Mine

Mine
Perlahan Menjadi Kuat



"Ju-Julian?"


Sang empunya nama melirik seorang gadis yang berdiri di bagian luar barisan meja yang dia tempati.


"Ya?"


Sebenarnya Julian malas merespon, tapi hanya ada dia di barisan itu, jadi mau tak mau Julian yang meladeni gadis itu.


"Bo-boleh duduk di sini nggak?"


Satu alis Julian sedikit terangkat, sedikit heran mengapa gadis itu tiba-tiba datang kepadanya dan meminta izin duduk di dekatnya. Untung saja, tempat kosong di sebelah kiri dan kanannya sudah dia booking untuk Helena dan Leonard.


"Terserah tapi kiri dan kananku udah ada orangnya." Julian menjawab tanpa menoleh pada Sarah.


Ya, gadis itu adalah Sarah, salah satu anggota geng Jasmine. Julian merasa aneh karena tak biasanya gadis itu memisahkan diri dari kelompoknya.


Senyuman lebar di wajah Sarah sedikit meredup. Dia tahu Julian akan menyisakan tempat buat Leonard, tapi sekarang ada dua kursi yang dijaga oleh Julian.


Untuk siapa?


"Leo s*ialan! Tungguin pembalasanku nanti ya!!" Tiba-tiba muncul suara keras dari arah pintu kelas.


Oh, panjang umur sekali. Orang yang Julian tunggu-tunggu akhirnya datang juga.


Leonard jalan sangat cepat menuju ke tempat Julian berada, demi menghindari Helena yang berlari mengejarnya dengan ekspresi kesal hendak memakan orang.


Melihat kedua sahabatnya main kejar-kejaran begitu, Julian tebak pasti Leonard baru saja menggoda gadis itu.


"Minggir, temenku mau lewat," Julian menyuruh Sarah memberi jalan agar Leonard dan Helena bisa lewat.


Hati Sarah berdenyut sesak, tatkala Julian lebih mementingkan teman-teman lelaki itu ketimbang memperdulikannya. Apalagi setelah melihat di mana posisi Helena duduk, rasa iri Sarah semakin menjadi-jadi.


"Julian~ Temenmu nih! Boleh aku gantung dia di tiang listrik nggak? Kelakuannya bikin orang emosi tau, nggak?!" adu Helena, yang nampak diimut-imutkan di mata Sarah.


Selang beberapa detik kemudian, Helena baru menyadari keberadaan Sarah.


"Ngapain kau di sini?" Helena memandang ketus Sarah yang diam tak berkutik, dengan ekspresi aneh seperti menahan kesal.


Kini pandangan ketiga orang itu tertuju pada Sarah.


Melihat Helena yang duduk di sisi kanan Julian, sementara Leonard menempati sisi kiri Julian, sudah tak ada lagi tempat kosong untuk Sarah duduk lebih dekat dengan Julian.


'Sabar, Sarah. Sabar...mungkin hari ini bukan hari keberuntunganmu.' Sarah mencoba untuk tetap tenang. Lalu memamerkan senyum manisnya hendak berpamitan pada Julian.


"Nggak. Nggak ada apa-apa. Karena kalian udah nemenin Julian, aku tinggal dulu kalau gitu," elak Sarah, dengan alasan yang sedikit aneh.


Lalu tanpa menunggu balasan dari Julian, Helena dan Leonard, gadis itu buru-buru turun ke bawah, menghampiri salah satu anggota gengnya yang sudah datang.


Sikap ambigu Sarah meninggalkan tanda tanya besar dalam benak trio rusuh itu. Namun bagi Julian, itu bukan hal penting yang harus dia pikirkan.


Helena menyikut lengan Julian lalu berbisik, "Kenapa lagi tuh anak? Dia ngerencanain apa? Jangan-jangan dia disuruh Jasmine buat deketin kita?"


Leonard yang ikut nimbrung juga tak kalah penasarannya dari Helena. Kini fokus mereka berdua tertuju pada Julian yang sedari tadi menopang dagunya menggunakan tangan sambil memasang muka datar seakan sedang dilanda kebosanan.


Yah, hidupnya hampa tanpa ada Serena di sisinya. Alasan Julian datang lebih pagi dibanding dua sahabatnya itu juga karena Serena.


