
Hari berganti hari, musim berganti musim. Tak terasa waktu berjalan cukup cepat, di mana hari ini Serena dan Julian telah menetapkan tanggal pernikahan mereka yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 25 Juni.
Mengapa memilih tanggal 25, bukannya awal bulan sekalian?
Jawabannya hanya satu: Julian ingin tanggal pernikahannya sama dengan tanggal lahir mendiang sang ibu.
Julian ingin di tanggal yang sama itu dia bisa sekalian merayakan kelahiran wanita yang telah melahirkannya ke dunia meski tak sempat Julian lihat secara langsung.
Tentu saja tidak ada penolakan atau protesan dari pihak Serena. Serena justru merasa terhormat sekali dapat merayakan hari kelahiran wanita yang telah berjasa besar, sekaligus anniversary pernikahannya di masa mendatang.
Setelah tanggal telah ditetapkan, kini kesibukan Serena dan Julian jadi berlipat kali ganda. Julian harus bisa menyelesaikan atau mencicil sisa pekerjaan yang harus di handle-nya supaya tidak menimbulkan masalah di waktu mendatang, agar dirinya dapat menikmati honeymoonnya dengan hati tenang.
Elliot dan Tuan Joseph adalah pihak yang paling bersemangat mengurusi pernikahan Julian dan Serena. Berkat kedua orang itu pula, sampai muncul berita yang isinya sangat berlebihan. Semua berawal dari Tuan Joseph yang keceplosan menyinggung soal pernikahan anaknya di depan awak media.
Bagaimana tidak berlebihan? Pernikahan Julian dan Serena nantinya akan digadang-gadang sebagai pesta pernikahan akbar yang sangat mewah, mahal dan di hadiri oleh banyak tamu-tamu penting dari berbagai belahan dunia.
Padahal Julian dan Serena sudah menegaskan serta sepakat akan mengadakan pesta biasa, yang tidak terlalu mencolok dan mewah. Namun sepertinya biasa bagi Tuan Joseph dan Elliot itu berbeda konsepnya dengan Julian dan Serena.
Ya sudah, mereka berdua hanya bisa pasrah saja, dari pada menimbulkan masalah besar yang tidak penting. Sekarang, tinggal satu masalah yang harus Serena urus.
Yakni siapa yang akan menjadi walinya nanti.
Tentu saja yang menjadi walinya adalah ibu dan ayah kandungnya yang masih hidup, tapi Serena tidak yakin akan meminta mereka setelah semua yang telah terjadi di antara dirinya dan kedua orang tuanya.
Cukup sulit dan membutuhkan waktu berpikir yang agak lama bagi Serena menentukan pilihan. Tuan Philip dan Nyonya Esther sendiri sudah mengirimi Serena surat yang menyatakan bahwa mereka bersedia dan akan merasa terhormat sekali bisa di undang menyaksikan pernikahan Serena.
Akhirnya dengan segala bujuk rayu dari banyak pihak, Serena bersedia mengundang kedua orang tuanya dan Jasmine ke upacara pernikahannya dan pesta resepsinya. Bagaimana pun juga mereka masihlah keluarga, dan banyak orang juga mengenal Serena sebagai puteri dari keluarga Reinhart.
Jelas saja pernikahan Serena dengan Julian juga berdampak pada reputasi perusahaan masing-masing. Perusahaan Tuan Philip menerima banyak tawaran dari para investor sejak pengumuman pernikahan Julian dan Serena terkuak ke publik. Begitu juga perusahaan Tuan Joseph yang semakin meroket berkat dukungan dari banyak pihak yang ingin menjalin kerja sama dengan dua perusahaan besar Reinhart dan Collin.
Nilai positif yang cukup menguntungkan kedua belah pihak sebenarnya, andai saja hubungan antar keluarga juga semulus yang kelihatan di luar.
