Mine

Mine
Calon Penjaga Baru



Hening menyelimuti suasana di dalam ruang tahanan di mana Dion berada.


Tak ada jawaban sama sekali dari orang yang bersangkutan dan Caesar sengaja tidak mendesak laki-laki itu untuk angkat bicara. Sejujurnya, Caesar sendiri takut bila realita tidak sesuai dengan prediksinya.


Caesar menduga bahwa Dion itu anak hasil hubungan di luar pernikahan dari pamannya sendiri, yang tak lain merupakan kakak kembar dari ayah kandungnya. Apa bila asumsinya keliru, mau tak mau Caesar harus menerima kenyataan bahwa Dion merupakan adik tirinya entah dari ibu mana.


Tapi sepertinya itu tak mungkin terjadi, sebab Caesar tahu benar seberapa cintanya sang ayah kepada ibundanya.


Raut Dion semakin memucat dengan mulut terkunci rapat. Keringat dingin mulai bercucuran dari puncak kepalanya. Bahkan menatap balik sosok lelaki yang duduk tak jauh darinya itu terasa begitu menakutkan dan mengintimidasi bagi jiwanya. Dion tak pernah menyangka akan diberi pertanyaan itu lagi setelah belasan tahun lamanya.


Perasaan tertekan dan panik seketika menyelimuti hatinya yang tidak tenang.


"A-aku...aku-" Lidah Dion terasa kelu untuk digunakan bicara.


Bayang-bayang akan masa lalu sekejap menghantam ingatannya dan itu membuat Dion luar biasa gelisah.


"Nggak...aku nggak tau! Aku nggak tau apa-apa! Kenapa kalian datang kepadaku dan menghakimiku seolah-olah ini semua terjadi karena kesalahanku!!??"


Semua yang ada dalam ruangan itu dibuat terkejut kala Dion tiba-tiba berseru keras.


"KALIAN CUMA SEKUMPULAN ORANG BRENGSEK YANG BISANYA MERENDAHKAN DAN MENGHANCURKAN HIDUP SESEORANG!!! BERHENTI! AKU NGGAK MAU BERURUSAN LAGI DENGAN KALIAN!!!"


Caesar bangkit dari duduknya lalu berjalan cepat menuju ke arah Dion berada.


Dhuak


Satu hantaman dilayangkan Caesar tepat pada pipi sebelah kanan Dion, hingga membuat laki-laki itu tersungkur ke lantai yang penuh debu.


Mata Caesar seakan bersinar di tengah ruangan remang itu dan siap menerkam mangsa yang ada di hadapannya.


"Siapa yang kau sebut brengsek itu, huh? Kau pikir kau pantas mengatai kami sebagai orang brengsek?" Tangan yang berbalut sarung tangan hitam itu mencengkram kuat rahang Dion dan memaksa lelaki itu menatap lurus ke mata Caesar.


"Kau...aku baru aja mengetahui keberadaanmu dan hal pertama yang kau katakan kepadaku adalah sebuah penghinaan? Jangan samakan aku dengan orang-orang busuk dan sialan yang pernah kau jumpai, bocah sialan!"


Dion meringis kesakitan merasakan rahangnya dicengkram kuat oleh tangan Caesar. Rasa nyeri akibat pukulan semakin menambah derita Dion, sayangnya dia tak bisa berbuat banyak apalagi dengan kedua tangan di borgol kuat.


Hidup dalam dunia kelam dan keras sudah membuat Dion belajar banyak hal dan tahu bagaimana harus menyikap situasi terdesak seperti yang terjadi padanya sekarang.


Dion menunjukkan kekehan sinisnya menatap mata Caesar, "Lalu kenapa? Kalian bahkan tiba-tiba datang memukulku lalu menahanku di sini. Apa mau kalian? Membunuhku? Kenapa nggak kalian lakukan dengan cepat aja?" Dia justru menantang orang-orang yang telah menculik dirinya seakan tak takut lagi akan kematian.


Sementara itu, Julian memilih diam memperhatikan. Dia ingin melihat apa yang akan Caesar lakukan pada Dion. Fakta yang dia temukan ini tentu mengejutkan dirinya juga, tapi Julian tak punya hak untuk ikut campur tentang perkara itu. Maka dari itu, Julian melaporkan hal ini secara pribadi kepada Caesar, biar laki-laki itu yang mengambil alih.


"Jawab dulu pertanyaanku, siapa ayah kandungmu? James Reinhart, atau Daniel Reinhart?" Caesar memperjelas pertanyaannya.


Caesar harus mengetahui terlebih dahulu siapa ayah kandung dari Dion, sebelum dirinya menentukan keputusan. Sebab membawa Dion menghadap kepada keluarga besar Reinhart bukanlah perkara yang mudah dan simpel.


Dion membuang muka, dia tidak ingin mengungkit soal identitas aslinya kepada siapapun. Tidak setelah banyaknya hal buruk yang dia lalui di masa lalu hanya karena keluarga sialan itu.


