Mine

Mine
Terima Kasih



"Dion, Dion! Lihat apa yang kubawa ini!"


"Jangan lari-larian, Serena! Nanti kamu jatuh!" Dion bergegas menghampiri Serena yang berlari menuju ke arahnya. Padahal tak perlu berlari pun Serena tetap bisa menyerahkan surat itu dengan selamat.


Entah sejak kapan Dion jadi begitu perhatian pada Serena. Pasalnya gadis itu lumayan ceroboh, sering juga tersandung oleh sesuatu sehingga Dion tak bisa mengalihkan pandangannya barang sedikit pun dari Serena.


Kalau menurut kata Julian, mungkin Serena terlalu bersemangat menemui dirinya, jadi Serena selalu dalam mode tergesa setiap kali mereka berjumpa. Dion tidak tahu harus merasa senang, tersentuh atau justru khawatir dan takut.


Serena bisa saja terluka hanya gara-gara hal sepele, dan tak ada seorang pun yang ingin melihat gadis itu terluka.


Dion menghela nafas panjang, berusaha untuk tidak mengomeli Serena seperti yang sudah-sudah karena ada sesuatu yang penting di bawa oleh gadis itu, "Apa itu?" Dion melihat sebuah surat berlogo rumah sakit di tangan Serena.


Serena menyerahkan surat tersebut ke tangan Dion. "Milikmu. Kamu berhak membukanya lebih dulu dari siapapun. Aku tau ini nggak ada artinya apa-apa buatmu, tapi nggak ada salahnya buat kita mengetahui kebenaran yang ada bukan?"


Serena tahu Dion sangat membenci keluarga besarnya, terutama pada orang yang sudah membuang dan membuat hidup Dion hancur berantakan, namun di satu sisi, kebenaran yang tertera di atas kertas hasil tes DNA itu bisa menjadi senjata pamungkas untuk menghadapi si orang 'jahat' itu.


Ekspresi Dion berubah dalam sekejap. Ternyata itu hasil tes DNA-nya. Sebenarnya Dion tidak ingin berbuat sejauh ini kalau bukan karena permintaan Caesar dan untuk Serena juga.


Maka tanpa basa basi lagi, Dion membuka surat tersebut lalu membaca isinya secara teliti. Benar dugaannya, kecocokan DNA-nya dengan pria bernama James Reinhart mencapai 9,99% yang artinya benar, mereka merupakan bapak dan anak kandung.


Hmph, Dion tidak terlalu senang atas hasil yang dia terima. Karena bagaimanapun, semua ini tak akan mengubah apa yang telah diperbuat oleh pria bajingan itu.


"Ba-bagaimana?" Serena menunggu respon Dion sambil berharap-harap cemas.


Dion menyodorkan lembaran kertas itu kepada Serena. "Sesuai dugaan kalian. Ya, kami memang anak dan bapak," jawabnya, dengan muka yang kelewat datar.


Mendengar itu Serena bersorak senang, lalu tanpa sadar sampai memeluk Dion dengan erat.


Gerald yang melihat nona mudanya memeluk Dion secara sembarangan sontak berseru panik, "Nona!!? Apa yang nona lakukan?!!" Bukan tanpa sebab mengapa Gerald yang biasanya tenang dan dapat menguasai ekspresinya berubah jadi sepanik ini hanya gara-gara Serena memeluk Dion secara tiba-tiba.


Alasannya sudah jelas dan pasti, karena Julian tidak akan senang mengetahui hal ini. Bahkan sekalipun itu Dion orangnya, Julian tak suka bila gadisnya disentuh atau menyentuh laki-laki lain selain dirinya.


'Gyyyaaa! Apa yang akan kukatakan pada tuan muda nanti?!' Gerald menjerit panik sekaligus takut. Buru-buru dia memisahkan Serena dari Dion yang jadi terpaku gara-gara dipeluk oleh Serena.


"Uwaaa~ gimana nih? Aku senang sekali lho!! Ternyata kita benar-benar punya ikatan darah!" Serena tak bisa menutupi kegembirannya.


Senyumnya begitu lebar sampai membuat Dion terpesona dibuatnya.


"Dion, kamu adalah keluargaku dan Caesar! Mulai sekarang, kita harus mendekatkan diri satu sama lain!" Serena tidak ingin membiarkan Dion hidup dalam kesusahan lagi, apalagi kembali ke dunianya yang kelam. Serena ingin memberikan tempat yang layak dan aman untuk Dion.


"Dion, selama ini aku menahan diri karena takut hasil yang keluar nggak sesuai sama ekspektasiku. Tapi karena sekarang sudah jelas kalau kita adalah saudara, izinkan aku dan kak Caesar menjadi bagian dari keluargamu juga mulai detik ini," Serena menggenggam kedua tangan Dion. Perasaan tertarik yang dulu pernah dia rasakan pada Dion ternyata adalah ikatan dari darah yang mengalir dalam nadi mereka.


Serena tak bisa memiliki hubungan yang sehat dan benar-benar tulus sebagai saudari bersama Jasmine, maka dari itu Serena ingin menjadi saudara yang lebih baik lagi untuk Dion.


Tak masalah bila Dion menolak permintaannya ini, ini memang bentuk keegoisan dari hatinya. Tapi Serena masih berharap dan ingin mencoba. Serena tidak ingin menyerah dan membiarkan Dion pergi jauh dari sisinya.


