
"Kerja bagus buat hari ini, Selena. Kau sudah boleh pulang sekarang."
Senyum terbit di wajah Serena ketika Mrs. Amelia membebaskannya untuk pulang. Berhubung Serena bukan guru tetap di sana, jadi jam pulang Serena lebih awal dari yang lainnya. Yah, tentu saja sesuai dengan gaji yang Serena terima juga. Meski nominalnya tak banyak, setidaknya Serena memiliki pemasukan tetap guna memenuhi kebutuhan utamanya.
Setelah berpamitan dengan semua staff yang ada, barulah Serena beranjak keluar dari sekolah.
Keadaan sekolah sudah sepi, hanya tinggal beberapa karyawan saja yang masih kelihatan berkeliaran di sekitar sana. Serena menyapa mereka dengan senyuman lebar yang ramah.
Meskipun baru terhitung sekitar dua minggu lebih Serena bekerja di taman kanak-kanak tersebut, namun Serena sudah banyak dikenal sebagai seorang yang ramah, sabar dan baik hati. Tak hanya dari karyawan internal saja yang menyukai sifat baik hati Serena, tetapi juga para anak didik beserta wali muridnya juga menyukai sisi lembut dan penyabar yang Serena miliki.
Di mata ibu-ibu wali murid, sosok Serena dinilai mempunyai jiwa keibuan yang cukup kuat di usianya yang terbilang masih muda ini. Bahkan baru beberapa hari Serena bekerja di sana sudah ada dua orang wali murid yang memberinya bingkisan berupa makanan dan kue.
Serena benar-benar betah dan nyaman bekerja di lingkungan yang positif dan sehat begini. Sejenak Serena dapat melupakan persoalan berat yang menimpanya kemarin-kemarin. Tiap kali Serena melihat anak-anak kecil yang masih polos dan tak berdosa, keinginan untuk memanjakan dan mengerahkan seluruh tenaga dan hatinya untuk anak-anak itu semakin melonjak besar.
Serena berharap semoga anak-anak kecil itu mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik dan benar dengan bimbingan yang tepat, supaya tidak ada yang hidup menderita seperti dirinya.
Saking fokusnya terhadap kesejahteraan anak didiknya sendiri, Serena hampir saja melupakan Dion yang sudah berjasa dalam hidupnya. Mau semisterius apa sosok Dion, Serena tetap akan menghormati lelaki itu sebagai penolong di hidupnya.
Sudah beberapa hari belakangan Serena tidak melihat batang hidung Dion. Dion juga tak memberi kabar apapun, jadi Serena selalu berpikir bila lelaki itu tengah disibukkan oleh sesuatu.
Akhir-akhir ini juga situasi di sekitar rusun Serena cukup ramai dan menegangkan. Serena sudah pernah diperingati dari awal oleh Dion, bahwa kawasan tempatnya tinggal sekarang ini sering menjadi langganan tempat bersembunyinya pelaku-pelaku tindak kriminalitas. Entah pencuri, penculik, penjambret, ataupun orang-orang bayaran yang bisa saja bekerja untuk membunuh orang maupun hal-hal 'kotor' lainnya.
Lingkungan yang tidak bersih dan sehat sih, tapi mau bagaimana lagi? Hanya bangunan itu yang masih bisa dikatakan layak meski masih terkendala kebersihan serta perawatan rutin, dengan harga sewa yang terjangkau.
Nanti setelah dana untuk pindah sudah terpenuhi, Serena pasti akan pergi dari bangunan reyot itu. Untuk sementara ini, Serena akan mencoba bertahan tinggal di sana.
"Hei, hei. Kau, gadis berambut blonde!"
Sedang asyik-asyiknya melamun, seruan seseorang membuyarkan lamunan Serena.
Terdapat 3 orang laki-laki dewasa berdiri di sebuah gang agak lebar yang dekat dengan rusun Serena.
Karena curiga sekaligus takut, Serena langsung berjalan cepat demi menghindari kejaran orang-orang menyeramkan tersebut.
Akan tetapi, perkataan dari salah satu lelaki di sana seketika membekukan pergerakan Serena yang terpaku di tempatnya begini.
"Kamu pacar Dion 'kan? Kami adalah teman sepergengangannya dia. Bisakah kau ikut dengan kami, nona?" ucap seorang dari ketiga laki-laki di sana, yang dilihat dari segi mana pun tampak sangat mencurigakan.
Sinyal bahaya Serena bereaksi secara insting. Serena ingat, Dion selalu memperingatkan dirinya agar tidak sembarangan mempercayai orang asing, apalagi yang mengaku-ngaku sebagai kenalan atau teman baik Dion.
Tapi Serena tak menyangka akan didatangi para penipu yang menyamar ini secara cepat. Orang-orang ini jelas mempunyai motif terselubung yang harus diwaspadai.
Serena memilih berjalan cepat menghindari orang-orang yang berpenampilan bak mafia itu.
"Oi, mau ke mana kau?! Kami belum selesai bicara denganmu!" Satu dari mereka meneriaki Serena yang menyingkir secara tergesa.
