Mine

Mine
Terbongkar



Dhuakk


Dion tersungkur tak berdaya setelah pipinya mendapat bogeman mentah dari seorang pria tak dikenal yang tiba-tiba menyeretnya keluar dari klub.


"Uhuk!" Dion meludah ke tanah, begitu mulutnya mengecap rasa asin besi keluar dari sela gigi bagian dalamnya.


"Bangun. Kau pikir ini akan berakhir sekali saja?" Pria berbadan kekar dan berkepala plontos itu berjalan dengan gagah menghampiri Dion yang masih tak bergerak pada posisinya.


Pipinya terasa nyeri, Dion yakin besok pasti akan membekas lebam kebiruan pada sisi wajahnya.


"Br*engsek! Kau pikir kau siapa berani main pukul sembarang orang, huh?!" Dion menggertak marah. Dia bahkan tak merasa berbuat salah apa-apa tapi tiba-tiba dia didatangi beberapa orang berbadan tinggi besar lalu menyeretnya dan memukulnya tanpa sebab.


Dion kesulitan membela diri dikarenakan satu kakinya masih terasa sakit bila terlalu banyak digerakkan, akibat luka yang diterimanya sewaktu kecelakaan kemarin. Dion pikir tubuhnya baik-baik saja, ternyata terdapat lebam di kakinya yang baru terasa begitu dia diperiksa oleh seorang dokter kenalannya.


"Tidak usah banyak bicara. Ternyata keahlianmu tak sesuai dengan reputasimu, dasar baji*ngan cilik."


Dion tersinggung. Reputasinya telah direndahkan dan dipandang sebelah mata oleh pria sangar di depannya itu, padahal semua orang di distrik itu mengenal dirinya sebagai jagonya berkelahi.


"Huh, aku bahkan tidak merasa punya urusan dengan kalian. Bagaimana mungkin aku bisa sembarangan membalas? Sebelum kau memukulku lagi, beritahu aku, apa kau punya urusan denganku?" Dion menyeringai remeh.


Pria bernama Steven itu langsung menambahkan satu pukulan keras di muka Dion yang tampak menjengkelkan.


Dhuakk


Dion kembali terkulai di atas tanah. Sial, kondisinya sekarang sama sekali tak menguntungkan. Apabila dirinya banyak melawan, bisa habis nyawanya di tangan pria asing itu malam ini.


"Uhuk! Aku menyerah," ucap Dion pada akhirnya, sambil mengangkat kedua tangan ke atas.


"Aku terlalu rapuh untuk melawan kali ini, jadi katakan saja yang sejujurnya, ada urusan apa sampai kalian datang lalu menghajarku tanpa ampun begini?" Dion sengaja menyerahkan diri sebab dia ingin mengetahui siapa orang dibalik penggrebekan ini.


Steven menengok kepada salah satu rekannya yang berjaga. Seolah berkomunikasi melalui telepati, masing-masing di antara mereka mengangguk secara serempak.


"Anggap saja ini untuk menebus dosamu, karena kau telah menjerat seseorang ke dalam urusan busukmu," jawab Steven, yang membuat otak Dion berpikir keras.


"Menjerat seseorang? Siapa?" Dahi Dion mengkerut tak mengerti.


Dion merasa semua bisnisnya berjalan baik dan tak ada masalah apa-apa selain kecemburuan musuhnya atas kelancaran usahanya. Dia bahkan bekerja sendiri, yah..walau ada beberapa rekannya yang bersedia membantunya tanpa diminta.


Terlepas dari itu, Dion tak merasa pernah melakukan hal kejam seperti menjerat seseorang secara paksa untuk ikut bergabung dalam bisnis yang dia kerjakan.


'Menjerat seseorang? Siapa? Apa maksud perkataan orang ini sih?' Alis Dion menekuk kesal lantaran belum bisa menemukan jawaban yang cocok.


Lalu Steven kembali menambahkan, "Karena kelalaianmu, kau nyaris menghilangkan nyawa orang yang tidak berdosa. Mestinya kau tidak usah dekat-dekat dengannya, kemunculanmu hanya akan menjadi parasit yang merugikan," ujarnya, dengan sorot mata gelap seolah hendak memakan Dion hidup-hidup.


Jujur, aura yang dipancarkan oleh orang-orang yang mendatangi dirinya ini terasa sangat berbahaya dan mengintimidasi. Baru kali ini Dion merasakan tekanan yang dasyat dan membuatnya powerless seperti sekarang. Dion benar-benar terpojokkan sekarang, bahkan rekan-rekannya tak ada satupun yang berani menyelamatkannya, padahal mereka melihat sendiri dirinya diseret keluar dengan begitu kasar.


Biasanya rekan-rekan Dion pasti akan menolongnya dengan cepat, siapapun lawan dan musuh yang mendatanginya secara tak terduga. Namun kali ini tak ada seorangpun yang datang menyelamatkannya, Dion yakin sekali rekan-rekannya pasti sudah ditaklukkan oleh kawanan pria berkepala plontos ini.


"Sayang sekali aku tidak bisa meremukkan wajah tampanmu yang berharga itu, anak muda. Kami masih harus membawamu ikut bersama kami setelah ini," Pria lainnya yang menyandar pada dinding klub memberitahu.


"Berdiri. Kakimu masih berfungsi dengan baik 'kan?" titah pria berwajah lonjong itu pada Dion.


Dibandingkan pria yang memukul wajahnya tadi, Dion dapat merasakan aura pembunuh berdarah dingin pada pria kurus dengan coat hitam panjang yang membalut tubuh tingginya itu.


