekejam ini.
"INI SALAH KALIAN! ANDAI WAKTU ITU KALIAN NGGAK MAIN DI BELAKANGKU, AKU NGGAK BAKAL BERPIKIRAN MACAM-MACAM! SERENA PANTAS DAPAT TAMPARAN KARENA UDAH BERANI MEREBUT PACAR ORANG! MANA PERNAH DIA MIKIRIN PERASAANKU?!" Jasmine tak kalah emosinya.
"Tapi sampai kamu mencemoohnya, itu udah kelewatan batas! Kamu mikirin perasaan Serena juga nggak waktu itu?! Nggak 'kan? Kamu nggak pernah peduliin Serena tapi dia tetep baik sama kamu! Terus walaupun kita pacaran, aku nggak boleh keluar sama sahabat baikku yang udah aku kenal lebih lama darimu?! Egois banget kamu!"
Jasmine tertawa sinis, "Sahabat?! Apa kamu nggak tau kalau dia suka sama kamu?! Kamu nggak peka sama tatapan yang dia berikan ke kamu?! Setiap kali aku lihat kalian, aku ngerasa kalian kayak orang pacaran tau, Jev!?"
Namun kata-kata yang terlontar dari mulut Jasmine membuat Jevano membeku seketika, "Serena...suka padaku..?"
"Ya, aku yakin banget dia mulai menyadari perasaannya setelah kita pacaran! Gimana aku nggak curiga sama dia kalau sikapnya itu kelihatan jelas?! Aku nggak suka! Aku nggak terima kalau semua yang kusuka, dia ikut suka juga! Kamu itu milikku, Jevi! Dia nggak berhak mengganggu hubungan kita!" Semakin mengingat itu, semakin kacau juga emosi Jasmine.
Serena sudah membuat masalah besar dalam keluarga mereka, sekarang gadis itu juga ingin mengacaukan hubungannya dengan Jevano. Jasmine benar-benar menyesal telah peduli pada kembarannya itu. Kenapa Serena nggak menghilang saja untuk selama-lamanya?
Dengan begitu tak akan ada orang yang mengusik serta ikut campur dalam kehidupannya lagi. Jasmine benar-benar sudah muak dengan Serena.
"Kalau kamu masih bersikeras minta putus dariku, jangan salahin aku kalau besok muncul skandal tentang kita! Aku nggak main-main, Jevano," Pada akhirnya, Jasmine terpaksa menggunakan senjata andalannya.
Walau Jasmine tahu ini mempertaruhkan reputasi mereka berdua, tapi Jasmine harus menggunakan ini sebagai alat untuk mengikat Jevano agar tidak lepas darinya.
Rahang Jevano mengeras, rupanya Jasmine ingin menggunakan cara licik untuk menahan dirinya pergi. Sial, posisinya terdesak sekarang. Jevano tahu 'kartu' apa yang digenggam oleh Jasmine saat ini. Bila dirinya gegabah, bisa jadi Jasmine benar-benar akan menguak aib mereka ke media.
"Apa sih sebenernya mau kamu? Aku udah nggak cinta sama kamu. Apa kamu tetep mau lanjut walaupun kamu tau aku nggak bisa bersikap sebaik dulu lagi? Hatiku udah bukan buat kamu lagi. Apa kamu sendiri sanggup menerimanya?"
Jasmine tak mempermasalahkan itu. Bagi Jasmine, Jevano adalah 'tangkapan' besar dan istimewa yang tak boleh dia lepas begitu saja. Jasmine akan menerima banyak keuntungan bila tetap bersama Jevano. Menikah tanpa cinta juga tak masalah, asalkan kekuasaan serta kekayaan Jevano akan menjadi miliknya suatu saat nanti, Jasmine bisa menahan semua rasa sakitnya.
"Nggak masalah, aku yakin suatu saat nanti aku bisa membuat cintamu tumbuh lagi. Jevi, cuma kamu harapanku satu-satunya...hiks...tanpa kamu, aku nggak mungkin bertahan sampai detik ini. Kamu alasanku untuk tetap hidup...jangan tinggalin aku, hiks." Jasmine menutupi wajahnya menggunakan telapak tangan.
Menangis tersedu-sedu demi menarik simpati lelaki di depannya itu. Jevano tidak boleh sampai lepas. Serena boleh mengambil segalanya dari Jasmine, tapi tidak dengan Jevano.
"Jangan tinggalin aku...."
"....atau kamu akan menyesal di kemudian hari."