
Jasmine gemetar ketakutan tatkala dihadapkan dengan Julian dan juga seorang lelaki yang mengaku sebagai kakak dari Julian, Elliot namanya.
Sial bagi Jasmine, hanya ada dirinya yang tinggal di rumah sementara kedua orang tuanya masih sibuk di kantor dan pulangnya juga belum pasti.
Mau tak mau, Jasmine lah yang harus menyambut kedatangan para tamu di rumahnya. Tetapi dirinya sama sekali tak menyangka akan didatangi oleh dua anggota dari keluarga Collin secara langsung.
Ingatan tentang malam itu seketika menghantui Jasmine. Keringat dingin mengucur deras dari puncak kepalanya. Julian pasti datang ke kediaman Reinhart untuk menanyakan soal Serena, itu sudah jelas.
Jasmine membatin panik dan gelisah , dia tahu dia telah melakukan kesalahan besar dan cukup fatal, Julian bisa membeberkan tindakan tak terpujinya pada semua orang, terutama pada ayah dan ibunya. Belum lagi soal perkelahiannya dengan Serena, Julian pasti akan sangat murka terhadapnya. Membayangkan itu, Jasmine semakin memucat ditelan ketakutan.
Gadis itu tak berani menatap lurus pada kedua mata Julian yang menatapnya secara tajam dan dingin, seolah hendak memakannya hidup-hidup.
"Anda pasti nona Jasmine. Jadi, langsung saja kita bicara ke inti. Kami ingin menyelidiki soal luka yang di terima Serena. Apa anda mengetahui itu?" Nada bicara Elliot memang terkesan tenang dan santai, tapi sorot mata lelaki itu mengamati dirinya secara intense layaknya seekor singa yang mengawasi targetnya dari kejauhan.
"Ap-apa Serena mengatakan sesuatu?" Jasmine tidak boleh lengah dan mudah terpancing pertanyaan kedua lelaki tersebut.
Dia akan mengulur waktu selama mungkin sampai ibunya datang dan mengambil alih situasi. Beruntung pelayan setianya sempat mengirimkan kabar darurat pada ibu dan ayahnya, jadi tinggal menunggu kedatangan mereka saja.
"Huh...kau berlagak nggak tau. Sudahlah, berhenti berpura-pura polos, aku yakin dia terluka bukan tanpa alasan," Julian sengaja mengompori Jasmine yang rupanya berlagak polos tak tahu apa-apa. Itu hanya semakin membuatnya meradang.
"Beraninya kau mengataiku! Kenapa nggak kau tanyakan langsung sama orangnya! Asal kalian tau aja, Serena itu pemberontak! Dia susah dinasehati dan berbuat semuanya sendiri! Orang modelan gitu masa mau kalian bela terus?!" sembur Jasmine kemudian.
Sejak pertengkarannya dengan Serena, Jasmine jadi semakin temperamen dan sulit mengendalikan diri. Dia kesal, karena masih ada saja orang yang berada di pihak Serena meskipun tahu Serena tak pernah bersikap baik pada keluarganya sendiri.
Jasmine ingin membukakan mata Julian bahwa gadis yang dipujanya hanyalah seorang gadis rendahan yang tak beretika, yang tentunya sangat tidak pantas bersanding dengan orang selevel Julian.
Mendengar seruan Jasmine tentang Serena, emosi Julian semakin meningkat, "Terus kalau dia pemberontak, lalu kau apa? Keluargamu apa? Apa kalian nggak pernah berkaca sebelum menyebut Serena sebagai seorang pemberontak?" Otot saraf di leher Julian sampai menonjol saking emosinya lelaki itu.
Andai hukum tak berlaku di dunia ini, sudah Julian tebas kepala orang-orang yang sudah mengacaukan hidup Serena.
'Kalau bukan karena mereka...Serena nggak akan kabur dariku!' batin Julian menjerit frustasi. Merasa gagal sebab tak sanggup menjaga Serena dengan kekuatannya sendiri.
