Mine

Mine
Mulai Panas



Brak!


Sedang asyik-asyiknya melamun, tiba-tiba pintu dibuka dengan kencang oleh seseorang dari bagian dalam. Elliot dan dua bodyguard yang berjaga sampai tersentak kaget gara-gara bunyi pintu yang nyaris terdengar seperti didobrak menggunakan kaki.


Atau mungkin memang iya?


Sebab tak lama kemudian, si pelaku pendobrakan tersebut keluar dari ruangan sambil membopong seseorang di bagian pundak layaknya sebuah karung beras.


"Julian, kamu mau bawa aku ke mana?!"Seseorang dengan setelan khas pasien berusaha memberontak dan melepaskan diri dari kegilaan si oknum berinisial J itu.


Elliot sampai melotot tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. "Ju-Julian, kamu apain itu Serena-nya? Dia itu pasien lho!! Kok kamu bawa dia kayak gitu?!" Ekspresi Elliot seketika berubah jadi hantu lantaran terlalu panik melihat Serena digendong dengan tak berperasaan oleh sang adik.


Julian sama sekali tak menanggapi apapun. Seolah tuli, Julian memilih acuh sambil melanjutkan jalannya. Tak perduli tindakannya mulai menimbulkan kecurigaan bagi para perawat yang berkeliaran di sekitar lorong rumah sakit itu, Julian tetap akan membawa paksa Serena pulang bersamanya detik ini juga.


Elliot panik, dia berusaha mencegah Julian dan aksi nekat adiknya yang di luar nalar. Apapun permasalahan yang sedang dihadapi sepasang kekasih itu, Julian tak berhak membawa paksa Serena yang masih berstatus sebagai pasien di rumah sakit tersebut.


Sayangnya, untuk kali ini Julian tak akan memberi celah bagi siapapun membawa kekasihnya jauh darinya. Sekalipun itu dokter, perawat atau bahkan security, Julian tetap akan membawa Serena bersama dengannya.


Serena yang tak bisa berbuat banyak akhirnya hanya bisa pasrah. Serena sadar, perkataannya di dalam kamar tadi telah memicu emosi Julian sampai membuat lelaki itu jadi tak berpikir secara rasional lagi.


"Julian...maaf, aku akan turuti kemauanmu. Tapi tolong, jangan bawa aku kayak gini, kepalaku bener-bener pusing.." Serena tak kuat lagi menahan rasa mual akibat pergerakan Julian yang tak menentu.


Julian mendesah panjang, lalu perlahan menurunkan Serena dan menggendong gadisnya dengan cara yang lebih manusiawi ketimbang sebelumnya.


"Kak, tolong urus kepulangan Serena secepatnya. Dia akan melanjutkan perawatan di rumahku aja," suruh Julian pada Elliot.


Elliot ingin menentang, tetapi niatny urung ketika melihat sorot mata Julian yang tampak sedih dan kosong. Tanpa ditanya pun, Elliot bisa merasakan bahwa memang terjadi sesuatu di antara sepasang kekasih itu.


Mungkin Julian membawa Serena pulang karena tak ingin Serena melakukan hal gila lagi. Itu bisa dimengerti, maka tak ada jalan lain selain menuruti permintaan Julian.


Elliot mengangguk pelan, "Biar aku jelasin ke pihak rumah sakit, pulanglah dulu. Biar aku yang mengurus sisanya."


Julian mengangguk pelan, lalu tanpa banyak bicara menggendong Serena pergi.


...🐾...


...🐾...


Bruk


"Aw- Julian, apa yang kamu-Hmp!" Setelah dijatuhkan ke atas ranjang, Julian menindihi tubuh Serena dan menungkung gadis itu di bawah tubuh besarnya.


Serena yang tak siap menerima ciuman dari Julian berusaha melepaskan diri dari cengkraman kekasihnya.


Tidak, bukan ini yang Serena inginkan.


Jika dirinya membiarkan Julian melakukan apa yang laki-laki itu inginkan, maka tak akan ada jalan keluar dari bagi Serena.


Serena berusaha menendang perut Julian lalu menjambak rambut lelaki itu sekuat yang dia bisa demi menyadarkan kembali akal Julian.


Dhuak


Berhasil. Kaki Serena berhasil mengenai perut Julian. Tapi anehnya, lelaki itu tak bergerak seinchipun dari posisinya semula. Sorot mata Julian semakin menajam. Julian tak suka Serena melawannya, apalagi gadis itu tidak berada di posisi yang bisa membela dirinya atas kesalahan yang diperbuatnya.


"Kamu...segitunya mau pergi dari aku?"


Serena terpaku ketika Julian melontarkan pertanyaan itu. Serena mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Julian yang lebih tinggi darinya.


