Mine

Mine
Ribut Besar



"Ini semua gara-gara aku...Ini salahku! Soalnya aku pasti kelihatan sok akrab banget sama Serena sampai buat orang salah paham!!" Elliot tak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri setelah menerima laporan munculnya rumor tidak sedap tentang Serena di kampus.


Julian yang baru mengetahui adanya rumor yang dimaksud jadi makin pusing. Baru juga membuka notifikasi di ponselnya, eh dia justru dikejutkan dengan kabar hoax terkait dugaan perselingkuhan Serena.


Tentu saja semua itu tidak benar!


Bagaimana bisa Serena tersandung rumor perselingkuhan hanya karena masalah sepele begini?! Kepala Julian rasanya hampir pecah.


"Julian..apa yang bisa aku lakukan? Gara-gara aku, Serena jadi dicap jelek sama orang lain," Elliot sangat menyesal telah menampakkan diri bersama Serena dan menimbulkan kontroversi tak masuk akal begini.


Dengan cepat Julian menggelengkan kepalanya, "Nggak, ini bukan salahmu, kak. Ini jelas-jelas kesalahan orang yang udah main tuduh sembarangan. Si*alan! Bakal aku tuntut orang itu kalau sampai ketemu!" Julian siap mengambil tindakan tegas agar hal seperti ini tak terulang kembali.


Julian heran, Serena bahkan bukan selebgram apalagi selebriti papan atas, tapi mengapa ada saja orang yang suka mencari masalah dengan gadisnya? Julian kesal sendiri, ingin mencincang si biang gossip yang telah mencemarkan nama baik kekasihnya.


Di lain sisi, Elliot merasa bersalah sekali terhadap Serena. Karena dirinya, Serena jadi tersandung skandal lain yang dapat mencoreng nama baik gadis itu. Pasti Serena dicemooh banyak orang di kampus, Elliot bingung harus melakukan apa dulu untuk menepis rumor tersebut.


"Setelah ini kita bersiap, kak," ajak Julian tiba-tiba.


"Mau ke mana?"


Meski sedikit kurang nyaman, tapi tak ada cara lain. "Kita pergi ke kampusku. Satu-satunya cara untuk membungkam rumor itu adalah dengan menunjukan hubungan kalian secara terbuka. Aku nggak mau Serena disalahpahami lagi," kata Julian, menjelaskan rencana daruratnya.


Elliot sama sekali tidak keberatan, asalkan dapat membantu Serena, apapun akan dia lakukan. Walaupun itu artinya, Elliot terpaksa harus menampakan diri di hadapan banyak orang.


...🐺...


...🐺...


Dhuk!


"Aww-sa..kit.." Serena merintih pelan ketika seseorang menyenggol pundaknya dengan keras, bahkan nyaris membuatnya jatuh.


"Opppss-ada orang ternyata. Maaf ya, kukira tadi sampah, jadi aku lewati aja! Hahahaha!"


"Hush! Jangan ngomong gitu, ah! Dia bukan sampah, tapi kotoran yang gatau di mana dia harusnya berada! Hahahaha!"


Serena menatap jengkel dua perempuan yang baru saja menghina dirinya. Ini bukan kali pertama Serena menerima perlakuan tidak menyenangkan begini, tadi setelah berbincang sebentar dengan Jevano, seseorang melemparkan bola-bola kertas kepadanya secara terbuka. Memang tidak sakit, tapi hati dan harga diri Serena serasa seperti ditindas.


"Oohhh~ Lihat tatapan matanya! Sepertinya dia marah karena disamakan dengan kotoran. Apa? Nggak terima? Cewe murahan kayak kau memang pantas disebut kotoran!" tuding perempuan berambut maroon itu.


"Jangan ajak ngomong kotoran! Yuk, pergi saja. Lihat muka sok polosnya bikin muak!"


Kedua perempuan itu lalu menyingkir dari hadapan Serena.


Sakit? Jelas Serena sakit hati.


