Mine

Mine
Pengenalan Publik



"Tiba saatnya di penghujung acara! Sebelum acara berakhir, Tuan Joseph, selaku penyelenggara acara ingin menyampaikan beberapa kata sebagai ungkapan terima kasih untuk hadirin terkasih yang sudah datang dan memeriahkan acara malam ini. Silahkan, Tuan Joseph."


MC mempersilahkan Tuan Joseph naik ke panggung untuk menyampaikan beberapa berita sekaligus ungkapan terima kasihnya pada seluruh tamu yang datang pada malam ini.


Serena memilih duduk di salah satu meja bundar yang disediakan di barisan terdepan, yang mana itu dikhususkan untuk anggota keluarga. Ada beberapa sanak saudara dari Tuan Joseph yang juga hadir, dan Serena sudah berkenalan dengan mereka secara singkat.


"Capek ya? Kamu duduk aja di sini ya. Nanti kalau papa manggil aku naik ke atas, kamu tunggu aja di sini," bisik Julian yang duduk di sebelah kanan Serena.


Mereka sedikit kelelahan sehabis berdansa bersama. Serena lebih lelah lagi karena dia harus berdansa sebanyak 3 kali: yang pertama bersama Julian, kemudian Elliot dan yang terakhir Tuan Joseph.


Serena bahkan terpaksa mengajak ayahnya sendiri, sekedar untuk menutupi keretakan hubungan kekeluargaan di antara mereka. Sebab Serena sadar, dirinya bisa memanfaatkan nama Reinhart untuk dirinya di masa mendatang. Jadi meski luka di hatinya belum sepenuhnya sembuh, Serena harus bersikap profesional di hadapan banyak pasang mata yang memperhatikan dia dan keluarganya.


Walau pada akhirnya Tuan Philip sendiri yang menolak ajakan Serena dengan dalih saraf punggungnya sedang dalam pengobatan, jadi tidak diperbolehkan banyak bergerak untuk sementara waktu.


Serena sih tidak mempermasalahkan penolakan dari ayahnya. Dia justru merasa lega karena tak harus berhadapan dengan ayahnya yang kaku itu. Sementara untuk ibu serta adik kembarnya, Serena sama sekali tak berminat mengajak salah seorang dari mereka berdansa dengannya.


Serena sadar mungkin keputusannya itu sedikit menimbulkan rasa penasaran orang-orang yang mengamati dirinya, tapi Serena tak akan memaksakan diri untuk menghadapi kedua orang itu.


Karena kedua orang itu jauh lebih merepotkan ketimbang ayahnya, jadi lebih baik Serena pergi dan menjaga jarak sejauh mungkin.


Prok prok prok


Suara tepuk tangan menyambut kehadiran Tuan Joseph di atas panggung, di tambah dengan penampilan beliau yang masih kelihatan gagah dan memukau meski usianya sudah tidak lagi muda.


'Pantas aja kedua anaknya ganteng dan keren semua, orang papanya ganteng dan gagah gini. Nanti kalau aku punya anak sama Julian, kira-kira bakal secakep apa ya anak kita nanti?' Tiba-tiba pertanyaan itu terbesit dalam benak Serena.


Bibit keluarga Collin memang tidak main-main. Lihat saja sepupu, paman serta bibi Julian yang tak kalah tampan, cantik dan kerennya dari Tuan Joseph, Elliot dan juga Julian. Serena langsung menciut dan merasa bahwa dirinya ini hanyalah sebuah kentang buluk yang tak pantas berada di tengah-tengah serbuk berlian.


Namun terlepas dari itu, saudara-saudari Julian tampak menyambut hangat Serena sebagai kekasih Julian, mereka bahkan mengundang Serena berkunjung ke kediaman mereka untuk saling mengenal lebih dalam.


Itu adalah sebuah undangan spesial yang tak akan Serena lewatkan begitu saja. Demi di terima dan di akui sebagai kekasih-serta calon istri Julian, Serena merasa harus memperkenalkan dirinya pada seluruh anggota keluarga besar Collin yang bertebaran di berbagai negara.


Kalau menurut Julian, sedikit sulit mengajak seluruh anggota keluarga Collin berkumpul secara lengkap, tapi setidaknya masih banyak yang bisa datang bila memang Serena berencana mengundang dan membuat pesta perkenalan untuk anggota keluarga besarnya.


Bagi Serena sih itu tak menjadi masalah, berapapun jumlah orang yang bisa datang ke pestanya, Serena tetap akan menyambut baik dan mengerahkan semua jurus andalannya demi bisa mengambil hati keluarga Collin.


Sebab Serena percaya kebaikan hatinya pasti akan disebarluaskan pada anggota keluarga besar lainnya meski hanya melalui satu mulut saja.


Kekuataan gossip memang cukup mengerikan, namun di lain sisi, metode itu bisa menjadi sangat berguna untuk menyebarluaskan suatu berita atau informasi secara cepat.


Kembali ke sesi yang cukup panjang ini, Serena jadi jarang mengedipkan kelopak matanya memandahgi Tuan Joseph yang sedang berpidato di atas panggung.


