Mine

Mine
Chapter 67



"Kalau begitu aku pergi dulu."


Ina mengangguk menatap Ainsley dengan senyum ramahnya. Ia menghargai semua keputusan gadis itu. Tidak apa-apa Ainsley menolak tawaran mereka, yang penting tugasnya sudah ia sampaikan. Ina pun kalau jadi gadis itu yang sekarang notabenenya adalah istri dari salah seorang pria yang memiliki segalanya, pasti akan menolak. Ia lebih suka hidup tenang di rumah saja. Itu lebih enak dibandingkan kerja seharian penuh. Belum lagi kalau nanti berhadapan dengan masalah-masalah yang sulit dalam dunia kerja.


Ainsley berjalan menuju pintu keluar. Ada Dara yang berdiri menunggunya di sana. Ia menyuruh sahabatnya itu menemaninya ke perusahaan itu saat jam kosong. Mereka keluar dari gedung itu dan mampir sebentar di sebuah cafe. Karena sekarang sudah jam makan siang, jadi keduanya memutuskan makan dulu sebelum balik lagi ke kampus.


"Sejak kapan mereka menawarimu?" Dara masih tidak percaya mengetahui Ainsley yang ditawari oleh agency besar yang juga menjadi salah satu agency pilihannya. Sayang sekali Dara sama sekali tidak dilirik.


"Kemarin." sahut Ainsley acuh tak acuh.


"Wah, jika yang ditawari itu adalah aku, aku pasti akan langsung menerimanya tanpa berpikir dua kali." sampai sekarang Dara masih menyesali kenapa Ainsley menolak kesempatan besar ini. Mentang-mentang hidupnya sudah enak sekarang. Ainsley sendiri hanya tersenyum. Ia mengerti dengan perasaan Dara. Tapi mau bagaimana lagi, dia saja sudah hilang mau.


"Ah aku lupa, Alfa mencarimu dari kemarin." Dara menyodorkan es susu kopi ke hadapan Ainsley. Salah satu minuman favorit Ainsley selain espresso atau latte.


Mendengar nama pria itu, senyuman di wajah Ainsley memudar. Ia teringat ciuman kemarin. Kenapa Alfa mencarinya? Ainsley menarik nafas berat. Bagaimana caranya agar dia bisa menghindari lelaki itu.


"Kau kenapa? Sepertinya akhir-akhir ini kau tidak suka kita membicarakan tentang Alfa." kata Dara. Ia memang sudah memperhatikan Ainsley beberapa kali. Gadis itu akan berubah  malas saat mendengarkan ia menyebut nama Alfa. Dara tahu Ainsley pernah menyukainya, mungkin karena sekarang gadis itu sudah menikah makanya dia ingin menghindari Alfa.


"Aku hanya tidak ingin membahasnya." balas Ainsley setelah menyeruput minumannya dengan sedotan yang terbuat dari aluminium.  Ia memandang lekat sahabatnya itu. Dara adalah salah satu sahabat yang paling mengerti dirinya, jadi semua masalahnya selalu ia ceritakan pada gadis itu. Karena menurutnya, Dara adalah teman curhat yang paling baik dan setia mendengar.


"Aku mengerti posisimu. Apalagi sekarang kau sudah menikah. Pasti sulit bagimu kalau selalu bertemu dengan laki-laki yang pernah kau cintai."


Ainsley menarik nafas sejenak. Benar kata Dara. Setelah menikah, ia memang merasa tidak nyaman jika selalu berpapasan dengan Alfa. Apalagi ciuman kemarin dan isi hati Alfa yang baru dia dengar kemarin. Itu menambah rasa tidak nyamannya bertemu dengan pria itu. Kalau Alfa terus memperlakukannya dengan baik, ia takut suatu saat nanti Austin akan salah paham. Dan dia tidak mau. Ia baru saja mau membuka hati pada pria itu, rumah tangga mereka juga masih baru. Ia tidak mau nantinya mereka akan bermasalah. Apalagi Austin adalah tipikal laki-laki yang rasa cemburunya sangat tinggi. Jadi lebih baik ia menghindari masalah sebelum semua yang tidak diinginkan terjadi.


