
"Kalau kamu punya banyak uang, kamu mau pergi ke mana?"
Serena menatap Jevano yang duduk di depannya sambil bertopang dagu.
"Tiba-tiba banget nanya gitu? Gatau, aku bahkan nggak yakin bisa berpergian ke luar kota pakai uang sendiri. Aku masih harus banyak menabung, Jevi."
Jevano sudah menebak jawaban yang akan Serena berikan. Tapi tetap saja, Jevano ingin tahu tempat apa dan yang bagaimana yang sesuai selera Serena.
"Ya kali aja setelah dapat kerja, kamu bisa pergi ke mana-mana pakai uangmu sendiri. Nah, karena itu mulai dari sekarang kamu udah bisa mikirin tempat wisata mana yang pengen kamu datangi suatu saat nanti. Anggap aja sebagai goals-mu di masa depan!" Jevano tak habis akal untuk mendesak jawaban Serena.
Penjelasan Jevano masuk akal juga, jadilah Serena memikirkan soal pertanyaan Jevano barusan. Tempat apa yang sangat ingin dia kunjungi suatu saat nanti? Apa pegunungan? pantai? Yang ada saljunya?
Serena tak tahu, karena dia ingin mendatangi banyak tempat yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Dunianya hanya berputar di sekolah dan rumah saja, Serena ingin melihat dunia di luar sana yang lebih luas.
"Banyak.." Serena bergumam lirih, "Banyak yang pengen aku kunjungi, tapi akhir-akhir ini, aku denger Thailand jadi tujuan wisata populer dan nggak terlalu memakan banyak biaya. Kayaknya tempat itu yang pengen aku kunjungi pertama," jawabnya kemudian.
Jevano membulatkan bibirnya, dia sendiri belum pernah ke sana, tapi kalau benua Eropa dia pernah walau hanya dua kali.
"Kamu pasti bisa ke sana suatu saat nanti! Bahkan ke berbagai belahan bumi lainnya! Kalau kamu mau, aku sih bisa bawa kamu pergi ke alaska sekalian, buat lihat penguin!" kekeh Jevano, entah niatnya bergurau atau serius.
Serena mengerucutkan bibirnya, merasa Jevano hanya ingin mengiming-ngimingi dirinya saja. Bahkan untuk pergi ke mall saja Serena tak berani karena uang sakunya tak akan cukup untuk membeli sesuatu di sana.
Untung-untung Serena masih punya ongkos untuk pulang-pergi dari sekolah ke rumah dan sebaliknya. Jangankan pergi ke Bangkok, ke tempat-tempat wisata lokal saja Serena belum pernah.
"Yah...suatu saat nanti, aku pengen lihat dunia luar sana. Pasti terasa lebih menyenangkan daripada cuma bisa melihatnya dari layar televisi."
Senyum di wajah Jevano perlahan memudar, matanya menatap lekat Serena yang masih bisa tersenyum meski mulutnya baru saja mengeluarkan harapan yang tak pasti kapan dapat terwujudkan, dan Jevano ikut merasakan kesesakan itu.
Meski terlahir di keluarga kaya raya, tapi hidup Serena tak beda jauh dari orang biasa yang hidup pas-pasan.
Jevano bahkan bisa melihat betapa kurusnya pergelangan tangan Serena seperti tidak makan 3 kali sehari, walau alasan dibalik itu karena Serena tak memiliki nafsu makan ketika berada di rumah.
Harapan sekecil apapun pasti terasa besar bagi Serena.
Jevano sedikit kesal pada dirinya sendiri lantaran dia belum bisa mewujudkan keinginan Serena detik ini juga. Jevano masih terkendala banyak hal yang mengharuskannya menahan diri untuk tidak sembarangan menggunakan fasilitas yang dia terima dari orang tuanya.
Mereka masih anak-anak di bawah umur yang berada dalam pengawasan orang tua, jadi Jevano tak bisa menggunakan kekayaannya secara sembarangan apalagi untuk orang lain.
Jevano ingin sekali cepat dewasa dan mengelola keuangannya sendiri. Dirinya sudah mulai belajar terjun ke dunia bisnis dengan memulai debutnya sebagai seorang investor muda. Jevano berharap, dirinya bisa menghasilkan uang banyak demi membahagiakan gadis di depannya sekarang.
"Aku janji, suatu saat nanti kita bakal pergi ke berbagai tempat berdua! Kamu bisa pegang janjiku!"
Serena menatap wajah Jevano yang sedikit merona.