Sampai detik ini Serena sengaja diam tak angkat suara karena tak ingin menanggapi rumor tak berdasar itu. Tapi ternyata Serena salah ambil tindakan, makin ke sini makin banyak yang mengecap dirinya tukang selingkuh dan bahkan mengatai dirinya dengan berbagai sebutan kotor dan rendahan seakan-akan rumor tersebut sudah terbukti keabsahannya.


"Hei, kau yang berambut semerah api!" Serena memanggil dengan lantang, hingga orang yang merasa terpanggil menoleh ke arahnya.


"Kau memanggilku apa?!" Perempuan itu menyahuti keras.


Serena melipat kedua tangannya di depan, sambil menunjukkan gaya angkuhnya pada perempuan tak di kenal itu. "Berambut semerah api. Memang benar 'kan? Rambutmu bahkan terlihat menyala dari kejauhan," balasnya acuh, seraya menggidikan bahu.


Perempuan itu bergegas putar balik mendatangi Serena sambil menghentak-hentakan kakinya. Teman perempuan yang tadi ikut mengejek Serena juga ikut mendatangi Serena layaknya seorang preman.


Tetapi Serena tak takut. Gadis itu siap menghadapi orang-orang yang telah kurang ajar padanya seperti halnya kedua perempuan asing itu.


"Kau mengejekku? Berlagak berani rupanya!" Si rambut maroon berdiri di hadapan Serena seakan tengah menakut-nakuti.


"Lihat dia, Kristie! Masih punya muka buat membela diri rupanya?! Kau pikir kami berdua takut kepadamu?!" tantang perempuan bernama asli Ella Noxy itu.


Serena menyeringai kecil, "Sekarang aku mau tanya, apa kalian benar-benar percaya dengan rumor yang beredar itu? Padahal orang yang bersangkutan berdiri di depan mata kalian, tapi kalian bahkan nggak mencoba menanyaiku tentang kebenaran rumor itu. Hanya memakan mentah-mentah cerita orang yang belum tentu sesuai realitasnya, apa kalian nggak malu nantinya?" Serena terkekeh kecil seolah meledek.


Ella maupun Kristie saling memandang satu sama lain dan menahan malu. Keributan di tengah lorong lobi itu menyedot perhatian banyak mahasiswa/i yang melintas.


"Sebelum kalian menyebutku 'sampah' dan 'kotoran' ada baiknya menyelidiki kebenaran dibalik rumor yang beredar itu lebih dulu. Kalau aku sih, aku nggak mau termakan gossip semacam itu kalau nggak ada bukti kuat terkait perselingkuhan yang kulakukan. Coba kalian beritahu aku, bukti apa yang kalian punya sampai mengecapku 'sampah' dan lain sebagainya?" Serena berucap dengan lantang. Seolah menantang siapapun yang ada di sana untuk membongkar perselingkuhan yang dia lakukan.


Semua orang jadi berbisik-bisik satu sama lain, banyak dari mereka meragukan kebenaran rumor perselingkuhan Serena, tapi mereka terlalu takut dan segan untuk sekedar menanyakan kebenaran rumor tersebut pada orangnya secara langsung.


Namun tak sedikit juga yang diam-diam menghina dan mencemooh Serena di belakang, dan dengan mudahnya termakan berita hoax itu tanpa repot mencari kebenaran sumbernya terlebih dulu.


Serena mendengus panjang, energinya terasa habis untuk meladeni orang-orang gila seperti kedua perempuan di depannya.


"A-aku punya buktinya!" Salah seorang perempuan dari barisan penonton menyahuti sambil mengangkat ponselnya tinggi-tinggi.


Serena menoleh, mengisyaratkan perempuan itu untuk maju dan memberikan bukti itu padanya.


"Kau kira nggak akan ada orang yang memergokimu? Kau itu dikenal karena statusmu yang merupakan pacar dari Julian! Kamu nggak pantas nyakitin Julian kayak gini!" seru perempuan itu dengan penuh dendam.


Serena mengambil ponsel perempuan yang tak dia kenal itu dan melihat ke dalam isinya. Mulut Serena membentuk huruf 'Oh' setelah melihat bukti yang dimaksud oleh si pemilik ponsel.