"Lihat siapa ini?" perkataan itu membuat Ainsley dan Dara sama-sama menoleh ke arah datangnya suara. Ainsley menyipitkan mata. Wanita agak kebule-bulean yang berdiri di dekat meja mereka itu tampak tidak asing. Ainsley pernah melihatnya di suatu tempat, tapi dimana yah? Ia mencoba mengingat-ingat. Ah, dia mereka pernah bertemu di hawaii. Saat Austin membawanya liburan ke sana tanpa ijin. Sebenarnya tidak bisa dibilang liburan juga sih. Karena waktu itu Austin malah lebih banyak mengurus bisnisnya.


"Kau masih kenal aku kan? Clara, temannya Austin." gumam Clara pakai bahasa Indonesia. Bahasa Indonesianya terdengar sangat lancar.  Mungkin antara mama atau papanya adalah warga negara Indonesia karena wajahnya pun tidak kelihatan seperti bule asli. Sejujurnya Ainsley tidak begitu suka berpapasan dengan wanita itu. Ia merasa wanita bernama Clara ini tidak menyukainya dan menganggapnya sebagai saingannya. Tapi Ainsley tetap berusaha bersikap ramah didepan wanita itu.


"Kau ada bisnis di Indonesia?" Ainsley bertanya. Hanya sekedar basa-basi.


"Yah, aku dan suamimu punya bisnis yang harus kita urus bersama. Mungkin dia belum cerita padamu." Clara sengaja bilang begitu padahal dirinya sendiri belum ketemu dengan pria itu. Ia sudah beberapa kali menemui Austin, tapi pria itu sangat sibuk kata karyawan di kantornya. Ainsley berusaha menjaga sikapnya agar tetap tenang dan tetap terkendali. Entah apa hubungannya dengan Austin dulu, Ainsley tidak peduli. Yang pasti sekarang dirinyalah yang berstatus sebagai istri Austin.


"Oh, aku memang tidak suka membahas bisnis kalau sedang bersama suamiku. Biasanya kami hanya membahas kehidupan pernikahan dan sesuatu seperti aku berapa anak yang bisa aku lahirkan." Ainsley sengaja memanas-manasi. Pokoknya dia tidak boleh terlihat lemah. Ia tidak mau kalah dari wanita yang lebih tua didepannya ini. Ainsley dalam hati tertawa puas ketika melihat wanita bernama Clara itu sepertinya terpancing emosi, namun berusaha tetap tersenyum didepan Ainsley dan Dara. Wanita itu pura-pura melirik ke jam tangannya.


"Sepertinya aku harus pergi sekarang. Silahkan lanjutkan makan kalian." katanya dan langsung berbalik pergi. Ainsley tersenyum remeh lalu kembali menyeruput minumannya.


"Siapa wanita tua itu?" tanya Dara. Ainsley sendiri hampir tersedak mendengar Dara menyebut Clara wanita tua. Memang lebih tua dari mereka, juga mungkin sedikit lebih tua dari Austin. Tapi belum tua-tua amat. Masih cantik khas orang dewasa. Meski beberapa bagian diwajahnya Ainsley yakin itu pasti karena operasi plastik.


"Dia rekan kerjanya Austin, kami bertemu di Hawaii." jawab Ainsley.


"Sepertinya dia tidak menyukaimu."


Ainsley mengangkat bahu acuh tak acuh.


"Aku tidak peduli, aku sendiri tidak menyukainya juga." ia yakin sekali wanita bernama Clara itu tidak menyukainya karena statusnya istri seorang Austin. Tapi ia tidak peduli, tidak penting juga.


Dara menyipit dan mendekatkan wajahnya ke Ainsley.


"Jawab aku, kau pasti tidak menyukainya karena dia rekan kerjanya Austin kan?''


Ainsley menatap lama Dara dan hendak menjawab gadis itu, namun ponselnya tiba-tiba berbunyi.


"Datang ke kantorku sekarang juga. Kalau tidak, aku sendiri yang akan menyeretmu dari sana." setelah mengatakan itu, sambungan langsung terputus. Tentu saja Ainsley kebingungan. Suara Austin terdengar sangat marah. Kenapa? Apa dia berbuat salah?