Mine

Mine
Chapter 32



Ainsley tidak berhenti-berhenti menatap Austin. Mereka telah sampai di rumah beberapa menit yang lalu dari makan malam dengan rekan kerja pria itu. Kini keduanya duduk di ruang keluarga.


Austin sendiri tahu kenapa gadis itu terus menatapnya, tapi ia memilih cuek. Biar saja gadis itu marah.


"Kau tidak mau minta maaf padaku?" tanya Ainsley akhirnya. Ia tidak tahan lagi untuk tidak bicara.


Austin menoleh ke samping,


"Minta maaf untuk apa?" ia balas bertanya. Pura-pura tidak mengerti apa maksud gadis itu.


Mata Ainsley membuka lebar. Pria itu jelas-jelas tahu maksudnya tapi pura-pura.


"Kau lupa? Tadi kau membuatku menyentuh..," Ainsley menunjuk ke bawah, melihat bagian di antara paha Austin namun cepat-cepat memalingkan wajahnya. Mukanya jadi bersemu merah karena malu. Ia tidak lihat wajah Austin yang menyeringai nakal menatapnya.


"Menyentuh apa?" tanya Austin dengan suara menggoda. Ainsley kembali melirik pria itu.


"Kau tahu apa maksudku, Austin." kata Ainsley ketus. Austin terkekeh.


"Kenapa harus minta maaf? Kau itu istriku. Aku tidak bisa dibilang melakukan pelecehan **** padamu bukan? Lagipula itu hal biasa bagi pasangan suami istri. Kau saja yang terlalu berlebihan." balas pria itu panjang lebar. Apa salahnya minta maaf coba. Batin Ainsley.


"Tapi kau sudah berjanji tidak akan menyentuhku, aku harap kau ingat itu." katanya tegas.


"Memangnya aku menyentuhmu tadi? Seingatku kau yang menyentuhku, dengan tangan indahmu itu." seringai Austin. Ainsley ternganga tidak percaya. Lama-lama ia bisa gila beradu mulut dengan pria itu.


"Sudahlah. Lebih baik aku tidur saja. Kau, malam ini cari kamar lain saja buat tidur." kata Ainsley lagi kemudian bangkit dan pergi dari situ ke lantai dua. Meninggalkan Austin yang hanya menggeleng-geleng kepala menatap kepergian Ainsley.


Lucu.


Satu kata yang ada dalam benaknya.


Istrinya sangat lucu kalau sedang marah.


                                    ***


Pagi hari ketika Ainsley membuka mata. Hal pertama yang ia lakukan adalah memegangi perutnya yang keroncongan. Semalam di restoran, ia makan tidak terlalu banyak. Jadi makhlum kalau pagi ini ia merasa lapar. 


Ainsley menegakkan tubuhnya, mencari Austin tentu saja. Tetapi sebelah ranjangnya dan sofa dalam kamar itu kosong. Austin tidak


ada. Jangan bilang lelaki itu memang tidak tidur dalam kamar itu karena perkataannya semalam. Tapi, dengan karakter seorang Austin tidak mungkin pria itu akan mendengarnya. Ainsley mengangkat bahu acuh tak acuh.


Diliriknya jam dinding tak jauh darinya, sudah jam tujuh


delapan pagi. Ainsley tidak pernah bangun sesiang ini sebelumnya, dia


selalu bangun jam enam pagi, melakukan kesibukan lain lalu bersiap ke kampus.


Ainsley melangkah berdiri dari ranjang, melangkah ke kamar mandi dan mandi dengan air


hangat untuk menyegarkan dirinya dan tubuhnya yang terasa


penat. Setelah itu dia melangkah ke luar kamar.


Suasana rumah Austin tampak lengang. Kamar Austin berada


di lantai dua, dan tidak ada siapapun di situ. Ainsley menuruni tangga melangkah turun menuju ke ruang makan. Sarapan lengkap sudah


disiapkan di sana.


Tiba-tiba perut Ainsley berbunyi ketika mencium harumnya omelet dan nasi goreng yang tersedia di


tubuhnya berteriak mengirimkan alarm yang mengatakan bahwa dia lapar.


Karena semalam di restoran, walau itu restoran berbintang lima sekalipun, tidak ada sama sekali nafsunya untuk makan. Pokoknya pagi ini harus makan sekenyang mungkin.


