Mine

Mine
Hari Kelahiran Anggota Baru



Kaki Julian tak berhenti bergerak gugup menantikan sang istri yang tengah berjuang melahirkan di dalam ruang bersalin.


Dari luar, Julian memang tak terlalu mendengar jeritan kesakitan dari sang istri, tapi Julian tahu bahwa Serena tengah berjuang melawan maut demi melahirkan buah hati mereka. Persalinan berjalan normal, Serena menolak melakukan operasi ceasar karena merasa sanggup melahirkan anak mereka dengan kekuatannya sendiri.


Beruntung kondisi tubuh Serena juga tergolong stabil dan tekanan darahnya juga normal, jadi dokter bisa menyetujui dilakukannya persalinan normal, akan tetapi bila terjadi sesuatu yang buruk, maka dokter harus segera melakukan tindakan cepat, yakni dengan melakukan operasi caesar.


Julian hanya bisa memasrahkan segalanya kepada Tuhan dan Serena. Calon bapak itu tak memikirkan apapun selain keselamatan buah hati serta istri tercintanya.


Bukan hanya Julian saja yang termenung dalam rasa takut serta cemas, Tuan Joseph, Tuan Philip dan Nyonya Esther tak kalah khawatirnya. Terutama Tuan Joseph yang kehilangan warna di wajah beliau alias tampak memucat lantaran terlalu mencemaskan Serena.


"Tenanglah kalian...jangan terlalu cemas, itu tidak baik buat kesehatan kalian.." Elliot menasehati Julian dan ayahnya yang tak kunjung merasa tenang.


"Ini reaksi wajar. 'Kan ini persalinan pertama Serena, jadi semua orang pasti mencemaskannya, nak Elliot," sahut Nyonya Esther yang berusaha bersikap biasa meski perasaan khawatir juga menggerogoti hatinya.


Di sebelah Nyonya Esther, berdirilah Jasmine yang sedari tadi tak buka suara meski semua orang tengah membicarakan Serena.


'Ini udah lebih dari 2 jam. Kenapa belum selesai-selesai? Apa terjadi sesuatu di dalam?'


Sebagai saudari kembar, bohong apa bila Jasmine tidak resah dan gugup. Apalagi dari artikel-artikel yang pernah dia baca, kemungkinan terjadinya masalah dalam proses persalinan juga cukup tinggi. Jasmine hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kakak serta calon keponakannya.


Dari ujung lorong rumah sakit, tampak Helena, Leonard, Hendery serta Nyonya Bianca berjalan cepat menuju ke tempat Julian dan lainnya berada.


Sekejap lorong depan ruang persalinan jadi ramai dan penuh orang.


Helena lebih dulu menghampiri Julian yang duduk menyendiri dengan ekspresi suram dan tegang, "Gimana?? Bagaimana keadaan Serena?" Dari nafasnya yang tidak teratur, sudah dipastikan bahwa gadis itu berlari tunggang langgang menuju ke sana.


Julian menghela nafas panjang, "Masih di dalam. Doakan supaya persalinannya berjalan lancar ya?"


Baru kali ini Helena melihat Julian pasrah dan tidak berdaya seperti sekarang. Di seberang mereka, ada Nyonya Esther yang tampak mengobrol dengan Jasmine.


Ekspresi mereka tampak tegang juga, tapi tidak terlalu kentara. Semua orang yang berkumpul jadi satu di sana berbagi emosi yang sama.


"Nyonya, saya yakin Serena bisa melakukannya," Nyonya Bianca mencoba berkomunikasi dengan Nyonya Esther. Sebagai sesama orang tua, beliau mengerti perasaan Nyonya Esther, apalagi pernah merasakan beratnya perjuangan melahirkan seorang anak.


Tak lama kemudian, air mata mulai berderai dari pelupuk mata Nyonya Esther. Rupanya wanita itu berusaha tegar dan menutupi kecemasannya dengan memasang ekspresi datar. Namun perkataan serta pelukan dari Nyonya Bianca seketika meruntuhkan pertahanan beliau.


"Hiks...saya hanya terlalu khawatir...Serena, dia-aku sangat mencemaskan keselamatan keduanya.." Tuan Philip mengusap-usap pundak istrinya yang sedikit terguncang.


Bila terjadi sesuatu pada Serena maupun bayinya, Nyonya Esther tak bisa memaafkan dirinya sendiri.


