
Aku bangun saat kecupan aku rasakan di wajahku. Saat aku lihat ternyata anak kecil yang semalam tidur denganku sudah terbangun. Raskal Schweinsteiger, itulah nama jagoan yang ada di hadapanku kini.
Aku langsung menggendong tubuh mungilnya dan aku bawa keluar dari kamarnya, untuk bertanya masalah pakaian bersih dan segala macamnya. Namun, baru saja aku membuka pintu. Sosok yang selama ini memenuhi relung hatiku muncul dengan setelan rumahan dan sepertinya dia baru saja selesai mandi. Karena terlihat dari sisa-sia air di wajah dan rambutnya.
"ekhem.. Raskal mau mandi, jadi pakaian dan perlengkapan mandinya ada dimana?" Tanyaku memutuskan tatapan matanya terhadapku.
Bukannya menjawab, dia malah masuk kedalam kamar yang aku tempati semalam. Berjalan masuk hingga berhenti di sebuah lemari. Aku dan Raskal hanya diam melihat pria itu mengambil semua perlengkapan Raskal.
"Ini untuk Raskal. Sedangkan pakaian bersih kamu, aku sedang minta tolong Mama untuk carikan. Lebih baik kalian mandi karena sebentar lagi kita akan sarapan."
Tidak mau membuat semua orang menunggu, aku lebih memilih membersihkan Raskal terlebih dahulu. Kalian jangan kaget, Raskal memang sangat dekat padaku akhir-akhir ini. Bahkan saat aku tour demi launching pakaian terbaruku dia ikut denganku. Makanya tragedi semalam tidak merenggut nyawanya. Karena memang dia ikut denganku, namun saat di beritahu berita tersebut. Aku langsung meminta Opa untuk menyiapkan Jet pribadi kami.
"Sudah tampan anak Bunda. Sekarang kam--"
"Kamu mandi saja, tadi Mama datang membawa pakaian bersih. Biarkan Raskal bersamaku." Aku melonjak kaget mendengar suara di belakang tubuhku. Ternyata Rafael belum keluar dari kamar ini. Aku pikir dia sudah tidak ada.
"Bunda mandi dulu ya."
"Ya Bunda." Jawab Raskal.
Bukankah aku hebat? Karena bisa menahan diri untuk tidak menyerang wanita yang tubuhnya basah akibat memandikan ponakanku. Di tambah lagi dengan pakaian yang ia kenakan membuat aku melihat apapun yang di kenakan disana. Sampai akhirnya aku mengucapkan kata yang membuatnya terlonjak kaget.
"Kamu mandi saja, tadi Mama datang membawa pakaian bersih. Biarkan Raskal bersamaku." Lepas mengatakan padanya, Clara sudah mulai dengan rutinitas paginya. Sedangkan aku membayangkan betapa indahnya pagiku jika setiap hari melihat wajahnya.
"Raskal kamu harus bantu Papa ya, supaya Bunda mau tinggal disini sama kita."
"Bunda.." Katanya.
Aku bersyukur saat itu, Clara mengajak Raskal pergi bersamanya. Jika tidak, mungkin bayi tiga tahun ini akan ikut bersama dengan kedua orang tuanya. Apa mungkin Tuhan sudah merencanakan semuanya?
"Bundaaa!!!" Raskal histeris saat melihat Clara baru saja keluar dari kamar mandi. Aku bersumpah, aku akan mentraktir siapapun yang berhasil merayu Clara untuk menikah denganku sesegera mungkin. Bayangkan saja sekarang ini, Clara menggunakan dres rumahan yang membuat sesuatu dibawah sana menegang seketika dan sialnya ponakanku itu menemplok di leher yang sangat menggiurkan dimataku. Dasar anak kecil licik!
"Kamu lapar ya? Yuk kita makan." Ajak Clara meninggalkan aku disana. Aku sepertinya butuh air dingin. Tak peduli dengan ocehan lainnya karena aku harus mentutaskan apa yang diperbuat Clara.
Ternyata saat aku turun, disana sudah sangat ramai. Ada kakakku dan istrinya, Opa dan juga kedua orang tua Rafael.
"Duduk sayang, Mama sudah siapkan untuk kamu dan Raskal."
Ya, disana ada sepiring nasi untukku dan segelas susu putih yang biasa Raskal minum di pagi hari. Karena selama sarapan, Raskal tidak mau menyentuh nasi. Dia akan makan nasi hanya jam makan siang. Selebihnya anak ini akan minum susu, makan tanpa nasi dan pastinya buah-buahan.
Sarapan pagi inu berjalan dengan lancar, sampai kami semua berkumpul di ruang keluarga.
"Clara, Mama mau tanya. Apa kamu sudah memiliki kekasih?"
"Belum Tante."
"Panggil Mama!" Omelnya membuat aku tersenyum kikuk.
"Ya Ma, aku belum memiliki kekasih. Ada apa Mama tanya masalah ini?" Aku bertanya kembali tanpa melepaskan pandanganku kepasa Raskal yang sibuk bermain dengan mainannya.
"Kamu tahukan sayang, Raskal sudah tidak memiliki ibu dan ayah lagi. Maka dari itu Mama mohon dengan sangat. Mau kah kamu menjadi Mama untuk Raskal selamanya?"
Aku tersenyum. Tentu saja aku mau. Siapa yang tidak mau memiliki anak secerdas Raskal.
"Tentu saja aku mau Ma. Mama tenang saja, aku akan jaga Raskal sebagaimana aku menjaga diriku. Jadi apakah harus ada perjanjian hak asuh?" Tanyaku langsung dibalas gebrakan meja oleh Rafael.
"Kamu pikir Raskal akan jadi anak kamu tanpa menikahiku?!" Omelnya.
"Bukannya seperti itu?" Tanyaku balik.
"Tidak sayang, Kamu akan menikah dengan Rafael seminggu lagi. Kami sudah menyiapkan semuanya. Kakak kamu dan Opa kamu juga sudah setuju jadi Mama pikir kamu akan setuju."
"Kenapa tidak ada yang bertanya padaku lebih dulu?" Aku bertanya sambil menatap semua orang yang ada disana. Aku bahagia akan menikah dengan pria yang selama ini aku cintai, tapi aku harus mengatur ulang semua jadwal yang sudah aku susun jika akhirnya seperti ini.
"Apa kamu menolak menikah dengan anak Mama? Padah--"
"Bukan itu Mah! Minggu depan ada Fashion Show yang akan aku adakan di Indonesia. Sedangkan kalian meminta aku menikah minggu depan? Ak--"
"Jika seperti itu, Hari ini saja." Aku menatap Rafael dengan sanksi. Bagaimana mungkin?
"Jika Clara setuju. Kami semua setuju." Jawab Kakakku dan Opa.
Aku tidak tahu harus bahagia atau sedih. Pasalnya jika aku menerima hari ini, akankah dia tahu bagaimana bayangan pernikahan bagiku? Tapi melihat tatapan mata Mama Rafael membuat aku tidak tega untuk menolaknya.
"Baiklah, Aku mau."
Aku tidak tahu jawabanku hari ini akan menjadi apa. Akankah bayangan keluarga yang aku impikan akan terwujud?
🦋🦋🦋