"HAHAHAHAHA!" Serena tak tahan untuk tidak menyembur tawa kencangnya. "Jadi hanya karena itu?!" tanyanya, lalu menyerahkan ponsel tersebut ke pemiliknya lagi.


Ketiga haters yang bergabung menjadi satu memandang Serena aneh, bahkan mereka mengira Serena sudah hilang akal sehatnya.


"Kalian mau tau siapa orang itu?" tanya Serena kemudian. "Aku bisa kok hubungi orang itu buat datang ke sini. Lagian ya, hanya orang bodoh yang mempercayai berita hoax secara mentah-mentah lalu membully orang tanpa mencari tau dulu kebenarannya. Walaupun kalian nggak bertanya ke orang yang bersangkutan, minimal tutup mulut ajalah daripada berani mencemooh tapi ujung-ujungnya malu sendiri. Apa kalian nggak pernah mikirin konsekuensinya sampai ke sana?" Serena menunjukkan seringaian sinisnya pada ketiga perempuan yang baru dia buat bungkam.


"Anyway-kalaupun aku selingkuh, aku juga nggak sebodoh itu mamerin kedeketanku sama cowo lain di tempat yang bisa dilihat banyak orang yang kukenal gini. Bego banget kalau aku nekat nunjukin hal itu secara terang-terangan. Lagian ya, Julian itu udah paket komplit yang nggak ada duanya! Aku bakal jadi cewe paling bego di muka bumi ini kalau sampai nyia-nyiain cowo sesempurna Julian! Kalian harus tau itu!" oceh Serena panjang lebar, seakan tengah kerasukan sesuatu.


Serena tidak pernah berbicara sebanyak dan sepanjang ini sebelumnya. Orang-orang hanya mengenal Serena sebagai sosok yang murah senyum, kalem dan tak cerewet.


Tapi sekarang, demi melenyapkan segala spekulasi buruk tentang dirinya, Serena tak malu untuk mencurahkan seluruh rasa cintanya pada sang kekasih di hadapan banyak orang.


"Diam! Kami tau kamu cuma ngejar Julian demi meningkatkan kepopuleranmu aja 'kan!? Kalau bukan karena Julian, mana ada orang di kampus ini yang peduli tentangmu!" tuding Ella, masih tak terima dengan sangkalan Serena.


"Bener! Kasihan Julian dapet cewe kayak kau! Masih mending Jasmine ke mana-mana, iuh!" Perempuan yang baru bergabung tadi jadi ikut-ikutan membully Serena dengan tak tahu malunya.


Oh, salah. Mungkin karena terlanjur malu makanya dia mengatakan itu untuk membela diri.


"Huh...kalian ini bener-bener.." Serena sudah kehabisan sabar. "Kalian mau apa sih? Aku udah jelasin kalau rumor itu cuma hoax, nggak benar! Masih nggak percaya aja?" Serena lelah menghadapi mereka.


"Ya bisa aja 'kan kamu memang punya selingkuhan di luar sana? Sebelum Julian tau kebusukanmu, mendingan kamu putus aja sekarang!" usul Kristie, seolah-olah dia tahu semua rahasia di muka bumi ini.


Serena tersenyum meledek, "Aku bahkan nggak punya waktu buat mikirin cowo lain kalau ada Julian di sisiku. Tapi kalau kalian mau tau, bisa tanyain langsung ke Julian, soal keseharianku di luar sana. Kalau aku memang tukang selingkuh, mestinya aku sering pergi keluar 'kan? Nah, ayo kita hubungi Julian buat cari tau jawabannya!" Serena merogoh ponsel di dalam totebagnya. Hendak menelpon Julian dan menanyakan pada orang itu mengenai keseharian Serena.


Sedikit memalukan sih, namun apa boleh buat, daripada dirinya dituding yang enggak-enggak terus menerus.


Tetapi belum sempat Serena memencet kontak Julian, seseorang tiba-tiba muncul di belakang gadis itu. Orang-orang dibuat terkejut melihat kehadiran Julian dan satu sosok laki-laki yang tak di kenal ke gedung mereka.