Walau Serena tahu itu sekedar penghiburan untuknya, tapi Serena tetap senang. Lalu Serena tertawa, meledek wajah Jevano yang memerah tanpa sebab, "Iya, iya. Aku bakal menunggu sampai saat itu tiba. Karena itu mulai sekarang kita sama-sama berjuang ya? Aku juga pengen ajak kamu ke suatu tempat pakai uangku sendiri. Gantian!"
Janji kelingking yang manis. Tanpa sadar keduanya berbagi impian dan cita-cita yang sama, yakni memiliki banyak uang dan menjadi sukses supaya kelak bisa pergi ke berbagai tempat bersama-sama.
Karena impian itulah, alasan mengapa Jevano dan Serena terus berjuang bertahan hidup meski badai kerap datang silih berganti.
***
"Jadi karena itu kamu mau Mama ikut liburan kalian?" Beatrice bertanya pada Jevano yang duduk di hadapannya.
Jevano mengangguk mantap, sudah yakin akan mengajak ibunya daripada rencana liburannya gagal total karena Serena takut dan memilih pulang kalau tahu mereka hanya berdua.
Jemari Beatrice mengetuk-ngetuk meja kaca yang memisahkan dirinya dan sang putera. Jevano tampak tegas dan yakin, walau tahu kehadiran dirinya hanya akan menjadi pengganggu saja.
"Terus Jasmine gimana? Nggak kamu ajak sekalian? Nanti dia salah paham lho terus berantem sama Serena," Tak lupa Beatrice menanyakan soal Jasmine yang berstatus kekasih puteranya.
"Aku udah bikin rencana sendiri buat Jasmine, makanya liburanku sama Serena kumajukan biar nggak bentrok sama waktunya Jasmine," jelas Jevano.
Hmph, Beatrice tak menduga Jevano sudah memikirkan hal ini dengan matang.
"Yakin kamu Jasmine nggak bakal marah kalau tau kamu ngajak kembarannya liburan? Dia pasti bakal musuhin Serena dan menuduhnya yang enggak-enggak lho. Mama nggak mau ya sampai Serena jadi korban peredebatan kalian," Beatrice mencoba memperingati Jevano terlebih awal.
Jevano mengangguk mantap, dia hanya perlu menjelaskan semuanya dengan sedikit dibumbui kebohongan dan drama supaya Jasmine tidak curiga dan protes terus menerus.
"Jasmine biar jadi urusanku, asalkan Mama setuju, aku bakal jamin semuanya beres dan aman."
Beatrice tak tahu apakah ini ide bagus atau buruk, tapi di satu sisi, Beatrice juga ingin anaknya bahagia. Sejak Jevano berpacaran dengan Jasmine, Beatrice lebih sering melihat Jevano murung seperti sedang banyak pikiran. Namun setiap kali dirinya mencoba bertanya, Jevano selalu mengelak dengan senyuman.
Puncaknya ketika kabar mengenai hubungan Serena dengan putera bungsu keluarga Collin terkuak ke publik, Jevano kelihatan syok berat dan diam seribu bahasa. Meski Jevano mencoba menutupinya dengan gurauan serta senyuman lebar, tapi Beatrice tahu puteranya baru saja merasakan patah hati.
Beatrice juga heran mengapa Jevano justru memilih Jasmine sebagai kekasih, bukannya Serena yang jelas-jelas sangat dekat dengan anaknya itu. Lalu sekarang apa lagi yang sedang dipikirkan puteranya? Mencoba mendekatkan lagi hubungan mereka yang mulai merenggang?
Apapun alasan dibalik itu, Beatrice hanya perlu menjalankan perannya sebaik mungkin demi Jevano sambil membaca situasi yang ada.
Kalau bisa memilih sih, jelas Beatrice lebih memilih Serena ketimbang Jasmine yang baginya masih terlalu kekanak-kanakan.
"Mama harap, apapun yang kamu rencanakan nggak akan melukai siapapun, Jevano. Karena orang yang kamu hadapi bukan berasal dari sembarang orang, kesalahan sedikit bisa memicu pertengkaran yang berakibat fatal, kamu harus ingat itu baik-baik."
.
.
***
"Sst! Jangan ngomong gitu! Kali aja ini memang kemauannya Serena 'kan? Lagipula, kalau dilihat-lihat memang imagenya Serena lebih cocok sekolah di sini sih, dia kelihatan beda banget sama kembarannya!"
"Oh ya, kamu juga ikut study tour ke Jepang nggak? Aku denger-denger kamu belum bayar sampai sekarang. Masa orang kaya selevel Reinhart nggak punya uang buat bayar sih? Hahaha! Jangan-jangan uangnya kamu habisin ya? Licik juga kamu, Serena!"
