
"Tumben kau mau ikut acara makan bersama gini? Biasanya selalu izin pulang duluan?"
Seorang pria berjalan mendekati Helena yang duduk di antara karyawan perempuan yang lebih senior.
Ini dia orang yang Helena antisipasi, Rowan namanya. Pria yang diterima oleh perusahaan berbarengan dengan Helena, yang sejak awal bekerja selalu mengganggu Helena dengan alasan yang tidak jelas.
Helena berusaha bersikap sopan karena mereka masihlah rekan kerja. Mana meja kerja mereka bersebelahan lagi, jadi Helena harus menahan diri untuk tidak bersikap kasar terhadap pria narsis tersebut.
"Sekali-kali ikut tidak ada salahnya, benar 'kan Helena?" Jessica, senior yang lebih tua dua tahun dari Helena menimpali.
"Karena perusahaan kita ini perusahaan dari Jepang, jadi acara seperti ini sudah cukup sering diadakan. Apalagi Boss kita orang yang cukup royal, terutama jika berkaitan dengan kesejahteraan karyawannya. Beliau satu-satunya Boss terbaik yang aku tau," celetuk Shopia.
Helena 'kan masih tergolong karyawan baru yang belum mengenal seluk beluk isi kantornya, apalagi mengenal sifat Boss-nya yang jarang sekali dia jumpai itu. Jadi yang bisa Helena lakukan hanyalah menganggukkan kepala mengiyakan saja.
Rowan yang masih berdiri di samping kursi Helena diam-diam menyeringai licik. Tanpa seizin Helena, tangannya dilingkarkan pada pundak gadis cantik itu.
Tindakan Rowan jelas membuat seisi ruangan menjadi heboh lantaran Rowan secara terang-terangan mendekati Helena.
"Jangan minum banyak-banyak ya, Helena~ Aku nggak masalah sih kalau harus membawamu pulang, tapi aku khawatir kamu akan merepotkan yang lainnya nanti~"
Ucapan Rowan membuat emosi Helena melonjak begitu saja. 'WHAT THE HECK?! DIA CARI MATI RUPANYA?!' Mata Helena melotot horor.
Dengan cepat Helena mengangkat tangan Rowan dari pundaknya lalu memelintir tangan yang telah menyentuhnya secara sembarangan.
Pekikan kesakitan Rowan seketika memenuhi ruangan tersebut.
"ARGHH! APA YANG KAU LAKUKAN, HELENA?! CEPAT LEPASIN TANGANKU!" Rowan kaget, tiba-tiba Helena bangkit berdiri lalu memelintir tangannya ke belakang.
Aksi Helena menarik perhatian karyawan lain yang ada dalam ruangan tersebut.
Suara ribut yang Rowan ciptakan berhasil menarik rasa penasaran pengunjung lain yang ada di restoran tempat mereka makan.
"He-Helena, apa yang kau lakukan? Lepaskan tangan Rowan, kamu menyakiti dia!" Jessica memekik kaget.
"HAH?!" Helena berdecih keras, "Hei, dia sudah sembarangan menyentuhku! Bukankah itu bisa dimasukkan ke dalam bentuk pelecehan? Kau juga! Mestinya kau jaga mulut dan tangan kotormu itu untuk tidak menyentuhku secara sembarangan. Kau cari mati ya denganku?" Helena menggertak Rowan dengan tegas.
Para karyawan senior yang ada di sana tak ada yang berani membela atau menengahi mereka begitu melihat kemarahan di ekspresi Helena.
"Sudah, cukup." Hingga suara yang familiar di telinga menghentikan aksi barbar Helena.
"Kau bisa lepaskan tanganmu darinya, Helen. Nanti tanganmu ikut kotor menyentuh orang seperti dia."
Seluruh mata tertuju pada kedatangan sesosok lelaki dengan setelan jas rapi dan tampak mewah. Rambut yang biasanya berantakan kini tertata rapi dan menunjukkan sedikit dari jidat yang diam-diam ingin Helena lihat.
Kedua mata tajam itu memandang dingin tangan Helena yang bersentuhan dengan pria lain.
"Helena...ke mari."
Hanya dengan satu baris kalimat saja, Helena langsung patuh lalu melepaskan cengkraman tangannya dari Rowan.
Kaki Rowan yang gemetar tak sanggup menahan beban tubuhnya hingga membuatnya ambruk di atas lantai.
