
Entah sudah berapa lama mereka di atas perahu. Ainsley mulai merasa panas tak karuan. Ia mengelap kening dengan saputangan milik Austin.
"Aku bisa mendayung ke tepi sungai yang teduh. Kau mau?" tawar Austin. Ainsley mengangguk. Ia memang merasa kepanasan karena berada langsung di bawah matahari. Angin yang bertiup tadi mulai berkurang jadi tidak mampu menghadang matahari terik untuknya.
"Apa yang kau suka ketika naik perahu?" tanya Austin sambil mengangkat dayung dari air dan membiarkan mereka meluncur ke bawah bayang-bayang teduh.
"Aku tak tahu, hanya suka saja." sahut Ainsley mengangkat bahu. Tangannya menelusuri permukaan air dan melirik Austin lagi.
"Kau tidak kepanasan dengan setelanmu itu?" tanyanya.
Austin melirik sebentar penampilannya yang memakai kemeja panjang biru dan menatap Ainsley.
"Bukannya kau yang menyiapkan pakaian ini untukku?" katanya dengan senyum menggoda.
Ainsley berdeham. Benar juga. Kan setelah pakaian yang dipakai pria itu dia sendiri yang siapkan tadi. Ia jadi malu sendiri.
"Kenapa diam, kau malu?" Austin menyeringai. Ainsley mendelik tajam, seolah memberi peringatan ke Austin untuk tidak menggodanya namun Austin tetap saja melakukannya sampai-sampai tidak sadar perahu itu menabrak sesuatu.
Perahu itu bergoncang membuat Ainsley terlonjak kaget dan mencengkeram tepian perahu kuat-kuat agar tidak jatuh ke air dengan kepala lebih dulu.
"Austin!" jerit Ainsley kesal. Bagaimana kalau ia sampai jatuh. Ia kan tidak bisa berenang. Bukan, bukan tidak bisa. Tapi tidak begitu mahir. Kalau sampai jatuh ke air otaknya akan bleng dan semua pengetahuan tentang cara berenang yang dia tahu akan hilang karena gugup. Artinya sama saja. Ia tetap akan tenggelam.
Austin malah tertawa. Ekspresi gugup Ainsley membuatnya merasa lucu. Lagipula kalau gadis itu jatuh ke air kan ada dia. Ainsley tidak akan kenapa-kenapa selama ada dirinya.
Ainsley pikir sudah berakhir dan perahu itu tidak akan menabrak sesuatu lagi. Ternyata dia salah. Austin mendayung ke arah yang salah dan tidak melihat ada batu besar dekat situ hingga perahu menghantam batu itu dan dalam sekejap Ainsley terjatuh ke air.
Detik itu juga Austin ikut melompat untuk menyelamatkan istrinya.
Di tempat lain, Perahu yang di naiki kelompok Narrel sudah lebih dulu sampai ke dermaga. Mereka memutuskan kembali karena Yuka terus-terusan mengeluh kulitnya terbakar akibat teriknya mata hari. Mau tidak mau Narrel dengan berat hati mengiyakan. Yang lain juga sudah setuju.
"Kemana Austin? Mereka belum kembali?" Mata Yuka sibuk memandang ke segala arah namun Austin dan istrinya itu sama sekali tidak terlihat. Padahal danau itu tidak terbilang besar. Malah cenderung kecil. Meski tidak kecil-kecil amat juga.
Narrel menatap malas wanita itu.
"Kau tahu aku membawamu ke sini untuk menemaniku kan? Bukan melirik pria lain." kata lelaki itu penuh peringatan. Yuka balas menatapnya tidak suka.
"Dan aku berhak melirik siapapun yang aku suka." balas Yuka dengan gaya angkuhnya. Iren dan yang lain hanya menjadi penonton.
Yuka ini memang sangat sombong dan suka berbuat seenaknya. Padahal bukan siapa-siapa juga. Narrel ingin sekali mengusirnya sekarang juga dari villanya, tapi ia menahannya karena tidak mau merusak rencana Iren yang sudah ia buat untuk pacarnya.
Awalnya Narrel berencana membawa Yuka agar nanti malam bisa melakukan *** dengan wanita itu, namun ia sudah tidak berminat lagi sekarang.
