
Kira-kira jam dua belas siang Austin menelpon Ainsley. Sebenarnya Ainsley bosan mengangkatnya. Tapi ia tidak mau membuat pria itu marah dan membatalkan janjinya semalam. Dia yang rugi nantinya.
Austin mengajak Ainsley makan siang bersama. Awalnya gadis itu mau mencari alasan untuk menolak. Namun sekali lagi, gadis itu tidak mau membuat Austin marah. Ia memilih menurut saja.
Akhirnya disinilah mereka sekarang, di sebuah restoran mahal yang berada tak jauh dari kantor Austin.
Mereka tidak hanya berdua. Ada perempuan lain yang dulu memperkenalkan dirinya sebagai sekretaris Austin, juga seorang wanita yang lebih tua beberapa tahun darinya. Tentu saja ia tidak kenal wanita itu.
"Kakak ini pacarmu?" tanya Ainsley dengan tiba-tiba. Narrel langsung terbatuk-batuk mendengar pertanyaan itu. Sedang gadis yang duduk di sebelahnya tetap mempertahankan wajah datarnya. Meski dalam hati ia merasa malu.
Iren memang selalu begitu. Kalau ada pembicaraan tentang dirinya yang membuatnya malu, ia akan tetap terlihat tenang.
Austin malah tertawa melihat tingkah kedua bawahannya itu yang sangat bertolak belakang. Ainsley sendiri terus menatap mereka bergantian dengan ekspresi bingung. Memangnya dia salah bertanya?
"Nama kakak siapa?" tanya Ainsley lagi menatap Iren.
"Jangan bertanya lagi. Makan dulu." ucap Austin memberikan pisau steak dan garpu ke tangan Ainsley.
Ainsley mencebik. Ia lalu memotong-motong steik di piringnya dengan kasar.
"Ainsley," gumam Austin dengan nada penuh peringatan.
Tingkah keduanya tak luput dari pengamatan Narrel dan Iren. Narrel tersenyum. Menolak semua perempuan cantik yang dia kenalkan, Austin malah memilih seorang gadis yang merepotkan. Tapi menurutnya mereka cocok. Hanya saja Ainsley tampaknya belum menyukai Austin.
Narrel berdeham.
"Namanya Iren. Dia asistenku. Dia juga sudah punya pacar, dan itu bukan aku." ujarnya menatap Ainsley.
Ainsley mengangguk-angguk mengerti. Ia lalu mengamati Iren sambil mengunyah. Wanita itu sangat datar dan jarang sekali berbicara atau sekedar senyum. Tapi Ainsley malah merasa wanita seperti Iren ini cocok dengannya.
"Kak Iren, bagaimana kalau kau menemaniku liburan nanti?" ajak Ainsley. Ia ingat minggu depan mereka akan libur dua hari. Daripada mengajak Austin yang super duper sibuk dan sedikit menyebalkan itu untuk menemaninya, lebih baik ajak Iren saja. Ia akan lebih leluasa liburan dengan sesama perempuan.
Austin menghentikan kegiatan makannya dan menatap Ainsley.
"Kau mau liburan?" tanyanya.
Ainsley mengangguk.
"Kampusku akan libur dua hari." gadis itu menatap Iren lagi.
"Kak Iren mau kan menemaniku?"
Iren melirik Narrel seolah menanyakan pendapat pada pria itu.
"Dia istri bos, harusnya kau bertanya pada bos bukan padaku." kata Narrel.
Pandangan Iren berpindah ke Austin.
"Aku akan membawanya liburan bersamaku. Kau fokus saja dengan pekerjaanmu." ujar Austin. Iren mengangguk mengerti.
Ainsley langsung melemparkan pandangan kesalnya ke Austin. Dasar pria aneh. Ganggu kesenangan orang saja.
"Bukankah kau sibuk bekerja? Aku tidak mau liburan dengan orang sibuk!" ucap Ainsley dongkol.
"Kita bicarakan itu di rumah." balas Austin. Tidak mau berdebat dengan Ainsley didepan orang lain. Meski Narrel sahabatnya dan Iren bukanlah wanita yang suka bergosip, tetap saja itu urusan pribadinya dengan Ainsley.
Ainsley adalah tipe gadis yang keras kepala. Karena itu Austin hanya bisa memakai ancaman pada gadis itu seperti biasa untuk membuatnya tunduk. Ia tahu istrinya itu kini tengah menatapnya dengan tatapan tajam namun tidak di gubrisnya. Austin malah melirik Narrel.
