
Ainsley menghentikan langkahnya di koridor kampus. Sejak masuk gedung itu, entah kenapa ia merasa orang-orang yang dilewatinya terus memperhatikan dan berbisik-bisik dibelakangnya. Apa apa ini? Ada yang salah dengan bajunya? Ada sesuatu yang menempel dibelakangnya? Kenapa dirinya tiba-tiba menjadi perhatian banyak orang dan ia jelas tahu arti tatapan mereka itu seolah merendahkannya. Apa dia berbuat salah? Tapi apa? Gadis itu betul-betul bingung.
"Ainsley!"
suara itu mengalihkan pandangan Ainsley. Dara sedang berlari ke arahnya dengan wajah serius.
"Kau harus melihat mading. Seseorang ingin menjatuhkanmu." bisik Dara yang membuat Ainsley bertambah bingung.
"Seseorang ingin menjatuhkanku? Maksudmu?" tanyanya. Dara tidak menjawab tapi langsung menariknya berjalan ke tempat mading kampus. Disana sudah ada banyak orang yang berkerumun. Mereka langsung bersorak ketika melihat kemunculan Ainsley.
"Kirain polos, eh ternyata ada main sama orang kaya." ucap salah satu gadis yang dilewati Ainsley dan Dara. Nada bicaranya terdengar sangat merendahkan. Ainsley sendiri yang tidak tahu apa-apa hanya menatapnya bingung.
"Dia pasti dibayar mahal tuh." timpal teman gadis yang bicara tadi. Dara menggeram marah. Ia melemparkan tatapan tidak sukanya ke sekelompok orang-orang itu.
"Sadar bu, situ udah bener belom baru jelekin orang." katanya tak tahan lagi. Mereka tidak tahu yang sebenarnya tapi malah dengan entengnya menghina sahabatnya. Fina dan Mira kemana lagi. Di saat genting begini keduanya malah menghilang.
Mata Ainsley melotot sempurna ketika gambarnya terpampang besar-besar di mading kampus. Gambar dirinya yang keluar dari mobil Austin sambil merapikan baju dengan tergesa-gesa. Gambar itu pasti di ambil kemarin. Astaga, kenapa dia tidak hati-hati sih. Ia tidak terpikir sama sama sekali kalau ada yang akan memotretnya. Di bawah gambar itu bahkan ada tulisannya. Ainsley melangkah lebih dekat.
"Wanita simpanannya Austin Hugo, mereka tidak tahu tempat melakukan perbuatan mesum!" Tulisan itu terpampang besar-besar di mading. Simpanan? Ainsley merasa marah. Enak saja dibilang wanita simpanan. Orang dia dan Austin suami istri yang sah secara hukum. Terserah juga dong mereka mau melakukan kegiatan intim itu di mana saja, selagi tidak ada yang melihat. Lagian mobil Austin tidak tembus pandang. Artinya mereka tidak salah apa-apa dong.
Ainsley menutup matanya dalam-dalam. Ia memang tipe gadis yang tidak suka berbuat masalah, tapi kalau ada yang terang-terangan ingin membuat masalah dengannya, ia tidak takut menghadapi mereka. Ia bukanlah seorang gadis lemah yang gampang ditindas begitu saja oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
"Aku tidak seperti itu! Jangan menuduhku sembarangan!" katanya tegas. Sudah cukup dia dengar kalimat-kalimat yang merendahkan dirinya dan caci maki dari orang-orang dibelakangnya itu.
"Huh! Udah ngaku aja, dibayar berapa sama pengusaha kaya itu? Mungkin saja kita bisa membayarmu dengan harga yang sama. Biar kita-kita juga tahu bagaimana rasanya mencicipi tubuh pelacur sepertimu." seru salah satu pria dengan gaya bicara yang amat merendahkan. Yang lain ikut tertawa. Ainsley mengepalkan tangan kuat-kuat. Namun sebelum ia membalas pria yang telah merendahkannya itu, sebuah tinju keras melayang ke wajah laki-laki itu. Sontak suasana makin ramai. Apalagi yang meninju pria itu adalah Alfa. Salah satu mahasiswa yang paling berpengaruh di kampus. Yang terkenal dengan latarbelakang keluarga yang baik dan banyak membawa penghargaan buat kampus itu.
Wajah Alfa terlihat sangat marah. Ia memang kaget melihat berita tentang Ainsley di mading. Perasaannya campur aduk, tapi ia tidak terima ada orang yang berani merendahkan gadis yang dia sukai itu.
"Sekali lagi kau merendahkan Ainsley, aku tidak akan segan-segan menghabisimu sekarang juga." ancam Alfa. Pria itu terdiam. Ia berdiri dibantu salah satu temannya. Pandangan Alfa berpindah ke yang lain.
"Bubar semuanya!" serunya tegas. Perintah itu terdengar tidak bisa dibantah sama sekali. Bahkan Rumi yang ada diantara mereka merasa kesal. Ia pikir Alfa akan jijik saat tahu berita tentang Ainsley, tapi pria itu malah menempatkan diri sebagai pangeran penolong gadis murahan itu. Rumi yakin sekali Ainsley memang melakukan sesuatu yang tidak-tidak dengan Austin di dalam mobil.
"Sayang, kok kamu belain dia sih? Kan udah terbukti kelakuannya gimana." rengek Rumi bergelayut manja di lengan Alfa, namun lagi-lagi Alfa melepaskan tangan gadis itu hingga Rumi makin kesal. Ia melemparkan tatapan permusuhannya pada Ainsley, sedang Dara yang berdiri disamping Ainsley berlaku seperti pengawal gadis itu yang akan selalu siap kalau ada yang berani menindasnya. Alfa menatap Ainsley serius.
"Ainsley, kita perlu bicara karena masalah ini terjadi di kampus. Kau perlu menjelaskan pada kami semua." kata Alfa serius. Ainsley mengernyitkan mata. Kami semua?
"Kau masih termasuk dalam panitia event. Teman-teman yang lain butuh dengar penjelasanmu untuk mempertahankanmu sebagai panitia event.