Deisy mengangguk setuju. Ia sendiri sudah kepanasan daritadi. Ia yakin kalau sampai setengah jam kedepan mereka masih di sini kulitnya sudah terkelupas akibat sengatan matahari. Wanita itu sama dengan Yuka tidak suka kepanasan. Tapi tidak sebawel wanita angkuh itu. Ia lebih memilih bungkam. Apalagi dirinya cuma bawahan.
Narrel akhirnya mengiyakan tawaran Demon untuk balik ke villa lebih dulu. Lagipula mereka juga tidak tahu kapan Austin dan Ainsley kembali. Mungkin saja keduanya ingin berlama-lama berdua.
***
Air danau yang tadinya terlihat sempurna dan tenang di mata Ainsley ternyata tidak sesuai ekspektasi sama sekali. Ternyata air itu dingin, bau dan jauh dari kata sempurna.
Ketika air danau yang hijau keruh menutupi kepala Ainsley, gadis itu langsung panik. Apalagi dia merasa ada sesuatu yang berlendir dibawah sana yang menyentuh kakinya.
Ainsley tidak sempat berpikir untuk menutup mulut sebelum terjatuh, dan air danau pun memenuhi mulut dan hidungnya. Air itu berwarna hijau dan rasanya sangat membuatnya ingin muntah.
Ainsley memukul-mukul air, mati-matian mencari permukaan, tapi tangannya menghantam sesuatu entah apa itu ia tidak mau tahu. Gadis itu benar-benar ketakutan.
Dengan panik Ainsley menendang-nendang, memutar tubuhnya ke depan dan ke atas, berusaha mencapai permukaan air.
Tiba-tiba ia merasa ada yang meraih tubuhnya, menariknya ke samping. Ainsley makin panik. Ia menendang dan melawan, nafasnya seperti terbakar di tenggorokan.
Ketika telapak tangannya menyentuh sesuatu yang lembut, yang pastinya bukan perahu atau dasar danau yang berlumpur, ia sadar dirinya tidak sendirian. Gadis itu merasa lega. Itu pasti Austin.
Ainsley langsung berpegangan pada pria itu dan menarik tubuhnya mendekat padanya ketika melesat ke atas. Ia melingkarkan tangan dan kakinya di tubuh Austin tepat sebelum kepala mereka muncul di permukaan air. Gadis itu membenamkan wajahnya di cekungan leher Austin untuk meredam ketakutannya.
Perlahan-lahan, pikiran jernih kembali. Ainsley terbatuk dan tersedak. Tidak ada tenaga lagi baginya untuk memarahi Austin. Memang bukan salah pria itu juga sampai dia terjatuh. Pasti Austin tidak tahu sama sekali kalau mereka akan menabrak batu besar.
"Ainsley," Austin berbisik di telinga Ainsley.
"Kau baik-baik saja?"
Seketika itu juga, Ainsley menyadari degub jantung di dada Austin yang menempel padanya. Wajahnya terlihat khawatir.
Suhu air yang nyaris tidak Ainsley sadari sejak Austin meraihnya di bawah air tadi tiba-tiba terasa semakin dingin. Gadis itu bergidik, masih tak sanggup membuka mulut. Tatapan keduanya bertemu dan Ainsley mengangguk. Barulah sesudah itu Austin terlihat lega.
"Kita balik sekarang," ucap pria itu.
Ainsley tidak mengatakan apapun. Ia sudah terlalu lemah. Rasa air yang tertelan olehnya tadi masih tertinggal di tenggorokannya. Ia hanya membiarkan Austin menggendongnya sampai ke darat.
Austin berhenti sebentar, mendudukkan Ainsley di sebuah batu sedang dan membuka kemejanya untuk dipakaikan pada gadis itu. Menyisakan kaos putih didalammya, yang membuatnya makin terlihat tampan.
"Pakai ini biar tidak terlalu kedinginan," gumam Austin di sela-sela kesibukannya memakaikan kemejanya di tubuh Ainsley. Setelah itu ia kembali menggendong gadis itu dan berjalan meninggalkan tempat itu.