"Bagaimana dengan tim perencanaan?" tanyanya mengganti topik pembicaraan. Pria itu sengaja karena ia tahu Ainsley tidak akan mengerti kalau mereka sudah membahas tentang bisnis. Ujung-ujungnya ia pasti akan diam saja sambil mendengar dengan malas.
"Semuanya sudah beres, aku dan Iren menemui mereka tadi." jawab Narrel. Matanya berpindah-pindah ke Austin, Ainsley dan Iren. Austin mengangguk-angguk merasa puas dengan jawaban Narrel. Kira-kira sekitar satu jam mereka ada di restoran itu.
Ainsley kembali ke kampus karena masih ada kuliah sore. Sebenarnya Austin ingin mengantarnya namun gadis itu bersikeras untuk pergi sendiri. Ainsley dengan terang-terangan bilang kalau dirinya tidak mau menjadi buah bibir para penghuni kampus kalau sampai mereka tahu ia sekarang adalah istri Austin. Ia tidak suka.
Austin sendiri mengerti dan menghormati pendapat gadis itu. Namun tidak mungkin Ainsley akan bersembunyi selamanya dari publik. Gadis itu harus membiasakan diri.
***
Di rumah, Ainsley sibuk membaca novel di kamar ketika Austin itu keluar dari kamar mandi. Sekarang jam delapan malam tapi gadis itu masih betah dengan bacaannya.
Ainsley menghentikan kegiatan membacanya sebentar, dan menatap Austin.
"Aku tidak mau liburan berdua denganmu."
Gadis itu memandang Austin
yang baru selesai mandi, rambutnya basah dan lelaki itu sedang
menggosoknya dengan handuk.
"Kau tidak berhak menolak. Anggap saja kita pergi berbulan madu." Austin meletakkan handuknya sementara Ainsley langsung melotot.
"Bulan madu? Kau lupa dengan janjimu yang tidak akan menyentuhku?" serunya kuat. Kalau dirinya masih tinggal di rumah lamanya, mungkin suara kuatnya itu akan kedengaran oleh tetangga. Tapi ini adalah rumah Austin. Dindingnya kokoh ada kedap suara. Tidak mungkin ada yang mendengar mereka.
Austin terkekeh.
"Tenang saja, aku tidak akan ingkar janji. Tapi kau juga harus ingat, aku hanya memberimu waktu sebulan. Setelah itu kau benar-benar harus mempersiapkan diri. Sebulan lagi kau harus melakukan kewajibanmu sebagai istri."
Ainsley terdiam. Pikirannya jadi penuh dengan perkataan Austin. Kewajiban sebagai istri? Apakah dia benar-benar mampu?
"Kau ingin aku tidur di sofa lagi?"
gumam Austin. Dia sudah sangat berbaik hati tidur di sofa. Meski harus berjuang keras menahan hasratnya yang belum tersampaikan pada Ainsley.
Ainsley melirik sofa lembut yang ada di ujung kamar Austin, sofa
itu besar dan tampak nyaman.
"Yah. Bukankah kau sendiri yang berjanji? gumam Ainsley kemudian.
"Baiklah. Setelah sebulan aku akan membuatmu tidak bisa berdiri dari ranjang," Ainsley melotot tapi Austin hanya cuek dengan seringaian di wajahnya.
Lalu tanpa kata pria itu mematikan lampu besar dan membiarkan kamar diterangi cahaya temaram lampu tidur. Kemudian melangkah ke sofa kamar itu, membaringkan
tubuhnya membelakangi Ainsley dan menutup mata.
Hening.
Ainsley bahkan bisa mendengar napas Austin yang teratur. Ia menatap sebentar ke Austin yang berbaring membelakanginya di ujung sana. Tak lama kemudian dia ikut mengantuk. Akhirnya setelah menghela
napas panjang, Ainsley berbaring di ranjang. Kantuk kemudian
langsung membawanya lelap, hingga dia hanyut dalam mimpinya.
Ainsley tertidur sangat lelap sehingga tidak menyadari beberapa
saat kemudian, ketika Austin membalikkan tubuhnya dan
menopang kepalanya dengan jemarinya. Matanya mengamati
Ainsley dalam keheningan yang misterius.
Sesekali Austin tersenyum.
"Aku menantikan waktu saat kau benar-benar menjadi milikku sayang." guman Austin terus menatap Ainsley yang sudah lelap.