Mine

Mine
Chapter 85



Ainsley berdiri di depan makam papa dan mamanya yang berdampingan. Dia meminta pada mama tirinya untuk memakamkan papanya bersebelahan dengan almarhum mama kandungnya. Untung saja mama tirinya bisa mengerti dan mengabulkan permintaanya.


Waktu Ainsley dan Austin tiba di rumah orangtuanya kemarin siang, Ainsley langsung berteriak-teriak histeris seperti belum merelakan dengan kepergian pria tua itu. Gadis itu bahkan sempat pingsan. Untung ada Austin yang selalu menemani dan menghiburnya.


Papa Ainsley telah di makamkan sekitar satu jam yang lalu. Kerabat-kerabat mereka yang datang mulai pergi satu-satu sampai akhirnya tertinggal Ainsley sendiri yang masih enggan meninggalkan makam, di temani Austin yang selalu setia menemani sang istri. Austin menyandarkan kepala Ainsley di dadanya sambil mengelus-elus pundaknya.


Ainsley sudah lebih tenang. Dia sudah merelakan kepergian sang papa. Namun masih ingin berada disitu sedikit lebih lama.


"Aku belum menjadi anak yang baik untuk mereka." gumam Ainsley. Matanya terus kedepan, pada dua nisan yang bersebelahan tersebut.


"Sssttt... Itu hanya pikiranmu saja. Aku yakin mereka sangat bangga memiliki putri sebaik dirimu." kata Austin lembut. Ia tidak mau Ainsley berpikir kalau gadis itu adalah seorang anak yang tidak berguna.


"Orang terdekatku, mama, papa... Mereka semua sudah pergi meninggalkan aku. Aku tidak punya siapa-siapa lagi." ucap gadis itu lagi meratapi nasibnya yang amat menyedihkan. Dia harus rela menjadi anak yatim piatu di usia yang masih terbilang muda.


"Hei, hei..." Austin menangkup wajah Ainsley, membuat gadis itu menatapnya.


"Dengar, kau masih punya aku. Aku adalah suamimu. Kita akan membangun keluarga yang harmonis bersama anak-anak kita. Aku janji padamu." tutur pria itu penuh ketulusan lalu mengecup singkat kening Ainsley, ingin memberikan gadis itu kepercayaan.


Ainsley tersenyum tipis. Dia jadi merasa bersalah saat bilang tidak punya siapa-siapa lagi. Padahal masih ada pria itu. Pria yang amat mencintainya dan sebaliknya. Mereka saling mencintai. Ainsley bersyukur dia memiliki seseorang seperti Austin disisinya. Ia berjanji akan terus mencintai laki-laki itu dengan sepenuh hati.


"Ayo pulang. Ke rumah kita." ucap Ainsley akhirnya. Ia sudah puas berlama-lama di tempat itu. Mereka bisa berkunjung lagi nanti.


"Kau beneran sudah tidak apa-apa kan?" Dastin menatap Ainsley lekat-lekat. Ia tidak ingin gadis itu meminta pulang karena tidak enak padanya. Setelah Ainsley mengangguk lagi, Austin langsung meraih tangannya berbalik dan melangkah ke arah mobil Austin terparkir.


\*\*\*


Hari-hari berlalu dan sudah tak terasa kepergian papa Ainsley telah berjalan hampir dua minggu ini. Walau terkadang masih terasa sedih, tapi Ainsley sudah kembali ceria. Apalagi Austin terus memanjakkannya tiap hari.


Baru semalam selama dua minggu berjalan ini Austin tidak tidur di rumah karena harus keluar kota. Itu pun kalau seandainya pertemuan itu tidak penting, pria itu tidak mungkin pergi dan membiarkan Ainsley sendirian.


Tamu bulanannya belum datang, entah sudah berapa lama. Ainsley menghitung dalam hati. Dan kemudian merasa tegang ketika menemukan bahwa dia sudah terlambat hampir satu minggu.


Pusing dan mual-mual itu... apakah mungkin dia hamil? Ainsley mengusap perutnya sambil tersenyum bahagia. Apakah dia benar-benar hamil? Mengandung anak Austin? Ainsley semakin bersemangat. Dia harus membeli testpack besok pagi, dan memastikan dirinya beneran hamil atau tidak.


Setelah mandi dan sarapan pagi, Ainsley keluar rumah dan berjalan menuju apotek yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat itu. Ia membeli barang yang ingin ia pakai untuk memeriksa kandungan lalu buru-buru balik ke rumah.


Sampai di rumah, dengan hati-hati dia membuka alat itu dan mengikuti instruksinya. Ainsley harus menunggu selama beberapa menit untuk memperoleh hasilnya. Dengan jantung berdebar-debar dipandanginya alat itu sambil mengitung angka satu sampai seratus delapan puluh. Ketika sudah selesai, Ainsley mengintip alat itu. Jantungnya berdenyut kencang. Rasa haru, senang, ingin menangis, bahkan ingin berteriak, semuanya menyatu dalam hatinya. Dia hamil. Benar-benar hamil.


Dengan semangat bergebu-gebu, Ainsley cepat-cepat meraih ponselnya dan menelpon suaminya. Dia ingin membagi kebahagiaan ini dengan Austin.


"Iya sayang, kenapa?" sahut Austin dari seberang. Ainsley senang karena Austin langsung mengangkat telponnya.


"Kamu di mana?"


"Masih di luar kota. Ini lagi makan. Sore aku di rumah, tenang saja sayang. "


"Tidak ada hal yang penting lainnya bukan?"


"Kenapa?


"Jawab saja."


"Dengarkan baik-baik Austin. Aku hanya akan bilang satu kali."


tentu saja Austin merasa bingung tapi terus menghargai sang istri. Ia menunggu istrinya bicara.


"Aku hamil.." perkataan itu sukses membuat Dastin yang duduk santai dibangkunya langsung berdiri. Ia kaget bukan main. Pria itu ingin pulang sekarang juga.