
"Aku ingin kau segera hamil."
Austin tersenyum sambil mengusap perut Elena. Mereka kini berbaring di atas ranjang, bersiap untuk tidur dan saling memeluk erat. Ainsley yang sudah setengah tertidur di pelukan Austin langsung membuka mata mendengarnya.
Hamil? Mengandung anak Austin? Pikiran itu terasa begitu menyenangkan untuk Ainsley. Memiliki anak-anak dari Austin pasti akan sangat membahagiakan.
"Apakah kau mau mengandung anak-anakku?" tanya Austin lagi. Sudah lama dia ingin menanyakan itu kepada Ainsley. Tapi beberapa waktu lalu ia sempat ragu karena ia tahu Ainsley belum seratus persen menerimanya. Sekarang, ia tidak ragu lagi. Ainsley mencintainya juga. Mereka pasti akan menjadi keluarga yang lebih bahagia lagi dengan hadirnya seorang anak. Untuk kehamilan yang pertama tentu saja. Karena Austin ingin memiliki lebih dari satu anak dengan gadis itu.
"Tentu saja Austin." Ainsley tersenyum dan mendongakkan kepalanya, menatap Austin lembut,
"Kamu itu kan suamiku. Memangnya aku akan mengandung anak siapa kalau bukan anakmu?" Austin tertawa, tawa yang dalam dan terdengar seksi di telinga, mengalun lembut,
"Kalau begitu kita harus giat mengusahakannya. Kalau perlu setiap hari. Pagi, siang, sore dan malam." Ainsley mengangkat alisnya,
"Kamu pikir aku hewan? Mana kuat aku melayanimu kalau kau membuat jadwal gila begitu. Hewan saja tidak akan sanggup." tawa Austin memenuhi ruangan. Dia memeluk Ainsley dengan lembut, tidak pernah dirinya merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya. Semoga saja kebahagiaan ini akan berlangsung selamanya.
***
Rumah itu kembali sepi hari ini. Benar-benar benar sepi karena para pelayan tidak ada di rumah, biasanya setiap pagi atau sore Ainsley akan berpapasan dengan para pelayan yang lalu lalang mengerjakan sesuatu di rumah ini. Atau sekedar berbincang ringan dengan mereka. Namun sekarang suasana hening, tidak ada suara percakapan di lorong rumahnya, kesibukan didapur maupun suara langkah kaki orang-orang yang lewat. Ainsley tahu pasti kalau semua ini adalah ulah suaminya. Karena sudah dua hari berturut-turut Austin tidak ke kantor dan tidak memberinya ijin masuk kampus hanya karena ingin menghabiskan waktu berduaan. Sebenarnya gadis itu merasa sedikit keberatan, tapi mau bagaimana lagi, ia tidak bisa melawan Austin kalau keputusan laki-laki itu sudah sangat tegas.
Austin dan Ainsley menghabiskan hari itu di teras belakang menghadap kebun rumah itu. Austin mengatakan akan menyelesaikan beberapa pekerjaan dilaptopnya sedangkan Ainsley memilih sibuk dengan melihat-lihat sosial media dan berakhir dengan melihat insta story what's up beberapa teman kampusnya. Mencari tahu ada berita baru apa di sana. Ia baru sadar kalau sudah hampir seminggu ini dirinya tidak masuk kampus.
Tanpa sadar hari sudah siang ketika Austin mengangkat kepalanya dan bergumam, mengalihkan perhatian Ainsley dari ponselnnya.
"Aku lapar." Ainsley memasukan ponselnya ke saku dan tersenyum lembut,
"Aku akan menyiapkan makanan." katanya. Sebenarnya bi Ranti telah menyiapkan semuanya dan mmeberitahu Ainsley tinggal dipanaskan saja lagi makanannya.
Austin datang ke dapur dan tersenyum. Pria itu mendekat dan memeluk Ainsley dari belakang dengan mesra. Mengecup gadis itu dengan menggoda.
"Austin berhenti. Aku lagi menyiapkan makanan untukmu. Ainsley mengingatkan Austin, tetapi tidak ada penolakan dari tubuhnya.
Austin melingkarkan lengannya makin erat, jemarinya bergerak menggoda, menyusup masuk ke dalam kaos Ainsley dan mengusap puncak payudara gadis itu sambil lalu. Membuat Ainsley mengerang, ia menghentikan kesibukannya sebentar.
Austin mengajak Ainsley mundur dari kompor, masih memeluknya, dia bersandar di meja dapur dan membawa Ainsley yang masih di peluknya dari belakang.
"Aku mau kita melanjutkan yang semalam lagi. Tidak ada orang di sini."
"Austin!" berseru dengan pipi memerah malu, membuat Austin tertawa dan mengecupi leher gadis itu penuh gairah.
"Kita bisa bercinta di atas meja dapur." pria itu setengah menggigit leher Ainsley ,meninggalkan bekas kecil kemerahan di sana. Memberikan tanda bahwa gadis itu adalah miliknya.
Jemarinya meraba lembut payudara Ainsley dan merem*snya dari belakang.
"Bagaimana, kau tidak akan menolak bukan?"
"Jadi ini yang ada di benakmu ketika meliburkan semua pelayan?" Ainsley berbisik lirih, ia membiarkan bibirnya dilum*t oleh Austin dengan penuh gairah. Lelaki itu duduk di atas meja dapur, lalu mendongakkan kepala Ainsley ke belakang, dia lalu menunduk dan ******* bibirnya, menciptakan sensasi yang berbeda.
Ainsley bisa mencecap, dan merasakan bibir Austin dengan cara yang lebih sensual. Tubuhnya melemas akibat ciuman itu sehingga Austin harus menopangnya, dia bersandar sepenuhnya di tubuh Austin, dan merasakan kej*ntann Austin mulai mengeras, menekan tubuh belakangnya.
Dengan lembut, Austin kemudian membalikkan tubuh Ainsley dan beranjak turun dari meja dapur. Dia mengangkat tubuh istrinya hingga terduduk di atas meja dapur itu. Dikecupnya dahi Ainsley lembut, hidungnya, pipinya dan kemudian kembali kebibirnya lagi. Setiap kecupan Austin membuat tubuh Ainsley panas membara. Lelaki itu lalu membuka kaos Ainsley dan menurunkannya, payudara Ainsley langsung terpampang karena Austin melarangnya mengenakannya tadi, setelah para pelayan pergi. Dadanya terpampang sangat indah dimata Austin. Lelaki itu memuja ***********. Mengelusnya lembut, mengusap ujungnya dengan penuh gairah hingga mengeras dan siap di tangannya.
Lalu setelah bagian pucuk itu sudah mengeras, Austin mengecupnya lembut, dan menjil*tnya dengan menggoda. Membuat Ainsley mengerang, merindukan hisap*n Austin di puncak dadanya yang membuatnya melayang. Lelaki itu tidak membuat Ainsley menunggu lama, disesapnya payudara Ainsley dengan penuh pemujaan, membuat tubuh Ainsley lemas dan terbaring di atas meja dapur itu, dengan Posisi Austin sangat pas, karena tubuhnya tinggi, meja dapur itu pas setinggi pinggangnya.Dan sekarang dihadapannya, isterinya terbaring dengan kaki menjuntai ke bawah.