.
"Pergi ke Jepang? Buat apa kamu ikut acara nggak penting gitu?! Kalau punya waktu buat liburan mending kamu pakai buat belajar aja! Mama nggak mau lihat nilai rapotmu merah ya! Jangan sampai membuat malu keluarga kita!"
.
"Huh...Serena, kamu nggak lihat Papa lagi sibuk begini? Soal uang kamu bisa minta ke Mama. Mama yang ambil kendali di rumah, kalau Mama bilang enggak ya kamu turuti aja omongannya Mama, Papa masih banyak urusan, jangan ganggu dulu."
.
"Ih, kok uang kak Serena banyak sih?! Daripada buat bayar yang nggak berguna, mendingan kak Serena beliin aku tas baru! Aku suka tas lucu yang diiklainin di televisi itu lho, kak! Please, ya~ kak Serena baik deh, cantik! Aku pasti bisa sembuh cepet kalau kakak beliin aku tas itu! Jamin deh!"
***
"Lagi ngelamunin apa?"
Serena menoleh ke arah Julian yang baru saja mengguncang pundaknya pelan lantaran dirinya terlalu tenggelam dalam ingatan masa lalu sampai tak menggubris omongan sang kekasih yang duduk di sebelah kirinya.
Serena tersenyum tipis, entah mengapa memori semasa remajanya kembali dia ingat. Masa-masa saat dirinya masih polos dan mudah dibodohi orang.
"Gara-gara hadiah Jevano, aku jadi keinget terus sama masa laluku.Dulu, buat pergi ke tempat jauh rasanya mustahil banget bahkan buat bermimpi aja aku nggak berani karena aku tau keuanganku nggak bakal mencukupi keinginanku itu." Senyum miris terukir di bibir Serena.
"Mungkin Jevano mengajakku pergi ke sana karena dia merasa punya hutang janji sama aku. Padahal aku udah lupa, tapi hebatnya dia masih inget janji kita dulu.." Entah Serena harus merasa senang atau bagaimana. Baginya ini membingungkan tapi tak dipungkiri hati kecilnya sedikit gembira.
"Bahkan setelah aku mencoba menabung pun tetep aja belum mencukupi buat pergi liburan jauh, huh...hidupku masih jauh dari kata stabil rupanya.." Serena menertawakan dirinya sendiri. Dia benar-benar miskin sekarang, Serena tak menyadari itu sebab Julian selalu memberinya makan secara teratur.
Bagi Serena, asalkan bisa makan saja sudah lebih dari cukup. Apalagi kalau sampai diberi hadiah dari seseorang, itu adalah rejeki dan berkat dari Tuhan jadi Serena sangat berterima kasih dan menghargainya sepenuh hati.
"Jangan sedih..kamu punya aku sekarang. Hidupmu bukan cuma milikmu saja, tetapi juga aku. Kebahagiaanmu juga kebahagiaanku. Kita akan melakukan banyak hal bersama-sama ke depannya nanti, jadi jangan patah harapan dan semangat, aku pasti akan membantumu mewujudkan semua keinginanmu yang belum tercapai." Julian mengecup punggung tangan Serena yang dia raih.
Membubuhkan kecupan-kecupan sayang dengan harapan dapat meningkatkan mood Serena yang sedang down.
Serena sedikit kegelian akibat ulah Julian tapi dia tidak membencinya. Ini adalah cara Julian mengungkapkan perasaan sayang lelaki itu padanya, Serena bisa merasakan ketulusan dari sikap Julian yang berubah touchy-feely saat sedang bersama dirinya.
"Mulai sekarang kamu bisa kasih tau aku semua hal yang pengen kamu lakuin dan yang pengen kamu datangi. Aku akan bekerja lebih keras buat mewujudkan semua keinginanmu, ayo sebutkan saja semuanya!" desak Julian tiba-tiba.
Ekspresi Julian tampak antusias, seperti anak anjing yang menunggu tuannya dengan mata berbinar-binar.
Ini begitu dadakan, tapi jujur, Serena belum sepenuhnya melupakan impian di masa lalunya begitu saja. Impian yang sangat ingin dia penuhi namun sayangnya nasib berkata lain.
"Bener, kamu mau tau impianku yang paling besar?"
Julian menanggapi dengan anggukan penuh, "Iya. Nanti setelah kamu, terus giliranku. Jadi kita bisa saling bertukar rahasia!"
Serena ingin tertawa melihat Julian yang lebih ekspresif seperti sekarang, tapi ini perkembangan yang bagus, kekasihnya tak kelihatan dingin lagi.
