Mine

Mine
Chapter 75



"Petugas cctv jalan menunjukkan rekaman cctv kepada Austin dan Narrel. Mereka melihat pergerakan yang mencurigakan dalam rekaman itu. Ada sebuah mobil hitam dan dua orang laki-laki tampak mengikuti Ainsley. Mereka membiarkan gadis masuk ke toko roti sambil mengamat-amati sekeliling. Ketika Ainsley keluar dari toko roti itu, ia berjalan dan duduk di emperan yang agak gelap dan menikmati makanannya. Disaat itulah kesempatan datang dari para penculik itu. Mereka langsung menarik tangan Ainsley kuat-kuat. Dalam rekaman cctv itu memang ada perlawanan, tapi akhirnya Ainsley tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan berhasil dibawa masuk ke dalam mobil hitam mereka.


Austin mengepal kuat-kuat kedua tangannya ketika melihat istrinya dibawa paksa seperti itu. Ia bersumpah akan menghabisi mereka.


"Perbesar gambar mobilnya." kata Narrel setelah mengklik tombol pause video itu. Petugas yang berjaga disitu menurut-nurut saja. Narrel mendekatkan tubuh ke layar sambil menyipitkan matanya. Berusaha membaca plat nomor mobil sih penculik. Ia cepat-cepat mengambil ponsel dan menulis nomor plat yang terbaca dimatanya lalu disimpan dalam memo ponsel. Pandangannya berpindah ke Austin yang sepertinya masih syok. Pria itu menepuk punggung Austin pelan.


"Aku sudah menghubungi polisi. Sebentar lagi mereka sampai. Aku rasa ada polisi lebih baik. Mereka pasti akan melacak keberadaan mobil itu. Tenangkan dirimu. Kita akan menemukan Ainsley secepatnya." gumam Narrel berusaha menenangkan Austin.


Narrel tidak mengetahui bagaimana kondisi Ainsley sekarang. Dia hanya bisa berharap bahwa gadis itu baik-baik saja. Diliriknya Austin. lelaki itu sekarang sudah tampak tenang dan memasang wajah datar, tetapi Narrel tahu, Austin gelisah dan ketakutan setengah mati. Ia tahu perasaan Austin sudah tumbuh begitu dalam kepada Ainsley. Itu sudah pasti, lelaki itu pasti sudah menyadarinya juga...


Narrel tersenyum tipis. Mengingat Ainsley diculik disaat keduanya saling bertengkar hebat, ia tahu Austin pasti merasa sangat bersalah. Bagaimanapun juga mereka harus menemukan Ainsley secepatnya.


Sekitar lima belas menit kemudian polisi sampai. Narrel menjelaskan kronologi penculikan yang menimpa Ainsley kemudian menyerahkan bukti cctv untuk diperiksa. Sementara dua anggota polisi itu memeriksa, Austin dan Narrel menunggu.


Tak lama kemudian, seorang petugas polisi menghampiri mereka, mengatakan sesuatu kepada Narrel yang langsung berdiri. Austin menatap Narrel dengan bingung.


"Ada apa?"


"Polisi bisa melacak mobil itu, sekarang katanya sedang berada di dekat bandara." Narrel kemudian mengambil jaketnya dan mengenakannya.


"Ayo, kata petugas kita bisa ikut salah satu mobil polisi, asal saat penyergapan nanti kita tidak keluar dan membahayakan misi, kita boleh ikut." kata lelaki itu lagi. Namun Austin tidak berpikir untuk tunduk pada pihak polisi dalam hal tidak keluar saat penyergapan. Ia harus melihat Ainsley dengan mata kepalanya sendiri. Meski berpikir seperti itu, Austin memilih diam dan mendengar saja apa yang dikatakan Narrel. Ia tahu kalau dirinya menolak dari sini, mereka sama sekali tidak akan diijinkan ikut.


\*\*\*


Sepanjang jalan begitu menegangkan bagi Austin, dia dan Narrel duduk di jok belakang mobil polisi itu. Informasi yang didapat dari radio polisi, mobil yang menculik Ainsley masih ada didekat bandara, belum bergerak sama sekali. Sepanjang jalan mereka melewati truk-truk besar pengangkut barang. Dan benak Austin makin tidak tenang, kalau mereka tidak bisa menyelamatkan Ainsley dengan cepat,


akankah istrinya itu diselundupkan seperti ini? Di dalam truk yang penuh barang kemudian di bawa ke suatu tempat seperti ternak? Austin makin geram kepada penculik itu, sebenarnya siapa dalang dibalik semua ini? Kenapa mereka sampai menculik istrinya? Untuk apa? Demi Tuhan, kalau mereka berani menyentuh Ainsley sedikit saja...