"Dibandingkan keluargaku sendiri, aku jauh lebih dekat sama kamu. Maaf kalau kesannya aku maksa, tapi aku pengen kamu tau perasaanku yang sejujurnya," Serena menggaruk sebelah pipinya untuk sedikit mengurangi salah tingkahnya.


Aneh, Dion tidak merasa setertarik ini kepada seseorang sebelumnya. Bahkan bila ada satu atau dua orang yang tiba-tiba datang kepadanya dan mengaku sebagai saudara, Dion tidak pernah berpikir dua kali untuk mengusir mereka secara keras.


Namun pada Serena, Dion sama sekali tidak tega mendorong gadis itu pergi.


"Justru aku-" Dion menggigit bibir bawahnya, dia sadar dirinya ini tak pantas menjabat tangan Serena apalagi menjadi bagian dari 'keluarga' seperti yang Serena harapkan. Sialnya, hati kecilnya justru berkata lain. Dion tak ingin berjauhan dari Serena dan ingin terus mengawasi gadis mungil itu. Dan bila ada kesempatan baginya, Dion ingin mengambil apapun resiko yang akan dia hadapi.


Termasuk menghadapi 'ayah' biologisnya secara langsung.


"Justru aku yang harusnya memohon padamu. Maukah kamu menerima aku yang banyak kurangnya ini? Bahkan eksistensiku ini nggak diharapkan banyak orang, kamu hanya akan terlibat ke dalam masalah kalau berurusan denganku.." Dion tidak tahu sudah berapa lama dirinya tidak merasakan kecil hati lagi seperti sekarang.


Dibandingkan Serena yang hidup dalam lingkungan yang terjaga, Dion adalah keterbalikannya. Meski mereka menanggung nasib yang sama, tapi Serena tetap lebih baik dan 'bersih' darinya, Dion merasa tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Serena.


Serena tahu dan dapat mengerti kekhawatiran yang mendominasi hati Dion. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, lalu mengikis kembali jarak di antara mereka. Tanpa malu tangan Serena merangkul erat lengan kanan Dion yang terasa lumayan kekar.


"Kalau aku takut atau nggak suka padamu, sejak awal kita berjumpa dulu udah pasti aku lari duluan. Tapi kamu yang berbalik dan mengulurkan tangan terlebih dulu terlihat sangat baik di mataku. Dion, nggak peduli apa kata orang, asalkan aku mengetahui kamu yang sebenarnya, aku nggak akan tinggalin kamu."


Kata-kata yang begitu menyentuh hati Dion. Kehangatan yang sudah lama tak dia rasakan. Tanpa malu dan takut Serena merangkul lengan Dion seolah berkata 'aku ada di sisimu, selalu' yang semakin membuat dinding kokoh yang ada di hati Dion retak dan hancur secara perlahan.


Air mata luruh begitu saja, mengalir membasahi kedua pipi Dion meski tanpa isakan.


Serena tak tahu seberapa sulitnya kehidupan Dion sebelum mereka bertemu. Baik itu buruk atau menjijikkan sekalipun, Serena tetap bersedia menerima Dion dengan tangan terbuka.


"Mulai sekarang aku dan kak Caesar adalah keluargamu. Kalau kamu membutuhkan sesuatu, kamu bisa hubungi kami. Nggak usah menunggu ada hal penting juga aku tetep bakal menemuimu kok. Di mana pun Dion berada, kamu tetep keluarga kami. Mengerti?"


Serena sendiri merasa aneh. Dia bahkan tidak bisa merangkul saudari kembarnya sendiri meski mereka sama-sama bergender perempuan, namun dengan Dion maupun Caesar, Serena bisa merangkul bahkan memeluk mereka sesuka hatinya.


Dengan hadirnya Dion di sisinya, Serena tak akan lagi memikirkan bayang-bayang Jasmine yang tak pernah sedikitpun melirik ke arahnya.


"Kamu juga. Kalau butuh sesuatu jangan ragu buat beritahu aku ya? Karena kita adalah keluarga, kita harus saling tolong menolong dan berjuang bersama. Janji sama aku, kalau kamu nggak akan ngelakuin hal nekat dan ekstrim kayak yang kamu lakuin sebelumnya," Dion mengacungkan jari kelingkingnya pada Serena. Meminta sepupu cantiknya itu membuat pinky promise dengannya.


Sedikit kekanakan sih, tapi Serena justru tertawa senang. Ternyata Dion mempunyai sisi lembut yang tak terduga.


Tak ingin mengecewakan Dion, Serena menautkan jari kelingkingnya juga pada Dion. "Janji! Kamu juga! Harus selalu sehat dan jauhi teman atau hal-hal buruk di luar sana! Kalau kamu nggak mau aku omeli, lebih baik kamu rutin kasih aku kabar, oke?" Serena menyengir lebar, Dion harus siap menghadapi mulut cerewetnya nanti.


Meski Serena bukanlah kekasih yang dapat dia cintai secara fisik, setidaknya Dion bisa melindungi gadis itu menggunakan tubuhnya. Apapun akan Dion lakukan demi keselamatan Serena.


"Makasi banyak, udah muncul dalam hidupku dan mengubahnya menjadi lebih baik lagi. Sekarang aku lebih merasa hidup dan segar. Makasi...makasi kamu udah menerimaku.."