Karena Dion masih sayang nyawa, dia menuruti perintah orang-orang itu tanpa perlawanan keras.


Tangan Dion diborgol oleh Steven sebelum membawa Dion ke dalam mobil sedan hitam yang sudah menunggu kedatangan mereka.


Dion mengikuti tanpa suara. Matanya terus waspada memperhatikan situasi sekitarnya. Dalam hati Dion bertanya-tanya, dari organisasi mana orang-orang itu berasal dan apa tujuan mereka membawanya ikut pergi bersama mereka.


Mobil yang membawa Dion terus melaju kencang menuju ke pinggiran kota yang lebih sepi dan jarang penduduknya.


Bulu kuduk Dion mendadak meremang, pikiran negatif perlahan mendominasi otaknya. Dion berpikir keras menemukan cara untuk menyelamatkan dirinya dari cengkraman para mafia asing tersebut.


Tanpa sadar mobil berhenti di sebuah bangunan tinggi yang sudah gelap tak beroperasi.


"Turun, dan ikuti kami tanpa suara," Pria kurus itu mengkode Dion untuk bergegas mengikutinya dari belakang.


Dion berjalan di tengah kedua anak buah mafia itu dengan tangan yang masih di borgol di belakang.


Gedung itu ternyata sebuah perkantoran yang tak Dion kenal sebelumnya. Lantainya cukup banyak dan gedungnya cukup tinggi, tapi anehnya di dalam sana sangat sepi seperti tidak ada satupun orang yang berjaga di sekitar.


Hawa dingin nan mencekam membuat andrenalin Dion semakin terpacu. Antara takut dan cemas, tetapi Dion berusaha bersikap setenang mungkin dan mengamati situasi yang ada terlebih dahulu.


Lalu Dion di bawa menuju ke lantai atas, menggunakan lift yang untungnya masih berfungsi dengan baik.


Tak ada satupun di antara mereka bertiga yang membuka mulut, bahkan suara hembusan nafas mereka dapat terdengar begitu jelas.


Ting


Lift berhenti tepat di lantai 8. Pria berkepala plontos mendorong pelan punggung Dion dari belakang untuk segera maju dan keluar dari dalam.


Tok tok


"Kami sudah membawa target dengan aman, tuan muda," Pria kurus itu mengetuk pintu berdaun dua yang berdiri kokoh dan angkuh.


Firasat Dion semakin tak enak. Apalagi mendengar sahutan dari dalam ruangan di depannya, jantung Dion semakin berdetak cepat dan membuatnya luar biasa gugup.


Steven kembali mendorong paksa Dion yang justru terpaku di tempatnya berdiri.


"Bersikaplah sopan, maka nyawamu akan aman," Steven berbisik pelan pada Dion, sebelum menyingkir dari hadapan si boss yang duduk di balik kursi kebesarannya.


Dion meneguk ludahnya kasar. Dion tak tahu bagaimana harus membela diri, guna menyelamatkan hidupnya dari ancaman orang-orang berbahaya itu. Dia sendiri saja tak tahu kesalahan apa yang telah dia lakukan.


Perlahan kursi tinggi berwarna hitam itu berputar, menghadap ke arah Dion yang dipaksa membungkukkan badan untuk memberi penghormatan bagi sosok yang disebut Boss muda itu.


"Lihat serangga ini. Masih punya muka rupanya," sindir lelaki bersurai silver, dengan seringaian tipis yang tampak muak.


Dion mengangkat wajahnya, sesaat dia terpesona melihat ketampanan yang terpancar dari lelaki yang duduk di kursi tinggi di depannya.


"Kau-siapa kau? Apa seseorang memberimu misi untuk segera menghabisi nyawaku?" sarkas Dion.


Julian menyeringai lebar bak seorang iblis, dia tidak pernah menunjukkan sisi gelapnya pada Serena, karena selama ini Julian selalu berusaha menunjukkan sisi baiknya kepada sang pujaan hati agar Serena tidak takut lalu kabur darinya.


"Misi? Huh! Hal murahan seperti itu bukanlah kesukaanku. Aku lebih suka mengurus segala sesuatu di mulai dari awal dan perlahan," Julian mengangkat bahunya acuh. Lalu dia kembali menambahkan, "Kita belum berkenalan sebelumnya. Sebelum kita masuk sesi eksekusi, akan lebih baik apa bila kita saling mengenal satu sama lain, bukan begitu?"


Sorot mata Julian menyiratkan sebuah dendam yang begitu besar, Dion makin bertanya-tanya kesalahan apa yang telah dia perbuat dan dilimpahkan padanya.


"Nah, mari kita mulai perkenalan kita. Mungkin kau sudah sering melihat mukaku terpampang di layar televisi. Namaku Julian, Julian Edward Collin. Senang akhirnya kita bisa berhadapan satu sama lain, tuan muda Dion," Senyum tipis penuh makna Julian berikan pada Dion.


"..dan jangan coba-coba mengarang identitasmu di depanku, tuan muda Dion, karena aku sudah melakukan investigasi secara menyeluruh dan valid tentang identitasmu yang sebenarnya."


"Aku tak menyangka akan menangkap ikan-ikan berharga di lautan, dan karena aku pikir aku akan membutuhkanmu ke depannya nanti, maka aku akan membiarkanmu hidup untuk sementara waktu...


"...bagaimana menurutmu, tuan muda Reinhart...?"