"Dan berita terakhir-tapi bukan yang paling akhir adalah, saya akan mengumumkan hasil dari voting yang telah dikumpulkan oleh jajaran eksekutif dalam perusahaan kami, bahwa Elliot Collin akan kami lantik sebagai Kepala Direktur Utama perusahaan yang baru. Silahkan maju ke atas sini, nak! Kita akan merayakan kenaikan jabatanmu malam ini juga!" Tuan Joseph mengisyaratkan Elliot untuk segera naik ke panggung, diiringi dengan sorak sorai meriah dari semua tamu serta staff yang berada di bawah naungan perusahaan Collin.


Serena dan Julian juga turut bertepuk tangan dan tersenyum senang atas kenaikan pangkat yang akhirnya di terima oleh Elliot.


Sebagai anak kedua, Julian sama sekali tidak merasa iri ataupun ingin merebut posisi penting itu dari kakaknya, justru Julian lega Elliot mendapatkan kursi panas itu setelah melalui perjalanan serta proses yang cukup sulit dan tidak instan.


Toh meskipun dirinya tidak dapat menduduki posisi Direktur, Julian bisa menjadi pengusaha di bisnisnya sendiri, ataupun membantu Elliot sebagai wakil dari direktur.


"Kak Elliot keren banget. Sayang ya, dia belum punya pacar," celetuk Serena, sambil memandang kagum Elliot yang tengah berpidato singkat.


Julian tersenyum kecil, "Dulu, jauh sebelum Denise datang dan merusak hubungan kami, ada satu cewe yang kak Elliot sukai secara diam-diam. Orangnya mirip kamu sih kalau aku ingat-ingat lagi, sifatnya kalem, lembut tapi bisa tegas banget di saat tertentu. Kak Elliot itu baiknya kelewatan, jadi cewe itu yang dulu sering nolongin kak Elliot yang nggak bisa nolak permintaan orang," ungkapnya tiba-tiba.


Serena baru tahu ada cerita romansa di masa lalu Elliot yang belum pernah diceritakan. Atau lebih tepatnya, Elliot tidak pernah membahas ataupun mengungkit soal cinta pertama pria itu sewaktu remaja dulu. Serena jadi penasaran, siapa gadis yang dimaksud oleh Julian ya?


"Gitu-gitu kak Elliot sedikit pengecut, dia suka sama cewe itu tapi nggak berani nyatain cintanya karena dia nggak mau dijauhin..Padahal yah, aku rasa cewe itu bakal terima cintanya kak Elliot karena kayaknya sama-sama suka.."


Namun itu hanyalah cerita di masa lalu yang tak bisa mereka ubah lagi. Elliot telah melepaskan cinta pertamanya, mirip sekali dengan apa yang Serena lakukan demi orang lain.


"Orang bilang cinta pertama banyak mengalami kegagalan. Karena diselimuti perasaan takut itu yang buat kita nggak percaya diri dan berujung merelakan.." Serena bergumam lirih sembari menundukkan kepala.


"Yah..mungkin itu memang benar. Buktinya hubunganku juga kandas dengan sangat buruk. Tapi aku rasa, setiap hubungan pasti memiliki persoalannya masing-masing. Ada banyak faktor yang membuat seseorang terpaksa merelakan dan melepaskan cintanya. Aku harap, dengan sedikit pengalaman di masa lalu, bisa menjadi pelajaran buat kita berdua di masa depan."


Julian menggenggam erat tangan Serena di atas meja.


Keduanya saling melempar senyuman seakan-akan tengah menguatkan hati satu sama lain. Tanpa sadar gerak gerik keduanya menjadi sorotan banyak mata yang memperhatikan.


Tuan Joseph tersenyum hangat melihat ketulusan yang terpancar dari sorot mata Serena untuk Julian. Gadis itu tidak pernah serakah dan selalu memperhatikan Julian, kurang apa lagi coba?


Kekayaan masih bisa di kejar, tapi pasangan yang baik dan tulus seperti Serena sulit untuk ditemukan, apa lagi di jaman modern seperti saat ini.


"Gerald. Kini tiba saatnya membagikan berita bahagia kita pada semua orang!" Tuan Joseph menjentikkan jari, mengisyaratkan anak buahnya untuk bersiap melakukan rencana yang telah mereka susun secara diam-diam.


Lalu setelah pidato Elliot berakhir, Tuan Joseph bergegas naik ke panggung dan menahan putera sulungnya yang hendak turun untuk menemaninya di atas panggung.


"NAH! Sebelum acara malam ini berakhir, ada satu pengumuman penting yang akan saya sampaikan." Tuan Joseph tampak begitu ceria dan antusias hendak memberitakan satu pengumuman pada para tamu undangan.


Tuan Joseph saling berpandangan dengan Elliot sekilas, seakan sedang berbicara lewat telepati mereka.


"Sebelumnya, kami persilahkan Julian dan Nona Serena untuk naik ke atas panggung menemani kami berdua di sini," ujar Elliot melalui mic.


