Mine

Mine
Belajar Merelakan



"Kenapa nggak tinggal di rumah kami saja, Serena sayang?? Papa masih pengen kita ngumpul bersama terus!"


Ini adalah momen tersulit dibandingkan mengurusi segala persiapan pernikahan. Tuan Joseph tak henti-hentinya merengek dan merayu Julian maupun Serena supaya tidak benar-benar keluar dari mansion Collin.


Sebagai pasutri baru, Julian ingin memboyong Serena ke rumah pribadinya yang lama, sembari menunggu hunian baru mereka selesai di bangun. Tuan Joseph memang menghadiahkan satu unit mansion baru untuk Julian dan Serena, tapi semakin ke sini Tuan Joseph pula yang tak rela di tinggal berdua saja dengan Elliot.


"Eum, Papa...kami cuma pindah tempat aja kok. Nanti kami bakal sering-sering ke sini, atau aku yang akan ke sini kalau Julian lagi dinas keluar," Serena berupaya menenangkan ayah mertuanya yang terlihat kacau.


Tapi itu saja belum sanggup menyakinkan hati si pria tua yang kesepian itu. "Enggakkkk! Itu pasti cuma janji di mulut saja. Ayolah, tinggal di sini sama Papa! Papa janji nggak akan mengganggu kalian kok, setidaknya dengan adanya kalian di sini, rumah terasa lebih hidup dan ramai.." Ekspresi Tuan Joseph kembali menyendu.


Serena saling bertukar pandangan dengan suaminya. Ini pilihan sulit. Di satu sisi, Serena tidak masalah sih kalau harus tinggal menetap di rumah mertuanya.Tapi Julian bilang dia ingin belajar mandiri menjalani peranan barunya sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga yang baik.


Elliot yang sedari tadi diam, karena sudah lelah menenangkan sang ayah, pada akhirnya bangkit berdiri hendak memberi masukan pada si pasutri baru.


"Tolong, tinggal di sini untuk sementara waktu dulu ya? Takutnya Papa bakal mogok kerja dan nggak fokus karena memikirkan ini.." Lalu pandangan Elliot mengarah pada Julian, "Tinggallah bersama kami, seenggaknya sebulan aja. Aku yakin nanti Papa bakalan sadar dan mengizinkan kalian tinggal di rumah baru. Please, sekali ini aja. Papa masih pengen ngumpul sama anak-anaknya," Ini mungkin terkesan egois, tapi mau bagaimana lagi? Elliot juga memahami perasaan sang ayah, sebab dia sendiri juga merasakan hal yang sama.


Elliot masih ingin semua berkumpul jadi satu, sehingga rumah yang besar dan tenang itu kembali terasa hidup dan menyenangkan.


Pada akhirnya Julian tidak tega melihat pria yang biasanya terlihat berwibawa dan berkelas itu jadi merengek dan bahkan menangis layaknya seorang bocah yang tidak ingin di tinggal pergi ibunya.


"Hah~ Mau bagaimana lagi? Baiklah, baiklah. Kami akan mengundurnya. Kami akan tinggal di sini selama sebulan," putus Julian.


Tuan Joseph langsung bersorak kegirangan. Pria tampan itu bergegas menyuruh para pelayan menyiapkan kamar spesial untuk pasutri yang masih dalam nuansa honeymoon.


"Tenang~ Papa udah siapin kamar spesial buat pasutri baru kita~ Jadi nggak bakal ada yang mengganggu kalian di atas!" Kerlingan jahil Tuan Joseph berikan pada Julian dan Serena.


Pasutri baru yang di maksud saling membuang muka sambil menahan malu. Elliot dan Tuan Joseph tertawa puas telah berhasil menggoda sepasang lovebird itu.


"Aku udah nggak sabar nunggu malam nanti," Tiba-tiba Julian berbisik di telinga Serena.


Serena yang mengerti maksud perkataan Julian sontak merona bukan main. "Ya, aku juga." Tapi balasan yang di berikan Serena menjadi boomerang bagi Julian. Keduanya sama-sama tertawa tanpa suara karena merasa geli dengan tingkah satu sama lain.


...✨...


...✨...


"Huff...pada akhirnya orang itu yang mendapatkan Serena seutuhnya.." Jevano menghempaskan tubuhnya ke atas sofa panjang dalam kamar pribadinya.


Pencahayaan dalam ruangan bernuansa gelap itu terlihat remang, sebab Jevano hanya menyalakan satu lampu di dekat pintu saja.


'Serena cantik banget tadi...ini adalah momen terindah yang pernah aku lihat selama berteman dengannya..' Pikiran Jevano masih tertinggal pada upacara pemberkatan pernikahan Serena tadi pagi.


Gadis yang dulu selalu tampil apa adanya bahkan tak pernah sedikitpun memperhatikan dirinya sendiri, bak menjelma menjadi seekor angsa yang amat cantik dan anggun. Kecantikan alami yang begitu kuat dan memancarkan keanggunan yang sempurna.