"Memangnya keuntungan apa yang akan kau dapatkan setelah mengetahui kebenaran yang ada? Ini semua cuma akan menimbulkan perkara baru, dan aku udah muak berurusan dengan keluarga itu. Aku bahkan nggak menggunakan nama itu dalam nama panjangku, kenapa repot-repot mencariku?" Sebisa mungkin, Dion ingin memutuskan segala ikatan yang masih terbenang dengan keluarga Reinhart yang amat dia benci.


Caesar menegakkan tubuhnya lalu menghela nafas panjang. Dion ini cukup keras kepala, sama seperti dirinya. Tapi apa yang laki-laki itu katakan tidak sepenuhnya salah. Iya, memang benar menguak keberadaan Dion hanya akan menimbulkan perkara besar dalam keluarga Reinhart. Tapi Caesar tidak ingin orang yang telah berbuat salah justru bersenang-senang di atas penderitaan orang. Mau bagaimanapun juga, bila memang Dion terbukti merupakan anak dari salah satu anggota keluarga Reinhart, maka dia berhak mendapatkan jaminan hidup yang layak.


Caesar tahu benar seberapa menderitanya seorang anak yang tidak diakui dan diperhatikan oleh orang tuanya. Caesar tahu dan mengerti, maka dari itu dia ingin menebus kesalahan si oknum tak bertanggung jawab itu dengan memberikan kompensasi yang layak untuk Dion.


"Karena aku nggak mau orang yang kau sebut brengsek itu hidup bersenang-senang di atas kesengsaraan orang. Kalau darahmu mengalir darah keluarga Reinhart, itu artinya kau akan menjadi tanggung jawabku suatu saat nanti," jelas Caesar pada Dion.


Semua ini sungguh membuat Dion tertekan. Dion tahu, bila 'ayah' biologisnya itu berasal dari keluarga kaya raya, namun apa gunanya semua kekayaan dan harta melimpah bila dirinya tak diterima dengan hangat dan mendapat pengakuan yang layak?


Dion sangat membenci pria itu, pria itu sama sekali nggak pantas di sebut sebagai 'ayah' apalagi orang terhormat, sebab apa yang telah diperbuat orang itu adalah sebuah kejahatan yang tak bisa diampuni.


"Kalau aku disuruh memilih, aku akan memilih membunuhnya daripada berurusan lagi dengan pria brengsek itu. Ah, atau mungkin pendosa? Aku sampai bingung harus menyebutnya apa," Dion tersenyum miris.


Dan ucapan Dion barusan menarik rasa penasaran Caesar. "Memangnya apa yang udah diperbuat orang itu sampai membuatmu begitu membencinya?"


Dion mengepalkan kedua tangannya yang diborgol. Ingatan masa lalu benar-benar membuat dendamnya kembali melonjak dan semakin besar, "Orang itu...dia...yang membuat ibuku mati! Kalau bukan karena dia, aku..ibuku-"


Tanpa sadar air mata menetes dari pelupuk Dion.


Dion menatap nanar Caesar seolah meminta kebebasan dan kenyamanan hidupnya seperti semula tanpa ada gangguan dari pihak keluarga Reinhart.


Meski hidupnya tak bisa dibilang mudah dan dikelilingi hal-hal berbahaya, setidaknya Dion bisa menemukan 'tempat'nya untuk kembali, untuk menikmati banyak hal-hal baru yang belum pernah dia coba sebelumnya dan menjelajahi berbagai tempat secara bebas.


Dion bisa saja membongkar identitas aslinya ke publik bila dia mau, tapi itu justru akan menjadi senjata makan tuan bagi dirinya sendiri dan bisa berakibat fatal. Dion tahu hal gila apa yang sanggup dilakukan 'ayah'nya jika sampai mengetahui perbuatan yang dilakukannya.


"Lepaskan aku, dan aku bersumpah nggak akan menampakkan diriku lagi di depan kalian, asalkan kalian nggak berurusan dengan dunia 'bawah'," ucap Dion, dengan ekspresi yang begitu serius.


Intinya, Dion bekerja atau mungkin menjadi bagian dari salah satu organisasi yang bergerak di dunia 'bawah' seperti mafia atau bahkan gangster.


"Hm...apa aku bisa pegang ucapanmu? Kau tau resikonya bila mengingkari janjimu itu 'kan?"


Dion mengangguk yakin. "lebih baik aku mati di tangan mafia lain daripada mati di tangan pria brengsek itu."


Sepertinya Dion memang sangat membenci ayah biologisnya. Kalau sudah begini, mau diapakan lagi? Sisi baiknya, saingan Caesar tidak akan bertambah lagi.


"Bisa kusimpulkan kalau ayah biologismu itu James, benar bukan?" Caesar bertanya sekali lagi guna memastikan.


