
"Perkenalkan, ini anak saya, Sarah hudgens, dia anak pertama yang sangat manis dan pintar di keluarga kami."
Pertemuan pertama Sarah dengan Julian adalah ketika menghadiri suatu acara penting di Perancis.
Dari kejauhan, sosok Julian sudah terlihat begitu tampan dan keren. Bahkan di mata anak umur 8 tahun seperti Sarah pun, Julian bagaikan pangeran dari sebuah negeri dongeng yang sulit dijangkau.
Dalam pandangan pertama, Sarah sudah jatuh hati pada Julian. Sejak pertemuan pertama itulah, hati Sarah hanya tertuju pada Julian, putera kedua dari keluarga Collin yang kebetulan juga sedang menjalin kerja sama dengan perusahaan keluarga Hudgens.
Berkat akses dari orang tuanya pula, Sarah dapat ikut menghadiri acara-acara bisnis karena ingin melihat dan mendekatkan diri pada Julian.
Lagipula orang tuanya juga sangat setuju apa bila Sarah menjalin hubungan dengan Julian. Dengan begitu, keluarganya akan menerima keuntungan yang besar jika Sarah benar-benar menjadi pasangan Julian di masa depan.
Menggenggam teguh kepercayaan diri mereka, orang tua Sarah bersikeukuh mengenalkan Sarah pada Joseph, selaku orang tua Julian. Joseph juga menyambut hangat kehadiran Sarah dan bahkan mengakui pula bahwa Sarah merupakan gadis yang manis dan elegan dibanding anak sepantarannya.
Pujian itu jelas menjunjung harga diri Sarah dan membuatnya besar kepala lantaran mengira sudah mendapat restu dari kedua belah pihak keluarga.
Sayangnya Julian pindah ke negara lain tepat ketika mereka berumur 10 tahun. Sarah tidak lagi bisa melihat Julian dan melancarkan aksi pendekatannya secara langsung. Jadi yang bisa Sarah lakukan hanyalah mengirimi Julian pesan secara pribadi meski tak pernah menerima surat balasan dari yang bersangkutan.
Lama menanti sepucuk surat dari sang pujaan hati, pada akhirnya Sarah menghentikan usahanya. Sarah hanya menerima kabar tentang Julian melalui siaran televisi atau sosial media yang lebih up to date. Bahkan Sarah sampai menyewa seorang informan demi menggali informasi rahasia terkait keseharian atau rencana Julian di masa depan nanti.
Termasuk di antaranya, kampus mana yang akan dipilih oleh Julian.
Sarah sampai nekat terbang ke negara lain seorang diri demi mengejar sang pujaan hati. Tidak ada yang mengetahui rahasia ini, bahkan orang tuanya sekalipun. Sarah bertindak secara diam-diam agar tidak ada yang mengetahui aibnya ini.
Dan sekarang, setelah bersusah payah menyingkirkan para perempuan yang ingin mendekati Julian-nya, Sarah harus kembali menghadapi Serena yang secara diam-diam telah menjadi kekasih Julian.
Sarah tak bisa memprediksikan ke mana arah angin berlayar. Dari sekian banyak perempuan terkenal yang super cantik dan seksi, pilihan Julian justru jatuh pada sosok Serena yang tak lain merupakan anak 'buangan' di keluarganya.
Reputasi Serena itu sudah terlanjur jatuh dan jelek di mata banyak orang.
Untuk gadis selevel Serena, tentu tidak pantas menjadi pendamping laki-laki setampan dan sesempurna Julian. Hanya gadis sesempurna dirinya yang lebih pantas dan cocok sebagai pendamping Julian, maka dari itu Sarah tidak ingin kalah dari Serena.
Sarah harus bisa menjatuhkan Serena serapi mungkin agar tidak dicurigai orang. Bila cara halus tidak juga berhasil, Sarah terpaksa harus menggunakan cara yang lebih keras untuk menyingkirkan Serena.
Posisi sebagai istri Julian akan menjadi miliknya untuk selama-lamanya!
...🦋...
...🦋...
"Hei, kau!"
Tangan Serena berhenti bergerak ketika seseorang berseru keras di belakangnya.
Melihat siapa yang memanggilnya dengan tidak sopan, Serena memilih mengacuhkan orang itu dan segera mematikan kran wastafel yang menyala.
Serena jelas-jelas melihat ke arahnya, tapi gadis itu justru mengacuhkannya dan pura-pura tidak melihat dirinya. Dengan emosi yang meradang, Sarah menghampiri Serena lalu menjambak rambut pirang Serena dari belakang.
"Telingamu udah nggak berfungsi lagi?! Mau aku buat tuli permanen sekalian, huh?!" Gadis itu menggertak Serena yang mendongak paksa lantaran rambutnya ditarik cukup kuat.
"ARGH! DASAR CEWE SIALAN!!!" Sarah memekik kesakitan seraya memegangi perutnya yang kena sikut.
"Apa maumu? Kenapa kau tiba-tiba menyerangku?" Serena bertanya dengan nada setenang mungkin, seraya merapikan kembali rambutnya yang berantakan.
Sarah menggeram kesal. Serena sudah berani melakukan perlawanan. Setelah nenghilang tak ada kabar, tahu-tahu muncul dengan gaya sok berani. Sarah makin muak melihat Serena dari hari ke hari.