Ekspresi kekasihnya tampak datar dengan sorot mata yang telah kehilangan binar cahayanya.


Melihat ekspresi Julian yang terluka ini jelas membuat hati Serena berdenyut sesak.


"Maaf..."


"...maaf kalau aku selalu buat kamu kecewa dan sedih...aku merasa nggak pantes jadi orang yang kamu sayangi. Kamu pantes dapetin semua kasih sayang dan cinta di dunia ini, Julian...tapi bukan aku orangnya..Hiks..Aku bahkan nggak becus mengurus hidupku lebih baik lagi, aku cuma bisa ngecewain semua orang. Terus gimana aku bisa mengurus orang lain dengan baik? Aku nggak mau ngecewain kamu, aku nggak mau kehilangan kamu, Julian..."


"Aku...aku takut kamu ninggalin aku suatu hari nanti..."


Pada akhirnya Serena mencurahkan semua unek-unek yang dipendamnya dalam hati. Ketakutan yang bersemayam dalam lubuk hatinya, kegelisahan yang tak berujung dan kegelapan yang berusaha menguasai pikiran serta hatinya. Serena tidak bisa menahan semua emosi itu seorang diri.


Tidak di saat orang yang menjadi sumber ketakutannya ada di depan mata.


Iris mata kecoklatan yang selalu menjadi favorite Julian kini menatap lurus ke matanya dengan berlinang air mata.


"Aku takut kamu ninggalin aku kayak mereka...hiks...Julian, aku takut kamu mencampakanku..." isak Serena dengan air mata yang mengalir deras.


Ini bukan waktunya mementingkan egonya di atas segalanya, Serena butuh dukungan mental dan emosional. Julian menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kasar, begitu terus sampai pikirannya perlahan tenang dengan sendirinya.


Serena yang ketakutan mencoba menahan isakannya yang dirasa mengganggu ketenangan Julian. Dia tidak ingin memicu amarah Julian gara-gara mendengar tangisannya yang memuakkan.


"Jangan ditahan tangisanmu. Keluarin aja, nggak ada siapa-siapa di sini, hanya kita berdua," Julian tidak tega melihat Serena yang menggigit bibir bawahnya, mencoba meredam suara isakan gadis itu.


Ibu jari Julian mengusap bibir Serena yang memerah akibat gigitan kuat gadis itu. Tetapi fokusnya justru terpusat pada luka kering yang ada di sudut bibir Serena.


"Dari mana luka ini?" Itu terlihat seperti bekas sobekan.


Julian yakin sekali insiden kemarin tidak menimbulkan luka ataupun cedera pada bagian tubuh Serena. Lalu dari mana munculnya luka itu?


Lama Julian berpikir, sekejap dia teringat akan noda darah di atas sarung bantalnya waktu Serena pergi.


"Siapa..." Julian mendesis lirih, "Pasti orang itu, benar bukan?" Rahang Julian mengeras, amarah mulai mendidih dalam kepalanya.


"Apa Jasmine yang buat kami terluka?!"


Tapi jika dipikir secara matang, rasanya sedikit mustahil gadis lemah seperti Jasmine sanggup menorehkan luka dalam pada bibir seseorang.


"Apa ayahmu?" Julian menebak lagi.


Tubuh Serena seketika menegang ketika sebutan itu terucap dari mulut Julian.


Ayah? Siapa ayahnya?


Serena tak ingin mengingat wajah orang yang telah melukainya begitu hebat.


Wajah pucat Serena sudah cukup menjawab rasa penasaran Julian. Kedua tangannya mengepal di sisi kiri dan kanan kepala Serena yang masih terbaring di bawah kungkungannya.


Sungguh keterlaluan sekali!


Beraninya orang itu melukai darah dagingnya menggunakan tangannya sendiri! Aahhh..rasanya Julian ingin memotong kedua tangan yang telah menyakiti Serena!


"Ini...bukan apa-apa..ini adalah bukti kalau aku udah dikeluarkan dari keluarga itu...Julian, aku bukan siapa-siapa lagi sekarang..." Serena tersenyum miris menerima nasibnya.


"...sayang.." Julian tak menyangka pertengkaran hebat Serena dengan Jasmine akan berakhir buruk seperti ini.


Tapi itu bukan masalah sama sekali untuk Julian. Jika memang benar Serena dikeluarkan dari keluarga Reinhart, maka dirinya akan membawa Serena masuk ke dalam keluarganya.


"Kalau gitu...kamu harus menjadi bagian dari keluargaku," ucap Julian kemudian.


Mata Serena melebar mendengar penuturan kekasihnya yang tiba-tiba. "Ma-maksudmu?" Entah mengapa ucapan Julian terdengar seperti dirinya akan dipaksa nikah dengan lelaki itu.


