
"Kau mencoba mengancamku? Padahal yang aku mau cuma permintaan maaf yang tulus darimu. Kenapa kau berpikiran seburuk itu padaku?" Sarah pura-pura terluka atas ancaman yang Serena layangkan pada gadis itu.
Untung Serena hanya berbisik di depan Sarah, sehingga orang-orang di sekitar mereka tak ada yang mendengar jelas apa yang dia ucapkan pada Sarah tadi.
Serena justru tersenyum tipis menanggapi rengekan Sarah. "Aku nggak tau kalau nona Hudgens ini orang yang suka drama. Aku menawarkan makan siang karena aku nggak enak hati sudah melukai sahabat baik dari sau.da.ri kem.bar.ku. Kalian 'kan berteman akrab, udah sewajarnya bukan aku memperlakukanmu sedikit spesial?" Sengaja Serena menekankan kata saudari kembar yang mengacu pada Jasmine, orang yang selama ini Sarah ikuti.
Serena tahu, Sarah melakukan ini mungkin tanpa sepengetahuan Jasmine. Apa bila nanti Sarah terbukti bersalah, itu bisa saja memalukan nama Jasmine juga, yang selama ini dianggap sebagai Ketua dari geng yang diikuti Sarah.
Sarah mengepalkan kedua tangannya menahan kesal. Serena tidak mau menyerah dan terus mendesaknya, kini posisi mereka jadi terbalik. Sarah tidak punya pilihan lain selain mundur untuk kali ini.
"Hm. Aku nggak nyangka harga dirimu setinggi langit sampai enggan meminta maaf atas kesalahanmu. Daripada masalah ini semakin panjang, dengan besar hati aku memaafkan kesalahanmu kali ini," ujar Sarah, seolah-olah dia adalah seorang pemaaf yang berhati besar.
Kemunafikan Sarah sungguh membuat Serena mual.
"Wah~ nona Hudgens ini benar-benar baik ya~ Lalu, apa sekarang giliranmu untuk meminta maaf?" Serena bertepuk tangan sekali, dengan ekspresi yang terlihat cerah.
Wajah Sarah jadi terasa kaku untuk mempertahankan senyum sok ramahnya.
"Ma-maksudmu apa? Kenapa jadi aku yang minta maaf?" Sarah berusaha sabar sebesar yang dia bisa agar imagenya tetap terlihat baik dan lembut.
Serena menyeringai tipis, "Tadi aku lihat kakimu terlalu maju ke depan, aku nggak sempet menghindar dan akhirnya aku tersungkur ke lantai. Apa kamu nggak tau sama sekali?" Bola mata Serena tampak berkaca-kaca, seakan menunjukkan betapa perihnya bagian lutut yang lecet gara-gara jegalan seseorang.
Orang-orang--khususnya para lelaki yang mendukung Serena sontak melayangkan protesan kepada Sarah. Mereka tidak terima Serena terluka dan disalahkan secara sepihak, padahal kalau dipikir-pikir agal mencurigakan juga. Posisi Serena dan Sarah tadi begitu dekat, sedangkan Sarah sama sekali tidak jatuh ataupun limbung ketika 'bersenggolan' dengan Serena.
"A-aku sama sekali nggak tau kalau kakiku yang bikin kamu jatuh. Mungkin karena kamu nggak lihat jalan makanya kamu jadi menyenggolku 'kan?"
Rupanya Sarah kembali ke babak awal. Serena jadi tahu kalau Sarah bukan orang yang gampang menyerah dan berpendirian keras.
Julian yang sudah tidak betah berada di tengah kerumunan tiba-tiba mengangkat tubuh Serena dari belakang.
Tindakan Julian sukses menggemparkan seisi cafetaria.
Reflek Serena mengalungkan kedua tangannya pada pundak kokoh sang kekasih karena takut jatuh dari gendongan bak tuan puteri.
"Ju-Julian?!" Serena malu sekali di gendong dari depan apalagi di lihat banyak orang.
"Kita obati lututmu, sebelum ninggalin bekas." Itu hanya alibi saja, supaya mereka cepat pergi dari keramaian di sana.
Sebelum pergi, Julian menatap dingin Sarah yang langsung menundukkan kepalanya.
Kaki Julian melangkah melewati pundak kanan Sarah yang berdiri kaku karena diselimuti perasaan takut dan tegang. "Kau semakin berani rupanya. Well..aku bisa laporin ulahmu ini pada Tuan Hudgens, kalau kau terus mencari masalah dengan Serena. Camkan itu baik-baik, nona Hudgens," bisik Julian, sebelum berjalan cepat menjauhi kerumunan.
Helena dan Leonard buru-buru menyusul Julian yang sudah lebih dulu pergi membawa Serena.
...🐾...
...🐾...
"Kenapa nggak kamu jambak aja sih rambutnya si nenek lampir itu?!" Helena bersungut kesal lantaran ingin menarik kencang rambut Sarah guna melampiaskan amarahnya.
Serena tertawa kecil, ingin hati juga begitu, namun apa daya, Serena tidak ingin reputasinya semakin tercoreng hanya gara-gara hal sepele.
"Belum waktunya. Tunggu aja saat yang tepat, nanti pasti akan datang lagi."
