Mine

Mine
Keluarga Baru



"APA?! KENAPA KALIAN NGGAK SEGERA HUBUNGI PAPA?!"


Tuan Joseph menyembur kedua puteranya yang baru saja bercerita soal pembullyan Serena di kampus. Pria itu marah besar karena kedua anaknya tak ada yang melapor padanya lebih awal.


"Ce-cepat panggilkan dokter Kim!! Dia harus segera memeriksa luka Serena sekarang juga!!" Tuan Joseph memerintahkan anak buahnya yang berjaga di dekat sana, untuk segera memanggilkan dokter keluarga dan memeriksakan kondisi Serena secepat mungkin.


Reaksi Tuan Joseph sedikit berlebihan dan tak terduga sama sekali. Lihat saja ekspresi panik dan raut pucat yang tergambar jelas di wajah beliau. Serena tak menyangka, ayah dari kekasihnya akan sepeduli itu terhadapnya.


"N-nggak usah, Pa! Ini udah nggak sakit kok, cuma butuh dikompres es batu aja buat ngurangin bengkaknya nanti. Nggak perlu panggil dokter segala!" Serena berusaha menghentikan Tuan Joseph dan anak buah beliau yang sudah siap pergi memanggil dokter Kim.


"Mana bisa begitu, Serena sayang...kita nggak tau tamparan itu akan meninggalkan bekas atau bagaimana. Gapapa ya? Biarkan orang tua ini merawatmu dengan baik. Maaf, karena Papa nggak ada di tempat kejadian untuk menjagamu," Tuan Joseph sangat kecewa lantaran merasa dirinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi Serena.


Serena jadi tidak enak hati. Ini 'kan bukan salah siapa-siapa, tapi banyak orang yang sedih dan kecewa karena tak bisa melindungi dirinya. Keperdulian mereka menyentuh hati Serena. Serena dapat merasakan ketulusan melalui sikap dan perkataan Julian dan keluarga lelaki yang dicintainya itu.


Kebaikan hati keluarga Collin mengingatkan Serena pada Helena dan keluarga sahabatnya. Ngomong-ngomong soal Helena, sudah cukup lama Serena tidak mampir ke kediaman Alfrod. Mungkin menyempatkan waktu untuk berkunjung dan main sebentar dapat menghilangkan mood buruknya.


"Eum-maaf sebelumnya, Pa..soal menginap di sini..Apa aku bisa memenuhinya di lain waktu aja?" Serena bertanya takut-takut pada Tuan Joseph.


Sejak resmi didapuk sebagai calon istri Julian, Serena ditawari menginap atau tinggal sementara waktu di kediaman Collin. Alasannya sih supaya bisa mengenal seluruh anggota keluarga Collin lebih dekat lagi, tapi Serena tahu alasan yang sebenarnya karena Tuan Joseph masih ingin menikmati waktu luangnya bersama dengan anak-anaknya.


Karena Julian tak akan mau tinggal di rumahnya sendiri kalau Serena tak ikut menginap, jadi terpaksa Serena mengikuti kemauan si Kepala Keluarga agar tidak timbul perdebatan lagi.


Tapi sekarang, Serena berubah pikiran. Dia merindukan keluarga Alfrod; khususnya Helena yang sudah lama tak dia temui.


"Kenapa?! Apa kamu nggak nyaman tinggal di sini? Apa kamarnya nggak sesuai seleramu?? Kita bisa merombak seisinya sekarang juga!" Tak ayal protesan keras dilayangkan oleh Tuan Joseph.


Lagi-lagi Tuan Joseph dibuat panik oleh karena penolakan Serena.


Serena menggeleng cepat, membantah dugaan Tuan Joseph atas ketidaknyamanan seperti yang beliau pikirkan. "Bukan karena itu!" sahutnya cepat, "Ini...hanya aja...sudah lama nggak ketemu sama Helena, sahabatku. Jadi aku merindukan anak itu, Pa...Aku juga ingin mengunjungi keluarga Alfrod yang udah baik kepadaku selama ini. Aku rindu mereka," ungkap Serena, mencurahkan isi hatinya yang terpendam.


"Oohh..ternyata itu maksud kamu.." Rupanya beliau sudah salah paham. Eh tapi tunggu-Serena tadi menyebut nama keluarga Alfrod?? Telinganya tidak salah tangkap 'kan?


