
Ainsley mengatur nafasnya. Ia masih tidak percaya apa dengan apa yang baru dilakukan Alfa tadi. Kalau Alfa tiba-tiba menciumnya dulu ketika ia masih punya perasaan pada pria itu, mungkin saja Ainsley akan merasa senang. Tapi sekarang, kenyataannya hatinya sama sekali tidak merasa tenang. Ia malah takut. Takut kalau Austin akan mengetahui yang baru saja ia lakukan dengan Alfa. Bagaimana kalau Austin berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya?
Ainsley terus berpikir keras. Lalu bunyi nada dering ponselnya membuatnya kaget. Ia menghembuskan nafas dalam-dalam lalu membuangnya. Kebetulan sekali, penelpon itu adalah suaminya yang baru saja ia pikirkan.
"Halo," gumamnya pelan.
"Kau masih kuliah? Aku ingin mengajakmu makan siang." kata pria diseberang.
"Tidak." Ainsley menjawab.
"Baiklah. Tunggu aku, aku akan menjemputmu."
"Mm." setelah itu sambungan terputus.
Kira-kira tiga puluh menit lamanya Ainsley menunggu didepan kampus sampai mobil Austin terlihat berhenti didepan gedung itu. Entah ada wartawan, paparazi atau siapalah itu yang diam-diam memotret atau mengambil video mereka, Ainsley tidak peduli lagi. Toh mereka adalah suami istri yang sah dan sudah diketahui banyak orang.
"Kenapa berdiri di situ, memangnya kau tidak kecapean?" Austin sudah berdiri didepan sang istri. Pria itu mengomel pelan karena melihat Ainsley hanya berdiri saja didepan gedung itu. Ia tidak mau istrinya kelelahan. Ainsley tertawa pelan, menurutnya suaminya itu sedikit berlebihan padahal dirinya biasa saja.
"Lain kali biar aku yang masuk kedalam." ucap Austin lagi lalu meraih tangan Ainsley, membimbingnya masuk ke dalam mobil.
Mereka memasuki sebuah cafe
kecil tanpa plang pengenal yang letaknya tersembunyi di pojok jalan dekat kampus Ainsley. Dengan pagar kayu dan dinding yang di tumbuhi oleh tanaman merambat, membuat banyak orang yang lewat, yang tidak tahu kalau itu cafe, akan menganggapnya sebagai rumah biasa. Tapi banyak mahasiswa yang makan dan nongkrong di situ. Cafe ini bagaikan tempat rahasia bagi para mahasiswa yang berkuliah di kampus Ainsley. Seakan-akan hanya alumnus dan mahasiswalah yang tahu dan bisa mengunjunginya. Entah kenapa hari ini Ainsley ingin makan di cafe ini jadi akhirnya ia merekomendasikan tempat ini pada Austin. Ia tahu laki-laki kaya raya seperti Austin pasti tidak biasa makan di tempat kecil begini, tapi ia tetap makan di sini. Siapa suruh pria itu ingin makan siang bersamanya. Menurut Ainsley, sesekali Austin juga harus merasakan jadi orang yang biasa-biasa saja.
Selain rasa makanan dan kopinya yang enak serta harga yang bersahabat dengan kantong mahasiswa, cafe ini juga memiliki atmosfer yang menyenangkan. Walau tak jarang tempat ini begitu ramai tapi suasananya bisa tetap tenang dan kondusif, membuat para pengunjung merasa nyaman.
Cafe ini adalah tempat dimana sekelompok mahasiswa bisa mengerjakan proyek bersama, alumnus yang bernostalgia dalam kenangan masa kuliah, sepasang mahasiswa yang patah hati dan menghibur satu sama lain, atau bahkan menjadi tempat dari awal atau akhir suatu hubungan. Segala macam hal bisa terjadi di tempat ini.
"Kau sering makan di sini?" tanya Austin. Mereka duduk di salah satu meja di pojok samping jendela.
"Mm, dengan teman-temanku." sahut Ainsley. Tangannya terangkat memanggil waiter untuk memesan makanan.
"Kau mau makan apa?" Ainsley menatap Austin dengan mata besarnya.
"Terserah. Kau saja yang memilihkan untukku." jawab pria itu. Ainsley mengangguk lalu memesan dua porsi nasi ayam kecap dan minuman dingin. Keduanya lalu berbincang-bincang ketika sih waiter selesai menulis pesanan mereka dan pergi ke dapur.
"Bagaimana kuliahmu hari ini?"
"Seperti biasa, selalu saja ada tugas di akhir kuliah."
Austin terkekeh. Wajah Ainsley tampak berat saat mengatakan kata tugas.
"Helow tuan Austin, kau pikir aku tidak bisa mengerjakan tugasku? Jangan terlalu meremehkanku bos besar." pungkasnya. Austin hanya tertawa kecil dan mengacak-acak pelan rambut istrinya. Ia merasa gemas melihat gadis itu mengomelinya.
