Mine

Mine
Chapter 76



"Sialan!"


Clara mengumpat ketika membaca di media berita tentang penculikan istri Austin yang berhasil digagalkan oleh polisi. Dan berdasarkan pengakuan sih penculik, mereka dibayar oleh orang asing yang menyuruhnya menculik dan menjual perempuan itu ke sindikat perdagangan manusia untuk dijadikan pelacur.


Dengan marah Clara mengemas pakaiannya, dan kemudian menelepon untuk mendapatkan tiket penerbangan keluar negeri dengan jadwal yang paling cepat. Sayangnya semua penerbangan penuh dan harus menunggu enam jam lagi paling cepat. Para penculik itu diam-diam merekam pembicaraan mereka. Bahkan wajahnya ada dalam rekaman dan terlihat sangat jelas.


Clara mengutuk keras para penculik itu. Sudah dia bayar mahal-mahal, mereka malah mengkhianatinya. Memang tidak becus. Clara sangat panik setelah melihat berita itu, dia bolak-balik mencari ide. Sekarang dia sangat ketakutan dan bingung. Austin pasti tidak akan tinggal diam. Ia tahu lelaki itu sangat kejam. Kalau dirinya tidak segera kabur, Austin pasti akan memasukkannya ke dalam penjara mengerikan itu. Tidak, ia tidak mau. Karena dia tidak bisa keluar negeri sekarang, dia harus segera cari tempat persembunyian.


Sementara itu di rumah Austin, pria itu terkejut dan sangat marah saat mengetahui dalang sebenarnya dibalik penculikan istrinya. Clara! Perempuan sinting itu benar-benar menguji kesabarannya. Dia pikir dia akan lolos begitu saja? Jangan harap. Dia akan menjebloskan wanita itu dipenjara selama mungkin, biar dia tahu rasanya akibat dari mengusik seorang Austin Hugo.


Pandangan Austin berpindah ke dokter pribadi keluarganya yang memeriksa Ainsley.


"Bagaimana dok? Istriku baik-baik saja kan?" tanya Austin mendekati tempat tidur, duduk diatas kasur lalu meraih jemari Ainsley. Tadi gadis itu sempat sadar sebentar, namun kembali menutup matanya.


"Tenanglah. Dia hanya syok. Sebaiknya kau terus menemaninya di sini." jawab dokter bernama Rudi itu. Dokter Rudi mengingat wajah Ainsley. Dulu dia pernah memeriksa gadis itu juga. Baru beberapa bulan lalu. Tapi waktu itu status mereka belum menjadi suami istri seperti sekarang.


Austin mengangguk. Matanya terus menatap sendu ke Ainsley. Ia menyesal sudah berlaku kasar pada gadis itu dua hari ini. Amat menyesal. Waktu mendengar Ainsley diculik, ia merasa dunianya runtuh seketika. Sungguh, ia tidak tahu akan menjalani hidupnya seperti apa kalau sampai dirinya kehilangan Ainsley.


"Aku dengar penculik istrimu sekarang menjadi buronan?" tanya dokter Rudi. Ia menonton berita tadi. Austin mengangguk. Emosinya kembali naik mengingat perempuan sinting itu.


"Tidak butuh waktu lama bagiku untuk menemukannya. Di sudut manapun dia, pasti kutemukan." ucap Austin dengan suara rendah yang penuh penekanan.


"Aku harap kejadian hari ini tidak terjadi lagi. Baiklah, aku pergi dulu sekarang." kata dokter Rudi lagi lalu pamit pergi. Austin melepaskan genggamannya sebentar dari jemari Ainsley dan mengantar dokter Rudi sampai didepan pintu kamar.


"Sampai sini saja. Aku bisa keluar sendiri. Kau temani istrimu saja." ucap dokter Rudi.


"Aku akan menghubungimu lagi kalau ada apa-apa." gumam Austin. Dokter Rudi mengangguk dan berlalu dari depan Austin. Laki-laki itu menutup pintu kemudian berjalan kembali mendekati istrinya.


Austin merasa tubuhnya lelah sekali. Belum pernah ia merasa seperti ini. Seluruh tenaganya seakan sudah terserap habis hanya karena mendengar Ainsley diculik tadi. Ini sudah tengah malam dan dia tidak berpikir bisa tidur.