Ainsley mengambil piring dan mengisinya dengan sedikit omelet dan sayuran untuk mengganjal perutnya.


Ketika selesai makan, ia melihat seorang  pelayan rumah itu mendatanginya dan langsung membungkukkan tubuh hormat begitu melihatnya. Mungkin pelayan itu yang menyiapkan makanan yang di makannya tadi. Ainsley tersenyum singkat. Tiba-tiba terbersit pertanyaan dalam pikirannya pada pelayan itu.


"Dimana suamiku?" tanya Ainsley pelan, masih merasa


ragu mengklaim Austin sebagai suaminya. Tapi tetap bertanya begitu.


Pelayan itu masih membungkuk hormat, "Tuan Austin


sudah berangkat sejak pagi tadi, Nyonya."


"Berangkat kemana?" Ainsley mengernyitkan keningnya.


"Berangkat kerja." jawab pelayan itu singkat, lalu pamit untuk melanjutkan pekerjaannya di belakang.


Bekerja? Lagi? Kalau pria itu akan sibuk setiap hari seperti ini, apa gunanya membawanya liburan? Ainsley jadi kesal sendiri.


Ainsley mengira Austin akan meluangkan waktu untuk


mereka bisa bersantai berdua, setidaknya menemaninya jalan-jalan. Ainsley merasa tidak suka jalan-jalan sendirian, apalagi di tempat asing begini. Bagaimana kalau dia tiba-tiba hilang jalan? Atau yang lebih parahnya lagi bertemu dengan penculik. Segala kemungkinan bisa terjadi bukan?


Sampai dengan siang hari, Ainsley terus menghabiskan


waktunya dengan kesepian di rumah itu. Dia sama sekali tidak


menyangka inilah yang akan terjadi pada dirinya setelah sampai di negara orang. Ditinggalkan


bekerja, seorang diri di rumah.


Ainsley melirik ponsel yang di berikan oleh Diana kemarin. Ponsel yang di beli dengan uang Austin. Hanya ada tiga kontak dalam ponsel itu. Padahal ia ingin video call para sahabatnya. Setidaknya bisa menghabiskan waktu berbincang-bincang dengan mereka untuk menghilangkan rasa bosan. Sayangnya Ainsley harus pasrah karena nomor para sahabatnya tidak ada. Salahkan Austin karena tidak membawa ponselnya juga.


Apa dia telpon Diana saja? Meminta wanita itu menemaninya jalan-jalan.


Ainsley menimbang-nimbang. Tapi Diana pasti sibuk. Bos nya saja sibuk, bagaimana kabar anak buahnya coba. Arhggg... Ia jadi ingin pulang. Setidaknya di tempat tinggalnya sendiri ia tahu harus melakukan apa kalau lagi bosan. Bukan duduk sendirian seperti orang bodoh begini. Ainsley mengacak-acak rambutnya frustasi.


Austin pulang beberapa saat kemudian. Suara mobil Austin


yang memasuki halaman rumah yang luas itu membuat Ainsley mendengus keras. Pokoknya ia akan meminta pulang secepat mungkin pada Austin.


Percuma saja dirinya tetap berada di negara ini kalau tidak melakukan apa-apa.


Langkah Austin terhenti ketika melihat Ainsley yang sedang duduk di ruang tamu. Gadis itu bersedekap dada sambil menatap Austin. Pria itu berjalan mendekat.


"Kenapa cemberut begitu?" tanya Austin sesekali mencolek pipi Ainsley yang berisi. Walau tubuh gadis itu terbilang kurus, tapi wajahnya berisi. Menambah kesan manis.


"Aku ingin pulang secepatnya." kata Ainsley langsung. Senyuman di wajah Austin berubah.


"Kenapa? Kau tidak suka di sini? Tunggu setelah pekerjaanku selesai, aku akan membawamu jalan-jalan. Bagaimana?" tawar Austin. Ia sadar beberapa hari ini ia terlalu sibuk dengan urusan kantor jadi tidak bisa terus menemani Ainsley.


Austin sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Siapa yang akan menyangka ketika sampai di Kota ini perusahaannya tiba-tiba tertimpa masalah yang cukup serius. Austin harus menghubungi cukup banyak pemegang saham dan mengatur kerja sama dengan perusahaan lain. Karena itu juga rencana yang sudah dia susun dengan baik untuk berdua saja dengan Ainsley jadi kacau. Ia harus mengatur ulang jadwalnya.