Mine

Mine
Pertemuan Perdana



Julian menunggu kemunculan Serena dengan perasaan tidak tenang. Tadi telinganya menangkap suara ribut-ribut dari dalam toilet perempuan, tempat di mana kekasihnya pergi beberapa menit yang lalu.


Julian bisa mendengar suara Serena sedang beradu mulut dengan seseorang di dalam toilet, sialnya Julian tidak bisa masuk begitu saja karena itu akan melanggar norma.


"Sayang~"


Tapi kegelisahan Julian tak berselang lama setelah telinganya menangkap suara lembut Serena memanggil namanya.


Gadisnya baru saja keluar dari toilet. Mata Julian mengamati seluruh tubuh Serena mulai dari atas sampai bawah, barang kali ada luka atau sesuatu yang menimpa kekasihnya.


Dan benar saja. Firasat Julian tidak pernah keliru, ada luka di punggung tangan Serena. Kulit putih Serena kelihatan memerah dan sedikit bengkak entah karena apa.


Raut muka Julian berubah geram sambil menggenggam tangan Serena yang terluka.


Di lain sisi, Serena tahu Julian akan menghujaninya dengan berbagai pertanyaan mengenai luka yang terdapat di tangannya. Maka dari itu Serena sudah memikirkan jawaban yang tepat supaya perkara ini tidak terlalu dibesar-besarkan.


Namun yang aneh, selang beberapa detik terlewati, Julian tak kunjung bertanya soal luka yang di terukir di punggung tangannya. Serena sedikit heran, tapi juga lega di saat bersamaan.


Kelihatannya Julian berusaha menahan diri untuk tidak bertanya lebih lanjut soal luka itu, entah mengapa Serena jadi merasa canggung dengan suasana yang tercipta atas keterdiaman Julian.


'Apa aku beritahu aja?' Itu yang terbesit dalam benak Serena.


Ya sudah, Julian sudah menunjukkan sikap toleransinya, jadi Serena harus mengapresiasi usaha kecil kekasihnya. Akan semakin runyam kalau Julian sampai marah besar cuma gara-gara hal kecil begini. Toh Serena sanggup mengatasinya sendiri.


"Sayang~ aku baik-baik aja kok!" Serena merangkul erat lengan kiri Julian, "Tadi itu ada serangga yang terbang mengelilingiku, karena aku panik jadi aku memukulnya secara reflek. Gataunya seranganku justru meleset, jadi tanganku malah membentur dinding. Ini nggak terlalu sakit kok," Serena menjelaskan insiden kecil yang terjadi menggunakan kalimat metafora.


Julian yang peka langsung memahami maksud dari perkataan Serena yang sedikit ambigu. Heh, sejak kapan kekasihnya itu takut sama serangga? Serena itu berbeda dengan gadis lain, yang takut pada banyak hal. Kalau cuma lalat, nyamuk atau lebah sekalipun tak akan membuat gadis itu berteriak ketakutan.


"Tetep aja.." Julian mengusap bagian tangan Serena yang memerah, lalu memberikan satu kecupan cukup lama di atas permukaan kulit Serena yang halus.


"Tanganmu sampai bengkak kayak gini, lain kali tampar aja, jangan dipukul. Aku nggak mau tanganmu ikut terluka cuma karena sesuatu yang nggak berguna," Julian menimpali dengan senyuman hangat yang sanggup meruntuhkan segala emosi dalam hati Serena.


Senyuman maut yang menggetarkan segala pendirian Serena. Kedua pipi Serena otomatis merona malu gara-gara sikap gentle Julian hari ini.


"Kamu makin pintar merayu orang..." gerutu Serena dengan suara lirihnya. Dia belum kebal menerima serangan yang dilayangkan Julian padanya.


Mau berapa banyak laki-laki yang Serena kenal dan berinteraksi akrab dengannya, hati Serena hanya berdebar kencang layaknya orang sedang lari marathon bila bersama dengan Julian. Tidak ada laki-laki lain yang sanggup menggerakkan hatinya seperti halnya Julian.


Pada titik ini, Serena dapat merasakan hubungannya dengan Julian mengalami kemajuan cukup pesat. Ini perkembangan yang bagus, Serena jadi semakin dekat dan tak canggung lagi melakukan skinship dengan kekasihnya.


"Julian..." Serena mendekatkan dirinya pada Julian, memeluk erat tubuh hangat sang kekasih sembari menyandarkan kepalanya pada dada Julian.


Serena sudah jauh lebih terbuka dan berusaha jujur dengan perasaannya. Julian jadi semakin sayang kepada Serena.


Lantas sepasang kekasih itu berpelukan erat seolah dunia hanya milik mereka berdua, tanpa menghiraukan tatapan iri dengki orang-orang di sekitar mereka.


'DASAR CEWE NGGAK TAHU DIUNTUNG!!'


