Mine

Mine
Ujian Hidup



"Hai? Nggak nyangka kita bakal ketemu di sini."


Jasmine menyapa Jevano yang termenung di taman rumah sakit yang dia kunjungi siang ini.


Merasa familiar dengan suara itu, Jevano lantas menoleh dan mendapati Jasmine berdiri di ujung bangku panjang yang dia duduki dengan senyuman lebar yang cerah.


Sudah berapa lama mereka tak bersua? Jevano bahkan sudah tak mengingatnya secara jelas, pokoknya sudah lama sekali.


Lantas Jevano menyambut sapaan Jasmine dengan senyuman yang tak kalah ramah.


"Hai juga. Udah lama kita nggak bertemu ya?"


Sekedar basa basi semata, namun Jasmine tak akan memprotes sikap Jevano kepadanya.


"Ya, udah cukup lama juga. Bahkan ponakanku udah bisa jalan dengan kedua kakinya sendiri." Entah ini bentuk kesavage-an atau sarkasme Jasmine, tapi Jevano merasa seperti baru saja disindir oleh wanita cantik di depannya itu.


"...hahaha, ternyata kamu masih sama aja ya!" Jevano tertawa renyah, merasa sudah kebal akan mulut pedas Jasmine padanya.


Jasmine tersenyum tipis. Jevano juga tak banyak berubah, hanya wajahnya yang terlihat lebih dewasa dan matang dari pada dulu.


"Sedang mengunjungi pasien?" Jasmine mempersilahkan dirinya sendiri untuk menempati ruang kosong di sebelah Jevano.


Jevano mengangguk kecil. Ditangannya terdapat sebuket bunga lily yang cantik dan segar.


"Ibuku...dia dirawat di rumah sakit ini sejak 3 hari yang lalu, tapi kondisinya semakin memburuk. Aku benar-benar tak tau harus melakukan apa..."


Kepala Jevano menunduk. Kesehatan ibunya memang sedang menurun beberapa minggu belakangan, puncaknya 3 hari yang lalu tiba-tiba sang ibu pingsan cukup lama dan membuat panik seisi kediaman Nolan yang kala itu Jevano tinggal ke luar negeri untuk urusan bisnis.


"Aku benar-benar nggak tau harus gimana...aku nggak bisa lihat Mama terpuruk kayak gitu di rumah sakit.." Jevano menutupi wajahnya yang letih.


Jasmine tahu, dia bisa memahami seberapa takut dan sedihnya Jevano saat ini. Melihat wanita yang telah melahirkan kita kini terbaring lemah tak berdaya, sungguh mengiris hati semua anak di dunia ini.


Jasmine pun juga merasakan hal yang sama ketika sang ayah harus dilarikan ke rumah sakit akibat penyakit jantung.


"Anggap aja ini sebuah cobaan hidup. Kita hanya perlu bertahan, berdoa, dan berusaha sebaik mungkin, karena hanya itu yang bisa kita lakuin sebagai manusia biasa. Jadi jangan berkecil hati, Jev. Nyonya Beatrice juga nggak akan suka melihatmu murung terus menerus. Yang beliau butuhkan adalah dukungan darimu.."


Senyuman lembut yang Jasmine berikan pada Jevano, setidaknya memberikan sedikit harapan baru dalam benak pria itu. Jevano akui, dirinya seringkali putus asa dalam menghadapi beberapa musibah, tapi sakitnya sang ibu adalah hal yang paling membuat Jevano sedih bukan main.


Hubungan antara dirinya dan sang ibu memang paling dekat, Jevano tidak tahu akan bagaimana nasibnya bila sang ibu benar-benar meninggalkannya seorang diri di dunia yang kejam ini.


Bahkan adik serta ayahnya tak mampu menutupi ruang kosong yang menganga lebar dalam hati Jevano.


"Aku belum siap kalau harus kehilangan Mama, Jes...aku nggak bisa..." Untuk pertama kalinya, Jevano menitikkan air mata. Selama ini dia berusaha tegar agar tidak membuat cemas keluarganya.


Meski dikenal sebagai sosok yang kuat dan dingin, namun Jevano tetaplah seorang anak yang mempunyai sisi lemah dalam dirinya. Dan salah satu kelemahan Jevano adalah sang ibu.


"Aku rasa aku belum bisa memberikan yang terbaik buat Mama....bahkan sekarang aku sulit berkomunikasi dengannya...apa yang bisa aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku padanya?"


