
Kelopak mata Serena perlahan terbuka. Hal pertama yang menyambut pemandangannya adalah langit-langit putih yang tampak asing serta bau khas antiseptik yang memenuhi ruangan tempatnya berbaring saat ini.
Serena tahu ruangan yang di tempatinya saat ini adalah ruang rawat inap sebuah rumah sakit.
Serena menghela nafas panjang, kondisinya sudah lebih baik dari pada kemarin, juga pikirannya jauh lebih tenang setelah dia beristirahat cukup lama, selama hampir seharian.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka dari luar. Terdengar langkah kaki seseorang mendekat menuju ke kasur tempat Serena berbaring.
Sebuah bucket bunga berwarna merah muda menarik perhatian Serena lebih dulu.
"Oh?! Kau sudah bangun rupanya! Serena, apa ada yang sakit?!" Lelaki dengan setelan jas lengkap itu bergegas lari menghampiri Serena guna memastikan kondisi dari si calon adik ipar.
Ya, orang itu tak lain dan tak bukan adalah Elliot. Dia datang dengan membawa sebucket bunga yang indah dan cukup besar untuk menjenguk Serena di rumah sakit.
Serena terjingkat kaget ketika Elliot berlari menuju ke arahnya secara cepat. Sudah lama mereka tak berjumpa, Serena jadi sedikit kikuk berinteraksi dengan Elliot.
Langkah kaki Elliot seketika berhenti saat lelaki itu menyadari bahwa Serena takut melihat kedatangannya yang tiba-tiba. Menurut dokter, kemungkinan besar Serena mengalami trauma terhadap laki-laki, gara-gara peristiwa tak mengenakan yang dialaminya kemarin.
Butuh waktu dan kesabaran ekstra untuk memulihkan mental dan batin Serena. Elliot harus menjaga sikapnya supaya tidak menakuti Serena.
Maka dari itu, Elliot tidak jadi mendekati Serena secara barbar. Lelaki itu berhenti di tempatnya berdiri dan mencoba berinteraksi ringan dengan Serena, "Maaf membuat kamu kaget, aku terlalu panik dan senang karena kamu sudah bangun. Bagaimana kondisimu hari ini? Apa ada yang sakit atau nyeri?"
Elliot bertanya dengan nada selembut mungkin supaya Serena tidak waspada terhadapnya. Ini demi menunjukkan pada Serena bahwa dirinya tidak mempunyai maksud jahat terhadap gadis itu.
Serena merasa sedikit aneh dengan sikap Elliot yang terkesan menjaga jarak dengannya. Tapi di satu sisi, Serena sedikit lega karena Elliot tidak terlalu dekat padanya.
Kenapa tubuhnya jadi bereaksi takut begitu melihat Elliot ya?
Serena tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, tapi dalam benaknya, Serena tengah mensugesti dirinya sendiri bila Elliot tidak memiliki maksud jahat kepadanya. Elliot tidak sama dengan para preman yang mengejarnya, jadi dia tidak boleh takut pada Elliot.
Lalu Serena menganggukan kepalanya mengerti, "Ma-maaf ngerepotin kakak...a-aku baik. Aku udah lebih baik dari pada kemarin...maaf..aku lagi-lagi nyusahin banyak orang..."
Serena menundukkan kepala, meremas sprei rumah sakit yang berwarna putih sebagai bentuk pelampiasan emosi.
"Maaf...aku nggak punya muka lagi buat nemuin kakak dan yang lainnya, tapi lagi-lagi aku ngelakuin kesalahan dan berakhir nyusahin kalian..aku bener-bener minta maaf..."
Serena sudah lelah menangis, menangisi kehidupannya, menangisi nasibnya yang selalu sial dan buruk. Mau sampai kapan dirinya akan terus menyusahkan orang lain?
Padahal Serena ingin memulai kehidupan barunya, terlepas dari segala belenggu penderitaan yang diakibatkan oleh keluarganya, tapi nyatanya dia sama sekali tak berguna di luar sana. Serena tetaplah seorang gadis tak berdaya yang tak memiliki kekuasaan besar walaupun hanya untuk membela dirinya sendiri.
Miris sekali...
Serena merasa lelah...dia benar-benar lelah tapi tak tahu apa yang bisa dia perbuat..
Hati Elliot jadi pilu melihat ekspresi kosong yang tercetak di wajah Serena. Seolah-olah gadis itu sudah tidak mempunyai harapan hidup lagi. Elliot tak tahu seberapa besar gadis itu menderita selama ini, mungkin bila dirinya berada di posisi Serena, Elliot lebih memilih mengakhiri hidupnya lebih cepat daripada terus mengalami penderitaan di sepanjang hidupnya.
Pilihan yang tidak bijaksana memang, tapi bagi orang yang menjalaninya, opsi itu terdengar begitu menggiurkan.
