Mine

Mine
Persiapan Tahun Baru



"Ap-apa katamu?! Mata-mata kita dijatuhkan dalam sekali serang?!" Jevano melompat kaget dari tempat duduknya.


Asisten Jevano membungkuk takut, pria itu mengantisipasi ledakan amarah dari boss kecilnya yang akhir-akhir ini lebih sensitif dari biasanya.


"S!al! Bagaimana bisa?! Siapa sebenarnya orang itu?! Benar firasatku, dia bukan orang sembarangan! Siapa tau dia memiliki maksud jahat pada Serena!" Pikiran negatif perlahan mendominasi otak Jevano.


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang, tuan? Menarik mundur mata-mata lainnya? Mereka juga kehilangan jejak dari mobil yang ditumpangi oleh laki-laki itu."


Jelas orang yang bernama 'Dion' itu orang dengan skill di atas rata-rata. Apalagi Dion telah mengendus keberadaan para pengintai yang Jevano kirim untuk memantau laki-laki itu, Jevano yakin sekali Dion akan semakin waspada dan akan menyembunyikan dirinya untuk sementara waktu.


"Nggak ada gunanya lagi mengikuti orang itu. Tarik mundur semuanya, kita akan menunggu waktu yang tepat untuk memulai penyelidikan lagi," titah Jevano, yang harus segera dilaksanakan detik itu juga.


"Siap, tuan muda. Saya pamit undur diri dulu."


Blam


Jevano termenung di tempat duduknya. Belum beres mengasuh Jasmine, kini pikiran Jevano harus terbagi pada Serena yang semakin hari semakin jauh dari jangkauannya. Informasi mengenai keseharian Serena juga semakin sulit Jevano dapatkan, apalagi semenjak Serena tinggal di kediaman Collin. Sangat sulit memasukkan satu mata-mata rahasia ke dalam rumah keluarga itu, karena prosedurnya yang cukup rumit dan selektif.


'Kenapa kamu memilih tinggal sama dia sih, Rena? Apa kamu takut aku datangi? Aku janji nggak akan lakuin hal gila lagi padamu..' Jevano membatin sedih. Dia merasa terpuruk layaknya seseorang yang telah putus cinta.


Ah, mungkin memang seperti itu nyatanya?


Jevano akui dia masih memendam sedikit perasaan pada Serena, karena memang perasaan ini telah tumbuh cukup lama dalam hatinya sehingga tak mudah untuk langsung menghilangkannya. Meski Jevano berusaha mengalihkan perasaannya pada Jasmine lagi, tapi rasa sesak itu masih kental terasa.


'Seenggaknya bagi waktu untuk bermain denganku. Sebagai sahabat...itu udah lebih dari cukup buatku..' Jari Jevano berputar pelan di atas permukaan gelas kaca miliknya.


'Jangan tinggalin aku, Rena...dunia ini rasanya memuakkan kalau nggak ada kamu.' Tanpa sadar tangan Jevano mencengkram kuat gelas kaca itu sampai membuatnya retak sedikit demi sedikit.


Meski dirinya berusaha mengelak, tapi kekosongan yang Serena tinggal masih terasa begitu kuat dan membuat Jevano muak.


Jevano merasa dirinya seperti kembali ke masa lalu. Masa yang amat dia benci seumur hidupnya. Jevano butuh Serena. Dia membutuhkan cahayanya untuk kembali menyinari hidupnya lagi.


...🦋...


...🦋...


"Huff...hujan saljunya turun lagi. Kayaknya jalanan bakal tertimbun salju lagi deh."


Asap putih mengepul keluar dari mulut Serena ketika gadis itu berbicara. Kedua tangannya juga mulai memerah akibat hawa dingin yang mulai menusuk kulit.


Julian segera menyelimuti tubuh Serena menggunakan jaket mantel tebal yang dia bawa lalu tak lupa merangkapinya dengan selimut bulu yang hangat.


"Udah tau cuacanya dingin, kenapa malah jalan-jalan di luar gini?" Julian hendak mengomeli Serena yang bersikeras ingin jalan-jalan di sekitar halaman mansion yang amat luas.


Serena menggaruk pelan permukaan pipinya. Julian marah, jelas saja. Kekasihnya itu paling sensitif kalau sudah menyangkut soal kesehatannya, jadi Serena sudah tak heran lagi kalau Julian akan mengomelinya panjang lebar setiap kali dirinya melanggar larangan laki-laki itu.


Julian berkacak pinggang sambil memelototi Serena yang pura-pura tidak melihat ke arah lelaki itu.


"Kita masuk sekarang. Lima menit di luar, tanganmu udah dingin gini. Jangan sampai sakit, sayang.." Kesabaran Julian sangatlah tipis, tapi dia berusaha tetap lembut agar tidak menakuti Serena.


"Tapi aku boleh panggil Dion ke sini 'kan? Dia terus berlagak sok sibuk, sama kayak kamu. Aku bosan banget di kamar sendirian..." Serena kembali murung.