Jadi, hari-hari menuju hari suci tersebut Serena tidak pernah sekalipun bertatap muka dengan orang tua serta adik kembarnya. Mereka hanya berkomunikasi melalui Gerald yang sementara waktu ditugaskan membantu urusan Serena dalam mempersiapkan segala kebutuhan pernikahan nanti. Mulai dari mencari gedung, gaun dan tuxedo, memilih kartu undangan sendiri, menentukan wedding organizer mana yang bagus dan berkelas. Semua Serena urus sendiri di bantu dengan beberapa orang, termasuk Gerald.
Di sisi lain, berita tentang pernikahan Julian dan Serena sudah menyebar cepat sampai ke penjuru negara. Impact dari seorang Collin memang tidak main-main, apalagi banyak dari kaum muda yang begitu mengagumi kakak beradik yang tampan itu.
Banyak hati yang patah dan kecewa lantaran gagal mendapatkan salah satu dari tuan muda kaya raya itu. Termasuk di antaranya Sarah dan Denise. Kedua perempuan yang sebelumnya mengejar-ngejar Julian itu harus menelan fakta yang menyakitkan, bahwa pujaan hati mereka akan segera menikahi Serena secara resmi di mata hukum dan agama.
Sarah sampai stress dan tak berhenti menangis gara-gara berita pernikahan Julian.
Sementara itu, Jevano yang turut mendengar berita pernikahan Serena juga tak kalah down-nya. Dia tak menyangka, sahabat baiknya akan segera melepas masa lajang begitu cepat bahkan mendahului dirinya.
Serena bahkan tidak mengabarinya sepatah atau dua kata, yang semakin membuat Jevano sedih bukan main. Jasmine bahkan susah mengajak kekasihnya pergi ke luar karena mood Jevano semakin memburuk dari hari ke hari.
Sedangkan untuk Caesar, pria itu sudah memprediksi bahwa Serena akan menikah lebih cepat dengan Julian. Caesar sih tak masalah sama sekali, malahan bagus dan lebih aman. Soalnya di mata Caesar, Julian sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk memiliki Serena seutuhnya. Tapi dalam lubuk hati Caesar yang terdalam, dia belum rela saudaranya yang cantik dan manis itu akan segera menjadi wanita dewasa sepenuhnya.
Bagi Caesar, Serena tetaplah seorang gadis kecil dengan senyum secerah mentari dan manis melebihi gula. Serena adalah satu-satunya saudara dalam keluarga besar mereka yang tidak bermuka dua dan munafik.
"Kau selamanya adikku yang polos dan manis, Serena..."
Ibu Caesar yang mengamati gerak gerik putera sulungnya itu lama-lama menjadi gemas sendiri. "Serena cuma mau menikah, bukan mau pergi ke luar angkasa. Berhenti merajuk dan cepatlah pergi bekerja! Nanti kalau ponakanmu lahir ke dunia, kamu sanggup belikan semua hal bagus dan mewah dari seluruh dunia!"
Ucapan frontal ibunya waktu itu semakin menampar Caesar akan realita yang ada.
Ya, kalau ada pernikahan biasanya akan lahir keturunan. Yang artinya, Serena bisa saja mengandung buah cintanya dengan Julian suatu hari kelak. Singkatnya, Caesar bakal punya ponakan lucu dari sepupu tersayangnya itu.
'Mungkin aku belum bisa berikan semua hal bagus di dunia ini buat Serena, tapi kalau untuk anak-anaknya Serena nanti, aku harus bisa!! Ya, benar! Kenapa nggak terpikirkan olehku?! Aku bakal jadi seorang paman keren dan kaya raya, yang akan memberikan segalanya buat ponakan tercintaku! Arghh! Serena! Jangan punya anak terlalu cepat, please! Aku masih butuh banyak waktu!'
Waktu itu, Caesar akhirnya kembali bangkit dari keterpurukannya dan menemukan kembali semangatnya hidup. Mungkin dia bisa merelakan Serena untuk orang lain, tapi untuk anak-anak Serena di masa mendatang, Caesar ingin melakukan yang terbaik yang dia bisa.