
Narrel mengetuk pintu kamar Austin dan Ainsley. Ia tidak tahu keduanya sedang berbuat apa didalam sana. Kalau pun mereka sedang melakukan sesuatu yang berbau-bau dewasa Narrel akan tetap mengetuk. Meski ia tidak yakin mereka sedang melakukan apa yang dia pikirkan itu di siang hari begini.
Ketika pintu terbuka, yang pertama kali dilihat Narrel adalah Ainsley. Ia menatap kedalam kamar tapi tidak melihat Austin.
"Kemana Austin?" tanyanya.
"Lagi mandi." jawab Ainsley.
"Kau perlu sesuatu?" gadis itu balik bertanya. Narrel tersenyum tipis.
"Aku hanya ingin bilang kalau kalian bersedia aku ingin mengajak kalian naik perahu." ucap pria itu.
Ainsley tampak tertarik. Sudah lama dia tidak naik perahu.
"Baiklah. Aku akan bilang ke Austin nanti." katanya kemudian. Setelah itu Narrel berbalik pergi dan Ainsley kembali mengunci pintu.
"Siapa?"
Ainsley berbalik menatap Austin yang kini berdiri hanya dengan handuk yang terlilit di pinggangnya. Sesaat Ainsley terpaku melihat otot-otot perut suaminya. Gadis itu menelan saliva, merasa gugup.
"N..Narrel," sahut gadis itu lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Mungkin wajahnya sudah memerah sekarang. Kenapa pria itu tidak ganti baju di kamar mandi saja sih. Apa Austin sengaja mau pamer badan didepannya?
"Kenapa wajahmu merah begitu?" tanya Austin lagi. Sebenarnya ia tidak ada maksud apa-apa keluar dari kamar mandi hanya dengan sehelai handuk begitu. Ia bahkan tidak terpikir sama sekali bagaimana ekspresi Ainsley saat melihatnya setengah telanjang seperti ini.
Tapi, melihat wajah merah Ainsley sekarang, ia jadi tertarik menggodanya.
"Cepat pakai bajumu!" seru Ainsley sambil menutup mata.
Austin tertawa geli. Meski begitu ia menurut saja dan memakai pakaiannya yang sudah disiapkan Ainsley. Masih banyak waktu bermain-main dengan istrinya itu.
"Narrel bilang apa?" tanya Austin lagi sudah memakai pakaian lengkap dan duduk di atas ranjang.
"Katanya ingin mengajak kita naik perahu di danau." jawab Ainsley. Gadis itu menatap Austin yang diam saja.
"Memangnya di sini ada danau?" ia memang tidak melihat ada danau di sekitar villa ini sejak datang tadi.
"Kau akan melihatnya nanti,"
***
Austin benar. Ternyata ada danau di sekitar villa ini. Danau itu terletak di antara taman-taman yang ada di lahan yang tertata penuh seni.
Bagi orang-orang yang matanya kurang jeli, genangan air kecil itu mungkin tampak alami, tapi pulau kecil ditengahnya terlalu indah menurut Ainsley. Pohon-pohon yang menaungi tepian sungai yang bergelombang itu pun terlihat terlalu serasi.
Hanya ada dua perahu di sana. Kalau membaginya dengan jumlah orang yang ada harusnya satu perahu empat orang. Tapi Austin menolak. Ia hanya ingin berdua bersama Ainsley di atas perahu. Menurutnya empat orang terlalu banyak dan akan membuat perahu tidak seimbang. Ainsley tahu itu hanya alasannya saja. Perahu itu kan cukup besar, walau untuk ukuran enam orang sepertinya memang terlalu banyak. Dasar kekanakkan.
"Kalau begitu kita berenam satu perahu saja. Masih bisa muat karena perahu yang satu itu lebih besar." kata Narrel menunjuk ke perahu dayung yang lebih besar. Iren mengangguk setuju. Mereka kan tidak bisa membantah Austin, bos mereka. Apapun yang di katakan pria itu lebih baik dituruti.