Di saat kebahagiaannya hanya tinggal selangkah, kini justru semakin terasa semakin jauh dan sulit dia jangkau. Orang yang menjadi alasan kebahagiaannya bahkan pergi tak tahu ke mana, Julian merasa jiwanya semakin tenggelam dalam kegelapan.
Sebelum semua berubah kacau dan tak terkendali, Julian harus menemukan Serena secepatnya atau akal sehatnya akan ikut hilang.
Brak
"ADA APA RAMAI-RAMAI DI SINI?!" Suara nyaring Nyonya Esther akhirnya terdengar. Wanita itu buru-buru pulang ke rumah bersama sang suami setelah menerima kabar terkait kedatangan Julian dan Elliot yang begitu tiba-tiba.
"KENAPA KALIAN DATANG DAN MEMBUAT RIBUT DI RUMAH ORANG?!" Etika serta martabat Nyonya Esther seakan dibuang begitu saja demi menyelamatkan Jasmine dari tuntutan Julian dan Elliot, tanpa sadar beliau menunjukkan dirinya yang sesungguhnya.
Tuan Philip yang berlari di belakang sang istri juga tak kalah bingungnya menghadapi situasi yang ada. Pria itu tahu, kedatangan Julian pasti ada kaitannya dengan Serena. Namun apa yang telah terjadi semalam tadi, bukanlah sesuatu yang bisa beliau maafkan begitu mudah.
Serena harus menerima hukumannya dan menjadikan itu sebagai pembelajaran yang tak boleh dilupakan.
"Kita duduk dulu. Mari, kita bicarakan persoalan ini dengan kepala dingin," Tuan Philip berusaha menengahi Julian dan Jasmine yang bisa baku hantam sewaktu-waktu.
Julian mendengus sinis, "Ha! Kepala dingin? Bagaimana aku bisa duduk tenang jika kalian berusaha untuk menutupi kebenaran yang ada dengan berpura-pura bodoh di hadapanku? Mari, aku tekankan di sini, apa bila kami menemukan bukti konret atas kekerasan yang didapatkan Serena dari keluarga ini, maka kami akan membawanya ke jalur hukum. Kami benar-benar serius kali ini," Julian dan Elliot menatap dingin ketiga orang yang ada di hadapan mereka.
Tentu saja Tuan Philip dan Nyonya Esther tidak bisa menanggap ancaman ini main-main,
Jasmine tak terima, dia juga menjadi korban dalam perkara ini, tapi Julian justru menganggap dirinya ini sebagai oknum kejahatan pada saudarinya sendiri!
Tanpa bisa dicegah, mulut Jasmine membeberkan fakta yang tidak Julian duga sebelumnya, "KALAU KALIAN NGELAPORIN AKU KE POLISI, MAKA AKU BISA MELAPORKAN SERENA ATAS PENYERANGAN YANG DIA LAKUKAN KEPADAKU!" serunya dengan suara lantang, sampai menepuk dadanya dengan kuat.
"Ya-ya! Itu benar! Asal kalian tahu saja, Serena dulu yang menyerang Jasmine dan memulai perkelahian itu! Aku dan suamiku hanya melakukan apa yang seharusnya kami lakukan untuk menghentikan perkelahian tersebut!" Nyonya Esther ikut membela Jasmine.
Lalu Jasmine kembali berseru tegas, "KALAU KALIAN NGGAK PERCAYA, ADA BANYAK SAKSI MATA YANG MELIHAT KEJADIAN ITU! TANYAKAN SAJA LEBIH JELASNYA PADA PARA PEKERJA KAMI!" Dia menantang Julian untuk bertanya pada orang-orang yang ada di kediaman Reinhart.
Beberapa pelayan yang ada di sekitar mereka berbisik-bisik membenarkan. Mereka memang melihat secara langsung bagaimana nona muda mereka, yakni Serena, memulai perkelahian dengan menampar nona Jasmine hingga perkelahian berubah semakin sengit.