Kemudian Serena menjelaskan secara ringkas bagaimana hubungan baik yang terjalin antara dirinya dan keluarga Alfrod. Tuan Joseph dan Elliot mendengar cerita Serena secara seksama. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Serena, amatlah penting bagi mereka untuk mengetahuinya.


Baik Tuan Joseph maupun Elliot dapat melihat seberapa besar afeksi Serena terhadap keluarga Alfrod.


'Ternyata gadis yang selama ini diceritakan oleh Felix adalah Serena!' Kesimpulan itu tercetus dalam benak Tuan Joseph. Pantas saja si Felix selalu antusias saat bercerita tentang kedua puterinya, padahal setahu orang-orang, Tuan Felix hanya mempunyai satu orang puteri kandung.


Tidak heran sih, kalau anaknya secantik, sepintar dan sebaik Serena, siapapun akan turut bangga dengan gadis itu. Itu pula yang dirasakan oleh Tuan Joseph setelah berkenalan dengan Serena.


"Hm...kurasa setelah ini Papa bakal sering menghabiskan waktu bersama Felix.." gumam Tuan Joseph, entah pada siapa. Ekspresi beliau tampak serius, seolah sedang merencanakan sesuatu yang penting.


"Pa-papa kenal sama Paman Felix ya?" Tidak mengejutkan lagi sih, kalangan Tuan Joseph pasti terdiri atas pengusaha kelas atas dan orang-orang penting di negara ini. Wajar beliau mengenal Tuan Felix dan mungkin juga mengenal ayah kandungnya Serena; Philip.


Tuan Joseph mengangguk mengiyakan, "Dulu Felix juniorku saat kuliah, jadi bisa dibilang kami sudah akrab dan seperti teman baik sebelum jadi pebisnis sukses kayak sekarang," jelas beliau.


Serena mengangguk, mendengarkan cerita Tuan Joseph dengan antusias. Bagi Serena, cerita kehidupan orang lain lebih seru untuk didengar ketimbang menceritakan kisah hidupnya sendiri. Membayangkan dan melihat suka duka orang lain merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Serena yang selalu menjadi pendengar yang baik.


"Terus, gimana sama ayah kandungnya Serena? Tuan Philip? Apa Papa deket juga?" Julian melempar pertanyaan pada ayahnya.


Tuan Joseph tampak ragu untuk menjawab, tapi mengingat hubungan Serena yang tak akur dengan orang tua gadis itu, mungkin Tuan Joseph bisa mengatakan apa adanya.


Hmph, Serena sudah bisa menebak itu. Ayahnya itu orang yang cukup kompetitif, semua orang yang berada di atas levelnya pasti akan menjadi saingan dan musuh beliau.


"Hm...nggak kaget lagi. Ayah memang gitu orangnya. Teman dekat ayah juga bisa dihitung dengan jari, kalau bisa jujur sih aku nggak pernah suka sama temen-temennya ayah. Mereka kelihatan toxic dan memanfaatkan ayah.." ungkap Serena kemudian.


Serena masih mengingat pertemuannya dengan para pria dewasa yang menyebut diri mereka sebagai teman baik ayahnya sewaktu dia remaja dulu. Di depan ayahnya-Tuan Philip-mereka berbicara sok baik dan memuji-muji kesuksesan beliau. Namun di belakang, mereka mencibir dan mencemooh ayahnya dengan ekspresi benci seperti menyimpan dendam.


Serena tak sengaja menguping saat itu, tetapi ketika dia mencoba memperingati ayahnya, justru ayahnya balik memarahi dirinya dan melarangnya untuk berbicara buruk tentang urusannya.


Ah, lupakan soal masa lalu. Serena tak ingin menggali lagi masa kecilnya yang suram karena itu hanya akan memperburuk suasana yang ada.


Melihat keterdiaman Serena, ketiga lelaki di sana saling melirik satu sama lain seolah sedang berbicara melalui telepati.


"Serena.." Tuan Joseph memanggil Serena dengan lembut. Yang empunya nama mendongakkan wajahnya yang tertunduk, menatap lurus Tuan Joseph yang tersenyum teduh padanya.


"Ya?"


"Kamu mungkin selalu bertanya-tanya, 'kenapa aku diperlakukan begini, kenapa aku terlahir di keluarga ini' dan lain sebagainya. Tapi bagi kami-orang tua yang benar-benar menyayangi anak-anaknya-mempunyai puteri sepertimu merupakan hadiah terindah dari Tuhan," ucap Tuan Joseph, sambil mengusap lembut puncak kepala Serena.


