
Ketika terbangun, mata Austin langsung terarah ke arah jam besar di dinding, dia sedikit terperanjat dan langsung duduk. Rupanya dia ketiduran karena terlalu lelah dengan pekerjaan dan memikirkan pertengkarannya dengan Ainsley. Dan sekarang sudah jam tujuh malam. Austin meraih ponselnya dan melihat ada enam panggilan tak terjawab dari Narrel. Tapi pria itu tidak berniat menelpon balik. Ia tidak mood kerja. Sekarang ia ingin kembali ke rumahnya untuk melihat istrinya.
Ia jadi tidak tenang setelah menyakiti Ainsley seperti tadi. Sungguh, ia merasa seperti laki-laki brengsek. Benar, dia memang brengsek. Harusnya dia mendengar semua penjelasan gadis itu. Namun pengakuan Ainsley di mobil tadi, apakah itu benar? Gadis itu jatuh cinta padanya? Sialan, salahkan dirinya yang terlalu emosi sampai-sampai tidak mau percaya pada semua yang dikatakan Ainsley tadi. Setengah melompat, pria itu lalu keluar dari apartemen menuju rumahnya.
Ketika memasuki rumah besar miliknya, di sana sudah ada bi Ranti dan beberapa pelayan lainnya yang bertugas membersihkan rumah, halaman dan memasak. Mereka membungkuk hormat ketika Austin melewati mereka. Seperti biasa, gaya Austin yang tampak angkuh itu berlalu begitu saja dari depan mereka, berjalan melewati ruang tamu, dan menaiki tangga untuk mencapai lantai atas. Menuju kamarnya.
Ia menghentikan langkahnya sejenak dan mengatur nafas. Dalam benaknya ia berpikir. Apakah langsung masuk saja atau mengetuk? Memang sih biasanya ia tidak pernah mengetuk pintu kamar itu kalau mau masuk. Ainsley adalah istrinya, jadi mau apapun yang dilakukan gadis itu didalam, lagi telanjang sekalipun, tidak ada yang akan melarangnya untuk masuk. Tapi hari ini, mengingat pertengkaran besar mereka, dan dirinya yang dengan teganya menyakiti gadis itu, Austin akhirnya memilih untuk mengetuk kamar itu.
Austin menghembuskan nafas panjang dan kemudian mengetuk pintu kamar.
"Ainsley, kau di dalam?" tidak ada jawaban. Kemungkinan Ainsley tertidur. Austin mengetuk lagi,
"Ainsley, kalau kau ada didalam, aku akan masuk sekarang. Kita perlu bicara. Aku ingin meminta maaf kepadamu. Kata-kata dan perbuatanku padamu tadi memang keterlaluan. Aku terlalu marah dan cemas hingga menumpahkan kemarahanku kepadamu, kau tidak pantas menerimanya, maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi... Aku berjanji akan mendengarkan semua penjelasanmu. Ainsley?" sama sekali tidak ada jawaban.
Raut wajah Austin berubah. Ekspresinya harap-harap cemas. Dengan hati-hati, ia membuka handle pintu kamar itu, dan mendapati ranjang kosong dan rapi seperti tidak pernah ditiduri. Padahal tadi kamar itu acak-acakan akibat pergumulan panas mereka. Apa kamar itu dirapikan sendiri oleh Ainsley atau pembantu yang disewanya? Lupakan pertanyaan itu, yang paling penting adalah ia ingin melihat sosok istrinya sekarang juga.
Dengan tergesa-gesa Austin melangkah masuk ke kamar mandi yang ternyata juga kosong. Lalu ia memeriksa lemari. Lemari masih penuh dengan pakaian, tapi Austin sadar, pakaian itu berkurang beberapa helai. Ia juga tidak mendapati koper kecil yang dibawah Ainsley dari rumahnya di hari pertama pernikahan mereka. Ya Tuhan, apakah Ainsley pergi dari rumah ini? Tidak, tidak. Mungkin gadis itu hanya keluar untuk mencari udara segar. Tapi malam-malam begini ia bisa kemana? Kalau tidak ada kegiatan kampus, gadis itu biasanya langsung pulang dan tidur. Tapi kenapa koper dan pakaiannya...
Austin memutuskan mencari Ainsley ke seluruh pelosok rumahnya tapi gadis itu tidak ada di mana-mana.
"Bu Ranti," ia melemparkan tatapan cemasnya ke arah bi Ranti yang terlihat buru-buru keluar dari arah dapur.
"Iya tuan?"
"Bibi lihat Ainsley? Dia bilang mau pergi ke mana?" tanya Austin. Sangat berharap bi Ranti memberikan jawaban seperti yang dia mau.
"Ya sudah, bibi sudah bisa pergi." katanya kemudian. Perempuan tua didepannya lalu kembali ke dapur. Ia sebenarnya ingin bertanya tentang Ainsley pada majikannya itu, tapi tidak jadi. Austin terlihat tidak begitu baik, bi Ranti sendiri takut akan kena marah kalau terlalu banyak bicara. Akhirnya dia memutuskan diam saja dan tidak terlalu banyak bicara. Saat itu juga, Austin langsung menghambur ke luar rumah.
***
Austin menelpon Narrel agar pria itu membantunya mencari Ainsley. Ia telah bercerita semuanya pada laki-laki itu tentang pertengkaran mereka. Dan mereka sudah memeriksa seluruh tempat yang pernah dikunjungi Ainsley, bahkan rumah orangtua gadis itu, tetapi Ainsley tidak ada.
Narrel yang mengikutinya dan kemudian bergumam, menarik kesimpulannya,
"Kurasa Ainsley sengaja pergi dari rumahmu." mata Austin menggelap,
"Tapi dia kabur kemana? Dia tidak punya rumah lain selain rumah orangtuanya. Dia juga bukan tipe yang mau merepotkan sahabat-sahabatnya. Bahkan dia meninggalkan ponselnya!" Austin melirik frustrasi kepada ponsel yang diletakkan Ainsley dengan rapi di atas meja dalam kamarnya. Mereka sudah kembali ke rumahnya sekarang.
"Kita bisa bertanya kepada temannya, mungkin saja Ainsley ke sana meminta pertolongan." sebelum Austin sempat menjawab, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Austin mengernyitkan dahi. Bi Ranti? Kenapa menelponnya? Bukannya pekerjaannya di rumah ini sudah selesai dan dia sudah pulang? Bi Ranti juga jarang sekali menelponnya. Meskipun bingung, Austin tetap mengangkat telpon wanita tua itu.
"Kenapa bi?"
"Tuan, saya tadi liat nona Ainsley di seret-seret paksa sama orang tidak dikenal didepan toko roti yang biasanya saya lewati. Tapi waktu saya mau kejar, mereka sudah masukin nona Ainsley ke mobil dan pergi. Kayaknya nona Ainsley diculik tuan."
Detik itu juga pikiran Austin kosong. Ponselnya jatuh begitu saja dari tangannya. Untung Narrel dengan cekatan meraih ponsel itu sebelum jatuh ke lantai. Ia menatap heran ke Austin yang kini sudah berlutut di lantai dengan wajah khas seseorang yang sangat syok. Sebenarnya ada apa? Kenapa dengan perubahan itu?
Setelah cukup lama terduduk di lantai, Austin yang seolah sadar akan sesuatu langsung berlari keluar rumah secepat kilat. Mau tak mau Narrel yang kebingungan harus mengikutinya.