Mine

Mine
Chapter 61



Narrel sudah ingin melepaskan pagutan pada Iren, namun Iren tidak juga menjauh. Malah makin bergerak nakal di atasnya.


"****."


Narrel sudah tidak dapat menahan desah*nnya saat Iren bergerak liar diatasnya yang masih berbalut celana.


"Iren," ucapnya lirih, matanya sudah terpejam karena menahan nikmat. Narrel tahu ini salah. Otaknya berkata ingin menghentikan permainan Iren, namun tubuhnya begitu menikmati. Ia belum pernah merasakan yang senikmat ini sebelumnya pada wanita lain. Iren sanggup membuat jantungnya berdetak kencang bahkan menginginkan lebih. Persetan dengan status mereka sebagai bos dan bawahan, ia tidak tahan lagi.


Narrel langsung ******* dengan kasar bibir Iren, memasukan lidahnya dan memainkannya dengan penuh nafsu. Setelah melakukannya cukup lama dan pasokan udaranya mulai menipis, Narrel melepaskan ciuman itu. Ia menatap Iren sesaat,


"Kau sungguh ingin melakukannya?" tanya memastikan. Iren memang sudah mabuk dan ia yakin wanita itu pasti kaget ketika bangun besok pagi. Tapi kalau wanita itu setuju malam ini, ia tidak akan melepaskannya dengan mudah. Hasratnya memang sudah bangkit untuk bercinta dengan wanita itu. Jadi, jelas ia senang ketika Iren mengangguk, memberinya lampu hijau.


"Mau di sofa atau pindah ke ranjang?" tanyanya lagi.


"Terserah. Lakukan sampai kau puas."


Mendengar itu, Narrel kemudian melanjutkan aktifitasnya mencium bibir Iren dan adegan-adegan seterusnya terjadi, tangan dan mulut Narrel mulai menjelajah ke bagian-bagian tubuh Iren yang sensitif, membuat keduanya saling memberi dan menerima, mendapatkan pelepasan mereka masing-masing.


"Masih mau lagi?" bisik Narrel serak. Iren mengangguk. Ia juga masih mau.


"Kita pindah ke kamarmu." Narrel kemudian menggendong tubuh polos Iren masuk ke kamar gadis itu lalu kembali melakukan adegan demi adegan sampai keduanya benar-benar lelah dan Iren jatuh tertidur.


Narrel menutupi tubuh polos itu lalu mengecup singkat bibir Iren. Ia masih tidak menyangka akan berhubungan intim dengan asistennya sendiri. Pria itu tersenyum. Ia tidak akan melupakan malam ini. Iren sangat nikmat, mampu membuatnya pelepasan berkali-kali bahkan tidak pernah bosan. Ini adalah pengalaman barunya yang sangat indah. Meski begitu, ia tidak berniat menjadikan Iren sebagai kekasih. Ia akui dirinya adalah pria brengsek. Ia tidak mau status sebagai kekasih mengikat mereka. Tidak mau nantinya mereka akan saling menyakiti. Lebih baik menjadi teman bercinta dikala bosan saja. Narrel menghembuskan nafas, menatap Iren sebentar lagi, kemudian berjalan keluar kamar, memakai pakaiannya dan berjalan keluar dari apartemen kecil itu.


                                    ***


Alfa duduk sendirian di bar langganannya dan mengamati cairan keemasan dalam gelasnya sambil melamun. Dua minggu terakhir ini benar-benar menguras tenaga dan pikirannya. Hari-harinya disibukkan dengan kegiatan kampus dimana dirinya menjadi penanggung jawab utamanya. Terutama kenyataan gadis yang dia cintai ternyata sudah menikah.


Alfa mendengus dan meneguk minumannya.


Tapi gadis itu sudah menjadi milik orang lain. Ia terlambat. Sudah sangat terlambat untuk mengejar gadis itu. Tidak ada yang bisa dilakukannya lagi. Sejenak ia berpikir, kalau saja dulu ia menolak tegas pertunangannya dengan Rumi, kalau saja dulu ia bilang sebenarnya dirinya menyukai Ainsley, mungkin yang bersama Ainsley sekarang adalah dirinya.


Sial. Alfa merasa begitu tidak berdaya. Ternyata begini rasanya patah hati. Sial, dia memaksa untuk menerima kenyataan, tapi hatinya sepertinya tidak mampu. Bayangan Ainsley seolah menghantuinya.


"Kau tahu istrinya siapa? Hanya seorang mahasiswi biasa yang bernama Ainsley. Hah, aku heran kenapa Austin menikahi perempuan rendahan begitu. Miskin, tidak punya apa-apa, tapi dinikahi pria hebat seperti Austin. Membuatku kesal setengah mati."


Alfa mengalihkan pandangan ke dua wanita yang duduk tak jauh darinya. Bar itu cukup kecil dan tidak terlalu bising, jadi ia bisa mendengar suara mereka lumayan kuat itu.


Wanita yang ia yakini sedang membicarakan tentang Ainsley dan suaminya itu agak sedikit bule dan cukup berumur kalau dibandingkan dengan Ainsley. Mungkin umurnya ada di awal 30-an. Alfa merasa tidak suka mendengar wanita itu menjelek-jelekan Ainsley. Ia terus mendengar kedua wanita itu bergosip.


"Jadi kau datang ke sini untuk memberi pelajaran pada istri Austin?" tanya wanitu disamping perempuan bule itu. Mereka bicara menggunakan bahasa Inggris.


"Ya, aku sudah menyewa tiga pria untuk bermain-main dengannya. Biar dia tahu rasanya sudah merebut milikku." wanita bule itu tersenyum jahat.


"Kau gila, bagaimana kalau Austin tahu? Kau tidak akan selamat ditangannya."


"Dia tidak akan tahu kalau kau tidak melapor."


"Tapi dia akan mencari tahu dalangnya walau aku tidak bilang sekalipun."


"Tenanglah. Austin tidak akan tahu. Kau tahu kejahatan yang kulakukan selalu bersih tanpa jejak bukan? Kalau perlu bunuh sih gadis sialan itu sekalian."


Alfa mengepal tangannya kuat-kuat. Mau menyakiti Ainsley? Dan apa tadi katanya? Perempuan itu mau membunuh Ainsley? Lewati dulu mayatnya. Sesaat kemudian ia melihat kedua wanita itu berdiri dari situ dan berjalan keluar. Alfa ikut berdiri. Diam-diam ia mengikuti mereka tanpa sepengetahuan mereka.


Ia harus melindungi Ainsley dari wanita-wanita jahat itu.