Mine

Mine
Kamu Berharga



"DIONN!!!"


Brak


Dion terjingkat kaget dari duduknya, ketika pintu kamarnya dibuka dengan keras oleh seseorang dari arah luar.


Kedua mata Dion perlahan membulat, begitu melihat siapa gerangan yang mengunjunginya dengan begitu heboh.


Ternyata itu Serena.


"Wah! Beneran kamu ada di sini! Gimana kabarmu? Baik 'kan?!" Serena kelewat antusias sekarang. Gadis itu bahkan mengacuhkan Julian yang cuma memasang muka datar melihat interaksi Serena dengan Dion.


Dion yang tak sempat menjenguk Serena sontak memeriksa kondisi tubuh gadis itu dari atas sampai bawah, memastikan bila kecelakaan kecil yang menimpa Serena tidak meninggalkan bekas.


"Kamu-kondisimu baik 'kan? Apa ada yang luka waktu itu?!" Dion bangkit dari duduknya. Ini kesempatan yang dia tunggu-tunggu, untuk dapat bertemu kembali dengan Serena.


Dion mungkin sudah mendengar insiden yang dialaminya melalui Julian atau anak buah Julian yang berjaga, maka Serena tak heran lagi kalau Dion sudah mengetahui semuanya.


Serena tersenyum kecil, lalu mengusap sebelah pipi Dion yang tampak mengkhawatirkan keselamatannya.


"Aku udah baikan. Nggak ada luka berat sih, cuma agak trauma aja gara-gara dikejar orang-orang sangar itu. Mereka nyariin kamu, tapi dengan liciknya mereka mau jadiin aku sandera buat mancing kamu keluar," Serena mendengus kesal.


Dion merasa sangat bersalah telah melibatkan Serena ke dalam lingkungannya yang penuh bahaya. "Maaf ya...gara-gara aku, kamu jadi ngalamin hal yang nggak mengenakan gitu. Aku akan mencari tau semua tentang orang-orang itu sampai ke akar-akarnya, dan membalaskan perbuatan mereka ke kamu. Aku janji itu."


Ekspresi Dion tampak marah dan menyimpan dendam. Entah ini pertanda buruk atau justru sebaliknya. Namun terlepas dari itu, Serena ingin memendam dalam-dalam ingatan buruk itu dalam pikirannya agar tidak mengganggu kestabilan mentalnya lagi.


"Izinkan aku duduk ya..." Serena tiba-tiba merasa sedikit lelah.


Buru-buru Dion menggeret satu kursi yang tadi dia tempati untuk Serena duduki. Julian juga tak ingin ketinggalan, lelaki itu berjalan mendekati kekasihnya lalu mengusap lembut punggung Serena dengan penuh perhatian.


"Makanya aku bilang jangan lari, kakimu capek 'kan," omel Julian kemudian. Bagaimana Serena tidak merasakan lelah, gadis itu berlari menuju lantai tiga bangunan tempat Dion tinggal sekarang. Wajar kaki Serena akhirnya gemetar karena kelelahan.


Serena cuma bisa menunjukkan cengiran bodohnya. Ya, itu karena dirinya terlalu antusias hendak berjumpa kembali dengan Dion, jadi tanpa sadar kakinya berlari agar cepat sampai.


"Sorry, aku cuma bisa nawarin kamu air putih," Dion datang dengan membawa segelas kecil berisi air putih. Hanya ada segalon air putih di sana, jadi itu yang bisa Dion tawarkan untuk menyambut tamu dadakannya.


Pandangan Serena menyebar ke sepenjuru ruangan Dion. Serena baru menyadari bila tak banyak perabotan di dalam ruangan minimalis itu. Bangunannya juga tampak seperti bangunan tua yang lebih didominasi dengan kayu. Benar-benar tempat yang cocok untuk mengurung seorang 'sandera' di dalamnya.


Lantas Serena memberikan lirikan tajam nan penuh peringatan pada kekasihnya yang pura-pura tak melihat ke arahnya.


"Selen-ah, maksudku Serena..itu nama aslimu ya?"


