
Cckiiiitt
Vrroommm
"F*uck!!" Dion tak bisa menahan amarahnya ketika satu unit mobil sedan berwarna hitam mengejar mobilnya dari belakang.
Cengkraman tangan di kemudi semakin mengencang, kakinya menginjak pedal gas lebih dalam guna menghindari kejaran mobil asing yang tak lain merupakan kiriman dari salah satu musuh dari organisasi Dion.
Kejadian seperti ini bukan hanya satu dua kali Dion alami, sudah cukup sering sampai membuat Dion terbiasa menyetir bak seorang pembalap profesional hampir di setiap malam.
Vvrrommmm
Beruntung hari sudah larut dan jalanan sudah lebih lenggang, Dion bisa melewati gang-gang alternatif sebagai jalan pintas yang lebih cepat.
Mobil hitam di belakang masih berusaha mengejarnya. Dion tak punya pilihan lain selain memutar arah tujuannya. Padahal Dion ingin segera pulang setelah menyelesaikan urusannya di klub.
Drrtt
Ponsel yang di taruh di kursi penumpang samping Dion bergetar, seorang kenalan rupanya menghubungi. Dion segera mengangkat sambungan telpon tersebut melalui airpod yang menempel pada satu telinganya.
"Ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara," tegas Dion tanpa basa-basi, sementara matanya bolak-balik mengawasi spion dan jalanan di depannya.
Orang di seberang sana bertanya dengan panik, "Aku dengar mereka mengirimkan 'hadiah' untukmu. Kau baik?! Apa kau perlu bantuan?! Aku bisa menyuruh anak-anak untuk segera turun ke jalanan sekarang juga!"
Vrommm
Brakk!!
"Sh*it!"
Rupanya si pembuntut sudah tidak menahan diri lagi, mereka nekat menabrak bumper belakang mobil Dion sampai membuat Dion terantuk ke depan.
"DION?! KAU DI MANA?! BIARKAN KAMI MEMBANTUMU!!" Orang di sambungan telpon berteriak khawatir setelah mendengar bunyi benturan yang cukup keras.
"Kumpulkan anak-anak di tempat biasanya, aku akan membawa orang-orang itu ke sana dalam waktu 15 menit," titah Dion, yang langsung diterima dengan baik oleh salah satu rekan'nya yang masih berada di klub tempat mereka bertemu sebelumnya.
"Ya, pasti! Jaga dirimu baik-baik, jangan berhenti sebelum kami datang!" ujar laki-laki di telpon, dengan kepanikan yang tak terbendung lagi.
"Ya, akan kulakukan sebisaku. Aku nggak tau apakah mobil ini sanggup membawaku ke sana atau enggak," balas Dion, sebelum memutuskan sambungan telpon mereka.
BRAKK
Lagi, kawanan mobil hitam itu masih berusaha menghancurkan mobil yang dikendarai Dion supaya tidak bisa digunakan lagi.
Dion pantang menyerah, dia terus menambah kecepatan gasnya dan menghindari jalan-jalan kecil lagi agar mobilnya tidak bisa dijangkau oleh orang-orang itu.
Bisa gawat kalau mobil Dion remuk dan rusak duluan bahkan sebelum lelaki itu tiba di tempat tujuan, nyawa Dion bisa terancam jika dirinya tidak segera mencari tempat perlindungan.
Meski Dion selalu membawa senjatanya ke mana-mana, tapi sebisa mungkin Dion tidak ingin menggunakan senjata api itu untuk melukai orang.
"BERHENTI KAU! DASAR BEDEBAH SIALAN!!!" Satu orang tampak menyembulkan kepalanya dari jendela mobil dan memaki Dion yang tidak juga menyerahkan diri.
Sementara itu, mobil mereka terus melaju menuju area perbatasan di mana wilayah tersebut jauh lebih sepi daripada di pusat kota dan jarang ada polisi berpatroli di sekitar sana. Lokasi yang pas sekali untuk mengasah adrenalin dengan melakukan hal-hal yang menantang, seperti aksi kejar-kejaran yang dilakukan Dion dan orang-orang kiriman itu sekarang.
