Mine

Mine
Chapter 59



Narrel mengajak Iren makan di pinggiran Kota itu. Hampir dua minggu ini ia memperhatikan asistennya itu masih tampak uring-uringan. Sering tidak fokus bekerja dan kadang akan mengunci dirinya lama-lama di toilet. Saat keluar toilet, Narrel selalu memperhatikan mata wanita itu bengkak. Kadang Narrel merasa Iren adalah wanita yang bodoh karena terus-terusan menangisi mantan pacarnya yang brengsek itu. Padahal sudah jelas-jelas diselingkuhin. Dan entah apa yang terjadi dengan dirinya hari ini, ia malah mengajak Iren makan siang ini. Padahal di siang hari seperti ini, lelaki itu biasanya makan bersama Austin. Tapi karena kasihan pada Iren yang terlalu terpuruk, ia tiba-tiba ingin mengajaknya makan dan ngobrol. Itulah alasannya mereka berada di sini sekarang.


Restoran ini adalah restoran langganan Narrel. Ia sering makan di restoran ini dengan Austin. Suasana tempatnya cukup umum, sedikit ramai dan tidak eksklusif. Cocok untuk mengajak rekan kerja seperti Iren.


Iren duduk masih lengkap dengan pakaian kerjanya, melirik ke orang-orang yang berkumpul di meja lain sambil tertawa riang menikmati makanan mereka. Sebenarnya ia ingin menolak ajakan atasannya tadi. Jarang sekali Narrel mengajaknya makan berdua begini dan ia merasa canggung. Namun akhirnya ia setuju juga. Dia harus bangkit dari keterpurukan putus dengan mantan pacarnya dan melakukan hal-hal yang baru.


"Jadi, bagaimana perasaanmu sekarang ini? Sudah lebih membaik?" Narrel menyesap minuman yang dihidangkan pelayan sebagai pendamping makanan pembuka mereka. Ia menatap Iren yang terus duduk dengan wajah datarnya itu. Gadis itu benar-benar kaku dimatanya.


"Ya." satu kata yang keluar dari mulut Iren. Wanita itu lalu mulai mencicipi makanannya.


"Iren, kau tahu di dunia ini masih banyak pria lain yang lebih pantas bersanding denganmu dibanding pacar brengsekmu itu bukan? Pria seperti itu tidak pantas kau tangisi." kata Narrel. Perkataan itu sukses membuat Iren menatap pria itu. Ia memaksakan seulas senyuman. Narrel benar. Untuk apa dirinya menangisi pria itu? Ia sudah disakiti seperti ini tapi tetap saja belum bisa melupakan laki-laki itu. Apa yang harus ia lakukan? Ia ingin sekali membuang pikirannya jauh-jauh dari sang mantan tapi bagaimana caranya? Sebelumnya ia sangat menyukai laki-laki itu. Tidak gampang melupakannya secepat ini.


"Anda punya cara agar saja melupakannya?" tanyanya menatap Narrel. Pria itu berdecak. Tidak suka dengan bahasa Iren yang terlalu kaku.


"Sekarang kita tidak sedang berada di kantor. Kau bisa memanggilku Narrel. Bicara santai saja." katanya. Iren masih merasa agak canggung.


"Jadi, kau ingin meminta pendapatku?" pria itu melanjutkan. Iren mengangguk pelan. Ia memang harus bertekad melupakan pria itu. Harus. Ia harus menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja tanpa pria itu. Dan setelah itu satu kalimat akhirnya meluncur begitu saja dari mulutnya. Ia tidak mau menjadi Iren yang dulu lagi. Dirinya harus berubah.


"Club?" tanyanya ulang. Ia tidak salah dengar? Iren mengajaknya ke club? Ia tahu sekali kalau wanita itu membenci tempat semacam itu. Tapi menurutnya tidak apa-apa juga sih sesekali ke sana. Setidaknya asistennya itu bisa melepaskan semua stressnya dengan dugem.


"Kau yakin?" kata pria itu lagi memastikan. Iren mengangguk pasti. Lalu Narrel menarik napas.


"Baiklah kalau begitu. Kita akan pergi sesudah ini." katanya kemudian kemudian melanjutkan makan makanannya yang tersisa.


\*\*\*


Ainsley tanpa sadar tertidur. Kepalanya masih di paha Austin. Jelas saja Austin jadi tidak tega pergi karena takut akan membangunkan istrinya.


Austin mengamati gadis yang telah tertidur pulas itu. Ia tersenyum memandangi Ainsley lagi. Ia suka melihat wajah manis itu. Wajah Ainsley sangat manis sampai-sampai itu tidak tahan menggoda gadis itu meski sedang tertidur. Maksudnya menggoda dengan menyentuh titik-titik sensitif Ainsley, membuat gadis itu mendesah untuknya.


Austin menyentuh dahi Ainsley pelan. Lalu jari-jarinya mulai turun menyentuh matanya uang tertutup, menurunkan lagi hingga jarinya menyentuh hidung Ainsley. Hidungnya mancung dan indah. Austin tersenyum lagi. Lalu jarinya menyentuh bibir istrinya. Bibir gadis itu tidak terlalu merah. Sepertinya ia tidak memakai lipstik, mungkin hanya pelembab bibir. Namun tetap terlihat seksi. Austin menyukai bibir itu. Lalu tanpa bisa menahan lagi pria itu mengecup singkat bibir Ainsley. Ia ingin melakukan lebih tapi ponselnya tiba-tiba berdering, membuatnya menggeram kesal. Siapa sih yang menelpon, mengganggu kegiatannya saja.


Meski kesal Austin tetap mengangkatnya. Ternyata yang menelpon adalah salah satu rekan kerjanya yang cukup penting. Ia ingat mereka punya janji meeting siang ini. Dengan terpaksa Austin memang harus meninggalkan istrinya dulu. Setelah sambungan telpon itu terputus, Austin mengangkat Ainsley perlahan. Sangat perlahan dan lembut agar tidak membangunkan gadis itu. Ia memindahkan Ainsley ke kamar, mengecup keningnya sekilas kemudian pergi.