Spontan Serena berteriak kesakitan, sampai air mata menggenang di pelupuk matanya, lagi.
"Tadi gapapa, tapi sekarang kelihatan agak lebam. Nggak diperiksain ke rumah sakit aja?" Leonard semakin khawatir begitu melihat lebam di lutut Serena.
Serena terjatuh dengan bunyi yang cukup keras tadi. Wajar kalau lututnya jadi lebam seperti sekarang.
Serena sampai meremas sprei ranjang UKS sebagai bentuk pelampiasan rasa sakitnya. "Sakit, ih! Jangan ditekannn!" rengeknya tak tahan.
Julian mendengus pelan sebelum membereskan peralatan p3k yang dia pinjam dari lemari UKS.
"Sini, biar aku masukkan lagi ke lemarinya." Leonard menawarkan diri membantu Julian. Leonard tahu sahabatnya sedang menahan diri untuk tidak mengomeli Serena, itu terlihat jelas kok. Makanya Leonard ingin memberi privasi untuk Julian dan Serena.
"Udah 'kan? Kalau gitu, kita tinggal dulu ya?" Tiba-tiba Leonard menarik lengan Helena untuk ikut dengannya.
Dasarnya Helena tidak peka membaca situasi. Gadis itu awalnya memberontak keras, tak ingin berpisah dari Serena. Namun Leonard mengkode Helena untuk ikut dengannya daripada mengganggu privasi sepasang kekasih di sana.
Mau tak mau akhirnya Helena pasrah diajak pergi oleh Leonard, menyisakan Julian dan Serena di dalam ruangan UKS yang kosong.
"Sayang...sakit semua lututku.." Serena baru mengadu kesakitan disertai rengekan manjanya pada Julian.
Kedua tangan Serena direntangkan di atas, meminta Julian untuk memeluknya dengan erat.
Julian yang tidak bisa marah lama-lama akhirnya menurut tanpa banyak bicara. Lelaki itu merangkak naik ke atas ranjang, lalu membiarkan tubuhnya dipeluk dengan erat oleh Serena.
Mereka berbaring bersama di atas ranjang yang sempit. Padahal Serena ingin bersenang-senang hari ini, tapi ada saja yang menggagalkan rencana baik yang telah dia nanti-nantikan.
Kesal sekali rasanya. Serena sampai ingin melampiaskan kekecewaannya dengan meninju waj-maksudnya sesuatu yang keras.
"Kenapa harus jatuh sih? Malu-maluin aja!" Bohong kalau Serena tidak merasa malu atas insiden tadi. Jatuh di depan banyak orang tentu bukan pengalaman yang menyenangkan.
Julian mengusap-usap lembut punggung serta rambut panjang kekasihnya. Mendengarkan dengan seksama setiap gerutuan yang terucap dari bibir tipis Serena dan memberikan waktu pada gadis itu untuk menenangkan diri.
"Kalau masih mau pergi ya gapapa. Aku gendong kamu terus juga nggak masalah. Aku tau kamu juga bosen di rumah mulu," ujar Julian, yang tak ingin membatasi ruang gerak Serena meski lutut gadis itu sedikit terluka.
Serena menggesekkan wajahnya di d*ada Julian. Menghirup aroma khas yang terpancar dari tubuh sang kekasih, guna menenangkan hatinya. "Jangan...aku berat. Nanti kamu kecapekan ngurusin aku," gumamnya lirih.
Selagi kakinya masih bisa melangkah, Serena akan berjalan menggunakan kedua kakinya sendiri. Biar si nenek lampir itu lihat kalau dia bukan anak yang lemah lagi!
"Ayo, kita pergi! Kita udah janji sama Helena dan kak Caesar! Nggak boleh ingkar janji!" Serena sudah kembali menjadi dirinya yang bersemangat dan energik.
Julian tersenyum kecil. Memang hari ini mereka mempunyai janji akan pergi bersama Helena dan Caesar.
Caesar mengundur kepulangannya tiga hari lagi, jadi selama di sini, Serena ingin mengajak sepupunya berwisata bersama dengan orang-orang terdekatnya yang lain.
Caesar yang dasarnya bucin Serena tentu tidak akan menolak. Toh itu juga untuk menghibur Serena yang mulai kembali ceria seperti sedia kala. Caesar ingin memastikan bahwa sepupu tersayangnya benar-benar sudah sehat dan membaik, baik secara jiwa maupun fisik, sebelum dia kembali pulang.
Untuk urusan Dion, Caesar berjanji akan mengirimkan sample rambut atau lainnya dari bagian tubuh pamannya untuk keperluan tes DNA secara menyeluruh.
Setelah hasil tes keluar, Caesar akan memulai 'permainan'nya dengan melibatkan Dion dan juga Serena. Caesar sudah berjanji tidak akan meninggalkan Serena, jadi dia berencana membawa serta Serena bersamanya ketika menghadiri pertemuan-pertemuan dengan para eksekutif perusahaan Reinhart.
Secara tidak langsung Caesar akan menunjukkan dukungan penuhnya pada Serena sebagai calon penerus perusahaan cabang yang dikelola oleh Tuan Philip, dan akan memukul mundur Jasmine yang berani melangkahi Serena.