"Maaf...tapi pekerjaanku hampir selesai semuanya. Setelah ini berakhir, aku bakal ambil cuti selama 2 minggu. Aku masih berhutang liburan sama kamu 'kan?"


Ah, Serena benar-benar melupakan janji itu. Karena Julian tampak sangat sibuk dan tidak bisa diganggu, Serena pikir liburan mereka terancam gagal. Tapi ternyata Julian masih mengingat janjinya sendiri.


"Beneran?" Hidung Serena sudah memerah, entah itu efek kedinginan atau sedang terharu lantaran Julian berupaya keras menepati janjinya.


Julian mengangguk pelan sambil tersenyum lebar, "Iya dong~ masa aku bohongin kamu? Kita akan pergi ke mana aja yang kamu suka. Anggap aja ini hadiah natal dariku buat kamu."


Natal...


Ya, sebentar lagi natal akan tiba dan tahun baru semakin dekat.


Biasanya saat malam menjelang natal, keluarga Reinhart akan berkumpul untuk makan bersama sambil bertukar cerita. Meski topik yang dibicarakan hanya berputar soal bisnis dan sejenisnya, namun itu adalah momen yang paling membahagiakan untuk Serena, sebab seluruh anggota keluarga berkumpul untuk waktu yang agak lama.


Mirisnya, tahun ini Serena tidak dapat merayakan natal dan tahun baru lagi bersama keluarganya sendiri.


"..kamu lagi mikirin yang aneh-aneh pasti nih," gurau Julian, untuk mengalihkan perhatian Serena yang tiba-tiba termenung sambil tersenyum kecut.


"Julian, apa ada tradisi khusus di keluargamu buat menyambut malam natal dan tahun baru tiap tahunnya?" Tiba-tiba jiwa keingintahuan Serena bangkit dengan sendirinya.


Julian berpikir sejenak, "Hm...tradisi? Aku sih gatau itu bisa dianggap tradisi atau cuma buat formalitas semata, tapi iya. Keluarga kami setiap tahunnya pasti mengadakan acara semi formal yang mengundang rekan-rekan bisnis terdekat, saudara atau teman baik dan kolega. Karena keluarga kami masih keturunan bangsawan, jadi dress codenya pasti memakai gaun dan tuxedo," jelasnya panjang lebar.


Sejujurnya Julian tak ingin memberitahukan hal ini pada Serena untuk beberapa alasan.


"A-ada dress codenya segala??!" Kedua bola mata kristal Serena berbinar tak percaya.


Tak menyangka bila background keluarga kekasihnya itu ternyata bukan sembarang keluarga.


"Iya, yang perempuan pakai dress. Ah..aku jadi nggak sabar lihat kamu dandan ala-ala tuan puteri gitu. Kamu pasti jadi bintang utama yang paling bersinar~" Julian jadi tidak rela membagi kecantikan Serena dengan laki-laki lainnya.


Begini saja Serena sudah terlihat cantik bak seorang peri salju.


"Tapi...apa gapapa kita liburan ke luar sementara kak Elliot dan papa Joseph banting tulang nonstop?" Walaupun Serena selalu mengecek kondisi kedua pria itu, tetap saja kekhawatiran masih bersarang dalam hati Serena.


"Kita bisa tunda liburannya kalau kamu khawatirin kondisi mereka. Yah..dari yang aku lihat kayaknya mereka kecapekan." Julian bingung harus mengatakan bagaimana.


"Apalagi undangan pesta udah mulai di sebar dari dua bulan yang lalu, jadi kerjaan jadi makin menumpuk gara-gara itu." Lalu tiba-tiba tercetus ide cemerlang dari otak Julian, "Karena di rumah ini nggak ada campur tangan perempuan, aku pikir Serena bisa gunain waktu luangmu buat ikut mengurus persiapan pestanya. Gimana? Kamu mau nggak?" Julian menawarkan pekerjaan yang sekiranya bisa dilakukan oleh Serena untuk mengisi waktu senggang.


Mata Serena makin berbinar terang. "Ka-kamu yakin? A-aku nggak pernah ikut ambil bagian mengurusi sesuatu. Jadi mungkin aku bakal membuat banyak kesalahan.." Serena tiba-tiba jadi panik dan meragukan kemampuannya sendiri.


Julian terkekeh gemas. "Gapapa. Melakukan kesalahan itu hal yang wajar dalam belajar. Lagian kamu bakal ditemani sama beberapa orang yang udah mengambil alih urusan pesta. Kamu bisa belajar dari mereka dan memberi masukkan kalau ada yang aneh," Julian percaya bahwa kekasihnya pasti bisa memberikan yang terbaik.


Julian telah memberikan kepercayaan besar padanya, Serena tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.


Pelukan erat Serena berikan pada Julian. "Makasi~ Aku bakal nyerahin kemampuanku sebaik mungkin dan membuat pestamu semakin meriah dan menyenangkan!"


Julian tersenyum puas, Serena kembali energik dan itu lebih baik untuk dilihat. "Tapi jangan terlalu dipaksakan, kalau capek kamu harus segera istirahat. Janji ya?"


"Iya~ Makasi, sayang~!"