Julian tersenyum lebar menanggapi pertanyaan Serena, "Apa lagi? Kita menikah, lalu kita akan memasukkan namamu ke dalam kartu keluarga kita. Nggak bakal ada seorangpun yang bisa menghapus namamu dari kartu keluarga milik kita!"


Menikah...?


Dengan Julian?


"Kalau kamu takut namamu dicoret dari kartu keluarga lamamu, maka kita akan membuatnya yang baru. Di mana di kartu itu hanya akan ada namamu dan namaku, dan anak-anak kita di masa depan. Serena Collin, itu terdengar lebih bagus bagiku."


Mata Serena kembali berkaca-kaca. Julian mengatakan itu dengan wajah teduh dan senyuman lebar yang hangat. Seakan sedang membayangkan bagaimana kehidupan mereka di masa depan sebagai pasangan suami istri.


Tapi apa Serena pantas mendapatkan posisi istimewa itu?


Selama pengasingannya, Serena semakin merasa dunianya berbeda jauh dari Julian. Seolah mereka tinggal di dunia atau mungkin dimensi yang berbeda. Julian adalah seorang pangeran sedari lelaki itu lahir, sementara dirinya? Serena tahu dirinya tak pernah diurus langsung oleh ibu kandungnya sendiri.


Mereka bagaikan langit dan bumi, dan satu-satunya keberuntungan yang Serena punya ketika dirinya mendapatkan Julian sebagai kekasihnya.


Dan sekarang Julian kembali melamarnya?


Apa Serena masih pantas menerima tangan Julian?


"Kenapa diam? Apa kamu nggak suka rencanaku barusan?" Julian sadar Serena lebih banyak diam.


Serena bahkan tak berani menatap lurus ke mata Julian.


"Julian, lihat aku baik-baik..." suruh Serena tiba-tiba.


Julian sudah memandangi Serena sedari tadi, bahkan tanpa disuruh matanya hanya terpusat pada gadisnya seorang.


"Aku yang sekarang nggak punya harta apalagi kekuasaan. Aku nggak bakal bisa membantu menguatkan bisnismu atau lainnya. Aku cuma bawa tubuh ini aja, yang bisa aku persembahin ke kamu cuma hatiku..." Serena menggigit bibirnya lagi.


"Apa kamu...masih mau menerimaku?" Serena bertanya dengan suara amat lirih.


Julian tertawa renyah. Dia pikir Serena akan mendorongnya pergi lagi, tapi ternyata dia keliru.


Julian langsung menjatuhkan beban tubuhnya di atas Serena lalu memeluk tubuh gadisnya seerat mungkin.


"Ughh..sesakkk, Julian!!" Serena tertekan, dia berusaha mendorong Julian supaya menyingkir dari atasnya.


Julian membaringkan tubuhnya di sisi Serena tanpa melepas pelukan mereka. Ketika wajah mereka bertatapan satu sama lain, Julian mencuri satu ciuman pada bibir tipis yang amat dia rindukan.


Ciuman yang begitu lembut dan tanpa paksaan. Seakan keduanya tengah mencurahkan betapa besarnya perasaan satu sama lain.


Ciuman yang menjadi candu bagi keduanya. Baik Serena maupun Julian, tak ada yang berniat mengakhiri cumbuan itu lebih dulu.


"Ngg...Julian..." Serena terpaksa melepaskan tautan mereka karena merasakan tangan Julian merambat ke bagian tubuh lainnya dan itu membuatnya geli.


Seringaian terpatri di bibir Julian yang ikut memerah. Dia sengaja menggoda Serena untuk meningkatkan mood di antara mereka.


Mereka sudah sejauh ini dan suasananya juga cukup mendukung. Julian tak ingin melewatkan momen ini untuk kedua kalinya.


"Sayang..." Julian mencium sebelah pipi Serena, lalu turun ke leher jenjang Serena yang mulus. Perlahan mengecupi daerah yang tampak menggiurkan di matanya.


Serena tidak kuasa menahan geli sekaligus rangsangan yang diberikan Julian.


Apa sudah waktunya?


Serena bukan gadis polos yang tak mengerti ke mana arah kegiatan mereka ini berakhir.


"Kalau kamu belum bersedia, gapapa, aku ngerti. Aku akan menunggumu sampai kamu bener-bener siap. Setelah ini, kita bakal super sibuk sampai beberapa waktu ke depan," ujar Julian, yang berusaha menahan diri.


"Sibuk? Sibuk apa?"


Entah mengapa otak Serena jadi sedikit lemot gara-gara tangan jahil Julian.


"Oh, kayaknya aku lupa ngasih tau kamu. Kita akan menikah akhir tahun ini."


"Ha-APA KATAMU?!"