Mine

Mine
Tamu Tak Diundang



"Kayaknya ada banyak pikiran di kepalamu. Kali ini apa lagi?"


Julian menanyai Dion yang duduk di hadapannya. Mereka berdua memang sedang bekerja bersama, lebih tepatnya sih Dion di ajak Julian untuk mempelajari kinerja seorang bisnis.


Julian sudah menyortir berkas yang sekiranya mudah untuk di pelajari Dion dan meminta Dion mengurus berkas-berkas tersebut alih-alih membantunya menyelesaikan sebagian pekerjaannya yang belum tersentuh.


"Itu...kau tau 'kan kemarin aku pergi menghadap ketua organisasiku?"


Tentu saja Julian tahu, sebab Dion meminta izin kepada Julian terlebih dahulu sebelum pergi mengunjungi organisasinya.


"Kutebak, nggak berjalan sesuai harapanmu?" Julian melirik Dion yang tampak gelisah.


Dion tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya, apapun hasil putusan dari para petinggi organisasi nanti, Dion tetap bersikeukuh mengundurkan diri.


Julian mengusap dagunya seraya berpikir, "Apa kau mengetahui nama-nama dari petinggi-petinggi organisasi itu?"


Julian berpikir mungkin dirinya bisa membantu Dion sebagai ganti Caesar.


Sayangnya, Dion sama sekali tidak tahu menahu. Orang-orang di balik layar itu merahasiakan identitas bahkan nama mereka dengan begitu rapat. Dion bahkan yakin bila Tuan Albert sendiri juga tak mengetahui informasi sedalam itu.


"Ini sangat sulit. Orang-orang itu nggak pernah nampakkin diri secara terbuka, bahkan saat mengadakan meeting penting secara online pun, suara mereka juga ikut disamarkan."


Ya, Julian bisa menduga itu. Mustahil bagi mereka mengumbar nama dan wajah secara terang-terangan, karena itu bisa berdampak pada privasi yang telah mereka jaga dengan baik mungkin.


Namun satu hal yang pasti, siapapun orang yang terlibat dalam sebuah organisasi pasti bukan sembarang orang biasa. Mereka pasti berasal dari kaum elite dan berpengaruh besar di negara ini, sebab bukan tak mungkin request atau misi yang diberikan oleh mereka mengincar orang-orang yang sederajat dengan mereka yang di anggap sebagai halangan atau rival yang berat.


Sejauh ini keluarga Collin selalu menjaga posisi netral dan tidak memihak pada siapapun agar tidak terombang-ambingkan oleh politik dan lain sejenisnya. Sebab kegagalan sekecil apapun dapat berimbas besar pada kelancaran bisnis perusahaan.


"Tapi satu hal pasti yang aku ketahui, organisasi kami mendapatkan sokongan yang cukup kuat dari salah satu mafia terkenal dari Brazil," ujar Dion kemudian.


Informasi dari Dion tak ayal mengejutkan Julian, 'Mafia dari Brazil?!' Julian benar-benar syok mendengarnya, 'Itu udah cukup menjawab alasan mengapa mereka melarang mundurnya anggota dari organisasi, karena mereka takut mantan anggota organisasi itu akan mengkhianati mereka dan membongkar semua rahasia dalam organisasi pada orang lain..'


Ini bukan perkara mudah. Andaikata Dion mendapat persetujuan keluar dari organisasi, itu adalah sebuah keajaiban yang amat jarang terjadi. Namun di sisi lain itu juga sangat mencurigakan.


'Aku yakin mereka nggak akan semudah itu menyetujui permintaan Dion, apalagi mereka sudah melihat seberapa jauh kemampuan Dion, pasti keputusan yang sulit untuk melepaskan pion yang hebat seperti Dion..'


"Feelingku berkata, mereka nggak akan semudah itu biarin kamu keluar dari sana. Mereka pasti membutuhkan prajurit yang hebat sepertimu. Mereka mana mungkin rela kehilangan sosok yang setia dan dapat melakukan perintah mereka dengan sangat baik dari yang lainnya," Julian menyeringai sinis.


Dion menghela nafas panjang, lalu menyandarkan punggungnya pada sofa yang empuk.


"Aku tau itu. Tapi apapun cara yang harus dj tempuh, aku harus bisa keluar dari organisasi itu, atau aku bisa aja menyeret kalian ke dalam situasi yang berbahaya."


'Jadi ini yang menjadi kekhawatiran Dion...ternyata cukup rumit juga ya. Aku nggak nyangka dia terlibat cukup dalam dengan anggota mafia. Dia masih di beri nafas sampai detik ini aja udah jadi pencapaian hebat...'


'...apa aku bisa membantunya? Keluargaku memang nggak terlibat sama organisasi 'bawah' kayak gini, tapi aku tau seseorang yang juga bergerak di lubang yang sama dengan Dion. Mungkin aku bisa jelasin situasi Dion pada orang itu...' Julian ingin membantu Dion, dia tahu Dion tak ingin terjun ke dunia 'bawah' atas keinginannya sendiri tetapi keadaanlah yang memaksa Dion untuk ikut bergabung.


Maka dari itu, sebagai keluarga, Julian juga ingin membantu Dion semampu yang dia bisa.