"Aku...pengen jalan-jalan di pantai yang indah bersama seseorang yang begitu spesial di hatiku. Jalan berdua menyusuri pinggir pantai sambil bergandengan tangan, pergi bermain salju bersama, mendaki gunung bersama, sebenernya aku juga pengen melakukan itu bersama keluargaku, tapi karena aku tau itu pasti mustahil terjadi, jadi aku udah harus puas hanya ditemani satu orang yang juga nggak kalah spesialnya dari keluargaku," ungkap Serena, pada akhirnya.
Dulu, Serena membayangkan semua hal-hal membahagiakan itu bersama Jevano, tetapi semuanya pupus setelah Jevano berpacaran dengan Jasmine. Semua harapan serta impiannya seketika hancur sampai Serena melupakan semua itu dan menguburnya dalam-dalam.
"Ya..impian hanya sekedar impian, aku terlalu bodoh mengharapkan suatu keajaiban terjadi dalam keluargaku, jadi satu orang aja udah cukup buat mengisi spot kosong itu," sambung Serena, diakhiri dengan senyuman tipis yang menyimpan banyak duka di dalamnya.
Julian tak bisa berkomentar banyak, dia hanya bisa merangkul pundak Serena untuk memberikan kehangatan serta dukungan emosional yang Serena butuhkan.
"Kamu nggak sendiri kok. Ada banyak orang di sisimu, kamu hanya perlu melihat ke depan dengan pandangan positif. Jangan terus terpaku pada masa lalu, kamu harus melihat ke depan dan melepaskan apa yang nggak bisa kamu pegang lagi. Aku akan menjadi pegangan baru untukmu, yang lebih kuat dan kokoh supaya bisa menopangmu kapanpun kamu butuh. Kita bisa buat kenangan baru bersama, yang tentunya akan diisi dengan berbagai keseruan lainnya, kamu harus nantikan saat itu tiba!"
Pandangan Serena mulai terlihat buram oleh karena tertutup air mata yang menggenang. Serena tak bisa melihat jelas tetapi tangannya merasakan genggaman hangat dari tangan besar sang kekasih.
Benar, sekarang Serena mempunyai pegangan baru yang artinya juga harapan baru. Mungkin masa lalunya banyak mengalami kegagalan, tetapi masa depan bisa saja banyak keberhasilan yang akan dia raih. Serena sangat menantikan saat itu tiba, berjalan dengan seseorang yang bisa menjadi penopangnya yang baru. Seseorang yang selalu ada untuknya dan hanya untuk dirinya.
Julian selalu mengingatkannya bahwa masih banyak orang yang menyayanginya, peduli dan perhatian kepadanya, Serena tidak boleh melupakan hal itu.
Untuk menyambut masa depan yang lebih cerah dan positif, hal pertama yang harus Serena lakukan adalah membuang pikiran negatifnya dan merelakan orang-orang yang tak bisa dia harapkan lagi. Belajar ikhlas dan melepaskan mereka yang dulu pernah menjadi bagian dalam doanya.
Termasuk di antaranya adalah Jevano, orang tuanya dan juga Jasmine. Ya, orang-orang itu tak bisa Serena harapkan lagi. Sudah cukup lama Serena menggantungkan harapannya pada mereka dan mendoakan keajaiban terjadi atas orang-orang itu, tapi yang Serena dapatkan hanyalah kekecewaan dan luka. Sudah waktunya merelakan dan mengikhlaskan.
Sekarang Serena hanya perlu fokus pada apa yang ada di depannya, terutama pada sesosok lelaki yang kini menjadi cahaya baru dalam hidupnya.
Julian..
Keraguan yang menyelimuti Serena perlahan terangkat. Julian bisa menyakinkan Serena dengan sepenuh hati serta kesungguhan yang luar biasa. Bila orang lain bisa menentukan kebahagiaan mereka sendiri, tentu saja dirinya juga bisa. Ya, mungkin pilihan Serena kali ini sudah tepat.
Serena sudah benar-benar yakin pada pilihannya yang jatuh pada sosok Julian Collin.
Dengan begini, Serena tak perlu khawatir hatinya akan goyah ketika menghabiskan waktunya bersama dengan Jevano pada saat liburan nanti. Julian adalah masa depannya, Jevano adalah masa lalunya.
Hatinya telah memilih Julian, dan Serena tidak akan tergoyahkan lagi. Demi mencapai impian barunya, Serena harus menjaga apa yang dia miliki sekarang dengan baik mungkin.