Dion menyeringai setan, dia sudah tidak sabar lagi memberikan pelajaran yang setimpal untuk orang-orang bre*ngsek yang berani merusak mobil kesukaannya ini.
"Kalian masuk ke dalam liang kubur sendiri rupanya," kekeh Dion, dengan tawa liciknya.
Tinggal sedikit lagi mereka akan tiba di titik pertemuan yang sudah Dion koordinasikan dengan orang-orang kepercayaannya.
DORR
DORR
"What the-mereka bener-bener gila," Dion mendesis kesal lantaran orang-orang di belakang justru menembaki mobilnya dengan senjata api secara sembarangan.
Untung saja Dion sudah memasang anti peluru di seluruh body mobilnya, setidaknya dengan munculnya kejadian seperti ini bisa melindungi dirinya dari hujan tembakan yang dibombardir oleh orang-orang tak dikenal ttersebut.
Tapi yang Dion khawatirkan adalah keselamatan ban mobilnya yang tidak terlindungi. Jelas orang-orang itu mengincar ban bagian belakang untuk menghentikan pergerakan mobil Dion yang kencang.
'Sedikit lagi..sedikit lagi kalian akan menerima ajal kalian!' batin Dion dalam hatinya.
Melihat kedatangan rekan-rekannya, Dion langsung membanting setir ke kiri dan berputar arah, orang-orang kiriman itu terkejut dengan aksi putar balik Dion yang tiba-tiba.
"Rasakan pembalasan dariku!"
BRAAKKK
Dion tertawa puas begitu bumper depan mobilnya menyeruduk bagian belakang mobil sedan kawanan tak dikenal itu dengan keras.
Tabrakan yang keras berhasil merusak sebagian dari body mobil dari kawanan tersebut, hingga membuat mobil hitam itu hilang kendali dan berputar-putar ke sembarang arah.
Dion menginjak pedal remnya kuat-kuat, khawatir kalau mobilnya ikut bersenggolan lalu membuatnya lepas kendali juga.
Suara decitan ban mobil terdengar begitu nyaring memecah keheningan malam yang cukup sunyi.
Brakk
Brakk
Brakk
Mobil sedan itu berguling beberapa kali setelah hilang kendali dan menabrak pembatas jalan.
Rekan-rekan Dion bergegas lari menghampiri mobil Dion yang sudah mengepulkan asap putih ke udara. Kondisi mobil Dion mengalami kerusakan yang terbilang cukup parah juga tapi untungnya tidak sampai melukai kaki Dion secara menyeluruh.
Dion dibantu keluar oleh rekan-rekannya dan sebagian sigap menyemprotkan alat pemadam guna menghindari kebakaran mesin.
"DIONNNN! YA AMPUN! LIHAT WAJAHMU! WAJAHMU BERDARAH! KI-KITA KE RUMAH SAKIT SEKARANG YA?!" Lelaki bersurai blonde yang tadi menghubungi Dion berteriak panik begitu melihat kondisi rekan baiknya.
Dion sampai tidak memperhatikan dirinya sendiri. Benar saja, baru dibilang begitu Dion mulai merasakan kepalanya sedikit berputar. Entah itu disebabkan karena kehilangan banyak darah atau karena guncangan yang tadi dia terima.
"Ahh...bajuku jadi kotor semua.." Warna merah gelap mengotori sebagian dari baju atasan Dion. Saking fokusnya Dion tadi, dia sampai tidak menyadari darahnya mengucur ke mana-mana.
"Tenang...jangan bawa aku ke rumah sakit, Ke tempat biasanya aja," tolak Dion kemudian.
Samuel, lelaki bersurai blonde yang tadi menghubungi Dion hanya bisa menghela nafas pasrah. Dion selalu saja begitu, lelaki itu selalu menolak pergi ke rumah sakit, entah ketika sakit parah atau saat terluka akibat perkelahian. Bahkan saat nyawanya di ambang kematian pun, Dion menolak keras di bawa ke rumah sakit besar. Entah alasan apa yang membuat Dion seakan trauma pergi ke tempat pengobatan itu.