Serena yang takut berusaha menghubungi Dion lewat ponsel yang diberikan lelaki itu. Sialnya, Dion tak segera mengangkat panggilan darinya.
Untuk mengalihkan perhatian para penipu yang mengejarnya, Serena terpaksa memutar arah tujuan. Kembali ke tempat tinggalnya jelas bukan pilihan terbaik yang dapat Serena lakukan. Justru orang-orang itu bisa saja mendatangi tempatnya dan melakukan sesuatu yang lebih berbahaya.
Sekuat tenaga Serena berlari menghindari kejaran ketiga pria tinggi di belakangnya.
Ponsel masih berada dalam genggaman tangan Serena sembari menunggu Dion menerima panggilan darinya.
Ttuuuuttt
Ttuuuttt
"Dasar Dion si*alan! Ke mana dia sekarang?!" Serena mengumpati Dion yang tak kunjung mengangkat telponnya.
"BERHENTI SEKARANG JUGA KALAU KAU TIDAK MAU TERLUKA!!"
Jantung Serena semakin terpacu cepat melihat ketiga pria berwajah sangar yang mengejarnya bak orang kesetanan. Orang-orang itu pasti mencari Dion, tapi kenapa justru mengincar dirinya?!
Berarti kecurigaan Serena selama ini benar. Dion bukanlah seorang yang benar-benar 'baik' dan 'bersih', lelaki itu pasti bekerja di sebuah organisasi di dunia 'gelap' yang berurusan dengan hal-hal kotor dan mungkin ilegal juga.
Serena sudah menyimpan kecurigaannya ini sejak dia dan Dion keluar dari klub yang mereka datangi sebelumnya.
Banyak orang yang mengenal Dion, dari segi penampilan serta aura mereka tidak menunjukkan kesan yang 'positif' dan 'baik'. Serena bisa mengenalinya sebab dia pernah melihat beberapa jenis orang yang seperti itu dengan tamu yang pernah berkunjung ke kediamannya dulu untuk menemui ayahnya.
Kalau mengingat tentang itu, Serena jadi menaruh curiga juga, jangan-jangan selama ini ayahnya diam-diam berhubungan dengan orang-orang yang dia yakini sebagai mafia itu.
Fokus Serena jadi terbelah, dia tidak memperhatikan jalanan di depannya dengan seksama sampai nyaris membuatnya tertabrak sebuah mobil yang melintasi di jalan tikungan.
TTINN TINNNN!!!
Bunyi klakson mobil menggema dengan nyaring, kedua kaki Serena yang sudah lelah berlari seketika menjadi kaku dan sulit digerakkan. Bola mata Serena membulat, melihat mobil itu melaju cukup kencang menuju ke arahnya.
"DASAR GADIS BODOH!! MENYINGKIR DARI SANA!!"
CCKIITTTTT
Beruntung si pengemudi mampu menghentikan laju mobilnya dengan cepat lalu membanting setirnya ke arah kiri hingga menabrak sebuah tiang traffic light yang menyala.
Kecelakaan fatal pun akhirnya dapat terhindari. Si pengemudi di bantu keluar oleh para pejalan kaki yang kebetulan melintas di sekitar sana, begitu pula Serena yang dituntun minggir oleh para ibu-ibu yang tadi berteriak histeris menyaksikan kecelakaan yang terjadi.
"TANGKAP KETIGA PRIA ITU!! MEREKA YANG MENGEJAR NONA INI SAMPAI MEMBUATNYA KETAKUTAN DAN BERLARI PANIK!!" Seorang saksi mata yang diam-diam membuntuti Serena dan ketiga preman tadi akhirnya bersuara.
Para warga sekitar bergegas melaporkan peristiwa ini kepada pihak berwajib setelah menangkap ketiga preman itu agar tidak bisa kabur ke mana-mana.
Serena yang masih syok berat tidak sanggup berkomentar apa-apa selain menunggu kedatangan petugas medis dan pihak kepolisian yang akan mengusut kasus ini.
"Kau!" Si pengemudi menghampiri Serena yang terduduk lemas di pinggir jalan.
Pria dengan setelan jas yang sudah berantakan itu terlihat hendak memarahi Serena karena sudah membahayakan nyawa mereka berdua.
Namun seorang wanita paruh baya yang menemani Serena segera mencegah pria itu menjangkau Serena. "Tolong, tahan dulu emosi anda, tuan. Situasi nona ini juga tidak baik. Anda dengar sendiri 'kan tadi? Para preman itu lah yang mengejar nona ini sampai membuatnya lari ketakutan. Jika anda meminta ganti rugi, mintalah pada ketiga pria itu!" Wanita itu menunjuk ke kawanan preman yang dibekuk para warga.
Pria itu mendengus keras. Mobilnya rusak parah, dan dia bingung harus meminta ganti rugi pada siapa. Mengamati penampilan Serena dari atas sampai bawah, gadis itu sepertinya bukan berasal dari keluarga mampu. Percuma juga kalau meminta ganti rugi pada gadis itu.