"Aku menerimamu bukan cuma karena kamu adalah gadis yang dipilih puteraku. Tapi karena kamu memang anak yang baik dan rendah hati. Aku justru berterima kasih kalau kamu bersedia menganggapku sebagai Papa ketigamu mulai sekarang, aku juga nggak mau kalah sama Felix!" sambung Tuan Joseph, diakhiri dengan cengiran lebar yang semakin menunjukkan ketampanan pria dewasa itu.


Serena tertawa kecil mendengar permintaan Tuan Joseph. Tanpa diminta pun, Serena sudah menganggap Tuan Joseph sebagai sosok ayah kedua setelah Tuan Felix. Bagi Serena, ayah kandungnya sama sekali tak berperan penting dalam hidupnya, begitu juga dengan ibu yang telah melahirkannya.


Eksistensi mereka hanya sebatas nama dan tanda tangan di atas kertas saja.


"Terima kasih banyak...sudah menerimaku dengan tangan terbuka dan perasaan yang hangat.." balas Serena, sambil menahan tangisnya yang hendak pecah. "Aku-aku...bersyukur sekali udah dipertemukan sama orang-orang baik seperti kalian dan keluarga Helena...hiks-aku bener-bener menyayangi kalian.." imbuhnya, yang kemudian terisak lantaran terlalu tersentuh oleh ketulusan yang dia terima.


Jujur, awalnya Serena takut dan insecure. Serena merasa tak ada hal spesial yang bisa dia banggakan di depan orang tua Julian dan khawatir tak akan diterima dengan baik oleh keluarga terpandang itu. Ternyata Serena salah, dia justru disambut dan diterima dengan hangat dan ramah, bahkan Tuan Joseph sendiri tampak begitu menyukai dirinya yang apa adanya begini. Walaupun tahu Serena tak bisa menguntungkan apalagi menguatkan posisi Julian dalam dunia perbisnisan, namun Tuan Joseph tetap mengizinkannya berhubungan dengan Julian.


Serena bisa bernafas lega sekarang. Setidaknya dia bisa mendapatkan restu dengan mudah dan dinilai baik di mata Tuan Joseph dan Elliot.


Mulai sekarang Serena akan lebih berhati-hati lagi ke depannya nanti. Setiap gerak-geriknya akan menjadi perhatian orang dan bisa berdampak buruk apabila dirinya melakukan sedikit kesalahan. Serena tidak mau mencoreng nama baik siapapun, terutama keluarganya sendiri.


Ngomong-ngomong soal keluarganya, Serena sedikit heran lantaran tak ada satupun pesan dari orang tuanya maupun Jasmine terkait rumor hoax yang tersebar.


Apa mereka tidak mendengar rumor itu ya?


Rasanya mustahil sekali Jasmine tidak mendengar rumor yang menyangkut dirinya. Hal ini sedikit menakutkan bagi Serena. Diamnya sang ibu sedikit membuatnya penasaran tapi enggan untuk memastikan.


"Kenapa, Hm? Kok diem aja?" Julian menyentuh pipi Serena dan mengusapnya dengan lembut.


"Ini sedikit aneh. Ma-mama sama Jasmine nggak mengirimiku pesan sama sekali. Padahal biasanya mereka berdua yang paling ribet kalau ada masalah yang nyangkut aku," kata Serena.


Julian tersenyum tipis. Ternyata itu yang mengganggu ketenangan sang kekasih. "Mungkin mereka belum tau, atau nggak percaya aja dengan rumor itu. Mereka 'kan tau kalau aku nggak bakal biarin cowo manapun deketin kamu," ujarnya, setengah bercanda.


Tapi tetap saja, sedikit aneh menurut Serena. Dia tahu benar ibunya pasti akan mengomel panjang lebar walau cuma perkara kecil semata.


Di sisi lain, Julian sedikit lega lantaran Serena tidak menaruh curiga padanya. 'Fiuh~ Untung aku peringatin anak itu lebih dulu,' batinnya dalam hati.


Tak tahu saja Serena, kalau Julian sudah lebih dulu memperingati Jasmine supaya tidak memperkeruh masalah yang ada, termasuk juga tak lupa memberikan 'pesan' pada ibu Serena agar tidak mengganggu puteri sulungnya kecuali ada hal mendesak dan penting saja. Mungkin kesannya Julian mengancam kedua orang itu, namun Julian tak merasa bersalah sama sekali. Itu perlu untuk dilakukan supaya tak ada satupun orang yang mengusik ketenangan Serena lagi.