Ceklek


"Keluarga Nyonya Serena!!!" Seorang perawat keluar dari pintu ruang bersalin.


Julian langsung bangkit berdiri, lalu menghampiri perawat tersebut, setelah memperkenalkan dirinya sebagai suami dari Serena.


Suasana tegang sontak berubah menjadi suasana haru dan lega. Nyonya Esther serta Nyonya Bianca sampai bersorak kegirangan begitu mendengar kabar sukacita yang disampaikan oleh sang perawat.


Kedua mata Jasmine juga sampai berkaca-kaca menerima kabar bahagia itu.


'Syukurlah....kau hebat, Serena! Terima kasih karena udah berjuang dan bertahan sampai akhir!'


...👼...


...👼...


Berita sukacita itu menyebar begitu cepat, bahkan media juga turut merayakan serta memberi ucapan selamat bagi pasangan manis Julian dan Serena atas kelahiran putera mereka ke dunia.


Bayi dengan bobot tubuh 2,97 kg itu kemudian diberi nama Kyrie Julio Collin, nama yang dipikirkan oleh Julian beberapa hari lamanya.


Kelahiran Julio, begitu panggilannya, disambut dengan sukacita dan meriah oleh beberapa orang. Bahkan Caesar, Dion beserta keluarga Reinhart itu terbang jauh-jauh dari negara tetangga hanya demi menengok cucu pertama mereka.


Caesar sampai menangis haru lantaran terlalu emosional melihat bayi yang keluar dari perut Serena, adik sepupu kesayangannya. Dia tak menyangka, gadis kecil yang dulu selalu mengikutinya sanggup menghasilkan seorang bayi yang imut dan menggemaskan.


Sekilas wajah Julio mirip dengan Serena, tapi kata orang, wajah bayi bisa berubah seiring pertumbuhannya, dan bisa jadi mirip dengan sang ayah.


Sedikit mengesalkan sih bagi Caesar,kalau pada akhirnya bayi tampan itu lebih mirip ayahnya. Caesar 'kan ingin punya ponakan yang mirip dengan Serena.


Berita kelahiran Julio juga terdengar sampai telinga Jevano. Jevano yang kini fokus mengembangkan bisnisnya bersama sang adik juga turut menyampaikan ucapan selamat serta memberikan banyak hadiah baik untuk ibu dan anak itu.


Omong-omong soal Jevano, Jasmine sudah mulai bisa move on. Meski berat dan sulit, Jasmine berusaha merelakan kepergian Jevano di sisinya. Walau begitu, komunikasi di antara mereka berdua masih berjalan dengan baik sewajarnya teman.


Jasmine sedikit kesepian, namun kelahiran Julio membawa angin segar tersendiri dalam kekosongan hatinya. Jasmine bahkan sampai memohon pada Serena agar diperbolehkan menengok bayi menggemaskan itu di kala senggang.


Serena yang sudah tidak memendam kepahitan pada keluarganya tentu saja memperbolehkan Jasmine datang sewaktu-waktu. Serena tak ingin menjadi orang tua egois, dia ingin anaknya merasakan indahnya kebersamaan keluarga yang harmonis dan lengkap. Maka dari itu, dengan kelapangan hati yang luas, Serena membuka tangan menerima kebaikan orang tua serta Jasmine.


Bila semua saling memaafkan dan intropeksi diri, bukankah dunia akan terasa lebih indah?


Demi anak-anaknya kelak, Serena akan berusaha menciptakan lingkungan keluarga yang baik dan sehat. Meski hubungan Serena dengan keluarga besar Reinhart tidak sebaik yang dia harapkan, setidaknya keluarga besarnya itu menunjukkan kepedulian mereka terhadap sang anak, Julio.


Bagi Julian sendiri, kelahiran Julio merupakan hadiah sekaligus anugerah yang tak ternilai harganya.


Bapak muda itu benar-benar menyayangi puteranya bahkan rela menggendong Julio sampai berjam-jam. Meski sudah dilarang karena takut Julian kelelahan, namun pria itu tak mengindahkan teguran orang-orang.


Bagi Julian, merawat dan mengurus bayinya dengan tangan sendiri adalah sebuah keharusan. Dia tak ingin melewatkan sedikitpun momen tumbuh kembang puteranya selagi dia bisa.


"Terima kasih telah lahir ke dunia dengan selamat, puteraku tersayang. Daddy janji akan memberikan yang terbaik untukmu dan Mommy...love you, my little hero."