"Kau tidak punya orang tua?" Pria itu bertanya pada Serena.
Di tanya soal orang tua, jantung Serena nyaris saja berhenti. Gawat kalau sampai orang-orang mengetahui identitas aslinya, orang tuanya akan mengetahui insiden ini lalu dimintai ganti rugi yang jelas tidak sedikit. Serena tidak bisa melibatkan keluarganya, atau mereka akan menghukumnya lebih parah lagi.
"Ma-maafkan saya...sa-saya tidak punya orang tua...sa-saya hidup sendiri. To-tolong ampuni saya, sa-saya janji saya akan mengganti kerugiaan anda nanti. Saya tidak akan kabur!" mohon Serena dengan air mata mulai bercucuran.
Mungkin saking syoknya, emosi Serena sampai bercampur aduk dan sulit dikendalikan.
Pria itu menghembuskan nafas panjang, situasi ini tidak menguntungkan kedua belah pihak, tapi yang lebih banyak merugi jelas adalah beliau.
"Ya sudah, sini. Berikan kartu identitasmu, aku akan menyitanya sampai kau melunasi utang-utangmu," Pria itu meminta kartu milik Serena.
Serena semakin memucat. Bila orang-orang membaca nama panjangnya, bisa ketahuan nanti.
"TUNGGU! TOLONG TUNGGU SEBENTAR!!" Seorang lelaki buru-buru turun dari mobil hendak menghampiri Serena.
Deg
Suara itu...jelas Serena mengenal siapa pemilik dari suara husky itu.
Perlahan Serena menengok ke sumber suara berasal, dia melihat seorang lelaki berlari tergesa menuju ke arah pria yang meminta kartu identitasnya dengan nafas terengah-engah serta keringat membasahi wajah lelaki itu.
Air mata Serena semakin mengalir deras tanpa suara.
Julian datang...
Kekasihnya datang di saat yang tak terduga dan tak Serena prediksi sama sekali.
"Maaf menyela obrolan kalian, tapi saya yang akan bertanggung jawab atas semua kerugian yang anda alami," Julian pasang badan untuk membela Serena yang terlihat tak berdaya.
Lalu selanjutnya, Serena tidak begitu menyimak obrolan Julian dengan pria korban tabrakannya tadi. Kepalanya mulai berkunang-kunang, tubuhnya terasa lemas dan perutnya sedikit mual.
Tanpa sadar Serena menyandarkan tubuhnya pada seorang wanita yang masih setia menemani dirinya.
"Nak, nak? Kamu kenapa? Nona, tolong tahan sebentar, kami akan membawamu ke rumah sakit sebentar lagi. Nona??" Wanita itu menepuk pelan pipi Serena yang tengah memejamkan mata.
Suara ribut yang berasal dari wanita itu menarik perhatian Julian. Julian buru-buru menyelesaikan urusannya dengan korban yang mobilnya rusak parah sebelum mengurusi Serena yang tak sadarkan diri.
"Nanti asisten saya yang akan mengurus sisanya. Saya permisi dulu, saya harus membawa kekasih saya ke rumah sakit," Julian mengkode Gerald untuk mengambil alih urusan ganti rugi.
Lalu setelah menyerahkan sisa urusan itu pada Gerald, Julian berlari menghampiri Serena yang berada dalam pelukan seorang ibu-ibu asing.
"Apa dia pingsan?" Julian berjongkok guna memeriksa kondisi sang kekasih lebih menyeluruh.
Wanita itu mengangguk panik, "Tolong segera bawa dia, kakinya terlalu lemas untuk berjalan sedangkan aku sudah tidak kuat lagi menggendongnya," pintanya pada Julian.
Julian mengangguk pelan, bertepatan juga dengan suara sirine ambulance terdengar semakin dekat.
"Anda tenang saja, saya adalah wali dari gadis ini. Saya yang akan mengurusnya mulai sekarang, tapi sebelum itu, bisa saya minta nama lengkap dan alamat rumah anda?" Julian bertanya pada wanita itu dengan kedua tangan menggendong tubuh lemas Serena.
Wanita itu mengangguk pelan. "Tapi aku tidak membawa kertas dan bolpen sekarang.."
Julian membalas, "Tak masalah. Anda bisa memberitahukan informasi anda pada laki-laki di sana itu, dia asisten saya, dia yang akan mencatat semuanya secara lengkap," Julian mengacu pada Gerald yang masih berbincang dengan korban lainnya.
Wanita itu mengangguk lagi. Meski sedikit ragu namun beliau tetap melakukan apa yang Julian minta.
"Tolong jaga dia, anak muda. Aku khawatir preman-preman itu akan mencarinya lagi," Wanita itu berbisik pada Julian, sebelum Julian pergi menuju ambulance yang telah tiba.
Julian mengangguk mengerti. "Nyonya tidak perlu khawatir lagi. Dia aman dalam pengawasan saya, sekali lagi terima kasih atas pertolongan anda," ucapnya untuk yang terakhir kali, sebelum bergegas masuk ke dalam ambulance.