"Udah kuduga, kamu pasti ada di sini," Suara Julian mengalihkan atensi Serena. Gadis itu menengok dengan cepat sampai lupa mengeluarkan ponselnya.


"Julian?! Kok kamu ada di sini?!" Serena tak menyangka kekasihnya repot-repot datang mencari dirinya. Lalu atensi Serena beralih pada seseorang di belakang Julian.


Kedua mata Serena membelalak tak percaya, melihat kehadiran Elliot bersama dengan kekasihnya.


Dengan senyum kikuk, Elliot menyapa Serena yang tampak terkejut, "Hai~ Maaf ya, kakak terpaksa ikut sama Julian. Sekalian mau mengecek sesuatu," sapa lelaki itu.


Tak cuma Serena yang tercengang melihat Elliot. Semua perempuan yang ada di sana juga ikut melongo menatap wajah rupawan Elliot dari jarak yang dekat.


Sebagian dari orang-orang itu ada yang pernah melihat wajah Elliot di televisi, "Ka-kau Elliot Collin 'kan?! Putera sulung keluarga Collin!?" Satu dari penonton setia televisi dapat mengingat dengan cepat.


Dalam sekejap Elliot mengubah sikapnya menjadi mode 'kerja'. Senyumnya tak selepas sebelumnya, Elliot hanya mengangguk membenarkan tanpa repot memperkenalkan dirinya.


Kedatangan Elliot sontak membuat gempar seisi gedung. Khususnya para kaum hawa yang dalam sekejap jatuh cinta pada wajah rupawan Elliot.


Seluruh atensi kini beralih pada Elliot dan Julian. Serena dan ketiga pembully yang ditinggal oleh orang-orang jadi berhenti adu mulut.


"Tuh lihat, orang yang kalian tuduh sebagai selingkuhanku nyatanya adalah kakak dari pacarku. Apa itu udah cukup menjawab ketidaktahuan kalian?" Serena berniat menyelesaikan masalahnya secara tuntas.


Ketiga perempuan itu diam menahan malu karena sudah salah sangka dan menuduh sembarangan. Namun ego dan harga diri yang tinggi menahan mereka untuk meminta maaf atas kesalahan yang mereka perbuat.


"Tetep aja! Siapa yang tau kalau kau punya simpanan di luar sana. Cewe kayak kau mana bisa dipercaya," celetuk Kristie.


Rasanya prcuma saja menjelaskan semuanya seolah mencari pembenaran diri, Serena benar-benar sudah kehabisan kata meladeni orang-orang keras kepala itu.


"Whatever, aku udah capek jelasin ke kalian, yang dasarnya bebal," balas Serena acuh. Emosi juga lama-lama, daripada moodnya makin hancur, mending Serena pergi saja.


"Kurang ajar! Beraninya mulut nggak bergunamu itu ngatain aku!"


Plak!


Kejadiannya berlangsung sangat cepat, Ella menampar pipi Serena dengan keras hingga menimbulkan bunyi yang nyaring.


Suasana yang tadinya ricuh dan berisik sekejap menjadi hening dan sunyi. Seluruh mata kini memandang ke arah Ella yang baru saja menampar Serena.


"Denger ya! Jangan kau pikir kau punya wajah cantik terus kau berbicara seenakmu sendiri! Jaga mulutmu baik-baik!" Ella mengangkat jari telunjuknya tepat di depan muka Serena.


Julian membulatkan mata lebar-lebar, melihat kekasihnya di tampar dengan begitu keras. Urat-urat di sekitar tangan serta leher mulai kelihatan menonjol, gigi Julian bergemelatuk menahan amarah.


"KAU!!!" Julian membentak lantang.


Elliot dengan cepat menahan pergerakan Julian yang sudah lepas kendali, hendak memukul Ella yang berani-beraninya menampar Serena tepat di depan matanya.


Kyaaaa!!!


Keributan pun akhirnya pecah.