Austin menghela napas dengan sedih. Kalau sampai Ainsley tidak dapat diselamatkan, Austin tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


Saat menyadari polisi sedang mengejar mereka, pria yang membopong Ainsley cepat-cepat membanting gadis itu ke dalam mobil dan naik dikursi depan samping sopir.


Temannya yang berada di kursi sopir


langsung mengebut kencang, tidak mau berhenti. Mobil itu tancap gas, benar-benar nekat dan tetap tidak mau berhenti meskipun ada empat mobil polisi mengejar dari belakang. Kejar-kejaran berlangsung menegangkan. Yang ditakutkan Austin adalah sedan hitam itu, yang ada Ainsley di dalamnya, terlalu mengebut dan kehilangan kendali, hingga membuat Ainsley celaka.


Austin mengikuti pengejaran itu sambil berdoa dalam hati, berdoa semoga Ainsley selamat. Setelah pengejaran selama beberapa kilometer, sebuah mobil polisi berhasil menjajari sedan hitam itu dan memepetnya ke bahu jalan tol. Mobil yang lain mendahului dan menghadang tepat di depan. Membuat sedan itu terpaksa berhenti, dengan suara berdecit keras dan ban yang berasap. Beberapa petugas polisi langsung keluar, menodongkan senjatanya dan memerintahkan supir sedan hitam itu dan temannya turun. Sopir mobil itu pun turun dengan tangan di atas kepala bersama temannya, kemudian dipaksa berlutut.


Setelah kondisi dipastikan aman, Austin dan Narrel boleh keluar dari


mobil. Austin berlari secepat kilat dan membuka pintu mobil dimana sang istri ada didalamnya. Ainsley terbaring pingsan di jok belakang dengan ikatan di kaki dan tangannya, juga lem dimulutnya. Sialan! Austin tidak berhenti menyumpahi para penculik istrinya. Tega sekali mereka melakukan perbuatan keji ini pada perempuan yang dia cintai. Hatinya seperti ditusuk-tusuk.


Narrel membantu Austin membuka ikatan dipergelangan tangan Ainsley. Pria itu melihat jelas Austin gemetar karena emosi. Bahkan ada bekas darah di sudut bibir Ainsley. Narrel sangat yakin gadis itu dipukul tadi. Orang-orang brengsek itu benar-benar mau cari mati. Mereka tidak tahu sedang berhubungan dengan siapa. Austin mungkin diam saja sekarang, tapi Narrel tahu dalam benak laki-laki itu ia sedang merencanakan sebuah pembalasan dendam yang kejam.


"Ainsley..." gumam Austin menyandarkan Ainsley yang belum bangun-bangun juga dipahanya.


"Hei, ini aku. Kamu sudah aman sekarang. Bangunlah, aku mohon..." pria itu terus bicara sambil menepuk-nepuk pelan pipi Ainsley.


"Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja. Mungkin dia akan syok saat bangun nanti. Mengingat dia baru saja diculik." Narrel berpendapat. Tapi Austin menggeleng tidak setuju.


"Aku akan menelpon dokter keluargaku. Biar dia diperiksa di rumah saja." balas Austin memutuskan. Narrel mengangguk saja. Lagipula Ainsley adalah istri Austin, pria itu yang berhak memutuskan.


"Narrel," gumam Austin lagi. Narrel balik menatapnya.


"Aku ingin fokus menjaga Ainsley beberapa hari ini, sekaligus mencari tahu dalang dibalik penculikannya. Kau bisa mengurus perusahaan kan?" Narrel menganggukkan kepala.


"Kalau kau perlu bantuanku tentang penculikan itu, langsung hubungi aku saja." katanya. Austin mengangguk. Ia lalu menggendong Ainsley keluar dari mobil itu, masuk ke mobil polisi yang masih setia menunggu didepan sana untuk mengantarkan mereka pulang.