Elliot yakin Serena juga akan memilih langkah yang sama bila tak ada seorang pun yang berada di pihak gadis itu. Maka dari itu, kehadirannya di sana diharapkan bisa mengisi kekosongan dan menyemangati Serena agar tidak berhenti menyerah.
"Boleh aku mendekat? Aku pengen cerita sesuatu padamu," Elliot meminta izin dulu kepada Serena.
Sejenak Serena ragu dan panik, tapi setelah berpikir matang-matang, akhirnya Serena mengizinkan Elliot mendekat padanya.
Elliot mengucapkan terima kasih dengan senyum lebar yang tampan. Ah, rasanya seperti sudah lama sekali Serena tidak melihat orang setampan Elliot di dunianya.
Elliot duduk di satu kursi penunggu yang ada di dekat kasur Serena.
"Kamu tau nggak? Kami semua sangat mengkhawatirkanmu, dan mencarimu ke mana-mana. Kami sudah tau tentang apa yang terjadi padamu di kediaman Reinhart, meski aku merasa masih ada hal yang ditutupi dari kami. Seenggaknya kami sudah mengetahui inti permasalahan yang kamu alami dan berencana akan melaporoan kedua orang tuamu dan Jasmine, kalau kami nggak bisa menemukanmu di mana-mana."
Pengakuan Elliot jelas mengejutkan Serena.
"La-lapor polisi maksud kakak?"
Elliot mengangguk membenarkan. "Aku dan Julian sudah nggak tahan lagi, kami terpaksa mengancam mereka supaya mereka bersedia buka suara. Apa yang kamu alami di rumah itu, aku bisa mengerti kenapa pada akhirnya kamu memilih untuk kabur dan pergi meninggalkN semuanya. Tapi karena Julian nggak bisa lepas dari kamu, makanya kami berupaya mencarimu sampai ketemu.."
Julian...Serena samar mengingat kedatangan Julian yang tiba-tiba lalu menyelamatkan hidupnya, lagi.
Kemudian Elliot melanjutkan, "Julian udah kayak orang gila...emosinya nggak terkontrol dan bersikeras buat cari kamu sendiri. Tentu aja aku dan papa melarang Julian, karena takut dia kecapekan terus ambruk. Walaupun dengan paksaan keras, akhirnya Julian bersedia menunggu informasi yang didapatkan anak buah kami daripada turun ke jalanan sendiri. Seumur-umur aku melihat tumbuh kembang Julian, baru kali ini aku lihat dia sekacau itu..."
"...Serena, Julian bener-bener bakal gila kalau kami nggak bisa menemukanmu, atau hal terburuk yang kami dapatkan hanyalah tubuhmu yang sudah tak bernyawa. Aku nggak bisa bayangin betapa frustasinya Julian andai itu bener-bener terjadi. Tapi beruntung kami menemukan titik terang perihal keberadaanmu. Seenggaknya itu sedikit mewaraskan akal Julian yang hampir hilang," Elliot mendesah panjang, ketika mengingat sikap Julian pada saat itu.
Elliot hampir tidak mengenali Julian yang diselimuti aura gelap yang mematikan. Mendekat saja, rasanya seperti nyawa bisa hilang kapan saja. Kehilangan seseorang yang berarti ternyata bisa menakutkan itu dampaknya.
"Lalu setelah kami berhasil melacak keberadaanmu, Julian udah berniat membawamu pulang ke rumah kami. Tapi aku gatau kenapa dia malah pulang dengan tangan kosong tanpa membawa siapa-siapa. Saat aku tanya, dia cuma bilang, 'Sekarang belum waktunya, aku mau lihat perkembangan Serena dulu di tempatnya tinggal yang sekarang'. Tapi dia nggak melepaskan pengawasannya darimu, makanya Julian menempatkan mata-mata untuk berjaga di sekitar tempatmu tinggal," ungkap Elliot, yang semakin mengejutkan Serena.
Lagi-lagi Serena melukai Julian dengan tindakan kekanak-kanakannya.
Serena memukuli kepalanya yang bodoh dan tak berguna.
Serena tak tahu bagaimana nanti menghadapi Julian setelah luka dan kekecewaan yang dia torehkan pada Julian. Padahal Julian sudah berusaha menjadi kekasih yang sempurna bagi dirinya, tapi Serena belum bisa membalas kebaikan Julian sama sekali.
Serena merasa tak berguna, rasanya lebih baik tenggelam ke dasar lautan daripada dirinya menyakiti orang-orang terdekatnya terus menerus.
Elliot panik ketika Serena terus memukuli kepalanya sendiri. Lelaki itu bergegas menghentikan tindakan Serena yang berusaha melukai dirinya sendiri.
"Jangan seperti ini...Serena, berhenti nyakitin dirimu sendiri!" Elliot menegur Serena yang mulai hilang kendali diri.