"Ya udah, ayo! Tapi hentikan dulu pendarahannya! Bisa pingsan aku lama-lama melihat warna kemerahan itu!" Meski sudah sering melihat darah di mana-mana, Samuel masih belum kebal melihat warna kemerahan serta menghirup aroma amis darah.
Dion terkekeh geli melihat reaksi Samuel yang masih saja lemah terhadap darah. Tapi walaupun begitu Samuel selalu menolongnya bahkan ketika dirinya tengah berdarah-darah.
Hh...sayang sekali, padahal Dion ingin mengunjungi Serena sebentar tadi, sebelum kembali ke apartementnya sendiri.
"Ngapain senyum-senyum sendiri? Kepalamu ikut terbentur juga?" sindir Samuel yang melihat rekannya justru senyum-senyum tidak jelas.
Dion terkekeh ringan, "Enggak, aku cuma lagi bayangin reaksi seseorang begitu melihat kondisiku seperti ini, pasti lucu banget," Diam-diam Dion sedang membayangkan reaksi Serena setelah melihat kondisinya yang terluka di kepala.
Hmp, mungkin pelipis Dion sobek sedikit jadi darah mengucur dari kepalanya. Selain di bagian kepala, Dion tidak merasakan sakit di bagian tubuh lain.
"Apa kalian tau siapa pengirim orang-orang itu?" Dion mengacu pada kawanan pembuntut yang kini ditangani oleh rekan-rekannya yang lain.
Ekspresi Samuel berubah mengeras, dia tahu siapa orang dibalik kekacauan yang terjadi ini, "Avraam. Dia orang di balik rencana ini. Dia telah mengkhianati kesepakatan di antara kita. Aku udah jelasin detailnya ke Ketua, kita tinggal menunggu sanksi yang akan Ketua berikan untuk organisasi orang itu," jelasnya pada Dion.
Lalu Samuel kembali menambahkan, "Aku dengar kau punya pacar sekarang? Berita itu menyebar sangat cepat. Kalaupun itu benar, aku peringatkan kau untuk lebih berhati-hati. Aku khawatir ada orang yang nggak suka lalu berbuat macam-macam pada pacarmu. Lebih baik jaga dia dan jangan beritahukan nama dan wajahnya ke sembarang orang," Kali ini Samuel memberi nasehat untuk Dion.
Karena Samuel dan Dion berdua bekerja di dunia 'bawah' yang mana nyawa menjadi taruhan di setiap harinya. Menjalin hubungan apalagi sampai membangun rumah tangga bisa membahayakan nyawa orang-orang terdekat mereka. Jika mereka tidak extra berhati-hati, bisa-bisa mereka akan kehilangan semua yang berharga di hati mereka.
"Sebenernya Selena cuma pura-pura aja jadi pacarku," Dion tiba-tiba mengaku pada Samuel.
Hal itu tentu mengejutkan rekan baiknya, "Ha?! Kau serius? Jangan bercanda deh!" Samuel sama sekali tidak mempercayai ucapan Dion.
Dion mengibaskan tangannya ke udara, "Terserah mau percapa apa enggak. Tapi aku bisa pastiin kalau Selena sama sekali bukan ancaman buat organisasi kita," terangnya kemudian.
Samuel memijit pelipisnya, mendadak pusing memikirkan hubungan rumit yang dijalani oleh Dion tanpa sepengetahuannya. "Bukan itu masalahnya! Nggak peduli dia pacarmu sungguhan atau enggak, kau harus bisa jagain dia sebaik mungkin. Ingat, banyak mata yang selalu mengawasi kita. Jangan terlalu mengumbar kebersamaan kalian di jalanan umum," pesannya untuk terakhir kali.
Dion tak berkomentar apa-apa, tapi telinganya mendengar dengan baik. Dion sadar dirinya bisa menyeret Serena ke dalam bahaya, tapi waktu itu dia juga dalam situasi terdesak karena tuntutan teman-temannya.
Selagi dirinya menjaga jarak dari Serena, Dion yakin situasi akan aman terkendali. "Jangan terlalu khawatir. Aku bisa jaga dia dengan sangat baik," ucapnya, lalu menepuk-nepuk pundak Samuel guna meredakan sedikit kekhawatiran dalam hati rekannya.