"Nggak peduli. Asalkan dia atau mereka nggak menyentuh Serena-ku, nggak ada yang perlu dipikirin," Tipikal jawaban dari seorang si bucin Collin.


Helena mendengus keras. Menyesal sudah bertanya serius pada Julian. Padahal gerak gerik Sarah kentara sekali mencurigakannya. Tapi dasarnya Julian acuh pada hal lain selain Serena, jadi sudah tidak terlalu mengherankan lagi.


Tapi tetap saja, Helena merasa harus waspada terhadap pergerakan Sarah dan komplotan perempuan itu. Entah mengapa perasaan Helena tidak tenang sekarang. Mungkin sekarang, dia harus mengawasi kedua belah pihak, baik Sarah maupun Jasmine dan geng mereka.


'Aku yang akan menghadapimu kalau kau macam-macam pada Serena,' Sumpah Helena dalam hati.


...🦋...


...🦋...


"Serena, di sini!" Helena melambaikan tangannya begitu melihat kedatangan Serena ke cafetaria fakultasnya.


Senyum manis terbit di wajah Serena. Gadis itu berjalan cepat menuju ke tempat Helena berada, tanpa mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


Bruk


Hingga seseorang menyenggol Serena dari belakang, sampai membuat Serena jatuh tersungkur ke depan akibat tersandung sesuatu di kakinya.


Suara itu, Serena amat mengenalnya.


Kepala Serena mendongak menuju ke sumber suara ketus itu berasal. Dan benar tebakannya, orang itu adalah Sarah.


"Oh my~ Lihat siapa rubah nakal yang suka berlarian ke sana ke mari tanpa memperhatikan sekitarnya. Kenapa kamu datang ke mari? Mau menemui pasanganmu ya?" Senyuman iblis terukir di bibir Sarah.


Alis Serena perlahan menekuk. Sarah seperti sedang mengejeknya, dan Serena tahu kalau Sarah sengaja melakukan itu di depan banyak orang.


Helena berdesis kesal, lalu buru-buru lari menghampiri Serena yang sedang bertatapan sengit dengan Sarah.


Leonard dan Julian yang baru kembali setelah membeli makanan pun terkejut melihat Serena terduduk menyedihkan di lantai yang kotor.


"Sarah, anak itu!!" Gigi Julian bergemelatuk marah. Tanpa banyak bicara Julian membanting piring makannya di atas meja sebelum mendatangi Serena dan juga Sarah.


Cafetaria yang semula tenang perlahan mulai ramai didatangi banyak mahasiswa yang ingin menyaksikan pertengkaran dua perempuan populer di sana.


"Apa-apaan! Kau sengaja ya menabrak Serena sampai membuatnya jatuh?!" tuding Helena pada Sarah.


Sarah tersenyum remeh, "Matamu buta?! Jelas-jelas dia sendiri yang cari masalah karena lari-larian di ruangan sempit kayak gini! Kalau mau bela orang itu matanya dibuka dulu lebar-lebar!" serangnya balik.


"Apa kau bilang!?" Perempatan imajiner muncul di kepala Helena. Amarah mulai mendidih dan siap meledak detik itu juga, andai saja Julian tidak segera datang untuk menengahi ketiga perempuan di sana.


"Serena, kamu gapapa? Ada yang terluka??" Julian menjongkokan diri, menyamakan tingginya dengan Serena.


Sial sekali, Serena memakai rok pendek di atas lutut hari ini, otomatis lututnya sedikit lecet gara-gara bergesekan dengan lantai marmer yang keras.


"Lututku.." Serena mencicit pelan. Takut Julian semakin marah kalau tahu dirinya terluka.


Di sini mereka tak bisa menyalahkan satu sama lain sebab tak ada saksi mata yang melihat secara langsung siapa orang yang melakukan kesalahan lebih dulu.


"A-aku nggak lari-larian kok! Aku cuma jalan cepet aja tadi! Itu juga aku hati-hati biar nggak nabrak orang!" Serena berusaha membela diri di hadapan Julian. Karena memang itu yang dia lakukan.


Serena sudah memastikan jalanan di depannya kosong tidak ada orang lewat sehingga resiko bersenggolan apalagi tabrakan tidak akan terjadi. Tapi anehnya, Serena merasa ada seseorang yang tiba-tiba menyenggol punggungnya dari belakang lalu kakinya seperti tersandung sesuatu sampai membuat keseimbangannya jatuh.