"Huh! Itu hadiah dariku karena kau udah berani merebut pacar orang! Kenapa nggak sekalian menghilang untuk selama-lamanya? Supaya nggak ada lagi yang mengganggu Jasmine dan Jevano!!" Sarah tak akan mundur dengan mudah. Dia harus memberi Serena pelajaran agar gadis itu menyadari posisinya sekarang.
"Anak buangan kayak kamu nggak pantes jadi pendamping Julian!!"
Dhuak
Sesuatu melesat cepat melewati sisi wajahnya. Kedua mata Sarah membola kaget menyadari bahwa tangan Serena sudah mendarat dengan keras di permukaan dinding yang ada di belakangnya.
Kaki Sarah gemetar ketakutan melihat sorot mata Serena yang dingin dan mengintimidasi.
"Tau apa kau soal aku dan keluargaku? Orang asing nggak usah ikut campur soal urusan keluarga orang. Dan cabut ucapanmu yang menyebutku perebut pacar orang itu. Jevano sendiri yang memaksaku pergi sampai memohon-mohon di bawah kakiku. Ibunya bahkan sangat menyayangiku, jadi di sini siapa yang berusaha mendekati siapa?!" Serena mengangkat dagu angkuh sembari membeberkan fakta yang tak banyak orang mengetahuinya.
"Daripada muncul spekulasi menyimpang soal aku dan Jevano, gimana kalau kita tanyakan ke orangnya langsung?" usul Serena tiba-tiba. Bibirnya menyunggingkan senyuman licik yang tak pernah Sarah lihat sebelumnya, "Kita tanyakan langsung ke orang yang bersangkutan. Dia lebih memihak padaku atau Jasmine yang kau agungkan itu. Aku sama sekali nggak takut. Sesuai julukan yang kau berikan ke aku, aku hanya seorang anak 'buangan' jadi apapun skandal yang menimpaku nggak akan berpengaruh sama reputasiku yang dari awal nggak pernah baik di mata kalian! Ayo, coba tanyakan langsung!"
Serena sudah muak. Benar-benar muak dengan drama yang di buat orang-orang itu. Di luar, Sarah tampak membela Jasmine mati-matian, tapi Serena tahu, ada maksud terselubung di balik aksi Sarah yang bersekutu dengan Jasmine.
Sejak pertama kali Serena bertemu dengan Sarah, gadis nyentrik itu tidak pernah memberi kesan baik kepadanya. Sarah menunjukkan ketidaksukaannya secara terang-terangan tetapi Serena tidak pernah memprotes sekali pun.
Kini sudah waktunya Serena menghentikan permainan busuk Sarah. Serena tidak akan membiarkan dirinya ditindas serta direndahkan oleh orang lain lagi, sekalipun cara keras harus dilakukan.
"AARGH! SA-SAKITTT! BERHENTI!!!" Sarah berteriak kesakitan ketika kulit kepalanya serasa ditarik dengan kuat.
Serena menyeringai puas melihat musuhnya memekik kesakitan. "Sakit? Lucu banget. Aku cuma meniru apa yang tadi kamu lakuin ke aku. Sakit ya? Apa kamu pernah memikirkan perasaan orang ketika kamu menindas mereka?" Senyum tak luntur dari wajah cantik Serena.
Itu membuat Serena tampak menyeramkan berkali kali lipat.
Lalu Serena mendekatkan bibirnya ke telinga kanan Sarah, kemudian berbisik pelan, "Terus gimana rasanya terkunci di kamar mandi lalu disiram dengan air pel-pelan yang kotor? Kayaknya seru banget tuh, apa kamu mau nyoba sekalian?"
Bisikan Serena membuat sekujur tubuh Sarah merinding bukan main.
Namun serangan Serena tak cukup berhenti sampai di situ, "Oh? Jangan deh, gimana kalau ngerasain sensasi di lempar pot bunga dari atas? Memicu adrenaline banget kayaknya. Kamu mau coba sekarang?" tawarnya, dengan senyuman lebar disertai sorot matanya yang gelap.
Kedua kaki Sarah melemas seketika. Dia terduduk layu di atas lantai toilet yang kotor. Sekujur tubuhnya gemetar di atas rasa takut dan panik.
Aura Serena terasa berbeda. Serena terlihat seperti orang lain yang tak di kenalnya. Sarah menggigiti ibu jarinya dengan gemas. Rencananya lagi-lagi berakhir gagal, bahkan dia menerima pukulan mundur telak dari Serena.
'Kalau begini aja aku udah kalah, bisa-bisa aku kehilangan kesempatanku buat menikah sama Julian. Nggak, aku nggak boleh mundur gitu aja cuma gara-gara takut sama dia!' Sarah mengepalkan kedua tangannya, dia tidak ingin menyerah hanya karena digertak oleh Serena.
Serena boleh berubah, begitupun juga dengan dirinya. Bila Serena ingin bermain kasar, maka dirinya pun akan melakukan yang serupa. Sarah menyeringai, sambil tertawa dalam hatinya, 'Hahaha. Lihat aja Serena, sekarang kau bisa melawanku balik. Tapi untuk selanjutnya, aku bakal buat kamu bertekuk lutut memohon ampun dariku! Lihat aja nanti!'