"Si-siapa kau?! Berani benar masuk ke dalam ruangan VIP ini tanpa seizin dari pihak penyelenggara?!" tuding Rowan pada Leonard, yang memeriksa keadaan Helena dari atas sampai bawah.
Bukannya menggubris tudingan Rowan, Leonard hanya menjawab saat Helena bertanya padanya.
"Kamu kenapa masuk ke sini?" Padahal Helena sudah memberi peringatan pada Leonard untuk tidak masuk ke dalam ruangan yang telah di booking khusus untuk karyawan perusahannya.
"Kalau kamu nggak buat keributan, aku bisa menahan diri di mejaku sambil menungguimu. Tapi apa ini? Ada serangga yang berani mengganggumu, kau masih tetap menyuruhku duduk diam?"
Deg
Ini kali pertamanya Leonard berbicara panjang lebar kepada Helena, apalagi nada bicaranya seolah-olah lelaki itu tengah mengkhawatirkan dirinya.
'Kok kesannya kayak dia cemburu? Hah...aku pasti udah kebanyakan minum sampai berhalusinasi setinggi itu.' Helena menggelengkan kepalanya pelan. Berusaha untuk tidak salah paham atas ucapan Leonard.
Namun berbeda dengan rekan-rekan kerja Helena yang mendadak heboh gara-gara ucapan yang Leonard lontarkan. Terdengar seperti dialog dalam sebuah drama Korea yang biasa mereka tonton di rumah!
"Ya ampun!! Kami tidak tau kalau Helena sudah punya pacar sekeren ini! Tau gitu, kamu ajak dia makan bersama saja, Helena!" kata Jessica, selaku pihak yang mengkoordinasi acara makan-makan perusahaan.
"Mana bisa begitu, Ms. Jessica..." Helena tersenyum kaku. Ada-ada memang Ketuanya itu.
"TIDAK BISA! ORANG LUAR TIDAK BOLEH BERGABUNG DI SINI!" Rowan yang sudah bisa bangkit berdiri sontak menentang ide Jessica.
"HELENA, KAU HARUS MINTA MAAF PADAKU KARENA TELAH MENYAKITIKU!" Lalu tangan Rowan menunjuk ke arah Helena yang sudah mempermalukannya di depan umum.
Dahi Leonard mengerut tajam. Bisa-bisanya pria itu menuduh Helena padahal dia duluan yang mencari masalah.
"Haruskah aku turun tangan langsung?" desis Leonard, yang sudah memancarkan aura membunuh yang mencekam.
Helena mencengkram lengan Leonard sambil menggelengkan kepalanya tegas. "Please, jangan lakuin sesuatu. Masih banyak mata yang melihat," bisiknya pelan. Sambil mengamati situasi di sekitar mereka.
Karena Helena sudah membuat keributan, dia akan berpamitan pulang lebih dulu setelah meminta maaf.
"Maaf, atas keributan yang terjadi. Saya akan pamit undur diri lebih dahulu." Helena membungkukkan setengah badan sebagai bentuk permintaan maaf yang sebesar-besarnya.
"Tidak perlu meminta maaf begitu, ini terjadi karena kesalahan Rowan 'kan? Dia yang harusnya meminta maaf, bukan kamu." Shopia menyindir Rowan yang dengan tak tahu dirinya justru menyalahkan Helena.
Lalu Shopia melanjutkan, "Kamu segera pulang saja, daripada terus diganggu sama serangga menjijikkan yang ada di sini. Aku akan bereskan kekacauan yang ada," sarkasnya, yang menohok harga diri Rowan.
Jessica mengangguk-angguk setuju. "Pulang dan istirahatlah, aku tau kamu lelah. Hei, tuan muda. Tolong, jaga nona kami baik-baik ya?" nyengirnya pada Leonard yang memasang ekspresi dingin.
Leonard mengangguk tanpa kata. Dia langsung mengajak Helena pulang setelah mendapat izin.
Rowan yang ditinggal begitu saja sontak meradang menahan malu. Ini pertama kali dalam seumur hidupnya, ada seorang perempuan yang berani mempermalukan dirinya di hadapan banyak orang.
'S!@lan kau Helena!! Selama ini kau berlagak jual mahal kepadaku, tapi nyatanya kau lemah juga di depan orang tampan! Kita lihat aja nanti, sampai mana kau akan terus mempertahankan kesombonganmu itu!'