...🦋...


...🦋...


"Ada urusan apa?"


Serena yang di antar oleh seorang pelayan datang menemui Jevano yang bertamu secara dadakan.


"Hai? Maaf, kalau kedatanganku mengganggu waktu luangmu. Tapi aku ingin bertemu denganmu, hari ini juga.."


Serena bisa saja mengusir Jevano karena pada dasarnya mereka belum membuat janji apapun, namun Serena tak ingin di cap sebagai sahabat yang jahat, maka dari itu, mau tidak mau Serena akan meladeni Jevano.


"Apa perlu saya bawakan camilan juga, nona?" Pelayan yang berdiri di belakang Serena berbisik untuk bertanya.


Mungkin obrolan mereka tak akan berakhir cepat, lagipula tak etis juga membiarkan seorang tamu duduk tanpa disuguhi minuman ataupun kudapan ringan.


"Iya, boleh. Tolong ya, oh ya jangan lupa siapkan teh jasmine untuk kami berdua," pinta Serena kemudian.


Pelayan itu mengangguk mengiyakan, sebelum pamit undur diri hendak membawakan semua yang telah di pesan oleh si nona muda.


Kini tinggal Jevano dan Serena yang diselimuti keheningan yang canggung.


Bagi Jevano, rasanya seperti berbulan-bulan tidak berjumpa dengan Serena bahkan melihat wajah dari sang sahabat pun sangat jarang.


"Gimana keadaanmu? Kamu nggak sakit 'kan saat musim dingin datang?"


Deg


Serena tertegun mendengar pertanyaan Jevano. Iya juga, Jevano sudah mengenalnya cukup lama jadi bukan hal asing bila dia menanyakan soal kesehatannya apalagi ketika memasuki awal musim dingin.


'Rupanya dia masih ingat aja.' Namun perhatian kecil dari Jevano tak berpengaruh besar pada perasaan Serena.


"Kamu nggak lupa ternyata, biar kutebak, ini pasti karena Jasmine sakit 'kan? Makanya kamu juga ingat dengan kondisiku," Serena menyeringai tipis.


Saat ini Serena tak lagi salah paham kok. Kalau dulu mungkin dia akan merasa terbang ke atas awan karena Jevano segitu perhatiannya atas hal kecil yang terjadi pada dirinya. Tapi kenyataannya bukan karena murni dari rasa khawatirnya sendiri, melainkan karena seseorang telah mengingatkan Jevano akan kondisi tubuhnya.


Ya, siapa lagi kalau bukan Jasmine orangnya.


Serena dan Jasmine sama-sama lemah saat musim dingin tiba, wajar bila Jevano teringat akan kondisi Serena karena pasti Jasmine lebih dulu tumbang gara-gara tubuhnya lebih lemah dari Serena.


Serena hanya bisa tertawa miris dalam hati. "Kalau cuma itu yang mau kamu tanyakan, aku akan menjawabnya dengan jujur. Dan yah...aku sempet sakit beberapa kali tapi sekarang udah mendingan. Tubuhku udah lebih beradaptasi sama cuaca ekstrem gini," ungkap Serena secara jujur.


Jevano bisa melihat rona kemerahan yang hidup di wajah cantik Serena. Tubuh Serena juga kelihatan lebih berisi dan segar dari sebelumnya. Syukurlah kalau Serena sehat bugar, Jevano bisa lebih tenang sekarang.


"Hahaha. Aku senang dengarnya. Jasmine sakit cukup lama sampai bikin banyak orang stress, termasuk aku. Jadi aku khawatir kalau kamu bakal ngerasain hal yang sama kayak dia," Jevano tersenyum hangat yang terlihat begitu tulus di mata Serena.


Senyuman itu...


Serena sudah lama tidak melihatnya.


Jevano waktu tersenyum memang paling the best.


"Makasi udah khawatir, dan makasi juga udah merawat dan menjaga Jasmine. Anak itu pasti bikin orang stress kalau lagi sakit..aku harap kamu selalu ada di sisinya dan terus menyemangatinya.." Ini adalah permintaan tulus Serena dari lubuk hati terdalam.


Serena tidak ingin menyimpan kepahitan dalam hatinya, walau pintu maaf sudah terbuka namun bukan berarti Serena telah melupakan sepenuhnya insiden perkelahiannya dengan sang adik.


Dan sekalipun Serena ingin memperbaiki hubungannya dengan Jasmine, itu hanya akan berakhir sia-sia saja. Meskipun mereka kembar bukan berarti pikiran dan hati mereka mirip satu sama lain. Lagipula Jasmine amat membenci Serena, bila mereka terus bertemu hanya akan menimbulkan peperangan saja yang ada.


Jadi berpisah dan memilih jalan masing-masing adalah opsi terbaik bagi Serena maupun Jasmine.


Hanya dalam sekali pandang, Jevano dapat melihat garis yang di bentangkan oleh Serena di depan matanya.


Serena jelas menarik diri untuk tidak ikut campur atau peduli terlalu banyak dengan keluarganya lagi.


'Jadi ini pilihan Serena...' Jevano sudah menebak sebelumnya, tapi tetap saja masih tidak rela kalau Serena meninggalkan keluarganya untuk selama-lamanya.