Namun ada juga pelayan yang membela Serena dengan balik menuding Jasmine dululah yang memulai pertengkaran dengan menghina Serena lebih dulu. Bahkan mereka menangis sebab merasa tidak adil kalau orang-orang hanya menyalahkan Serena yang berusaha membela dirinya sendiri dari cemoohan orang.
Banyaknya suara yang membela Serena membuat Jasmine berkeringat dingin lagi. Dia tak menyangka ada yang berani membela Serena di depan mukanya secara terang-terangan.
'Mereka minta dipecat rupanya!' Nyonya Esther mengepalkan tangannya menahan emosi. Beliau mencoba mengingat wajah orang-orang yang membela Serena daripada Jasmine.
"Menghina? Aku tau Serena nggak pernah mendapatkan keadilan di rumah ini, jujur aku nggak habis pikir, sebagai orang tua kalian bukannya menengahi kedua puteri kalian tetapi justru membela salah satunya saja dan menyingkirkan yang satunya tanpa perasaan. Apa kalian nggak menanyakan terlebih dulu duduk permasalahan yang ada sebelum menghakimi satu orang saja?"
Pertanyaan Julian menyadarkan Tuan Philip beserta Nyonya Esther. Benar juga, mereka terlalu gelap mata sampai lupa menanyakan soal duduk permasalahan antara Serena dan Jasmine. Mata mereka tertutup setelah melihat Serena menyakiti Jasmine, sampai melupakan hal penting itu.
"Tuan Philip, Nyonya Esther, saya tidak tahu bagaimana hubungan anda sebagai orang tua dengan Serena. Serena sudah menceritakan soal kehidupannya kepada kami sekeluarga, dan jujur, kami kecewa atas sikap tidak bertanggung jawab kalian sebagai orang tua. Serena sudah cukup menanggung bebannya seorang diri, sampai pada titik di mana dia akhirnya lepas kendali dan menyakiti Jasmine, menurut saya itu adalah bentuk perlindungan serta pembelaan dirinya di mata saya. Sediam-diamnya dan sesabarnya orang, tentu pasti akan merasakan sakit hati ketika harga dirinya direndahkan oleh orang lain. Bahkan kalian tidak pernah memikirkan perasaan Serena sejauh itu, karena keegosisan kalian. Karena kalian pula, kami jadi kehilangan jejak Serena.." ungkap Elliot panjang lebar.
Penuturan Elliot seakan menampar Tuan Philip, Nyonya Esther dan juga Jasmine dengan sangat keras. Terutama Jasmine yang merasa sangat bersalah setelah mulutnya melukai perasaan Serena dengan begitu besar.
Namun satu hal yang membuat fokus Tuan Philip terarah, "Tunggu-kau bilang kehilangan jejak Serena? A-apa maksud kalian?!"
Julian berpandangan sekilas dengan sang kakak, sebagai orang tua, mereka berhak mengetahui situasi Serena.
"Serena pergi. Kami belum bisa melacak jejaknya, kami akan berusaha semaksimal mungkin sampai Serena benar-benar ditemukan," Elliot lah yang menjelaskan.
Wajah Tuan Philip seketika memucat, "Pe-pergi?! Ke-ke mana dia pergi?!" Tiba-tiba ketakutan melanda hatinya, Tuan Philip sadar dirinya telah keterlaluan kali ini. Dirinya bahkan mengusir Serena dengan tak berperasaan hanya karena hatinya tertutupi kabut gelap.
Tuan Philip tidak pernah bersungguh-sungguh atas ucapannya itu. Setelah dirinya sedikit tenang, Tuan Philip menyadari kesalahannya dan menyesali sikapnya. Namun kembali lagi, ego dan gengsinya yang terlalu tinggi menahannya pergi untuk meminta maaf pada Serena.
