
"Gila! Kau mau botakin rambutku atau gimana sih!? Sakit banget tau!"
Serena masih memelototkan kedua matanya pada Dion yang tak henti-hentinya mengaduh kesakitan gara-gara jambakan kuat Serena sebelumnya.
Teman-teman Dion berusaha menahan tawa mereka agar tidak meledak detik itu juga, siapa yang menyangka akan menyaksikan reaksi lucu Dion yang begitu menggelikan hanya karena sebuah jambakan semata.
Oh, ralat-sepertinya jambakan Serena memang cukup kuat untuk ukuran gadis sekurus dia, mulai dari sekarang Dion tidak akan meremehkan tenaga gadis itu sebelah mata, atau kepalanya akan benar-benar botak di tangan Serena.
"Sakit banget! Si*alan ya kalian! Bukannya nolongin malah lihatin doang!" Dion menunjuk kesal ke arah teman-temannya yang pura-pura tidak melihat ke arahnya.
Serena yang masih diselimuti rasa kesal hendak beranjak pergi dari tempat itu sebelum Dion semakin macam-macam kepadanya.
"Dion, pacarmu mau kabur tuh," Hingga seseorang melapor pada Dion setelah melihat gerak-gerik Serena yang mencurigakan.
Dion menengok dengan cepat, alisnya kembali menekuk begitu melihat tangan Serena sudah meraih gagang pintu ruangan, hendak keluar secara diam-diam darinya.
Langkah kaki Dion di bawa mendekat, susah payah dia membawa gadis itu ke mari, Dion tak akan memperbolehkannya pergi begitu saja sebelum menolongnya.
Lantas Dion mendekat, pura-pura memeluk Serena dari belakang agar kelihatan seolah sedang menahan gadis itu kabur darinya. Bibirnya mendekat ke telinga kiri Serena, dengan suara amat lirih berusaha menjelaskan situasi yang tengah mereka hadapi secara cepat, "Bantu aku sekali, aku bakal lakuin apapun permintaanmu. Please, kali ini aja, berpura-puralah jadi pacarku biar mereka membiarkanku pulang," bisiknya pada Serena. Dia berharap Serena dapat membantunya meski mereka hanyalah dua orang asing yang berjumpa secara kebetulan.
Serena berpikir serius, sekarang misinya adalah pergi ke tempat sejauh mungkin dan menghindari orang-orang kiriman Julian atau mungkin keluarganya untuk mencari keberadaannya. Mungkin Dion bisa membantunya mencari tempat persembunyian yang strategis di sekitar sini.
Lagipula Dion kelihatan cukup dapat dipercaya, setelah bergulat dalam pikirannya, Serena mengangguk ringan menyetujui tawaran Dion.
"Awas kalau kamu nggak menepati janjimu, akan kugunduli rambutmu sampai ke akar-akarnya," bisikan Serena terdengar halus namun mematikan, bulu kuduk Dion sampai berdiri mendengar ancaman yang diberikan gadis itu.
"Jangan pergi dulu, kita bahkan belum menikmati wine termahal di sini. Katanya kamu mau coba?" Tiba-tiba Dion bertanya sambil memamerkan senyum lima jarinya pada Serena.
Lelaki itu lebih dulu memulai akting mereka tanpa aba-aba, Serena yang masih loading berusaha menyusun skenario terbaik yang bisa digunakan dalam situasi mendesak seperti saat ini.
Sial*an! Bahkan Serena yang cukup cuek terhadap laki-laki tetap bisa tergoyahkan begitu melihat senyuman maut yang dipancarkan Dion.
Ughh...Serena merasa pilihannya ini merupakan kesalahan yang besar.
"A-aku mau cari angin dulu. Di sini terlalu pengap..ba-bau rokoknya-" Serena mencari alasan yang sekiranya masuk akal. Memang iya, dia tidak betah tinggal dalam suatu ruangan yang terkontaminasi bau rokok dan sejenisnya.
Senyum Dion perlahan memudar, matanya melirik ke salah satu temannya yang baru saja mematikan puntung rokoknya di asbak atas meja.
"Ahh~ Kamu benar. Di sini terlalu banyak polusi. It's okay, kalau gitu kita pindah ke ruangan lain aja. Aku juga mau cari tempat yang lebih sepi dan tenang biar bisa berduaan sama kamu," ujar Dion tiba-tiba, sambil merangkul erat pinggang Serena.
Serena yang sama sekali tak siap hanya mengikuti akting Dion dengan pasrah dan canggung.
Bukan ini yang Serena maksud dengan mencari ketenangan dan memulihkan diri! Yang ada justru akan menambah perkara yang semakin membuat hidupnya rumit saja! Arrghh! Serena ingin meremas muka Dion sekarang juga!
Setelah berpamitan pada teman-temannya, akhirnya Dion berhasil membawa Serena keluar dari ruangan tersebut.
Serena pikir dirinya bisa bernafas lebih lega, tetapi hatinya kembali tidak tenang ketika Dion menariknya masuk ke ruangan lain yang tak kalah luasnya dari ruang sebelumnya. Bedanya, ruangan tersebut lebih terang dan udara di dalamnya lebih bersih ketimbang yang satunya.