Bukan tanpa sebab mengapa Caesar yakin sekali bahwa dugaannya tepat. Sebab James, kembaran dari ayahnya itu seorang playboy kelas kakap. Sedari muda dulu, pria itu sering bergonta ganti pasangan bahkan setelah menikahpun masih berani bermain api di belakang istri sahnya. Keluarga James juga tidak bisa dibilang harmonis, karena James dan istrinya menikah atas dasar politik semata. Tidak ada cinta yang tulus dari lubuk hati, tak heran mengapa James terlambat memiliki anak dibandingkan dengan adik kembarnya yang menikah terakhir.


Dion sendiri hanya terpaut 2 tahun lebih muda dari Caesar, jadi Caesar yakin bila Dion lahir lebih dulu ketimbang Ryan, anak dari James yang pertama dengan istri sahnya yang sekarang.


"Yah..kalau kau nggak berniat masuk ke dalam keluarga Reinhart juga nggak masalah. Justru itu lebih baik untukku. Aku nggak mau sainganku bertambah, jadi aku akan memegang sumpahmu itu. Kalau kau sampai mengingkarinya tanpa persetujuanku lebih dulu, aku yang akan 'menangani'mu dengan caraku sendiri." Caesar menatap Dion tajam, guna memberi peringatan keras agar Dion tak membantah perkataannya.


Ini adalah janji dengan nyawa sebagai taruhannya. Dion tak takut, sebab kekuasaan dan harta bukan tujuan utamanya untuk hidup.


"Deal. Kau bisa membunuhku langsung kalau aku sampai mengingkarinya," tantang Dion.


Caesar menyeringai tipis. Watak Dion lumayan cocok dengannya, tapi bukan berarti Caesar akan melepas pengawasannya dari sepupunya itu.


"Itu aja urusanku kali ini. Kau bisa menyelesaikan urusanmu dengannya, Julian," Caesar melempar interogasi kedua kepada Julian.


Julian maju, kini gilirannya untuk menginterogasi Dion tentang insiden yang terjadi pada Serena.


Karena sekarang Julian tahu bahwa Dion mempunyai hubungan darah dengan Serena, tidak ada lagi keraguan serta kecemburuan dalam hati Julian.


"Karena moodku sedang baik, aku langsung aja ke inti. Apa kau tau orang-orang ini?" Julian mengangkat dua lembar foto berukuran sedang yang menunjukkan tiga sosok laki-laki yang wajahnya sudah babak belur.


Dion berusaha mengingat dan mengenali wajah orang-orang itu sebaik mungkin. Dan benar, ada satu yang pernah dia lihat. Orang itu berasal dari organisasi musuh yang sering membuat keributan di salah satu klub yang dikelola oleh Pemimpin organisasi Dion.


Alis Dion otomatis menekuk, "Aku hanya kenal satu, apa kau sedang ada masalah dengan orang itu?" Dion pun bertanya pada Julian.


Sudut bibir Julian menyunggingkan senyum sinis, "Ya, ada. Masalah yang sangat besar. Dan ini menyangkut nyawa seseorang," jawabnya singkat.


Caesar yang belum pergi jadi ikut mendengar obrolan Julian dengan Dion.


"Nyawa? Dia mengincar nyawamu?" Dion sama sekali tak tahu apa-apa.


Sorot mata Julian berubah gelap ketika mengingat kekasihnya nyaris celaka gara-gara para preman sialan itu. "Bukan aku, tapi kekasihku. Orang-orang ini berniat menculiknya bahkan sampai membuatnya lari ketakutan dan nyaris celaka. Apa kau tau siapa Pemimpin dari orang-orang ini? Aku butuh informasi lengkap secepatnya,"jelas Julian, yang sukses membuat Caesar syok bukan main.


Reflek laki-laki itu bangkit dari duduknya bahkan nyaris mematahkan pegangan kursi yang terbuat dari kayu.


"APA?! Siapa yang berniat menculik Serena-ku!?"


'Serena?' Sekilas jantung Dion berhenti berdetak karena telinganya salah mendengar nama orang yang disebutkan Caesar.


'Nggak, Caesar tadi sebutnya Serena, bukan Selena. Gila, hampir aja aku jantungan dengernya,' batin Dion dalam hati.


Sayangnya, kelegaan Dion tak berselang lama, sebab detik berikutnya benar-benar mencengangkan hati sepasang saudara yang terpisah di sana.


"Fyi, Serena itu adalah nama aslinya dari Selena. Singkatnya, orang yang menjadi target penculikan itu tak lain dan tak bukan adalah Serena. Kau harus membantuku, Dion. Bantu aku melacak keberadaan semua komplotan orang-orang itu secepatnya lalu beri mereka pelajaran yang setimpal atas perbuatan mereka."


Dion tak bisa berkutik ketika Julian membeberkan fakta baru bahwa Selena dan Serena adalah orang yang dimaksud oleh Julian.