Mine

Mine
Chapter 78



Clara terus mencari-cari tempat yang tepat untuk dirinya bersembunyi namun tidak ada satupun yang didapatinya. Akhirnya dari kemarin sampai hari ini dirinya masih saja berada di hotel yang dia sewa selama berada di Indonesia. Wanita itu terus bersembunyi di sana. Ia mengutuk marah karena dirinya tidak bisa menghidupkan ponsel apalagi memakai kartu kreditnya karena bisa saja para polisi dan orang suruhan Austin melacak keberadaannya. Untung hotel ini sudah ia sewa selama seminggu penuh jadi dia tidak perlu khawatir karena tidak ada yang berani mengusirnya.


Clara memegangi perutnya yang sejak tadi terus berbunyi tak mau berkompromi sedikitpun. Ia merasa kelaparan setengah mati. Di dalam kulkas hanya ada air mineral dan ia yakin dirinya tidak akan kenyang hanya dengan minum. Ah, dia ingat. Dalam tasnya ada uang tunai. Clara tersenyum bahagia kemudian mengambil beberapa lembar uang dalam tasnya lalu keluar dari kamar hotelnya dengan memakai topi dan masker. Harusnya dia tidak akan dikenali. Clara bersorak senang, hari ini pikirkan dulu bagaimana mengisi perutnya. Sayangnya, Ketika pintu lift terbuka, beberapa polisi berpakaian lengkap sudah berdiri di sana, siap menangkapnya, membuat wajahnya pucat pasi.


"Ibu Clara, anda kami tangkap karena melakukan penculikan terhadap istri dari tuan Austin Hugo." lalu tangan Clara tiba-tiba diborgol dan dibawa keluar dari hotel itu.


                                   ***


Di kantor polisi, Clara bertatapan dengan Austin yang sedang membuat laporan di kepolisian. Mata mereka bertatapan. Dan terlihat jelas kebencian dan rasa muak Austin kepada wanita itu.


Austin sangat puas mendengar wanita itu tertangkap. Meski hukumannya tidak akan begitu lama tapi Austin puas mendengar kalau Clara akan dideportasi. Setidaknya wanita itu tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi di negara ini. Karena dia kemungkinan besar tidak akan pernah bisa datang lagi ke negara ini.


Austin tahu sejak tadi Clara sedang mencari-cari kesempatan untuk bicara padanya. Sayangnya dia tidak akan pernah memberikan kesempatan sedikitpun pada perempuan gila itu. Melihatnya saja membuat Austin muak, apalagi bicara.


"Kami akan terus mengabari anda tuan Austin." kata salah satu polisi yang bertanggung jawab atas kasus penculikan Ainsley. Ia sudah selesai menulis laporan yang dilayangkan oleh Austin. Juga tuntutan hukum yang pria itu layangkan pada para penculik istrinya, juga dalang dari penculikan itu. Sih Clara sendiri pastinya.


"Baiklah, aku ingin setelah masa tahanan wanita itu selesai, dia langsung dipulangkan ke luar negeri." kata Austin lagi tegas. Polisi didepannya mengangguk.


"Anda tenang saja. Kamu akan segera mengeluarkan surat deportasi terhadap ibu Clara."


Austin tersenyum puas. Diujung sana Clara menarik nafas kasar. Ia marah, emosi, dan ingin sekali mengumpat keras. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Sialan! Ini semua gara-gara orang-orang suruhannya itu yang tidak becus. Kalau saja mereka berhasil menculik Ainsley, dirinya tidak akan berakhir sampai seperti ini. Ia tidak memiliki kekuasaan apa-apa lagi sekarang. Bahkan polisi pasti sudah menghubungi negaranya terkait masalah yang dia lakukan di negara ini. Belum lagi dia harus menghadapi Austin yang sangat ia yakini akan menghancurkan perusahaannya di Hawaii.


Clara hanya bisa menatap kepergian Austin dari tempatnya diperiksa. Tatapan laki-laki itu penuh kebencian. Sesaat Clara berpikir kalau  dirinya beruntung karena yang menemukannya lebih dulu tadi adalah polisi. Seandainya itu Austin, dirinya mungkin sudah habis dikuliti oleh lelaki itu.


                                   ***


Ketika memasuki rumahnya, Austin melihat Ainsley sedang asyik berbincang-bincang akrab dengan bi Ranti dan beberapa pelayan lain. Entah apa yang mereka bicarakan sampai bersemangat sekali begitu. Namun Austin yang melihat keceriaan diwajah istrinya merasa senang. Ia tidak berniat untuk mengganggu bincang-bincang asyik mereka namun kehadirannya membuat para pembantu itu cepat-cepat berdiri dan menunduk takut padanya. Padahal Austin sama sekali tidak merasa terganggu merasa akrab dengan istrinya. Karena ia merasa Ainsley pun senang bergaul dengan mereka. Tapi ya sudahlah. Mereka memang selalu takut begitu kalau ada dia.


"Bi Ranti," panggil Austin. Bi Ranti menoleh. Di antara semua pelayan, memang bi Ranti yang paling banyak berinteraksi dengan Austin.


"Iya tuan?"


"Bi Ranti udah bisa pulang sekarang. Bilang ke yang lain juga. Kalo masih ada pekerjaan yang belum selesai, dilanjutin besok saja." kata pria itu.


"Baik tuan." balas bi Ranti kemudian berbalik ke arah dapur.


Austin melangkah duduk disebelah Ainsley sambil melemparkan senyum manisnya, merangkul pinggang istrinya sehingga keduanya duduk saling menempel.


"Kenapa pulang malam?" tanya Ainsley. Ia ingat tadi Austin bilang dia akan langsung pulang setelah dari kantor polisi.


"Aku pergi ke kantor menemui Narrel sebentar, dan mampir ke toko buah. Tidak sadar sudah malam." sahut Austin mengelus-elus lengan Ainsley.


Gadis itu sendiri memandangi kantong plastik berisi buah yang diletakkan Austin di atas meja. Ia tersenyum. Tumben-tumbennya pria itu membeli buah sendiri. Biasanya juga hanya bi Ranti yang mengurus bahan makanan buat di dapur.


"Kenapa beli buah sendiri? Kan ada bi Ranti?" tanya Ainsley lagi. Kali ini Austin menoleh dengan telunjuknya mengangkat dagu Ainsley agar menatapnya.


"Aku ingin pilih sendiri buah-buahan itu untukmu." gumam Austin lalu mengecup bibir gadis itu ringan. Ainsley tidak bisa berkata-kata lagi. Yang pasti saat ini dia merasa begitu bahagia.


"Ayo ke kamar, aku ingin bicara serius denganmu." kata Austin kemudian membuat Ainsley mengernyitkan dahi penasaran. Ia membiarkan Austin membimbingnya masuk ke dalam kamar mereka.