
"Aku gugup banget nih! Penampilanku nggak aneh 'kan?!"
Helena tersenyum lebar seraya menggelengkan kepalanya penuh. "Nggak! Riasan dan gaunmu udah sempurna! Kamu kelihatan kayak princess beneran, tau!?" Gemas, Helena memeluk pinggang Serena dan sedikit menggoyangkan tubuh sahabatnya.
Serena tertawa renyah. Berkat Helena dan tangannya yang ajaib, penampilan Serena semakin sempurna malam ini.
Sayang sekali Helena tidak bisa ikut menghadiri pesta tahun baru keluarga Collin karena ada beberapa kriteria yang belum bisa terpenuhi untuk menerima undangan. Alhasil Helena harus berpuas hati menjadi makeup artist khusus untuk Serena malam ini.
"Gaunmu cantik banget...ini pasti dipesan khusus buatmu ya?" Jujur, mau dilihat berapa kali pun Helena masih saja terkesima melihat gaun yang melekat di tubuh sahabatnya.
"Gila ya si Julian itu. Orang bakal mikir kalau ini adalah pesta pernikahan kalian, bukan pesta menjelang akhir tahun! Mewah banget!" Entah sudah berapa ribu kali Helena memotret setiap sisi dari figure Serena yang tampak begitu anggun dan menawan dalam balutan gaun mewah nan bersinar itu.
"Beneran deh, rasanya tuh kayak kamu mau nikah hari ini. Jantungku nggak kuat melihat kecantikanmu yang luar biasa bersinar!" Katakan saja Helena terlalu berlebihan, tapi mulutnya mengungkapkan fakta yang tak bisa ditepis kebenarannya oleh semua orang.
Serena benar-benar menjadi seorang tuan puteri dari negeri dongeng. Banyak pasang mata yang nantinya akan terpukau pada kecantikan Serena.
Tok tok tok
Pintu ruangan di ketuk dari luar, Helena mengiranya orang yang datang adalah pelayan yang akan membantu Serena jalan menuju ke ball room tempat acara diselenggarakan.
Namun kehadiran sosok lelaki yang berdiri di balik pintu besar itu justru memukau Helena dan juga Serena, sampai membuat kedua gadis itu tak berkedip barang sekalipun.
"Ju-JULIAN?!" Kedua mata Helena melotot kaget melihat penampilan Julian yang sangat berbeda dan luar biasa keren malam ini.
Julian menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Dia malu ditatap begitu intens oleh Helena dan Serena. Ini adalah pertama kalinya bagi kedua gadis itu melihat Julian berdandan di acara besar seperti malam ini.
Tuxedo putih yang membalut tubuh tinggi Julian benar-benar cocok dan tampak menawan. Tuxedo yang sama persis dengan yang di pesan Elliot, cuma berbeda warna saja.
Padahal Serena sudah melihat Julian di fitting room sewaktu mencoba tuxedonya, tapi tetap saja terlihat baru di matanya. Apalagi full make up seperti sekarang, ketampanan Julian makin berlipat kali ganda layaknya emas yang tak ternilai harganya.
"Wow...kamu cantik banget, sayang! Gaunnya benar-benar cocok sama kamu!" Julian berjalan cepat menghampiri Serena yang berdiri di belakang Helena.
Tatapan memuja yang ditunjukkan Julian membuat pipi Serena merona merah. "A-apa aku udah kelihatan sempurna?" Ini pertama kalinya Serena memakai gaun yang luar biasa indah dan mewah seperti pemberian Elliot dan Julian ini.
"Iya dong! Serena-ku yang paling cantik di dunia ini! Benar kata kak Elliot, kamu yang paling bersinar di pesta ini!" Julian tersenyum manis memuji kekasihnya.
Helena mendengus pelan, 'Dasar duo lovebirds ini. Tapi aku akui, pilihan Julian benar-benar sempurna di tubuh Serena. Serena juga kelihatan senang sekali. Syukur deh, kamu memang pantas dapatin semua kemewahan ini dari orang lain daripada mengharapkan keluargamu sendiri,' batinnya miris.
"Udahan dulu mesra-mesraannya. Pesta udah hampir di mulai, kalian harus segera turun ke ballroomnya," Helena menepuk tangan sekali untuk mengalihkan atensi sepasang kekasih di sana.
Sejujurnya, Julian merasa sangat bersalah pada Helena. Dia tidak bisa mengundang Helena dan keluarga gadis itu karena pada dasarnya hubungan bisnis antara perusahaan mereka belum seerat itu.
"Maaf ya, lain kali aku pastiin kamu dapat undangannya jadi kita berempat bisa bersenang-senang dan menikmati pesta bersama." Julian menepuk puncak kepala Helena ketika berjalan melintas di depan teman baiknya itu.
Meskipun sedih, Helena menghormati keputusan Julian dan keluarga Collin. Ini 'kan sudah menjadi peraturan dari tradisi mereka sejak dulu, jika memang Helena menginginkan undangan itu, maka dia harus bisa membuat perusahaan keluarganya makin maju.
"Suatu saat nanti, namaku pasti masuk ke dalam daftar tamu undangan eksklusifmu! Pegang ucapanku ini!" Helena tak akan menyerah, sekarang tujuan utamanya di masa depan bertambah satu, dan dia harus bisa mewujudkan impiannya dengan kekuatannya sendiri.