Kini lampu menyorot ke arah Julian dan Serena yang saling berpandangan penuh tanya.


"Cepat kalian naik saja. Sepertinya papamu telah menyiapkan kejutan untuk kalian," ujar Margaretha, bibi Julian yang duduk tak jauh dari tempat Julian dan Serena.


Julian mengulurkan tangannya pada sang kekasih, membantu Serena bangun dari duduknya lalu berjalan beriringan naik ke atas panggung.


Wajah Serena semakin terlihat memukau ketika terkena pantulan sinar lampu sorot yang terfokus ke arahnya dan Julian.


Begitu tiba di atas panggung, Serena tak bisa menahan kegugupan yang melanda dirinya. Julian terus menggenggam tangan Serena dibalik gaun panjang dan mekar yang kekasihnya kenakan.


"Di malam yang spesial ini, kami ingin memperkenalkan satu orang istimewa yang sedang menjalin hubungan dengan anak dan saudara kami, Julian. Mungkin masih banyak yang belum mengetahui hubungan anak kami dengan puteri pertama dari keluarga Reinhart yang cantik ini, namanya Serena. Serena sayang, bisakah kamu memperkenalkan diri terlebih dahulu?" Tuan Joseph memberikan kesempatan untuk Serena angkat bicara.


Serena mengangguk singkat lalu berdiri di balik mic yang sebelumnya di pakai oleh Elliot.


Julian tak berhenti tersenyum lebar sambil memberikan dukungan untuk Serena yang dilanda kegugupan besar.


"Selamat malam, para hadirin yang saya hormati dan saya kasihi. Sebelumnya, saya berterima kasih karena sudah diberi kesempatan spesial untuk memperkenalkan diri saya secara langsung..." Serena menjeda pidatonya sejenak, sambil melihat respon dari para tamu yang duduk di barisan tengah.


"Perkenalkan nama saya Charmeine Serena Reinhart, atau yang akrab di panggil dengan nama Serena. Ini merupakan sebuah keajaiban bagi saya, yang hanya merupakan seorang gadis biasa, dapat berkencan dengan lelaki sesempurna dan matang seperti Julian," Serena menatap sang kekasih yang terus memandanginya secara lekat.


"Mungkin hubungan kami masih terbilang seumur jagung, namun kami percaya, bahwa hubungan yang kami awali dengan perasaan tulus dan kepercayaan satu sama lain dapat berjalan untuk waktu yang lama. Terima kasih sekali lagi, atas perhatian dan penyambutan hadirin sekalian yang telah membuat hati saya menghangat. Mungkin sekiranya ini dulu yang bisa saya sampaikan malam ini," Serena menyudahi pidato singkatnya dan menyerahkan sesi berikutnya pada Julian atau Elliot.


"Ya, terima kasih juga sudah mau menerima puteraku yang juga masih banyak kurangnya," ujar Tuan Joseph yang terkesan seperti sebuah gurauan semata. "Tapi sungguh, sebagai orang tua, saya benar-benar bersyukur dan berterima kasih karena gadis sebaik dan rendah hati seperti kamu bersedia menerima Julian apa adanya. Mungkin ini masih awal dari perjalanan kalian sebagai pasangan, tapi saya yakin, kalian berdua mampu melewati segala lika liku kehidupan ini dengan baik dan saling berpegang teguh satu sama lain. Karena nona Serena adalah sosok yang saya kagumi dan sangat berarti bagi saya dan keluarga saya, maka tak ada alasan lain selain menjadikan nona Serena mantu dalam keluarga Collin."


Ucapan Tuan Joseph jelas menimbulkan kegemparan yang tak terprediksi.


Tamu-tamu yang datang bersama puteri mereka hanya bisa menggigit jari lantaran kesempatan emas mereka telah hilang begitu mendengar pidato yang dilontarkan oleh Tuan Joseph sendiri.


Terlepas dari kekecewaan para bapak ibu yang gagal mendapatkan Julian sebagai calon mantu, masih banyak sekali orang-orang yang bersorak sorai dan menyambut berita bahagia itu dengan respon yang positif.


"Lega 'kan?" Julian berbisik di belakang telinga Serena.


Serena mengangguk haru. "Iya. Aku nggak nyangka bakal menerima respon sepositif ini..."


Julian tersenyum manis, lalu mengecup sebelah pipi Serena yang dapat dia jangkau. Kini Julian bebas memamerkan pujaan hatinya pada semua rekan bisnis yang cukup dekat dengannya secara leluasa. Dengan begitu, Julian harap tak ada satu orang pun yang berani mendekati kekasihnya yang kini semakin di kenal publik.


'Karena orang-orang itu hanya melihatmu yang sudah bersinar seperti sekarang, bukan sosokmu yang dulu. Siapapun orang yang ingin mendekatimu, mereka harus berhadapan dulu denganku. Kau adalah permataku satu-satunya, siapapun tangan yang berusaha mengambilmu dariku, maka mereka harus menanggung sendiri konsekuensinya.'