Hatinya seakan diremas begitu kuat ketika melihat istrinya berbaring dengan mata terpejam. Austin memperhatikan sudut bibir Ainsley yang luka dan wajahnya yang agak lebam. Rahangnya mengeras. Clara dan orang suruhannya itu akan mendapatkan balasan yang setimpal, ia pastikan itu.


Austin duduk di tepi ranjang. Ia tersenyum lemah.


"Sayang," bisiknya pelan. Gadis itu tetap diam tidak bergerak.


"Aku tahu aku sudah menyakitimu. Aku sangat egois, tidak mau mendengar penjelasanmu. Aku salah, maafkan aku Ainsley... Emosiku tadi benar-benar membuat akal sehatku hilang. Aku sadar... Aku sangat mencintaimu, karena itu aku sangat terluka dan marah melihatmu bersama laki-laki lain. Aku..."


Pria itu membelai pipi Ainsley dengan ujung jemarinya


"Aku tidak mau kehilanganmu... Aku sangat mencintaimu Ainsley. Tolong jangan kabur dariku, aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi." Austin mendesah.


Kemudian ia merasakan tangan Ainsley yang sedang ia genggam bergerak. Austin tersentak dan menatap wajah Ainsley. Kelopak mata gadis itu bergerak, lalu perlahan-lahan matanya terbuka. Austin merasa begitu lega. Ia menjulurkan tangan dan menyentuh pipi Ainsley. Gadis itu menoleh lemas dan matanya bertemu dengan mata Austin.


"Kau sudah sadar," kata Austin kepadanya, senyum diwajahnya mengembang. Ia begitu lega, begitu bahagia sampai-sampai ia ingin melompat.


"Bagaimana perasaanmu?"


Ainsley sendiri masih berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi tadi. Ia ingat sore tadi setelah bertengkar hebat dengan Austin, dia langsung memutuskan pergi dari rumah itu. Ia tidak tahu mau pergi kemana dan masuk ke sebuah toko roti. Terakhir, dia ingat ada yang menarik paksa dirinya masuk ke mobil dan membekapnya di tempat yang gelap. Ah, Ainsley ingat sekarang. Dia diculik. Tapi, kenapa dirinya berada di rumah Austin? Pria itu juga tampak begitu khawatir dan senang di saat bersamaan. Apa Austin tidak marah lagi?


Ainsley memandangi pria itu lama. Austin lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Ainsley dan berbisik pelan.


"Aku minta maaf atas semua perlakuan kasarku tadi. Aku yang salah, harusnya aku percaya padamu. Maafkan aku ya? Dan dengarkan baik-baik... kau adalah gadis pertama yang membuatku jatuh cinta. Aku mencintaimu."


Austin tersenyum setelah membisikan kata-kata itu. Ia ingin Ainsley tahu perasaannya yang begitu besar pada gadis itu.


"Tapi kau sudah menyakitiku tadi." gumam Ainsley dengan wajah sedih. Austin membelai wajah Ainsley lagi.


"Aku tahu... Karena itu aku siap menerima apapun hukumanmu. Asal jangan kabur dariku. Itu saja." balas pria itu.


"Bagaimana dengan Alfa? Kau masih mau menuduhku berselingkuh?" Austin akui ia masih tidak senang mendengar istrinya menyebut nama itu.


"Jangan sebut-sebut nama itu lagi." balas Austin.


"Tapi aku harus meluruskan masalah ciuman itu." kata Ainsley bersikeras. Austin menarik nafas panjang lalu memberi Ainsley kesempatan menjelaskan.


Gadis itu bicara panjang lebar. Dan Austin sungguh menyesali tuduhannya ketika mendengar semua penjelasan Ainsley. Dirinya yang salah. Ia lalu naik ke tempat tidur dan berbaring disamping Ainsley. Menarik gadis itu lebih dekat dan memeluknya erat.


"Aku janji tidak akan menuduh sembarangan lagi." gumamnya mengecup singkat dahi gadis itu. Ainsley disampingnya merasa lega. Ia sadar sekarang ini dirinya sangat membutuhkan pria itu. Mereka terus berpelukan seperti itu sampai akhirnya keduanya sama-sama ketiduran.