"JULIAN! TAHAN DIRIMU!!!" Untung Elliot menahan Julian lebih cepat, telat sedikit saja mungkin wajah Ella sudah babak belur kena bogem Julian.


"Ayo, pergi! Pergi! Ada yang bertengkar!!!" Semua orang berhamburan panik, hanya ada dua laki-laki yang membantu Elliot menahan Julian yang sudah gelap mata.


Hendery yang baru datang setelah menerima laporan tentang keributan di lobi bergegas lari menuju ke tempat kejadian perkara dan mendapati Julian sedang dipiting oleh dua lelaki.


"Ada apa ini?!" Hendery dan Evan berupaya melerai keributan yang ada.


"Nih! Salah cewe gatau diuntung ini! Dia yang memulai lebih dulu!" Ella menuduh Serena lagi.


Cukup sudah!


Kesabaran Serena benar-benar habis sekarang. Tanpa babibu, tangannya bergerak cepat menghantam sebelah pipi Ella yang masih mengoceh layaknya burung kakak tua.


PLAKK


Ella memegangi pipi kirinya yang baru ditampar oleh Serena. "KAU!!!" Matanya memerah menahan perih.


"APA?!" Serena menggertak Ella dan memajukan badannya menantang perempuan bebal itu.


"KAU PIKIR AKU BAKAL DIEM AJA DIPERMALUKAN OLEHMU!?" Serena berseru marah. Wajahnya memerah tatkala emosi sudah mencapai ubun-ubun.


Julian menghempaskan tangan orang-orang yang menahannya dengan kuat. Berlari menghampiri Serena untuk memeriksa luka yang diterima kekasihnya.


"Sini, aku lihat lukamu, maaf ya..maaf, aku nggak bisa melindungimu.." Kedua mata Julian mulai berkaca-kaca, dia telah bersumpah akan melindungi serta menjaga Serena tapi nyatanya dia telah gagal mencegah hal buruk menimpa kekasihnya.


Julian benar-benar merasa tidak berguna sama sekali.


Emosi Serena sekejap menguap begitu melihat wajah sedih kekasihnya. "Ja-jangan nangis!!! Kok kamu nangis?!" Kaget bukan main saat air mata jatuh dari pelupuk mata Julian.


Bukannya menghapus lelehan air mata yang membasahi pipinya, jemari Julian justru mengelus pipi Serena yang memerah bekas tamparan. Jarinya gemetar membayangkan rasa perih yang harus Serena terima gara-gara tamparan tadi.


"Aku...maaf, aku nggak bisa melindungimu.." Julian benar-benar sedih sekarang.


Orang-orang jadi turut prihatin dan kasihan pada Serena, lalu berbalik arah mengecam tindakan Ella, Kristie dan Jesslyn. Ketiga perempuan itu menjadi bulan-bulanan kemarahan orang-orang atas tudingan palsu serta tindak kekerasan yang mereka berikan pada Serena.


Keributan besar itu sampai terdengar ke telinga Ketua Jurusan dan memanggil pihak-pihak terkait untuk menjelaskan duduk permasalahan yang terjadi.


Di sini Elliot berperan sebagai wakil dari Julian dan juga Serena, dia yang akan bertanggung jawab penuh atas saudara serta calon adik iparnya. Untuk bagian ketiga perempuan yang membully Serena, Elliot minta agar mereka bertiga ditindaklanjuti sesuai ketentuan peraturan yang ada di kampus.


Ketiga oknum itu harus mempertanggungjawabkan kesalahan mereka, dan berterima kasih sebanyak-banyaknya pada Serena yang sudah berbaik hati meminta agar mereka tidak dikeluarkan dari kampus.


Pertengkaran itu berakhir sampai di situ. Elliot bahkan menghabiskan waktunya sampai malam hari demi menyelesaikan masalah adik serta calon iparnya. Walau lelah dan cukup menguras tenaga, tapi Elliot tidak mengeluh sama sekali. Demi kesejahteraan dan mengembalikan nama baik Serena, Elliot akan mengerahkan semua yang dia bisa.