"A-aku nggak menyenggol Sarah..aku yakin itu..." Serena meremas bagian depan dari baju Julian, sambil menatap melas bercampur panik ke arah sang kekasih.


Sementara itu, Sarah berteriak tak terima dalam hatinya. Melihat bagaimana Serena menempel bak ulat bulu pada Julian dengan muka yang sok diimut-imutkan, membuatnya semakin jijik sampai ingin muntah.


"Udah salah masih aja mengelak?! Seenggaknya minta maaf kek! Toh aku juga nggak bakal ngapa-ngapain kamu!" gertak Sarah pada Serena.


Helena maju menghadapi Sarah demi membela sahabat baiknya.


"Kau bahkan nggak lewat di depan Serena dan bahkan dia nggak menyenggolmu sampai jatuh, terus gimana caranya Serena bisa jatuh tersungkur kalau kau nggak macam-macam padanya?" Helena balik menyerang Sarah.


Orang-orang yang mengelilingi mereka mulai berbisik-bisik membicarakan siapa yang patut disalahkan dan siapa yang benar.


Keributan ini bisa memicu pada masalah yang lebih runyam. Serena tidak ingin pertengkaran pecah di area kampus, oleh karena itu dirinya mencoba menahan hasratnya yang ingin menjambak kembali rambut Sarah untuk kesekian kalinya.


"Sebagai permintaan maafku, bagaimana kalau aku traktir kamu makan siang?" Tiba-tiba Serena menawarkan ajakan makan siang bersama.


Balasan yang tak terduga sama sekali. Bahkan Julian dan Helena dibuat tercengang mendengar ucapan Serena yang terkesan memaafkan kesalahan Sarah dengan begitu mudah.


"Kok malah ajak dia makan siang sih, Ren?! Yang ada itu dia harus mengakui kesalahannya sendiri! Bukannya main tuduh sembarang orang!!" Helena menunjuk ke arah muka Sarah sebagai bentuk kekesalannya.


Namun Serena justru menanggapi protesan Helena dengan senyuman lebar yang penuh makna. "Anggap aja sebagai bentuk permintaan maaf dariku karena melukai nona Hudgens yang terhormat ini. Jadi bagaimana? Mau menerima undangan makan siangku?" Serena masih memberikan ajakan itu pada Sarah.


Respon Serena sungguh di luar ekspektasi Sarah. Serena bisa membalas provokasinya dengan gaya yang kalem dan elegan. Sayangnya, Sarah tak ada niatan untuk mundur dari rencana yang telah dia susun dengan susah payah.


"Tawaran yang menggiurkan nona Reinhart yang bijaksana. Tapi yang aku mau cuma permintaan maaf, bukan ajakan makan siang yang bagiku terkesan seperti sogokan itu. Aku bukan tipe cewe rakus yang memandang sesuatu dengan material, nona Reinhart~" jawab Sarah, dengan muka disedih-sedihkan, yang makin membuat luapan emosi Helena, Julian dan Leonard membuncah ke level yang maksimal.


"Boleh jegal kepalanya nggak sih? Kali aja kepalanya lagi bermasalah tuh anak," tanya Helena, sambil mengepalkan kedua tangannya kuat. Helena berusaha sekuat tenaga untuk tidak memberi bogeman mentah di wajah mulus dan licin Sarah.


Namun sebelum Helena maju dan menangani Sarah dengan caranya sendiri, Serena dengan cepat mencegah sahabatnya untuk tidak terprovokasi lebih jauh.


"Kalau itu sih, aku akan lakuin meskipun tanpa kamu minta." Serena maju selangkah demi selangkah mendekati Sarah.


Lalu Serena berdiri tepat di depan Sarah, satu tangannya terangkat, menyentuh pundak kiri Sarah.


"Berhenti sekarang juga, atau aku akan membalasmu berkali lipat lebih memalukan?"


Senyuman manis yang Serena berikan pada Sarah merupakan sebuah peringatan terakhir sebelum dia akan membalas usaha Sarah berkali lipat lebih memalukan dan menyakitkan.


"Karena tikus kecil sepertimu bukan perkara sulit kalau aku mau 'menanganinya' dengan serius."