Serena sampai lupa hendak memperkenalkan nama aslinya kepada Dion. Lalu kepalanya mengangguk membenarkan, "Iya. Namaku Serena-" Ada jeda ketika Serena hendak mengucapkan nama panjangnya. Di satu sisi, Serena tak ingin lagi menggunakan nama keluarga yang telah menelantarkan dirinya, "Panggil aja aku Serena...yah, untuk sementara waktu ini," sambungnya, dengan senyuman kecut terukir di bibir.


'Bukannya dia juga berasal dari Reinhart? Kenapa nggak sebutin nama panjangnya sekalian?' Dion membatin penasaran, namun kemudian ingatannya berputar ke belakang, di mana Serena pernah curhat kepadanya tentang buruknya hubungan gadis itu dengan keluarganya sendiri.


'Bener juga. Kalau aku jadi Serena, aku juga mana sudi menjadi bagian dari keluarga sampah kayak gitu. Bagus kalau Serena berniat menjauhkan diri dari mereka,' Dion membatin lega. Bagus kalau Serena tak lagi menggantungkan harapannya untuk keluarga sampah yang telah melukai hati gadis sebaik dia.


"Kalau gitu sama, kamu bisa panggil aku Dion. Aku nggak punya nama belakang, sedangkan nama depanku-" Mulut Dion seketika terkunci dan lidahnya terasa kelu untuk berbicara.


"Nama depanku..." Dion tidak suka menyebutkan nama depannya. Nama yang selalu dipergunakan oleh ibu kandungnya ketika memanggil dirinya.


Dion menggigit bibir bawahnya, seakan tidak ingin memberitahu siapapun tentang nama lengkapnya yang hanya terdiri dari dua kata.


Bukannya Dion membenci nama lengkapnya, hanya saja nama itu mengingatkan Dion pada ibu kandungnya yang telah lama meninggal. Perasaan Dion selalu jadi sesak setiap kali mengingat kenangan bersama ibu tercintanya.


Serena dapat melihat ekspresi kesakitan di wajah Dion. Mungkin Dion tidak ingin membuka dirinya secara penuh karena ingin melindungi perasaannya yang sedari awal sangat rapuh.


Dion lega Serena tak mendesaknya untuk berterus terang. Dion merasa tidak enak, tapi dia tidak ingin sembarangan orang menyebut nama depannya selain ibunya sendiri.


Julian seperti melihat orang yang sama. Baim Dion maupun Serena, kedua orang itu berbagi nasib yang sama; menderita karena sikap orang dewasa yang bahkan tak pantas disebut sebagai orang tua.


Serena meraih tangan Dion yang terkulai lemah. Menggenggam tangan besar itu dengan erat seakan sedang membagi keberaniannya.


"Aku tau kamu mungkin nggak setuju dipertemukan denganku ataupun Caesar yang mengalir darah Reinhart dalam nadi kami. Tapi bagiku, kamu udah menjadi bagian dari keluargaku. Keluarga yang kupunya sejauh ini cuma Caesar, kedua orang tua Caesar...dan juga kamu," ujar Serena pada Dion yang tertegun mendengar penuturan dari gadis itu.


Seakan tak percaya, Dion memandang Serena dengan nanar, "Aku? Kita baru ketemu belum lama ini, gara-gara aku juga kamu jadi mengalami hal yang traumatis, kenapa kamu percaya begitu mudah padaku?"


Ya, kenapa? Bagaimana bisa?


Pertanyaan itu berputar dalam benak Dion. Dasarnya mereka itu hanyalah orang asing yang tak saling kenal, tahu eksistensi satu sama lain pun juga tidak, andaikata mereka tidak pernah berjumpa di jembatan waktu itu.


"Justru karena itu!" Senyum terbit di bibir cerah Serena, "Karena kita dipertemukan secara nggak sengaja di jembatan waktu itu, aku terus memikirkan kalau semua yang telah terjadi udah menjadi bagian dari takdir kita, mungkin."