"Memangnya benar-benar tidak bisa satu perahu berempat?" kata Yuka masih merasa keberatan. Padahal dia ingin satu perahu dengan Austin.
"Sudahlah Yuka. Kau tidak bisa melawan keputusan Austin, dia adalah bos di sini." Narrel menatap Yuka penuh peringatan. Sebenarnya sebelum mengajak wanita itu, ia sudah mengingatkannya untuk tidak coba-coba berbuat macam-macam. Tapi setelah melihat sikap Yuka hari ini, sepertinya ia salah bawa wanita.
Apa boleh buat, sudah terjadi. Tidak mungkin juga kan Narrel mengusirnya sekarang.
"Deisy, kenapa diam saja? Bagaimana pendapatmu?" tanya Narrel. Di antara mereka semua, hanya Deisy yang terus diam dari tadi.
Deisy tersenyum,
"Kalau aku terserah saja," ucapnya sambil mengusap pangkal lehernya salah tingkah. Memangnya siapa coba yang tidak akan salah tingkah kalau di ajak ngobrol sama atasan. Narrel juga punya posisi tinggi di kantor, dan terbilang galak. Deisy tidak boleh bersikap sembarangan pada pria itu kalau tidak mau di cap buruk.
Sebenarnya waktu di ajak oleh Iren, Deisy ragu mau ikut. Hanya dia yang tidak punya pasangan. Namun kata Iren pacarnya akan membawa teman prianya jadi Deisy bisa berpasangan dengan Marcel, teman Demon pacar Iren. Mau tak mau Deisy akhirnya memutuskan ikut, walau malas melihat Ainsley.
Ainsley sendiri apalagi. Ia lebih malas melihat tampang jutek kakak tirinya itu. Setiap hari wajahnya tidak damai.
Akhirnya, setelah cukup lama mengatur posisi mereka mulai naik perahu. Seperti pembicaraan tadi, perahu yang satu di naiki oleh enam orang itu, yang satunya lagi khusus buat Austin dan Ainsley.
Ainsley setuju dengan Austin hari ini. Karena ia tidak harus berada di satu perahu dengan orang lain. Kalau Iren dan Narrel yang naik bersama mereka sih dia akan senang-senang saja. Tapi yang lain, tidak. Deisy menyebalkan, wanita yang di bawa Narrel sangat bawel juga memiliki minat terselubung pada Austin, sementara dua pria lainnya ia tidak kenal.
Ainsley duduk di ujung perahu dayung kecil yang diikat di dermaga kayu pendek. Mereka memilih perahu yang lebih kecil karena hanya berdua.
Saat perahu berayun naik turun Ainsley tersenyum senang. Tiupan angin sepoi-sepoi di wajahnya terasa begitu sejuk, mengimbangi teriknya matahari.
"Kau terlihat sangat senang," kekeh Austin ikut masuk ke perahu. Tampak jelas di wajah Ainsley kalau gadis itu sangat menikmati naik perahu. Ia tentu saja ikut senang. Ainsley sendiri hanya cuek dan menutup wajahnya menikmati angin yang menerpa kulit wajahnya.
Austin duduk, meraih dayung, dan mendayung perahu menjauh dari dermaga, meninggalkan yang lainnya.
Begitu menjauh dari tepi danau dan bisa mempercepat laju perahu, Austin mulai mendayung dengan cepat.
Ainsley mengernyit merasakan gatal. Ia fokus menatap telapak tangan dan pergelangan tangannya. Ternyata dia di gigit nyamuk. Ia lalu menggaruk bagian yang gatal itu.
Austin mengalihkan fokusnya dari dayung dan memandang sang istri.
"Kenapa?" matanya lurus ke tangan Ainsley yang kini terlihat memerah akibat di garuk.
"Tidak apa-apa, hanya di gigit nyamuk." jawab Ainsley pelan. Austin kembali mendayung dan Ainsley menyapu pandangan ke danau kecil itu. Ia tertawa kecil melihat enam orang lainnya di perahu yang satu. Meski perahu itu cukup besar, tapi kalau dinaiki enam orang begitu malah jadi keliatan kecil.