Mine

Mine
Chapter 51



Ainsley duduk di bangku taman kampus dengan wajah ketar-ketir. Ia terus menggigiti jari-jari tangannya sejak tadi. Ia berusaha melupakan apa yang terjadi di aula tadi tapi tidak bisa juga. Astaga, dia sangat malu. Pasti Austin sedang menertawainya sekarang. Pria sombong itu, pasti merasa menang. Setelah Ainsley pikir-pikir, kenapa Austin harus menunjuknya tadi? Kan ada banyak mahasiswa yang lain. Pria itu juga tahu kalau dirinya tidak senang menjadi bahan perhatian. Cih, pasti pria itu sengaja. Untuk membuatnya malu didepan umum tentu saja. Raut wajah Ainsley berubah kesal. Ia mengumpat dalam hati.


Ketika memandang ke bagian kanan, mata Ainsley melotot sempurna saat melihat pria yang sedang ia pikirkan  itu muncul dari balik tembok yang menghadap taman tempatnya berada. Ia segera bersembunyi dibalik pot bunga besar yang memang berada didekat situ. Berusaha menghindari suaminya yang berjalan bersama Narrel dan salah satu profesor kampus mereka.


Ainsley menghela nafas dan menyembunyikan wajahnya di kedua lutut yang tertekuk. Sungguh, ia merasa frustasi dan malu sekali dengan situasi yang terjadi saat ini. Dengan susah payah ia membalikan tubuh, mengendap-endap pergi dari tempat itu agar tidak terlihat oleh Austin. Sayangnya, sebelum berhasil suara berat yang sangat ia kenal itu tiba-tiba terdengar dan membuatnya memekik kaget.


"Sedang apa disitu?"


"Argh!" pekik Ainsley benar-benar kaget. Wajah paniknya yang lucu membuat Austin yang berdiri didepannya merasa gemas.


Ainsley berdiri dari persembunyiannya, menengok kanan-kiri seperti pencuri, dan kembali membungkuk saat melihat beberapa orang di ujung sana sedang melihat ke arah mereka. Ini adalah area kampus, bagaimana kalau banyak yang melihat mereka berdua bersama. Pasti gosip akan mulai bermunculan.


"Cepat pergi. Ada banyak orang di sini." usirnya dengan suara pelan. Austin memang agak jengkel karena istrinya malah mengusirnya. Tapi ia bisa memakai keadaan sekarang ini untuk membuat gadis itu tidak menghindarinya lagi.


"Aku akan pergi dengan satu syarat." ucapnya menatap Ainsley lekat.


Ainsley menggertakan giginya kesal. Apalagi sih. Dia makin gugup karena makin banyak orang yang berjalan ke arah taman. Bahkan ada yang memotret-motret Austin dari kejauhan. Untung dirinya tidak terlihat disamping bak sampah besar itu.


"Cepat katakan." balasnya tidak sabar.


"Sepuluh menit dari sekarang temui aku di mobil."


"Hah?" Ainsley tidak percaya Austin akan memakai kesempatan ini untuk memaksanya.


"Tinggal kau pilih. Mau bicara denganku di sini, atau di mobil." Austin menyeringai. Ainsley menutup matanya dalam-dalam. Ingin sekali ia menjambak rambut Austin sekarang juga.


"Baiklah." katanya kemudian.


Austin tersenyum puas.


"Aku akan menunggumu. Kalau dalam sepuluh menit kau tidak muncul-muncul juga, jangan salahkan aku menarikmu ikut denganku didepan umum." ancam pria itu sebelum berbalik pergi. Ainsley melongo. Berani sekali pria itu mengancamnya.


                                     ***


"Sudah lewat tiga menit, sayang."


"Kalau aku tidak melihatmu dalam lima menit, kau akan tahu kalau ancamanku tadi tidak main-main."


Hufft. Ainsley menghembuskan nafas panjang. Ia terus menatap ponselnya. Austin sudah mengirim dua pesan secara berturut-turut padanya. Dengan berat hati ia terpaksa keluar dari kelas yang memang sudah kosong itu menuju gerbang depan.


Matanya mencari-cari dimana mobil Austin di parkir. Ketika mendengar suara klakson dari bagian kirinya, kakinya Ainsley kembali bergerak ke arah kiri. Mobil mewah berwarna hitam itu langsung terbuka dan Ainsley bisa lihat pria yang duduk di kursi sopir itu tersenyum sambil melambai padanya dengan wajah tanpa dosa.


Ainsley kembali menengok kanan-kiri sebelum tangannya ditarik tiba-tiba masuk ke dalam dan mobil itu terkunci. Hanya ada pasangan suami istri itu. Ainsley tidak melihat keberadaan Narrel yang membuat dirinya bertambah gugup. Padahal sudah hampir seminggu ini ia terus menghindari Austin, tapi sekarang ia tidak bisa lari lagi.


Apalagi kini Austin terus menatapnya intens tanpa mengalihkan tatapan itu darinya sedikitpun. Ainsley berusaha mengalihkan wajahnya ke arah lain. Rasa gugup kembali membanjiri dirinya. Ia merasakan tangan Austin didagunya, memaksanya untuk menatap pria itu.


"Aku sudah membiarkanmu beberapa hari ini, sekarang kau tidak bisa menghindariku lagi." gumam Austin. Ainsley memberanikan diri menatap mata pria itu, tapi lagi-lagi ia tidak kuat. Rasa gugupnya makin menjadi-jadi.


"A..aku harus pergi, masih ada kelas sekarang." bohong Ainsley secepatnya ingin membuka pintu tapi ternyata pintu itu sudah di kunci oleh sih pemilik mobil. Ya ampun, bagaimana ini? Hatinya meraung-raung. Dia merasakan darahnya mengalir amat cepat, jantungnya berdebar sangat keras.


"AHH!" ia memekik kaget karena Austin tiba-tiba mengangkat tubuhnya duduk ke pangkuan pria itu.


"Kau malu?" goda Austin. Jelas sekali ia melihat wajah Ainsley yang memerah.


"S..siapa yang malu?" bohong Ainsley. Austin tertawa sembari mengangguk-angguk.


"Ya ya ya, kau tidak malu tapi terus menghindariku seminggu ini. Kau pikir aku tidak tahu kalau dirimu hanya berpura-pura tidur setiap kami aku pulang kantor?" ledek pria itu. Ainsley menelan salivanya. Ternyata Austin tahu tentang itu juga. Apa kelihatan sekali ia hanya berakting?


Tiba-tiba ia terkejut merasakan sesuatu yang kenyal dan basah menyentuh bibirnya.