Ada sepasang mata yang menatap penuh dendam dari balik pintu toilet yang sedikit terbuka.


'Cewe kayak dia nggak pantes menyentuh Julian dengan tangan kotornya!!' Sarah menggeram dalam hati. Tak rela bila sang pujaan hati disentuh bahkan dipeluk-peluk oleh gadis lain, yang dimatanya tak sederajat dengan dirinya dan Julian.


'Kalau gini terus, bisa-bisa Julian masuk ke dalam perangkap cewe gatal itu. Aku harus bertindak cepat atau aku akan terlambat!'


...🦴...


...🦴...


"UHUK! UHUK!" Dion terbatuk-batuk ketika dadanya terkena tendangan kaki seorang lelaki yang baru saja masuk ke dalam ruang tahanannya.


"Jadi ini tikus yang dimaksud sama Julian?" Lelaki bersurai legam itu menatap dingin Dion yang tersungkur di lantai yang penuh debu.


Dion meringis pelan, merasakan sakit pada bagian dada serta sekujur tubuhnya. Sudah berapa lama dirinya menetap di ruangan gelap itu? Dion sampai tidak bisa menghitung hari.


"Ya, Tuan. Orang ini yang bernama Dion. Kami mengurungnya di sini untuk sementara waktu," jelas Gerald, selaku asisten kepercayaan Julian.


Lelaki dengan cerutu di mulutnya itu menghembuskan asap ke udara tanpa mengalihkan pandangannya dari Dion yang tengah berusaha mendudukkan dirinya.


Dion tidak tahu siapa dan apa tujuan lelaki itu datang lalu menendangnya secara tiba-tiba.


"Tuan Caesar, Tuan Julian baru saja tiba," Satu laki-laki asing masuk untuk mengabarkan sesuatu.


'Ca-Caesar?!' Dion menengok dengan cepat setelah mendengar nama itu disebut.


Terdengar langkah kaki dari arah luar ruangan, lalu tak berselang lama muncullah satu sosok yang amat Dion kenal. Siapa lagi kalau bukan Julian, orang yang menahan dan mengurungnya di tempat kumuh itu.


Julian tersenyum tipis menyapa kehadiran Caesar di ruang rahasianya, "Cepat juga kakak datang. Kayaknya kakak nggak sabaran banget?" Lelaki itu terkekeh ringan, seolah sedang meledek Caesar.


Caesar mendengus kesal, lalu menyugar rambutnya ke belakang. Cerutunya sudah habis, jadi Caesar terpaksa menahan diri untuk tidak menyulut satu batang lagi.


"Jadi, informasi yang kamu berikan ke aku itu bener-bener valid?" Caesar langsung masuk ke dalam inti pembicaraan mereka.


Julian mengangguk pelan dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam kantong celana hitamnya. Lelaki itu baru saja pulang dari kampus langsung melesat ke ruang rahasianya.


Kini seluruh pandangan tertuju pada Dion yang terduduk di lantai dengan kedua tangan di rantai layaknya seorang penjahat kelas kakap.


"Sebenarnya apa tujuan kalian mengurungku di sini? Dari organisasi mana lagi kalian dikirim?" Dion sudah lelah menahan diri untuk tidak bertanya.


"Organisasi?" Caesar berguman pelan. "Apa kau terlibat masalah dengan organisasi tertentu?" Dia justru balik bertanya pada Dion.


Dion menghela nafas lelah. "Kalau tidak tau ya sudah. Aku hanya ingin tau, apa maksud dan tujuan kalian mengurung dan memukuliku di sini?"


Dion tampak tenang dan tidak menunjukkan rasa takut sedikitpun. Dari sorot mata Dion, Caesar dapat mengetahui seberapa seringnya lelaki itu menghadapi situasi yang serupa.


"Hm, tikus sepertimu hanya menyusahkan orang saja," cibir Caesar kemudian.


Namun dalam hatinya, Caesar sedikit merasa gelisah. Fitur wajah Dion hampir mirip dengan ayahnya dan juga mungkin wajahnya sendiri. Semua orang yang melihat pasti akan mengira kalau mereka berdua adalah saudara kandung.


"Aku akan memberimu beberapa pertanyaan, kau harus menjawabnya dengan jujur," kata Caesar, lalu menduduki satu kursi kosong yang ada di dekatnya.


Hatinya sedikit menolak, tapi Caesar tetap harus menggali informasi sampai ke akar-akarnya. "Apa kau anak dari salah satu anggota keluarga Reinhart?"


Pertanyaan itu bagaikan petir di siang bolong yang membuat sekujur tubuh Dion menegang kaku. Matanya menatap Caesar penuh waspada.


"Atau mungkin pertanyaanku kurang spesifik ya?" Caesar tersenyum menyeringai, "Biar kuperjelas, apakah kau...


"...anak haram dari James Reinhart?"