Jevano menangis terisak seraya menutupi raut mukanya. Jasmine memberikan ruang dan waktu bagi Jevano melampiaskan segala emosi yang telah dipendamnya rapat-rapat.


Sebagai seorang Kepala, Jevano tidak diperbolehkan menunjukkan sisi lemahnya di hadapan orang banyak, tapi di depan Jasmine, yang juga merupakan mantan kekasihnya dulu, Jevano tak segan menunjukkan kerapuhannya secara terbuka.


"Menangislah sepuas yang kamu mau. Tapi nanti, kamu harus bisa tunjukkan senyuman terbaikmu di depan Mamamu. Mamamu pasti akan senang melihatmu bersemangat kembali. Jev, aku yakin Mamamu mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya, jadi kamu juga harus melakukan yang sama!"


...🐺...


"Eh? Jadi Mama Jevano juga dirawat di rumah sakitnya Papa?"


Serena terkejut bukan main setelah menerima kabar dari Jasmine. Adiknya itu baru saja menghubunginya, lalu menceritakan secara ringkas pertemuannya dengan Jevano di taman rumah sakit.


Ini bukan waktunya bersenang-senang, Serena harus segera menjenguk Nyonya Beatrice yang dulu selalu memperlakukannya secara baik.


"Iya, aku akan segera menjenguknya. Makasi ya, udah beritahu aku. Jevano pasti segan mau kasih tau aku langsung..."


Ini sedikit mengecewakan Serena. Pasalnya Jevano tahu sekali bahwa dirinya sangat menyukai Nyonya Beatrice dan sudah berpesan agar Jevano selalu mengiriminya kabar bila terjadi sesuatu pada pria itu maupun anggota keluarganya.


Tapi nyatanya apa?


Serena justru menerima kabar tak mengenakan ini dari mulut orang lain.


"Kenapa? Ada apa?"


Julian yang sedari tadi memperhatikan sang istri, jadi ikut penasaran.


"Ibunya Jevano sakit keras dan dirawat di rumah sakit yang sama kayak Papa...tapi dia nggak kasih tau aku sama sekali soal sakitnya Tante Beatrice...jahat banget sih dia!"


Andai Jasmine tidak mengabarinya sama sekali, mungkin Serena tak akan pernah mengetahui kapan kritisnya Nyonya Beatrice sampai pada titik akhir.


"Kamu mau jenguk sekarang?" Mumpung ini pagi, tak ada salahnya berangkat lebih awal. Toh itu adalah rumah sakit swasta yang bekerja sama juga dengan perusahaan Collin.


Lantas Serena mengangguk mengiyakan. Beruntung puteranya, Julio, sudah ganteng dan kenyang sehabis disuapi oleh Julian beberapa waktu yang lalu. Jadi mereka tinggal berangkat saja.


"Nanti aku tunggu di ruangan biasanya aja ya sama Julio?"


Karena Julio masih berumur 3 tahun, Julian tak berani mendekatkan puteranya dengan orang sakit.


Serena mengangguk lagi tanpa suara. Julian bisa melihat seberapa besar tingkat kekhawatiran yang dirasakan oleh sang istri saat ini. Tanpa banyak bicara, ketiganya bergegas berangkat menuju rumah sakit tempat Nyonya Beatrice dirawat.


Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Serena hanya terdiam membisu sembari mengenang kembali momen-momen menyenangkannya yang pernah dia lalui bersama Nyonya Beatrice.


Bagi Serena, Nyonya Beatrice juga seperti ibu kandung sendiri, yang tulus menerimanya dan menyambut kedatangannya dengan baik. Meski Nyonya Beatrice mungkin orang yang tidak selembut Nyonya Bianca, ibunya Helena, tapi wanita itu selalu punya caranya sendiri untuk menyenangkan hati anak-anak.


Tanpa sadar air mata menggenang di pelupuk mata Serena.


"Hei...beliau pasti baik-baik aja. Kita doakan yang terbaik ya?"


Julian menggenggam tangan sang istri yang gemetar dingin di atas pangkuan.


Sama halnya seperti Jevano, Serena juga tak ingin kehilangan orang-orang berharga di hidupnya lebih cepat dari yang dia bayangkan.


Bila Tuhan mengizinkan, Serena ingin membalas kebaikan yang dulu diberikan padanya secara cuma-cuma dan tanpa pamrih. Meski terlambat, Serena ingin gantian menyenangkan hati wanita nyentrik itu padanya.