'Warna putih sangat cocok dengan dirinya.'


Jevano hanya bisa memandangi jepretan foto Serena dalam galeri ponselnya. Ini memang bukan kali pertama Jevano mengambil foto dari Serena secara diam-diam, dia sudah sering melakukannya sejak dulu tapi hari ini sungguh terasa sekali perbedaannya.


Sekarang yang Jevano ambil adalah foto seorang istri dari lelaki lain, bukan seorang gadis single yang selalu ada menemani dirinya.


Jevano kembali merasakan ruang kosong dalam hatinya, namun di sisi lain pula Jevano turut merasa bahagia atas pernikahan sang sahabat.


Jevano selalu memikirkan ulang perasaannya untuk Jasmine. Jevano tidak mau membohongi dirinya dan Jasmine lebih lama lagi. Namun semakin Jevano pikirkan, hatinya semakin bingung.


"Tapi sekalipun aku minta putus, aku yakin Jasmine nggak akan setuju. Hah~ apa aku bisa menjalani hari-hari yang sama seperti ini terus? Rasanya hampa sekali..." Jevano memegang bagian dadanya yang terasa kosong. Tidak ada kegembiraan maupun kesedihan di sana, seolah-olah hatinya sudah lelah dan pasrah atas takdirnya setelah ini.


Tok tok tok


Pintu kamar Jevano di ketuk dari luar.


"Jevano, sayang? Kamu udah pulang 'kan? Mama boleh masuk ke dalam, nggak?" Ternyata itu ibu Jevano, Nyonya Beatrice, yang mengkhawatirkan kondisi sang putra yang langsung masuk ke dalam kamar begitu sampai di rumah.


"Tinggalin aku sendiri dulu, Ma. Aku mau istirahat dulu..." sahut Jevano dari dalam.


Nada bicara Jevano terdengar datar dan tidak ada semangat, Nyonya Beatrice tahu bila puteranya sedang galau karena di tinggal nikah oleh Serena.


"Ya sudah. Mama ada di sini sampai 3 hari ke depan. Kalau perasaanmu udah baikan, tolong luangkan waktu buat ngobrol sama Mama, ya?"


"Ya, Ma. Terima kasih."


Nyonya Beatrice menghela nafas panjang. Beliau dia sudah menduga hal ini akan terjadi, cepat atau lambat.


'Ini salahmu sendiri, nak. Kamu sudah salah menentukan pilihan dan sekarang kamu telah kehilangan kesempatanmu mengikat orang yang benar-benar kamu cintai. Mama harap kamu bisa belajar dari kesalahanmu terdahulu dan bisa mengambil keputusan lebih bijak lagi....'


'Hati yang patah memang membutuhkan waktu untuk pulih. Mama harap kamu bisa merelakan Serena demi kebahagiaan kalian bersama.'


.......


.......


"Nona Jasmine, anda tidak menghadiri acara makan malam keluarga dengan Nona Serena?"


Jasmine tidak mengalihkan pandangannya menatap ke luar jendela kamarnya. Sama seperti Jevano, Jasmine merasa aneh dengan perasaannya hari ini.


Tadi pagi sewaktu di gereja, Jasmine bisa melihat fokus Jevano benar-benar tertuju pada kakaknya seorang. Lelaki itu bahkan tak malu menitikkan air mata meski tanpa suara di depan banyak orang.


'Sedalam itukah perasaanmu buat Serena?'


Ketika Jasmine melihat tatapan mata Jevano pada Serena, detik itu juga Jasmine sadar, bahwa sekeras apapun dirinya berusaha, dia tak mungkin bisa menggantikan atau mengalahkan pesona Serena dalam hati Jevano. Meski mulut Jevano tertutup rapat, Jasmine tahu kalau jauh dalam lubuk hati Jevano yang terdalam, lelaki itu ingin menyerukan nama Serena sekeras mungkin dan mencegah pernikahan itu terjadi.


"Nona Jasmine?"


Jasmine membalikkan badan, menghadap ke arah pelayan wanita yang datang untuk mendandani dirinya.


Jasmine tidak sanggup melihat Serena dan Julian, itu hanya akan mengingatkannya kembali pada ekspresi sendu yang Jevano tunjukkan tadi pagi.


Jasmine ingin mengistirahatkan hati serta mentalnya. Dia harus bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan terburuk yang akan menerpa hubungannya dengan Jevano.


Setelah ini berakhir, firasat Jasmine mengatakan bila kemungkinan besar Jevano tidak ingin melanjutkan hubungan mereka.


'Kamu bener-bener cinta sama Serena ya, Jevi...Sayang banget kamu terlambat memilikinya. Dan sekarang aku harus siap menghadapimu lagi kalau kamu masih keukuh minta putus..'