Serena terkekeh pelan. Dia tahu Helena tidak suka dikasihani dan diberi secara cuma-cuma hanya karena mereka berteman. Jika Helena sudah bertekad, Serena yakin suatu saat Helena bisa merealisasikan semua impian gadis itu.
"Kami tinggal dulu. Jangan pulang duluan ya, karena nanti ada kejutan khusus buatmu!" Serena menggenggam tangan Helena sesaat sebelum mereka berpisah.
Meski tak tahu kejutan apa yang dimaksud oleh Serena, Helena tetap akan menunggu di ruangan itu dengan sabar.
...✨...
...✨...
"HADIRIN YANG TERKASIH, MARI KITA SAMBUT, BINTANG UTAMA KITA MALAM INI!! TUAN JULIAN COLLIN BESERTA PASANGANNYA YANG CANTIK SEPERTI SEORANG DEWI! NONA SERENA REINHART!"
Suara tepuk tangan keras menyambut kehadiran Serena dan Julian. Bagaikan sepasang pangeran dan tuan puteri kerajaan, mereka disambut dengan decak kagum dan senyuman hangat dari para tamu yang hadir dalam ballroom luas tersebut.
Seluruh mata seolah tertarik pada kecantikan yang terpancar dari Serena yang berjalan dengan anggun di sisi kiri Julian.
Jasmine dan Jevano yang turut hadir dalam pesta meriah itu tak bisa menutupi kekaguman dan keterkejutan mereka melihat transformasi Serena yang begitu wah.
"Nona Serena, Tuan muda Julian! Kalian berdua sangat menawan! Saya seperti melihat raja dan ratu di negeri dongeng saja!"
"Gaunnya cantik sekali!! Ternyata selera fashion nona Serena sangat tinggi ya!"
"Pasangan anda sangat cantik dan anggun, jujur saya iri melihat betapa serasinya anda berdua."
Dan masih banyak lagi pujian-pujian yang dilayangkan pada Julian dan juga Serena.
"Anak itu...! Gimana bisa?!" Jasmine mengeraskan rahangnya, guna menahan emosi yang ingin meledak detik itu juga.
Jevano bahkan tak mengedipkan matanya memandangi Serena yang sedang berbincang hangat dengan para rekan bisnis Julian.
"Cantiknya..." Tanpa sadar mulut Jevano memuji kecantikan Serena yang berbeda dari ekspektasinya.
Rasa iri, marah sekaligus kesal semakin menumpuk dalam hati Jasmine. Padahal dirinya sudah memilih gaun yang paling mahal dan mewah karya designer kenamaan dunia, tapi kenapa dengan mudahnya dia tersisihkan oleh kehadiran Serena dan gaun putihnya itu!?
"Se-Serena!" Nyonya Esther menutup mulutnya yang melongo setelah melihat penampilan spektakuler Serena.
"Dia cantik sekali!" Baru kali ini Nyonya Esther melihat sisi Serena yang berpoleskan makeup serta mengenakan gaun yang mewah.
Berbeda dengan respon anak serta istrinya, Tuan Philip justru merasa malu pada dirinya sendiri. Beliau sadar tidak pernah sekalipun membelikan gaun sebagus itu untuk Serena. Jangankan gaun, sepatu atau pakaian bermerk seperti yang Jasmine punya saja beliau tidak pernah membelikan itu untuk Serena.
Serena benar-benar terlihat bak seorang puteri dari negeri dongeng berkat campur tangan Julian serta anggota keluarga Collin lainnya.
"Kamu cantik sekali.." Tuan Philip tidak tahan untuk tidak memuji kecantikan Serena meski hanya dari kejauhan.
Merasa di perhatikan, Serena mengedarkan pandangannya ke segala arah, dan menemukan Jevano, Jasmine beserta kedua orang tuanya berdiri di dekat stand makanan.
Jarak yang cukup jauh tidak memungkinkan Serena untuk menyapa ke-empat orang itu. Jadi yang bisa Serena lakukan hanyalah memandangi orang-orang itu tanpa membuat interaksi secara lisan.
"Sayang, sekarang kita cari kakak dan papa ya?" Rangkulan pada pinggang Serena mengalihkan fokus gadis itu.
Senyuman tipis Serena berikan sebagai jawaban. Lalu Serena mengikuti ke mana Julian membawanya pergi dan mencuri lirik ke arah orang tuanya lagi untuk yang terakhir kalinya.
'Lihat gaun itu, apa warnya nggak terlalu tua untuk perempuan muda kayak Jasmine?' batin Serena, setelah melihat gaun yang Jasmine kenakan.
Well...itu bukan urusannya sih. Yang terpenting bagi Serena saat ini adalah memperkenalkan dirinya pada semua rekan bisnis, relasi, serta sahabat-sahabat terdekat dari Julian, Elliot serta Tuan Joseph.
Sebagai calon menantu dari orang terpandang seperti Tuan Joseph, Serena harus bisa membuktikan kelayakan dirinya. Yah, ini juga efisien dilakukan untuk mengokohkan posisinya sebagai calon istri Julian.
Serena dapat melihat banyak para orang tua membawa serta puteri mereka yang masih muda ataupun seumuran Julian dan Elliot, entah untuk maksud apa, tapi Serena akan menunjukkan pada mereka, bahwa hanya dialah perempuan yang akan dinikahi oleh Julian.