Tapi Serena bersikap seolah-olah tuli dan terus memukuli serta menjambak rambutnya sendiri.
Beruntung di saat yang tepat, seseorang datang dengan tergesa begitu mendengar suara ribut dari dalam ruang inap Serena.
Brak
"Serena!!!"
Suara yang cukup lantang dan terdengar panik itu seketika menghentikan pergerakan tangan Serena. Mata Serena melebar begitu mendengar suara Julian.
Julian yang baru datang lalu berjalan cepat menghampiri kasur Serena. Dia melihat kakaknya tampak sedang memegangi kedua tangan Serena yang masih mencengkram rambutnya sendiri.
"Julian, Serena-"
Julian mengkode Elliot untuk berhenti bicara karena dia dapat menarik kesimpulannya sendiri. Serena tengah berusaha menyakiti dirinya sendiri, itu terlihat jelas. Ekspresi tertekan yang ditunjukkan gadisnya begitu kentara dan itu melukai hati Julian juga.
Perlahan Elliot melepaskan pegangannya pada tangan Serena. Begitu terlepas, Serena menarik tangannya juga karena malu Julian melihat kebodohannya.
Elliot pamit pergi untuk memberikan ruang bagi sepasang kekasih itu berbicara.
Mereka butuh privasi, maka Elliot akan dengan senang hati pergi walau tanpa disuruh.
Sepeninggalkan Elliot, hanya tersisa Julian dan Serena yang diselimuti keheningan yang canggung.
Serena yang sudah putus asa tiba-tiba tertawa kencang, menertawakan dirinya sendiri yang begitu menyedihkan.
Air mata mengalir begitu saja. Menghiasi wajah Serena yang berusaha tersenyum dan tertawa di atas penderitaannya sendiri.
"Hahahaha! Hidup ini kayak komedi putar ya...bener-bener lucu," racau Serena tiba-tiba.
"Padahal aku nggak berniat menemuimu dengan kondisi yang kayak gini. Tapi kayaknya memang aku nggak ditakdirkan buat sukses dengan caraku sendiri," Bibir Serena menyunggingkan senyum kecut.
"Hei, Julian...kemarilah," Serena meminta Julian untuk mendekat padanya.
Senyum yang diukir Serena tampak dipaksakan, tapi Julian tidak mau menyela setiap perkataan Serena. Dia berjalan pelan menuruti permintaan sang kekasih.
Sesampainya Julian di sebelah kasur Serena, Serena mengambil satu tangan kekasihnya yang terasa kasar, bahkan ada bekas kemerahan di punggung tangannya.
Apa Julian baru saja berkelahi dengan seseorang? Serena baru menyadari betapa berantakannya Julian sekarang.
Melihat itu, Serena kembali teringat akan kebiasaan barunya saat tinggal bersama kekasih tampannya itu. Serena selalu menyiapkan pakaian ganti Julian dan membantu Julian merapikan pakaiannya agar terlihat sempurna.
Sekarang Serena akan melakukan hal yang sama, membantu merapikan kerah kemeja Julian yang tak tertata rapi.
Mungkin ini untuk terakhir kalinya.
"Kamu harus memperhatikan dirimu sendiri..." gumam Serena pelan. Begitu selesai, Serena menarik tangannya dari leher Julian.
"Karena aku nggak bisa bantu kamu ngerapiin pakaianmu lagi ke depannya nanti..." sambung Serena kemudian.
Lalu pandangan Serena jatuh pada iris keabu-abuan yang membuatnya jatuh cinta begitu dalam.
"Aku mau menyerah, Julian....aku udah capek...aku pengen bebas, aku mau terbang sejauh mungkin dari sini..." kata-kata itu diucapkan dengan bibir gemetar menahan tangis, tanpa melunturkan senyum yang diukir secara paksa.
"Aku capek, aku pengen bebas...tolong biarkan aku pergi, Julian..." Serena mengeratkan cengkramannya pada tangan Julian yang dia genggam.
Julian mengeraskan rahang, bukan itu yang ingin dia dengar dari Serena. Julian merasa bila dirinya membiarkan tangan Serena lepas darinya, maka dia benar-benar akan kehilangan gadis itu untuk selamanya.
Julian balik menggenggam tangan Serena tak kalah eratnya, seharusnya Julian melakukan ini lebih awal supaya Serena tidak bisa lepas lagi darinya.
"Kamu bilang kamu mau menyerah 'kan?" tanya Julian kemudian, "Bagus, kalau gitu serahkan dirimu padaku. Biar aku yang mengambil alih atas dirimu mulai sekarang," ucapnya, dengan sorot mata tajam yang tak bisa terbantahkan.
'Maafkan aku, sayang...tapi aku nggak akan biarin kamu pergi jauh lagi dariku. Sekalipun aku harus mematahkan satu 'sayapmu', apapun akan kulakukan demi mempertahankan dirimu di sisiku.'