"Hh...akhirnya aku bisa bernafas lega..." Serena bersandar pada daun pintu yang tertutup.
Dion berjalan menuju kaca besar yang memperlihatkan kemewahan serta keramaian klub di lantai bawah.
"Sesuai janjiku tadi, karena kau udah bantuin aku, jadi aku akan membantumu juga. Kau bisa katakan apa permintaanmu," Dion langsung masuk ke perjanjian mereka.
Serena belum memikirkan tujuannya sampai sejauh mana, tapi yang pasti, dirinya harus mencari tempat tinggal yang harga sewanya terjangkau, sebab dia masih harus menghemat pengeluarannya seketat mungkin.
Dion yang sudah duduk di sofa panjang merah maroon di sana diam seraya menatap lekat Serena yang masih berdiri di belakang pintu.
"Aku sengaja nggak bertanya soal kondisimu sewaktu kita bertemu pertama kalinya, tapi kayaknya kau sedang melarikan diri. Benar bukan tebakanku?" Dion melontarkan spekulasinya setelah memperhatikan penampilan Serena lebih teliti.
Wajah gadis itu terlihat bengkak, bahkan terdapat luka lebam kebiruan di sudut bibir gadis itu. Apa gadis itu habis berkelahi dengan seseorang?
Suasana di dalam ruangan tiba-tiba hening dan canggung. Dion menunggu jawaban Serena, sementara Serena masih menyusun jawabannya supaya Dion tidak menaruh curiga.
"Kau lihat wajahku sekarang? Ini aku dapatkan dari orang terdekatku. Mereka telah mengusirku pergi, jadi aku berkelana gatau harus ke mana sampai aku berhenti sebentar di jembatan untuk mengistirahatkan kaki," jelas Serena kemudian.
"Orang terdekatmu? Orang tuamu? Atau mungkin pacarmu?"
Pacar?
Serena jadi teringat kembali pada Julian. Dia bahkan sengaja meninggalkan ponselnya di rumah Julian karena takut dilacak menggunakan GPS. Lagipula Serena tidak ingin berkomunikasi dulu dengan orang-orang itu, dia ingin menyendiri dulu sampai kepercayaan dirinya kembali pulih.
Tanpa sadar ekspresi Serena berubah muram ketika membahas soal orang tua, sahabat, serta kekasihnya. Serena tentu akan merindukan orang-orang itu, mau sejauh apa dia mencoba menjauhi mereka, mereka tetap mempunyai ruang khusus dalam hati Serena.
Tapi untuk sementara waktu, Serena hanya bisa menyimpan rapat-rapat kerinduan hatinya.
"...oke, aku akan carikan tempat tinggal sesuai permintaanmu. Tapi dengan syarat yang kau ajukan, sepertinya hanya bisa menyewa rusun jelek di pinggiran kota," kata Dion.
Serena mengangguk ragu. Yah, ini 'kan hanya sementara saja, tak selamanya dia akan tinggal di tempat itu. Toh Serena sudah bertekad akan pergi berkelana ke tempat-tempat lain juga di dalam kota.
"Oke, nggak masalah. Toh aku nggak bakal lama tinggal di sana," Serena menjaaab seyakin mungkin.
Dion mengernyitkan alis, mendengar kata-kata Serena barusan. Memangnya gadis itu berencana pergi ke mana lagi?
Entah mengapa Dion merasa harus mengawasi gadis itu.
"Kita belum berkenalan sebelumnya, namaku Dion, panggil aja kayak gitu," Dion lebih dulu memperkenalkan dirinya. Bahkan lelaki itu tak ambil pusing soal nama lengkapnya.
Serena sudah memutuskan untuk menggunakan nama samaran terlebih dulu, setidaknya sampai dia benar-benar yakin kalau Dion adalah orang yang dapat dipercaya.
"Kalau gitu, kau bisa panggil aku Selena."
'Selena...' Dion mengeja nama samaran Serena sambil memandang lekat gadis bersurai kecoklatan itu.
Kini, tinggal mengurus beberapa hal lain yang tak kalah pentingnya.
"Apa kau tau salon murah di sekitar sini?" Serena bertanya pada Dion.
Dion berpikir sejenak, "Tau. Kenapa?"
Serena tersenyum samar, kemudian menyentuh ujung rambutnya yang mulai bercabang dan tak terawat.
"Ingin membenahi rambut dulu. Bisa tolong antar aku?"
Senyuman tipis Serena sangat sulit ditolak oleh Dion. Baru kali ini Dion melihat sebuah senyuman yang terlihat polos dan lemah lembut. Seolah-olah gadis itu meminta bantuannya dengan hati yang tulus, tanpa ada motif terselubung.
Tanpa sadar Dion mengangguk mengiyakan. Padahal niat awalnya, Dion berencana meninggalkan gadis itu di sini setelah urusan mereka selesai. Anehnya Dion tidak bisa melangkah pergi dan membiarkan gadis bernama Selena ini seorang diri.
"Oke. Kita pergi sekarang aja kalau gitu."