
"Aku malas ikut makan malam dengan orang yang tidak ku kenal." ujar Ainsley secara tidak langsung menolak dengan halus. Ia merasa jengkel dengan Austin. Kalau tahu diri sendiri super sibuk begitu, kenapa malah membawanya liburan segala. Jadi percuma kan mereka datang ke negara ini.
"Kau harus ikut, ini perintah." balas Austin dengan nada dingin.
Ainsley menatap pria itu bingung. Kenapa Austin tiba-tiba dingin? Apa ia tidak senang dengan perkataan Ainsley tadi? Kan dia berhak memilih. Lagipula mereka pasti akan berbicara tentang pekerjaan. Tidak ada gunanya dia ikut kan.
"Tapi," gumam Ainsley. Ia merasa ngeri juga dengan perubahan Austin.
Bola mata Ainsley membesar ketika tangannya tiba-tiba di tarik oleh Austin.
"Ayo pulang dan bersiap." kata Austin membuat Ainsley melotot menatapnya.
"Tapi aku belum bilang ia Austin,"
"Sudah kubilang ini perintahkan? Kau harus patuh pada suamimu Ainsley."
Ainsley memutar bola matanya malas. Dasar pria sinting. Lebih bodohnya lagi ia tidak bisa membantah.
Di rumah, Ainsley berganti pakaian dengan gaun berwarna hitam sepanjang lutut dengan potongan sederhana. Lehernya berpotongan sabrina dengan lengan di atas siku. Hiasan brokatnya yang rumit membuat gaun itu tampak mewah.
Ainsley menarik nafas. Ia lebih suka memakai jeans dan kaos saja. Lagipula ini hanya makan malam. Kenapa Austin ingin ia pakai gaun? Seperti mau ke pesta saja. Setelah berpikir-pikir lama Ainsley akhirnya menyimpulkan kalau orang kaya memang seperti itu.
Ainsley mematut dirinya didepan cermin besar. Gaun itu pas sekali di tubuhnya, menonjolkan lekukan tubuh yang harus di tonjolkan. Ia terpesona dengan dirinya sendiri. Ternyata ia cantik juga. Make up tipisnya menambah kesan wajah manisnya. Ainsley tertawa kecil, yang mahal memang beda.
Setelah selesai bersiap, Ainsley turun ke lantai bawah. Austin sedang berdiri di bawah tangga. Sedang merapikan dasinya sambil bercermin. Pria itu menoleh ketika menyadari keberadaan Ainsley.
Austin menahan napas melihat Ainsley. Ainsley tampak begitu cantik dalam balutan gaun itu. Lelaki itu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia berdiri linglung. Tenggelam dalam godaan yang begitu berat untuk memiliki gadis itu. Ainsley hanya miliknya. ucapnya dalam hati.
"Austin?
"Austin, kau mendengarku?" panggil Ainsley untuk kedua kalinya, membuat Austin tersadar dari lamunannya.
Ia menatap wajah Ainsley.
"Aku sudah siap," ucap Ainsley.
Austin masih terdiam. Mendadak ia kehilangan kata-kata.
Sialan, ia sungguh ingin menyentuh gadis itu... sekarang juga!
Austin mengacak-acak rambutnya frustasi. Kalau tidak ingat janji itu, ia pasti sudah membawa Ainsley ke kasur sekarang juga.
Ainsley menatap pria itu bingung. Kenapa Austin tiba-tiba menjadi aneh begitu. Tidak banyak bicara juga. Apa pria itu tidak suka dengan gayanya? Tapi Austin sendiri yang memilihkan gaun itu tadi. Ainsley memutuskan untuk tidak peduli dan bersikap cuek. Lagipula mood Austin memang gampang berubah-ubah.
Gadis itu menghela napas. Ia mengikut Austin ke mobil.
Di dalam mobil, semua hening. Tidak ada yang berbicara. Austin dan Ainsley sibuk dengan pikiran masing-masing sedang sang sopir, fokus menyetir.
Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah restoran. Mereka keluar dari mobil. Austin langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Ainsley dan mendekapnya.
Ainsley yang kaget menoleh ke arah Austin, tapi Austin tidak menatapnya sama sekali dan tetap berjalan, menatap lurus ke depan.
Tiba-tiba Ainsley mendengar suara-suara. Ia menoleh dan kaget ketika melihat beberapa orang di sekitar restoran itu sedang memfoto mereka. Ainsley cepat-cepat menutupi wajahnya dengan tas tangan yang dia bawa. Ia tidak ingin wajahnya terekspos.
Astaga, Austin pasti tahu ada paparazi tapi sengaja tidak memberitahunya. Ainsley ingin marah namun tidak mungkin ia marah sekarang. Ia merasa seperti orang bodoh. Kali ini Ainsley sengaja menyembunyikan wajahnya di dada Austin, membiarkan pria itu membimbingnya masuk ke dalam.
"Mr. Hugo? Bisa jelaskan siapa wanita ini?" tanya seseorang.
"Mr. Hugo, minta waktunya sebentar," kata orang lain lagi tapi Austin terus berjalan seperti mereka tidak ada.
Untung restoran yang mereka datangi itu adalah restoran berbintang yang tidak bisa di masuki sembarang orang. Jadi para paparazi tadi tidak mungkin bisa masuk.
Ketika mereka memasuki restoran, seorang pelayan langsung membawa mereka ke private room dan mengarahkan mereka ke sebuah meja. Ada dua orang lelaki dan satu perempuan yang telah duduk di sana.
"Austin," perempuan yang duduk di antara dua laki-laki itu melambaikan tangannya pada Austin. Perempuan itu tidak terlihat seperti bule asli. Lebih ke Asia tapi ada sedikit unsur bulenya. Mungkin peranakan.
Wanita itu sepertinya sudah cukup berumur, tapi masih terlihat sangat cantik. Kulitnya masih sangat kencang, tidak ada kerutan sama sekali di sekitar matanya. Bibirnya tebal sempurna, sampai-sampai Ainsley bingung itu bibir asli atau hasil operasi.
"Hai, Clara." sapa Austin menjabat tangan Clara dan dua pria lainnya. Mau tak mau Ainsley ikut mengulurkan tangannya jangan sampai ia dibilang sombong lagi. Ia bisa merasakan wanita yang dipanggil Clara itu memaksa tersenyum padanya, seperti tidak menyukainya.
Terus terang Ainsley merasa kurang nyaman, apalagi kedua pria bule itu ikut-ikutan menatapnya. Meski hanya tatapan biasa yang bisa dibilang sopan, tapi ia tetap tidak nyaman.
"Silahkan duduk." kata salah satu dari kedua laki-laki itu pada Austin dan Ainsley. Namanya Luke.
Austin dan Ainsley duduk bersebelahan di meja bundar itu. Clara, Luke dan pria satunya lagi yang biasa di panggil Sam itu duduk di depan mereka. Meski tidak terbiasa, Ainsley berusaha bersikap santai. Ia tidak mau mempermalukan Austin di depan para rekan kerja lelaki itu.
Ia ingat Austin sempat bilang di rumah tadi kalau pertemuan makanan malam itu adalah untuk membahas kerjasama perusahaan. Ainsley bukanlah gadis kolot dan kampungan, ia tahu menempatkan diri sebagai wanita berkelas di saat-saat seperti ini.