"Meskipun kita orang asing, tapi kamu nggak pikir panjang buat menyelamatkanku bahkan menolongku. Sebenarnya kalau boleh jujur, sedari awal aku merasa nyaman aja sama kamu, walau kadang sikap sama penampilanmu nyeremin kayak preman, tapi anehnya aku nggak pernah takut sama kamu. Justru aku pengen lebih dekat lagi sama kamu, dan membalas kebaikanmu yang udah banyak membantuku," ungkap Serena.


"Dan sekarang, di saat aku mengkhawatirkan keselamatanmu, aku justru menerima laporan yang nggak pernah kusangka-sangka. Kalau memang benar kita sepupu, aku jauh merasa tenang dan senang. Dion, kebaikanmu selama ini sama sekali nggak dibuat-buat, atau pun menyimpan motif terselubung. Hubungan yang alami dan sehat kayak gitu, yang selama ini aku inginkan di keluargaku..." Senyuman Serena sedikit kehilangan warnanya.


"...setiap kali aku merindukan keluargaku, aku jadi teringat sama wajahmu. Wajahmu mirip sama kak Caesar, begitu juga sama gaya bicara dan sikapmu. Tanpa sadar aku jadi lebih banyak mengandalkanmu. Maaf ya.." Serena tertawa kecil ketika mengingat saat-saat berat itu.


Kehadiran Dion seolah menggantikan kekosongan yang ditinggalkan keluarganya dan juga Caesar yang tak dapat dia hubungi.


Sedikit tidak terima sih disamakan dengan orang lain, namun Dion tak mau menampik perasaan senang yang menghangatkan hatinya.


Ternyata eksistensinya tampak berarti di mata Serena. Ini pertama kalinya bagi Dion, ada seseorang yang menganggap keberadaannya itu nyata dan berarti selain ibunya.


"Gitu ya? Aku rasa diriku ini nggak buruk-buruk amat 'kan?" Dion menyengir lebar. Ucapan Serena sedikit meningkatkan kepercayaan dirinya.


Julian tersenyum tipis melihat interaksi Dion dan Serena yang mulai terlihat santai dan tak lagi canggung dan kikuk.


"Maaf menyela obrolan hangat kalian, tapi Serena, apa kamu nggak mau beritahu Dion soal rencana kak Caesar?" Julian terpaksa memotong percakapan sang kekasih sebelum gadis itu melupakan tujuan awal kedatangan mereka.


"Oh, bener juga! Untung kamu ingatkan aku! Makasi ya, sayang~" Serena tersenyum manis pada Julian.


Sisi manja dan energik Serena yang baru kali ini Dion lihat tampak sangat asing bagi lelaki itu. Serena bak menjelma jadi sosok lain yang tak Dion kenal, karena Serena yang Dion tahu itu cukup pendiam dan agak suram.


Serena berdeham sekali, jujur, dia sedikit gugup sekarang. Serena takut Dion menolak mentah-mentah ide yang telah Caesar susun untuk mereka berdua di masa depan.


"Sebelumnya...kak Caesar udah pernah membahas soal ayah biologismu 'kan?" Serena bertanya lebih dulu pada Dion.


Yang kemudian di balas anggukan kecil, "Apa ini ada kaitannya dengan si b*ajingan itu?" Nada bicara Dion terdengar tak bersahabat.


Serena mengangguk ragu. "Dion...andai...andai suatu saat nanti kak Caesar berniat memperkenalkanmu secara resmi di hadapan seluruh anggota keluarga besar Reinhart, apa kamu bersedia ikut dengan kami?"


Pertanyaan yang lagi-lagi tak terduga. Membahas si 'ba*jingan' itu saja sudah cukup memicu emosi Dion, apa lagi ini ingin memperkenalkan Dion di hadapan seluruh anggota Reinhart?!


Dion rasa Serena dan Caesar sudah mulai gila.


Karena pada hakekatnya, anak h*aram seperti dirinya tak akan ada yang bersedia menampung. Dion cukup tahu diri untuk tidak berharap banyak. Sudah cukup dirinya kehilangan orang yang paling berharga di hidupnya gara-gara si b*ajingan itu, Dion tak mau lagi kehilangan siapapun.


Tidak lagi.