"Baiklah, baiklah nona pintar." tak lama kemudian pesanan mereka datang. Ainsley langsung memakannya dengan lahap. Sementara Austin, ia lebih fokus menatap istrinya itu dibandingkan makan makanannya. Hanya dengan melihat gadis itu, ia sudah merasa kenyang.
"Kau tidak makan?" tanya Ainsley menatap Austin dengan mata besarnya sambil terus mengunyah makanannya. Austin berdeham dan kemudian mendekatkan wajah ke Ainsley lalu berbisik pelan.
"Bagaimana kalau aku memakanmu saja. Kau lebih enak menurutku."
"Uhuk, uhuk," Ainsley langsung terbatuk-batuk. Ia menepuk-nepuk dadanya pelan, sementara pria didepannya malah menyeringai penuh kemenangan. Pandangan Ainsley berpindah ke beberapa orang yang duduk dekat situ yang kadang akan mencuri-curi pandang ke mereka. Ia lalu mendelik tajam ke sang suami.
"Jaga bicaramu, jangan kuat-kuat, bagaimana kalau ada yang dengar?" gumam Ainsley pelan. Sangat pelan. Sampai Austin harus mendekatkan telinganya ke mulut gadis itu.
"Kenapa? Tidak ada yang salah dengan ucapanku. Kau kan istriku, aku boleh memakanmu kapan saja." lalu sebuah pukulan kecil langsung mendarat di lengan Austin. Pria itu tertawa. Kehadiran Ainsley dalam hidupnya membawa kebahagiaan tersendiri dalam hatinya.
"Nanti malam dandan yang cantik." gumam Ainsley lagi, belum puas menggoda istrinya.
"Kenapa? Kau mau mengajakku keluar? Aku tidak mau." tolak gadis itu langsung.
"Bukan, aku akan memakanmu."
"AUSTIN!" mata Ainsley sukses membulat lebar. Ia tidak sadar teriakan kerasnya sudah menjadi perhatian orang-orang didalam situ. Ainsley menggeram sebal. Ia jadi malu sendiri. Gara-gara Austin sih yang mancing-mancing. Sementara pria tersebut malah terus tersenyum dengan wajah tanpa dosanya.
"Ainsley," panggilan itu membuat senyuman diwajah Austin menghilang. Pria itu kembali memasang wajah datar seperti yang biasa ia tunjukan ke orang-orang. Ainsley mencibir. Dasar pria bermuka dua. Giliran mereka cuma berdua jahilnya minta ampun.
Ainsley menoleh ke samping dan mendapati Pingkan sudah berdiri di sebelahnya sambil tersenyum ramah. Alis Ainsley terangkat. Kenapa dengan wanita ini? Kenapa tiba-tiba menyapanya? Padahal Pingkan tidak pernah sekalipun bersikap ramah dan menyapa dirinya dimanapun mereka bertemu.
"Temanmu?" Austin bertanya. Pandangannya tetap fokus ke sang istri, tidak tertarik dengan Pingkan yang berbinar-binar menatapnya. Austin malah merasa temannya Ainsley itu hanya mengganggu waktunya berduaan dengan istrinya.
"Tuan Austin, perkenalkan. Saya Pingkan, keponakannya om Danu yang bekerja di perusahaan anda. Beberapa hari lalu saya juga yang memandu acara talkshow kampus kami, waktu anda jadi pembicaranya. Anda sudah lupa?" Pingkan memperkenalkan diri dengan antusias. Ainsley tahu gadis itu sengaja menyapanya karena ada Austin. Hah, bilang saja mau cari muka pada suaminya.
"Ah, begitu." balas Austin datar, tak ada tertarik-tertariknya sedikitpun. Nama Danu yang gadis itu sebutkan saja ia tidak kenal sama sekali. Awalnya ia ingin mencoba bersikap ramah pada gadis itu, namun melihat raut wajah tidak senang Ainsley, Austin bisa merasakan istrinya itu tidak menyukai temannya yang datang menyapanya ini. Jadi, ia pun tidak mau bersikap ramah. Biasanya juga begitu, tapi kalau sama sahabat yang dekat Ainsley, ia akan bersikap ramah. Sayangnya gadis yang berdiri dekat ini jelas bukan salah satu sahabat Ainsley. Jadi, untuk apa Austin bersikap ramah padanya.
"Ain, aku datang hanya ingin mengingatkan kalau sebentar nanti kita ada rapat buat bazar." kata Pingkan berusaha menutupi rasa malunya karena Austin yang terkesan dingin menanggapinya.
Ainsley memaksakan seulas senyum ke gadis itu.
"Aku tahu." ucapnya. Karena tidak mau keadaan makin canggung, Pingkan akhirnya pamit pergi pada suami istri itu. Dalam hati ia menggeram kesal pada Ainsley. Baru menjadi istri pria hebat seperti Austin saja, lagaknya sudah benar-benar seperti nyonya besar. Huh!