Kini, justru Tuan Philip dihadapkan dengan penyesalan yang teramat besar. Serena pergi, kabur entah ke mana. Ini adalah kesalahannya, andai dirinya tidak mengusir Serena, Serena tidak akan pergi tanpa jejak seperti ini!
Nyonya Esther melihat bagaimana frustasinya sang suami setelah menerima laporan mengenai kaburnya Serena. Sebagai seorang ibu, rasa panik dan cemas tentu beliau rasakan. Ini juga salahnya sebab hanya berpihak pada satu orang saja tanpa pernah bisa bersikap adil pada Serena.
Air mata menetes tanpa isakan. Nyonya Esther sadar dirinya adalah seorang ibu yang buruk. Serena telah menanggung penderitaan dan kesepiannya selama bertahun-tahun, sementara dirinya tidak pernah menyadari itu dan memilih menutup mata.
Begitu juga dengan Jasmine yang mengkhawatirkan keselamatan Serena di luar sana. Bagaimanapun buruknya hubungan mereka, bila ada salah satu yang sakit atau terluka, Jasmine tidak bisa membohongi dirinya bahwa dia masih peduli pada sang kembaran.
Namun semua itu hanyalah penyesalan yang sia-sia. Julian tidak akan bisa memaafkan orang-orang yang sudah menghancurkan kehidupan Serena, bahkan keluarga gadis itu sendiri. Bila Serena tak bisa ditemukan di manapun, Julian akan mengusut perkara ini ke jalur hukum, apapun yang terjadi.
"Kita pergi," Julian membalik badannya, dia sudah muak melihat air mata buaya yang ditunjukkan oleh ketiga anggota keluarga Reinhart itu.
Sudah cukup akting mereka yang memuakkan, Julian tidak berharap akan melihat mereka lagi setelah ini atau kesabarannya akan benar-benar hilang.
"Tolong bantu kami mencari keberadaan Serena, sepintar apapun Serena mencoba menyamar, pasti ada orang yang akan mengenalinya. Kami takut terjadi hal-hal tak diinginkan selama dia berada di luar pengawasan kami," Elliot meminta secara baik-baik.
Keselamatan Serena adalah prioritas mereka. Banyak musuh dari keluarga Collin maupun Reinhart yang bisa sewaktu-waktu menargetkan Serena dengan berbagai cara kotor yang membahayakan.
Membayangkan hal ngeri terjadi pada Sersna, Tuan Philip nyaris saja pingsan. Tak menyangka keributan kemarin akan menjadi seruyam ini.
"Suamiku!" Nyonya Esther panik melihat suaminya yang tiba-tiba bersandar seraya memegangi bagian dadanya tepat di atas jantung.
"Iya, iya...pasti! Kami pasti akan mencarinya sekarang juga! Esther, cepat perintahkan semua orang untuk melacak Serena!" Tuan Philip segera memulai pencarian mereka.
Julian mendengus sinis, jika dirinya tidak mendatangi keluarga ini, pasti mereka tidak akan pernah tahu apa yang terjadi pada Serena di luar sana. Bahkan Julian harus menguatkan hati serta mentalnya untuk menghadapi segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
Satu-satunya hal yang bisa Julian lakukan adalah mendoakan keselamatan Serena.
Julian berjanji, begitu Serena ditemukan dia tak akan melepaskan gadis itu lagi. Julian akan langsung mengikat Serena dengan sesuatu yang akan sulit untuk diputuskan, yakni sebuah pernikahan.
Padahal tinggal selangkah lagi Julian akan melamar Serena, tapi semuanya harus tergagalkan gara-gara perkara ini.
Julian menggenggam erat kotak cincin yang dia simpan di dalam kantong hoodienya.
'Cepat kembalilah padaku, sayang...setelah semua ini berakhir, kita akan tinggal berdua jauh dari semua yang mengganggumu..'
'Aku janji...aku janji, karena itu kamu harus segera kembali dengan selamat...aku merindukanmu...aku harap kau baik-baik saja di sana...'