
Malam hari sepulang kerja, Iren dan Narrel benar-benar ke club. Iren sudah bertekad kuat untuk melupakan mantan pacarnya yang membuatnya sakit hati dan tidak bisa tidur tenang hampir dua minggu berjalan ini. Pokoknya malam ini dia harus bisa bersenang-senang, mengubah dirinya menjadi wanita berbeda. Ia tidak mau di sakiti lagi. Bahkan kalau harus memilih, harus dia yang menyakiti pria.
Iren ingin kembali ke realita bahwa sekarang ada yang lebih menyenangkan untuk dirinya nikmati. Dia harus bersenang-senang sekarang. Saat ia mengikuti Narrel masuk ke club, memang awalnya ia tidak begitu terbiasa. Lampu kerlap-kerlip, dan orang-orang yang berdesakan di lantai dansa menari seperti sudah lupa diri. Belum lagi musiknya yang terlalu kuat sampai menyakitkan telinga. Sesaat Iren berpikir, kenapa tempat seperti ini banyak sekali di sukai orang-orang, apalagi anak muda. Tapi sesudah itu ia mencoba untuk menikmati. Bukannya dia mau berubah dan bersenang-senang dengan hidupnya?
"Kalau kau tidak terbiasa di sini, aku bisa mengantarmu pulang." ucap Narrel, ia berbisik dengan kuat di telinga Iren karena musiknya terlalu keras. Iren melambai-lamabaikan tangan ke udara, melemparkan senyum ke Narrel.
"Tidak apa-apa. Aku menikmatinya." katanya tak kalah kuat. Ia lalu memesan segelas wine pada bartender sampai Narrel terheran-heran. Mereka ada di meja bar sekarang. Narrel ingin menghentikan wanita itu namun Iren tidak bisa dibilang. Ia sungguh ingin minum sampai mabuk malam ini. Sungguh ingin melakukan hal yang berbeda. Ingin membuktikan pada Demon kalau dia bisa berubah. Tidak sepolos dulu, bisa membuat pria lain tergila-gila padanya.
Ketika sih bartender menuangkan segelas besar wine, Iren langsung meneguknya dan menghabiskan minuman beralkohol itu dalam sekali teguk dan memesan lagi. Untuk kedua kalinya Narrel dibuat heran oleh wanita itu. Ya ampun, harusnya ia tidak mengiyakan Iren yang mengajaknya datang ke club. Wanita disampingnya ini benar-benar nekat.
"Iren, jangan terlalu banyak minum. Tidak baik untuk lambungmu." tegur Narrel lagi menahan tangan Iren yang kembali mau meminum wine. Iren yang sudah setengah mabuk itu menyingkirkan tangan laki-laki itu dan kembali meneguk winenya.
Kesadarannya makin hilang. Wanita itu sesekali tertawa-tawa sendiri dan turun ke lantai dansa dengan kondisi mabuk. Ia menikmati alunan lagu yang diputar lewat home theater. Narrel menarik nafas dan ikut turun. Berniat mencegah Iren kalau-kalau dia akan melakukan sesuatu di luar batas. Kalau biasanya pria itu menikmati bersenang-senang di club dengan wanita yang dia bayar, entah kenapa malam ini ia tidak terlalu suka melihat Iren yang mabuk dan menjadi seperti orang lain. Narrel akhirnya memutuskan tidak akan minum apapun agar bisa menjaga Iren.
"Iren, kau sudah sangat mabuk. Ayo kuantar pulang." Narrel mengambil tubuh lunglai Iren yang berdiri tak berdaya didepannya. Lebih tepatnya ia menahan tubuh Iren yang terhuyung dengan tangannya yang mendekap pelan. Dia tahu Iren sudah tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Iren melepaskan diri dari pria itu dan berjalan kembali ke meja bar untuk memesan minuman lagi namun Narrel menepis pelan tangan Iren yang terulur mau mengambil botol bir yang kira-kira memiliki kandungan alkohol lebih dari dua puluh persen di atas meja, tubuhnya terhuyung tidak jelas. Tidak memiliki kontrol yang baik. Sekali lagi Narrel menahan tubuh Iren.
"Tidak lagi Iren, kau sudah kacau. Ayo pulang sekarang." kata Narrel tegas menarik tubuh Iren keluar tempat itu.
Iren terus menggeleng samar disertai senyuman di sudut bibir kanannya dengan tubuhnya yang sesekali memberikan penolakan pada rengkuhan Narrel yang mencoba membawanya keluar.
Sepanjang perjalanan, Iren terus meracau. Sulit sekali di atur. Mungkin karena mabuk wanita itu jadi seperti orang gila yang melakukan apapun yang dia suka semaunya. Narrel sampai harus membagi fokusnya antara menyetir dan wanita itu.
"Berapa sandimu?" tanya Narrel yang akhirnya berhasil membawa Iren ke apartemen wanita itu. Tubuhnya terus menahan Iren agar wanita itu tidak terjatuh. Ia langsung menekan semua nomor keluar dari mulut Iren. Well, setidaknya wanita itu masih bisa menjawab dengan benar pertanyaannya.
Narrel membawa Iren duduk di sofa dan berniat pergi ke dapur untuk mengambilkan wanita itu segelas air, tapi sebelum berhasil berdiri Iren langsung menarik dasinya hingga pria itu ikut terduduk di sofa. Wajah Iren senyum-senyum seperti orang tak tahu diri.
"Ajarkan aku bagaimana caranya memuaskan laki-laki." gumamnya membuat mata Narrel melebar. Posisi mereka sangat dekat dan pria itu makin kaget lagi ketika merasakan sesuatu menyentuh bagian luar celananya.
"Laki-laki suka dipegang di sini kan?" ucap Iren lagi dengan beraninya. Jiwa beraninya saat mabuk benar-benar keluar. Bahkan ia tidak peduli lagi pada siapapun lelaki yang ada didepannya sekarang. Ia hanya ingin membuktikan bahwa ia juga bisa memuaskan para laki-laki.
Narrel sendiri masih terdiam kaku saking kagetnya karena Iren yang tiba-tiba memegang miliknya dari luar celana. Biasanya dia tidak pernah setegang ini saat di pegang wanita di daerah sensitif itu. Sudah lebih dari puluhan wanita yang ia biarkan bermain-main dengan miliknya, tapi malam ini Iren sungguh membuat pikirannya kacau. Padahal baru di sentuh dari luar. Tubuh Narrel mendadak kaku ketika gerakan tangan Iren makin nakal, munafik kalau dia bilang dia tidak terangsang.
Lalu Iren menghentikan permainannya sebentar, dan membuka dua kancing kemeja bagian atasnya menampakkan belahan dadanya yang begitu menggoda. Narrel memperhatikan dalam diam sambil menelan salivanya. Ternyata tubuh Iren begitu indah. Dibalik cara berpakaiannya yang tampak tidak menarik, ia menyembunyikan tubuh molek yang begitu di sukai banyak pria. Sungguh, Narrel yang tidak ingin sesuatu yang berlebihan terjadi antara dirinya dan asistennya itu terjadi, kini sungguh tidak bisa menahan diri lagi. Salahkan wanita itu merangsangnya duluan. Bahkan saat Iren tanpa permisi naik ke pangkuannya, Narrel merasa celana yang dikenakannya makin sesak. Dadanya panas dan nafasnya makin memburu. Lalu secara tiba-tiba ia langsung mencium Iren.